Anda di halaman 1dari 83

BAHAN AJAR

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Oleh

Eli, S.Ag, M.Pd.I


KETUHANAN DAN ALAM SEMESTA

A. Kecenderungan Manusia Untuk Bertuhan

Fitrah
Masalah Tauhid atau ketuhanan dianggap sebagai masalah
fitrah, sehingga tidak perlu lagi dicari dalilnya, karena ia
merupakan bagian dari fitrah (ciptaan) manusia.
1. Surat Rum 30 : 30 : Maka hadapkanlah wajahmu dengan
lurus kepada agama sebagai fitrah Allah, yang telah
menciptakan manusia atasnya. Tidak ada perubahan pada
ciptaan (fitrah) Allah.
2. Surat Al-Araf 7 : 172 : Dan (ingatlah)
ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi
anak-anak Adam keturunan mereka dan
mengambil kesaksian dari mereka atas diri
mereka sendiri, Bukankah Aku ini Tuhan
kalian ? Seraya mereka menjawab, Benar
(Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi.
(Hal ini Kami lakukan), agar di hari kiamat
nanti kalian tidak mengatakan,
Sesungguhnya kami lengah atas ini (wujud
Allah).
3. Lihat pula QS. Al-Anam 6 : 74-79; tentang
kisah Nabi Ibrahim tentang pengembaraan
rasionalnya dalam mencari Tuhan.
Ditinjau dari sudut Perbandingan Agama Tuhan ialah sesuatu, apa atau
siapa yang dipentingkan sedemikian rupa oleh manusia, sehingga ia
membiarkan dirinya dikuasai (didominir) oleh yang dipentingkannya itu.







: ).
(23
Allah Islam. (QS. Al-Ikhlas 112). Lihat pula
99 Asma Allah.
Yehowa atau Yahwe salah satu istilah yang
dipakai Alkitab. Istilah ini berasal dari istilah
ber-bahasa Ibrani YHVH.
Sang Hyang Tri Tunggal Mahasuci yang
artinya adalah Bapa, Putra, dan Roh Kudus,
terutama dipakai dalam Gereja Katolik dan
Gereja Ortodoks
KONSEP TUHAN MENURUT PEMIKIRAN BARAT:

1. Tuhan Dinamisme
Manusia sejak zaman primitif sudah mengenal dan mengakui adanya
kekuatan gaib yang mempengaruhi hidup manusia. Yang dimaksud
berpengaruh di sini adalah sebuah benda. Benda tersebut bisa
berpengaruh negatif positif. Namun kekuatan benda tersebut juga
di sebut bermacam-macam, ada namanya mana, tuah, Syakti.
Semua kekuatan tersebut tidak dapat di cerna oleh panca indera
manusia, namun ia dapat di rasakan pengaruhnya.
2. Tuhan Animisme

Setiap benda dianggap mempunyai roh. Roh


bagi masyarakt primitif bisa bersifat aktif
meski benda tersebut kelihatan mati. Oleh
karena itu, roh dianggap sesuatu yang hidup
(rasa senang dan kebutuhan-kebutuhan).
Karena roh mempunyai kebutuhan,
masyarakat primitif menyediakan sesajian
sebagai salah satu wujud memenuhi
kebutuhan roh, jika tidak, manusia bisa
terkena dampak negatif dari roh tersebut.
3. Tuhan Politeisme

Bagi Tuhan politeisme, eksistensi Tuhan


Dinamisme dan Animisme belum dapat
memberikan konsep ketuhanan yang
sebenarnya karena masih bersifat sanjungan
dan pujaan saja. Baginya, dari sekian banyak
roh-roh ada beberapa saja yang dianggap
unggul, punya karakter dan punya pengaruh
terhadap hidup manusia. Di antara roh yang
unggul tersebut disebut sebagai dewa-dewa
yang bertanggungjawab terhadap cahaya, air,
angin dan sebagainya.
4. Tuhan Henoteisme

Henoteise mengaku satu Tuhan untuk


satu bangsa. Bangsa lain mempunyai
Tuhan sendiri. Tuhan mereka disebut
Tuhan nasional. Paham ini seperti
agama Yahudi yang mengakui Yahweh
sebagai Tuhan nasional mereka.
5. Tuhan Monoteisme

Dalam monoteisme hanya mengakui satu Tuhan


untuk seluruh bangsa dan bersifat internasional.
Bentuk monoteisme di tinjau dari segi filsafat
ketuhanan terbagi menjadi 3:
a. Deisme ( Tuhan bersifat transenden: setelah
pencipataan alam, Tuhan tidak terlibat lagi dengan
hasil ciptaannya).
b. Panteisme ( Tuhan bersifat imanen: Tuhan
menampakkan diri dalam berbagai fenomena alam).
c. Teisme ( Tuhan pada prinsip bersifat transenden,
mengatasi semesta kenyataan, tetapi Tuhan juga
selalu terlibat dengan alam semesta).
C. Tuhan Sebagai Wajibul Wujud

Segala yang ada, yang dapat dicapai dan diterima akal


menurut falsafah dibagi tiga macam, yaitu:

1. Mumkinul Wujud adalah segala sesuatu yang bermula


dari tidak ada kemudian menjadi ada, jika ada penyebab
(pencipta menghendaki adanya). Sesudah itu dapat
kembali tidak ada, jika penyebab yang mendukung adanya
tidak berfungsi (pencipta tidak menghendaki adanya).
Kemudian ada terus jika penyebab yang mendukungnya
berfungsi (pencipta menghendaki adanya). Bermula dari
tidak ada kemudian ada dan kembali tidak ada seperti
nyawa manusia, dan ada terus seperti ruh manusia.
2. Mustahil Wujud
adalah segala sesuatu yang tidak mungkin
wujud, yang tidak mungkin terjadi menurut
akal, seperti gajah bertelur, dll. Mustahil Wujud
itu sejak dari dulu tidak ada sekarang tidak ada
dan seterusnya tidak ada. Andai kata sesuatu
yang mustahil terjadi, ada wujudnya, maka
bukan mustahil wujud lagi namanya tetapi
mumkinul wujud. Oleh karena itu akal
mewajibkan bahwa yang menciptakan alam
semesta ini tentu wujud yang di luar mumkinul
wujud dan mustahil wujud.
3. Wajibul Wujud
yaitu wujud yang wajib ada dengan sendirinya. Wajibul
wujud adalah wujud yang tidak bermula dari tidak ada. Dari
dahulu ada sekarang ada, seterusnya ada. Dia adalah
sumber dari segala sumber, pencipta alam semesta dengan
segala isinya. Karena akal menolak hukum daur (hukum
berputar-putar). Karena sifat Allah yang pertama adalah
wujud, wajibul wujud (wujud yang wajib ada dengan
sendirinya). Kedua, adalah Qidam atau terdahulu, karena
ia ada den sendirinya. Sifat ketiga, Baqa, artinya mutlak
kekal, karena ia tidak bermula dari tidak ada, dahulu ada,
sekarang ada dan seterusnya ada, sedangkan ruh manusia
relative kekal, karena bermula dari tidak ada, sekarang ada
dan seterusnya ada. Keempat sifat-Nya adalah Esa.
Bukti wujud Allah pada alam dan diri manusia adalah:

1. Wujud alam semesta


2. Susunan
3. Aturan
4. Pergerakan
5. Adanya nilai moral pada manusia
(adanya kebaikan dan keburukan)
6. Tawa dan tangis manusia
7. Tantangan
D. Keesaan Tuhan

Menurut ajaran monoteisme adalah


Tuhan Tunggal, Tuhan Maha Esa,
Pencipta Alam Semesta. Tentang
Tuhan, dalam Islam dikenal dengan
konsep Tauhid yang tentunya sudah
melekat dalam hati umat Islam
Keesaan Tuhan berarti segala sesuatu
yang berhubungan dengan Esa-Nya
Tuhan:
1. Tuhan (Allah) itu Esa Wujud-Nya
2. Tuhan (Allah) itu Esa Zat-Nya
3. Tuhan (Allah) itu Esa Sifat-Nya
4. Tuhan (Allah) itu Esa Perbuatan-Nya
E. Konsep Alam Semesta

1. Alam ini adalah makhluq =


diciptakan Allah (QS. al-Baqarah 2:
117).
2. Alam ini akan rusak dan berakhir
(QS. al-Qoshosh 28 : 88).
3. Alam ini rill, nyata, konkrit, bukan
maya (QS. al-An'am 6 : 73; QS.
Shod 38 : 27).
4. Alam ini teratur (QS. al-Mulk 67 : 3
dan 4).
5. Alam terikat dengan hukum-hukum
tertentu yang pasti (QS. al-Furqon
25: 2; QS. ar-Ro'du 13: 8; QS. ar-
Rahman 55: 5).
6. Alam ini dapat dipikirkan dan
dipelajari (QS. al-Jasiyah 45: 13).
7. Seluruh alam ini patuh kepada
ketentuan Tuhan (QS. Ali-'Imran 3:
83; QS. an-Nahl 16: 49 dan 50; QS.
al-Isra17:44).
Penciptaan alam bertujuan :

1. Membuktikan kebesaran Allah (QS. Ali-


Imran 3: 190).
2. Disiapkan untuk kesejahteraan dan
kebahagiaan manusia (QS. Luqman 31:
20).
3. Ujian untuk manusia (QS. Hud 11: 7; QS.
al-Mulk 67: 2).
4. Alam ini berpasang-pasangan (QS. adz-
Dzariyat 51: 49). Buah-buahan (QS. ar-
Ro'du 13: 3). Ternak dan manusia (QS.
asy-Syura 42: 11). Yang tidak diketahui
(QS. Yasin 36: 36).
Proses kejadian alam :

1. Berkembang dari satu dzat seperti


gas (QS. Fushshilat 41: 9-12).
2. Dipisah-pisahkan menjadi benda-
benda langit, galaksi, planet dan
lain-lain (QS. al-Anbiya 21: 30; QS.
adz-Dzariyat 51: 7).
3. Perkembangannya melalui 6 masa
(QS. Fushshilat 41: 9 dan 10).
PERTEMUAN KE 2
A. Pengertian Agama dan Agama Islam
Secara etimologis kata agama berasal dari bahasa
Sansekerta yang berarti tradisi.

Kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang


berasal dari bahasa Latin dan berasal dari kata kerja re-ligare
yang berarti mengikat kembali.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia agama adalah


sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga
disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran
kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan
kepercayaan tersebut.
Dalam bahasa Arab agama disebut ad-din,
berarti ketaatan, paksaan, penghambaan,
kekuasaan, balasan, adat, perhitungan amal,
dll.

Sinonim kata din dalam bahasa arab ialah


milah. Bedanya, milah lebih
memberikan titik berat pada ketetapan, aturan,
hukum, tata tertib, atau doktrin dari din itu.
Secara epistimologi agama adalah risalah
yang disampaikan Tuhan kepada Nabi
sebagai petunjuk bagi manusia dan
hukum-hukum sempurna untuk
dipergunakan manusia dalam
menyelenggarakan tata cara hidup yang
nyata serta mengatur hubungan dengan
dan tanggungjawab kepada Allah,
kepada masyarakat serta alam
sekitarnya.
Ruang lingkup ajaran agama
mengandung unsur: Keyakinan;
Peribadatan; dan Sistem nilai.

Tujuan agama adalah membawa


manusia kepada kehidupan yang lebih
baik, kebahagiaan di dunia dan akhirat,
dan membebaskan manusia dari
kehidupan sesat.
Fungsi agama bagi manusia:

a. Dapat mendidik jiwa manusia menjadi


tenteram, sabar, tawakkal dan sebagainya.
b. Dapat mendidik manusia berani
menegakkan kebenaran dan takut untuk
melakukan kesalahan.
c. Dapat memberi sugesti kepada manusia
agar dalam jiwa mereka tumbuh sifat-sifat
utama seperti rendah hati, sopan santun,
hormat-menghormati dan sebagainya.
Jenis-Jenis Agama

a. Darisegi penyebaran
Agama Universal, merupakan agama-agama yang "besar"
dan mempunyai minat untuk menyebarkan ajaran untuk
keseluruhan umat Manusia. Sasaran agama jenis ini
adalah kesemua manusia tanpa mengira kaum dan
bangsa. Contohnya: Agama Islam, Kristian dan Buddha.
Agama Folk, merupakan agama yang kecil dan tidak
mempunyai sifat dakwah seperti agama universal.
Amalannya hanya terhad kepada etnik tertentu.
Contohnya: Agama Rakyat China/Taoisme.
b. Dari segi sumber rujukan

Agama Wahyu atau Samawi atau Langit, yaitu


agama yang diturunkan dari Tuhan melalui
seorang Rasul. Contohnya: agama Islam,
Nasrani, dan Yahudi.

Agama Budaya atau Ardhi atau Bumi, yaitu


agama yang berasal dari ajaran seorang
manusia dan merujuk kepada pelbagai sumber
seperti pembuktian, tradisi, falsafah dan
sebagainya. Contohnya: agama Budha, dan
Hindu.
Perbedaan agama wahyu dengan
agama budaya
terletak pada aspek: waktu
penyampaian kepad manusia,
disampaikan melalui Rasul, kitab suci,
sifat kemutlakan kebenarannya, konsep
ketuhanannya, sifat universalitas
keberlakuannya.
c. Dari segi tanggapan ketuhanan

Agama Monoteisme, merupakan agama yang


menganggap Tuhan hanya satu, yakni mendukung
konsep ketauhidan Tuhan. Contohnya, agama
Islam.

Agama Politeisme, merupakan agama yang


menganggap bahwa Tuhan wujud secara
berbilangan, yakni ada banyak Tuhan atau Tuhan
boleh berpecah kepada banyak bentuk. Contohnya,
agama Hindu, Agama Rakyat China.
Berdasarkan cara beragamanya:

Tradisional, yaitu cara beragama berdasar


tradisi. Cara ini mengikuti cara beragamanya
nenek moyang, leluhur atau orang-orang dari
angkatan sebelumnya.

Formal, yaitu cara beragama berdasarkan


formalitas yang berlaku di lingkungannya atau
masyarakatnya. Cara ini biasanya mengikuti
cara beragamanya orang yang berkedudukan
tinggi atau punya pengaruh.
Rasional, yaitu cara beragama berdasarkan
penggunaan rasio sebisanya. Untuk itu mereka
selalu berusaha memahami dan menghayati ajaran
agamanya dengan pengetahuan, ilmu dan
pengamalannya.

Metode Pendahulu, yaitu cara beragama


berdasarkan penggunaan akal dan hati (perasaan)
dibawah wahyu. Untuk itu mereka selalu berusaha
memahami dan menghayati ajaran agamanya
dengan ilmu, pengamalan dan penyebaran
(dakwah).
2. Pengertian Agama Islam

Pengertian Islam, berasal dari kata salama-


salamun berarti keselamatan, sallama-taslim
berarti penyerahan, salima-silmun berarti
perdamaian, saluma-sulamun berarti tangga.

Menurut istilah, agama Islam adalah agama wahyu,


yaitu agama yang berasal dari Allah swt diwahyukan
kepada manusia yang dipilih-Nya (Rasul). Kemudian
wahyu-wahyu itu diwujudkan menjadi kitab suci yang
menjadi pedoman hidup umat manusia agar mereka
berbahagia dunia dan akhirat.
Turunnya Agama
Islam
Pada malam 17 Ramadhan, bertepatan
dengan 6 Agustus tahun 610 M, Nabi
Muhammad menerima wahyu dari Allah
SWT yang disampaikan melalui
perantara Malaikat Jibril a.s. Ayat
pertama yang diturunkan oleh Allah
SWT adalah surat Al-Alaq 96: 1-5.
Tujuan Agama Islam
Allah swt menurunkan agama Islam
sebagai rahmat kepada semesta alam
(QS. Al-Anbiya 21: 107), karena tujuan
agama Islam adalah agar umat manusia
memperoleh rida Allah , bahagia dunia-
akhirat.
Pokok-pokok Ajaran Agama
Islam
a. Aqidah, yatu kepercayaan terhadap Allah, malaikat, kitab-
kitab Allah, Rasul-Nya, hari akhir, dan qadha dan qadar Allah.

b. Syariah, yaitu segala bentuk peribadatan baik ibadah


khusus, seperti thaharah, shalat, zakat, puasa dan haji,
maupun ibadah umum (muamalah), seperti hukum publik
dan hukum perdata.

c. Akhlak, sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang


menimbulkan perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa
memerlukan pertimbangan dan pemikiran terlebih dahulu.
Fungsi Agama Islam:

1. Menyempurnakan agama yang terdahulu


2. Agama fitrah. Fitrah artinya sifat asal, bakat,
pembawaan dari asal muasal kejadian manusia dan
suci bersih dari dosa
3. Pendorong kemajuan. Agama Islam menghendaki
dan memerintahkan setiap muslim untuk menjadi
sebaik-baik manusia, dan unggul dalam segala
bidang (Ali Imran 3: 110)
4. Memberikan pedoman hidup bagi manusia. Agama
Islam merupakan sumber sistem nilai yang harus
dijadikan pedoman hidup oleh manusia.
Islam rahmatan lilalamin

Kata rahmatan lil alamin berarti mengasihi segala ciptaan dari


Allah yang berada di langit dan di bumi selain Allah, untuk di
kasihi sebagaimana mengasihi Allah, baik sahabat ataupun musuh
Allah ; dan mengapa Islam dikatakan rahmatan lil alamin, maka
perlu di perhatikan, rekomendasi firman Allah tentang masalah
penciptaanNya seperti yang di ungkapkan dalam wahyu Nya :
1) Realitas keseimbangan bagi kehidupan alam semesta
sebagaimana telah di ciptakan oleh Allah dalam sunnah yang
merupakan ketetapan hukum bagi alam semesta ( Al-Mulk 67:3 )
2) Manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi ( Al-Infitar 82:7)
3) Allah telah mengkons truksikan realita lembaga taubatan nasuha
sebagai pamungkasnya ( Al-Quran Surat 14 Ibrahim : 14 )
Alasan mengapa Masuk Islam

Untuk memberikan jawaban alasan mengapa masuk


islam ? Dapat dijawab melalui :
a. Kebenaran mutlak dan ungkpan kebenaran relatif dan
termasuk dalam masalah seperti ungkapan judul di
maksud , maka terhadap ungkapan ini dapat diamati
melalui tuturan wahyu (Al-Quran Surat 16 An-Nahl
Ayat 89)
Kebenaran mutlak ini merupakan kebenaran yang
mesti di imani bagi setiap muslim dan konsekuensi
bagi yang menafsirkan adalah kekufuran terhadap
Allah.
b. Kebenaran relatif
Ialah kebenaran yang di teorikan atau didalilkan
oleh manusia dianggap benar selama belum ada
fakta dan data baru yang merevisinya. Contoh
pendapat para alim ulama dan cendekiawan.
c. Kebenaran konsistensi, yaitu sebagai bentuk dari
konsistensi beriman kepada Allah. Otomatis harus
membenarkan segala yang datang dari Allah.
d. Kebenaran pragmatisme
Ialah kebenaran berdasarkan kemanfaatan bagi
teori atau dalil yang diberikan.
Pertemuan ke 3
SUMBER AJARAN ISLAM

A. AL-QUR'AN

1. Pengertian al-Quran

Al-Quran berasal dari kata qaraa, berarti


mengumpulkan dan menghimpun, juga berarti quranah,
artinya bacaan. (QS. Al-Qiyamah 75 : 17-18)

Al-Quran adalah kalam atau firman Allah yang diturunkan


kepada Muhammad saw. Secara lafaz, makna dan gaya
bahasa, yang termaktub dalam mushaf yang dinukil secara
mutawatir, yang bagi pembacaannya merupakan ibadah.
1. Nama-nama Al-Quran:

Al-Kitab = Tulisan yang Lengkap (QS. Al-


Baqarah2:2), Al-Furqan = Memisahkan yang
Haq dari yang Bathil (QS. Al-Furqon25:1), Al-
Mauidhah = Nasihat (QS. Yunus 10:57), Asy-
Syifa = Obat (QS. Yunus 10:57), Al-Huda =
Yang Memimpin (QS. Al-Jin 72:13), Al-Hikmah
= Kebijaksanaan (QS. Al-Isra 17:39), Adz-
Dzikru = Peringatan (QS. Al-Hijr 15:9).
2. Kedudukan Al-Quran:
Al-Quran sebagai sumber utama dan
pertama dari seluruh ajaran Isam,
berturut-turut Al-Sunnah dan Ijtihad.
3. Fungsi Al-Quran:

a. Sebagai Mukjizat Nabi Muhammad SAW (QS. Al-


Isra 17: 88)
b. Pedoman dan petunjuk hidup bagi manusia (QS.
An-Nisa 4: 105)
c. Pemisah yang hak dengan yang batil (QS. Asy-
Syura 42: 24)
d. Peringatan bagi manusia (QS. Al-Furqon 25: 1)
e. Sebagai korektor dan penyempurna terhadap
kitab-kitab Allah yang sebelumnya ( QS. Al-
Maidah 5: 48)
4. Isi kandungan al-Quran:

a. Keimanan dan keyakinan


b. Tuntunan ibadah dan hukum
c. Berisi daya tarik dan ancaman
d. Berisi tata aturan yang diperlukan manusia
dalam hubungannya dengan Allah,
manusia, hewan, dan alam sekitar demi
kebahagiaan dunia dan akhirat
e. Berisi riwayat-riwayat orang terdahulu baik
yang taat maupun yang mengingkari.
5. Kodifikasi Al-Quran:

Wahyu turun kepada Nabi, Nabi langsung


memerintahkan para sahabat penulis wahyu
untuk menuliskannya secara hati-hati. Begitu
mereka tulis, kemudian mereka hafalkan
sekaligus mereka amalkan

Pada awal pemerintahan khalifah yang pertama


dari Khulafaur Rasyidin, yaitu Abu Bakar
Shiddiq, Quran telah dikumpulkan dalam
mushhaf tersendiri
Dalam perkembangan selanjutnya,
tumbuh pula usaha-usaha untuk
menyempurnakan cara-cara penulisan
dan penyeragaman bacaan, dalam
rangka menghindari adanya kesalahan-
kesalahan bacaan maupun tulisan.
6. Pembagian Isi Al-Quran:

Al-Quran terdiri dari 114 surat; 91 surat


turun di Makkah dan 23 surat turun di
Madinah. Ada pula yang berpendapat,
86 turun di Makkah, dan 28 di Madinah
Surat/ayat yang turun sebelum Nabi
Hijrah dinamakan surat Makkiyyah,
pada umumnya suratnya pendek-
pendek, menyangkut prinsip-prinsip
keimanan dan akhlaq, panggilannya
ditujukan kepada manusia
Surat/ayat yang turun etelah Nabi Hijrah
ke Madinah disebut surat Madaniyyah,
pada umumnya suratnya panjang-
panjang, menyangkut peraturan-
peraturan yang mengatur hubungan
seseorang dengan Tuhan atau
seseorang dengan lainnya ( syariah ).
Atas inisiatif para ulama maka kemudian
Al-Quran dibagi-bagi menjadi 30 juz.
Dalam tiap juz dibagi-bagi kepada
setengah juz, seperempat juz, maqra
dan lain-lain.
Pada zaman khalifah yang ketiga,
Utsman bin Affan, Quran telah sempat
diperbanyak
B. Al-HADIS/SUNNAH
1. Pengertian al-Hadis dan as-Sunnah

Secara bahasa hadis berarti baru, dekat, dan


informasi. Sedangkan as-Sunnah berarti cara,
jalan, undang-undang, kebiasaan dan tradisi.

Secara istilah hadis berarti segala perbuatan


(afal), perkataan (aqwal), dan keizinan Nabi
Muhammad saw (taqrir).
2. Fungsi al-Hadis terhadap al- Quran:

Bayan Tafsir, yaitu menerangkan ayat-


ayat yang sangat umum, mujmal dan
musytarak. Seperti hadits : Shallu kama
ro-aitumuni ushalli . (Shalatlah kamu
sebagaimana kamu melihatku shalat)
adalah merupakan tafsiran daripada ayat
Al-Quran yang umum, yaitu : Aqimush-
shalah , (Kerjakan shalat)
b.Bayan Taqrir,
yaitu as-Sunnah berfungsi untuk
memperkokoh dan memperkuat
pernyataan al-Quran. Seperti hadits
yang berbunyi : Shoumu
liruyatihiwafthiru liruyatihi
(Berpuasalah karena melihat bulan dan
berbukalah karena melihatnya) adalah
memperkokoh ayat Al-Quran dalam
surat Al-Baqarah 2: 185.
c. Bayan Taudhih, yaitu menerangkan
maksud dan tujuan sesuatu ayat al-
Quran, seperti pernyataan Nabi : Allah
tidak mewajibkan zakat melainkan
supaya menjadi baik harta-hartamu
yang sudah dizakati , adalah taudhih
(penjelasan) terhadap ayat Al-Quran
dalam surat at-Taubah 9: 34.
3. Perbedaan Antara Al-Qur'an dan Al-Hadits
sebagai Sumber Hukum

a. Al-Quran nilai kebenarannya adalah qathI


(absolut), sedangkan al-Hadits adalah zhanni
(kecuali hadits mutawatir)
b. Seluruh ayat al-Quran mesti dijadikan sebagai
pedoman hidup. Tetapi tidak semua hadits
mesti kita jadikan sebagai pedoman hidup
c. Al-Quran sudah pasti otentik lafazh dan
maknanya sedangkan hadits tidak
d. Apabila Al-Quran berbicara tentang masalah-
masalah aqidah atau hal-hal yang ghaib, maka
setiap muslim wajib mengimaninya.
4. Kodifikasi Hadis

Pada zaman Umar bin Abdul Azis, khalifah ke-8 dari


dinasti Bani Umayyah (99-101 H) timbul inisiatif secara
resmi untuk menulis dan membukukan hadits

Kodifikasi Hadits dilatar belakangi oleh adanya usaha-


usaha untuk membuat dan menyebarluaskan hadits-
hadits palsu dikalangan ummat Islam, baik yang dibuat
oleh ummat Islam sendiri karena maksud-maksud
tertentu, maupun oleh orang-orang luar yang sengaja
untuk menghancurkan Islam dari dalam.
5. Macam-Macam Hadis

a. Dilihat dari segi jumlah orang yang


menyampaikan:

Hadits mutawatir, yaitu hadits yang


diriwayatkan oleh banyak orang kepada
banyak orang dan seterusnya sehingga
tercatat dengan banyak sanad. Dan mustahil
orang yang banyak itu sepakat untuk berdusta
Hadits masyhur, yaitu hadits yang diriwayatkan
oleh tiga orang atau lebih hingga tercatat dengan
sanad sekurang-kurangnya tiga orang

Hadits aziz, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh


dua orang sanad hingga tercatat dengan dua
sanad

Hadits gharib, yaitu hadits yang diriwayatkan


seorang sanad hingga tercatat satu sanad.
b. Dilihat dari segi kualitasnya:

Hadits Shahih. Yaitu sunnah/hadits yang


diriwayatkan oleh orang-orang yang adil (baik),
kuat hafalannya, sempurna ketelitiannya,
sanadnya bersambung sampai kepada Rasul,
tidak mempunyai cacat, dan tidak bertentangan
dengan dalil periwayatan yang lebih kuat (Al
Quran)
Hadits Hasan. Yaitu sunnah/hadits yang
diriwayatkan oleh orang-orang yang adil (baik),
sanadnya bersambung sampai kepada Rasul,
tidak mempunyai cacat, dan tidak bertentangan
dengan dalil yang lebih kuat (Al Quran), tapi
kekuatan hafalan atau ketelitian perawinya kurang
baik.
Hadits Dhaif. Yaitu sunnah/hadits lemah karena
perawinya tidak adil, terputus sanadnya, punya
cacat, bertentangan dengan dalil atau periwayatan
yang lebih kuat, atau cacat lainnya

Hadits Maudhu. Yaitu sunnah/hadits yang dibuat


oleh seseorang (karangan sendiri) kemudian
dikatakan sebagai perkataan atau perbuatan
Rasulullah saw.
c. Dilihat dari segi diterima atau
ditolaknya:

Hadis Maqbul, ialah hadis yang diterima dan


dapat dijadikan hujjah/sumber hukum
Hadis Mardud, ialah hadis yang ditolak dan tidak
boleh dijadikan sumber hukum.
6. Kitab-kitab hadis yang dinilai terbaik:

Ash-Shahih Bukhari; Ash-Shahih Muslim; Ash-


Sunan Abu-Dawud; As-Sunan Nasai ; As-Sunan
Tirmidzi; As-Sunan Ibnu Majah ; dan Al-Musnad
Imam Ahmad.
d. Dilihat dari siapa yang berperan dalam
berbuat atau bersabda:

Hadis Marfu, ialah hadis yang disandarkan


kepada Nabi saw
Hadis Mauquf, ialah hadis yang disandarkan
kepada sahabat
Hadis Maqthu, ialah hadis yang disandarkan
kepada tabiin.
C. IJTIHAD

1. Pengertian Ijtihad
Secara bahasa ijtihad berarti pencurahan segenap
kemampuan untuk mendapatkan sesuatu.
Menurut istilah ialah mengerahkan segala potensi
akal pikiran dan kemampuan semaksimal mungkin
untuk menetapkan hukum-hukum syariah.
Dasar keharusan berijtihad ialah QS. A-Nisa 4: 59.
2. Kedudukan Ijtihad
a. Pada dasarnya yang ditetapkan oleh ijtihad tidak
dapat melahirkan keputusan yang mutlak
absolut. Sebab ijtihad merupakan aktifitas akal
pikiran manusia yang relatif
b. Sesuatu keputusan yang ditetapkan oleh ijtihad,
mungkin berlaku bagi seseorang tapi tidak
berlaku bagi orang lain
a. Ijtihad tidak berlaku dalam urusan penambahan
ibadah mahdhah. Sebab urusan ibadah mahdhah
hanya diatur oleh Allah dan Rasulullah
b. Keputusan ijtihad tidak boleh bertentangan dengan
al-Quran dan as-Sunnah
c. Dalam proses berijtihad hendaknya
dipertimbangkan faktor-faktor motifasi, akibat,
kemaslahatan umum, kemanfaatan bersama dan
nilai-nilai yang menjadi ciri dan jiwa daripada
ajaran Islam.
3. Bentuk-Bentuk Ijtihad

Ijma = konsensus = ijtihad kolektif. Yaitu


persepakatan ulama-ulama Islam dalam
menentukan sesuatu masalah ijtihadiyah
Qiyas = reasoning by analogy. Yaitu
menetapkan sesuatu hukum terhadap sesuatu
hal yang belum diterangkan oleh al-Quran dan
as-Sunnah, dengan dianalogikan kepada hukum
sesuatu yang sudah diterangkan hukumnya oleh
al-Quran/as-Sunnah, karena ada sebab yang
sama
Istihsan = preference. Yaitu menetapkan
sesuatu hukum terhadap sesuatu persoalan
ijtihadiyah atas dasar prinsip-prinsip umum
ajaran Islam seperti keadilan, kasih sayang dan
lain-lain.

Mashalihul Mursalah = utility, yaitu menetapkan


hukum terhadap sesuatu persoalan ijtihadiyah
atas pertimbangan kegunaan dan kemanfaatan
yang sesuai dengan tujuan syariat.
Saddudz Dzari'ah, yaitu menetapkan hukum
atas dasar kehilangan kerusakan/kemadorotan
bagi seseorang atau segolongan orang.

Istishab, yaitu menetapkan hukum atas hukum


yang telah berlaku sampai ada hukum yang
merubahnya.

'Urf, yaitu menetapkan suatu hukum yang telah


menjadi kebiasaan masyarakat.
Pertemuan ke 4
HAKEKAT MANUSIA MENURUT ISLAM

A. Konsep Manusia

Teori psikoanalisis menyebut manusia sebagai


homo valens (manusia berkeinginan)
Teori behaviorisme menyebut manusia sebagai
homo mechanicus (manusia mesin)
Teori kognitif menyebut manusia sebagai homo
sapiens (manusia berpikir)
Teori humanisme menyebut manusia sebagai homo
ludens (manusia bermain).
Manusia tidak berbeda dengan binatang dalam
kaitan dengan fungsi tubuh dan
fisiologisnya.
Dalam diri manusia terdapat sesuatu yang tidak
ternilai harganya, sebagai anugerah Tuhan yang
tidak diberikan kepada makhluk lainnya yaitu akal.
Ada dua komponen esensial yang membentuk
hakikat manusia yang membedakannya dari
binatang, yaitu potensi mengembangkan iman dan
ilmu.
Manusia Menurut Al-Quran

Al Quran tidak menggolongkan


manusia ke dalam kelompok binatang
(animal) selama manusia
mempergunakan akalnya dan karunia
Tuhan lainnya. (QS. Al-Araf 7: 179)
Manusia dalam al-Quran disebut;

a. Al-Insan: Potensi untuk berkembang, tumbuh secara fisik


dan mental menghasilkan kreatifitas dan keseniaan (al-
Insan 76: 1).
b. Al-Basyar: Jasad, tubuh, jasmani dan biologis (al-Hijr 15:
28).
c. Bani Adam: Kemanusiaan, tidak tergoda syaitan,
keluarga bersaudara (al-Isra 17: 70).
d. An-Nas: Sebagai makhluk sosial (an-Nas 114: 1).
e. Al-Ins, Abdun: Pengabdi Allah, hamba Allah yang harus
tunduk dan patuh kepada-Nya (Az-Zariyat 51: 56, Saba
34: 9).
f. Khalifah: Pemelihara alam dan bertanggung jawab
kepada Allah (Al-Baqarah 2: 30).
Aspek manusia terdiri dari:

1. Aspek material (jasmaniah);


Manusia berasal dari: tanah kasar (turab): Ali
Imran3: 59, Al-Kahfi 18: 37; menjadi sari pati
(sulalah): Al-Mukminun 23: 12; atau dari tanah liat
(tin) Al-Araf7: 12, Al-Anam 6: 2; lalu menjadi air
mani (nuthfah) Al-Mukminun 23: 13, lalu menjadi
segumpal darah (alaqah), lalu menjadi daging
(mudghah), lalu menjadi tulang (idhamah), lalu
tulang itu dibungkus daging (janin) Al-Mukminun
23: 14, kemudian Allah meniupkan roh (manusia).
2. Aspek immaterial (rohani)

Roh, berupa daya manusia mengenal


dirinya, mengenal tuhannya, dan ibadah
lainnya
Nafs, berupa panas alami pada
pembuluh nadi, otot syaraf, tanda
kehidupan.
Segi-segi positif manusia:

1. Manusia adalah khalifah Tuhan di bumi. (Al Baqarah 2: 30)


2. Manusia mempunyai kapasitas intelegensia yang paling
tinggi. (Al-Baqarah 2: 31-33)
3. Manusia mempunyai kecenderungan dekat dengan Tuhan.
(Al-Araf 7: 172)
4. Manusia dikaruniai pembawaan yang mulia dan martabat.
(Al-Isra 17: 70)
5. Manusia memiliki kesadaran moral. (Asy-Syams 91: 7-8)
6. Tuhan menciptakan manusia agar mereka menyembah-
Nya; dan tunduk patuh kepada-Nya menjadi tanggungjawab
utama mereka. (Adz-Dzariyat 51: 56)
Segi-segi negatif manusia:

1. Bersifat tergesa-gesa (Al-Isra 17: 11)


2. Sering membantah (Al-Kahfi 18: 54)
3. Ingkar dan tidak berterima kasih kepada
Tuhan (Al-Adiyat 100: 6)
4. Keluh kesah, gelisah dan kikir (Al-Maarij
70: 19)
5. Amat zalim dan bodoh (Al-Ahzab 33: 72)
6. Putus asa bila ada kesalahan (Al-Maarij
70: 20)
Dimensi-dimensi Manusia

a. Secara fisik manusia hampir sama dengan hewan,


membutuhkan makan, minum, istirahat dan menikah,
supaya ia dapat hidup, tumbuh dan berkembang.
b. Manusia memiliki sejumlah emosi yang bersifat etis, yaitu
ingin memperoleh keuntungan dan mengindari kerugian.
c. Manusia mempunyai perhatian terhadap keindahan.
d. Manusia memiliki dorongan untuk menyembah Tuhan.
e. Manusia mempunyai kemampuan dan kekuatan yang
berlipat ganda, karena ia dikaruniai akal, pikiran, dan
kehendak bebas.
f. Manusia mampu mengenal dirinya sendiri.
B. Eksistensi dan Martabat Manusia

Tujuan Penciptaan Manusia


Manusia diciptakan oleh Allah di dunia ini
tidak lain supaya mereka menyembah Allah
dan bersetatus pengabdi Allah. (QS. Az-
Zariyat 51: 56)
Fungsi dan Peranan Penciptaan Manusia

Manusia adalah khalifah Tuhan di muka


bumi. (QS. Al-Baqarah 2: 30)
Khalifah adalah wakil Tuhan di atas muka
bumi ini dengan tuntunan al-Quran berfungsi
sebagai penterjemah sifat-sifat Tuhan ke
dalam kenyataan kehidupan dan
penghidupan manusia sehari-hari dalam
batas-batas kemanusiaan yang diridhoi Allah.
Tugas atau fungsi manusia sebagai khalifah Allah:

Mewujudkan kemakmuran: Dia (Allah) telah


menciptakan kamu (manusia) dari tanah dan
meminta kamu untuk memakmurkannya. (QS.
Hud 11: 61)

Mewujudkan kebahagiaan: Allah hendak


membimbing orang yang mengikuti keridhaan-Nya
dengan al-Quran itu kejalan kebahagiaan. (QS.
Al-Maidah 5: 16)
Tanggungjawab Manusia sebagai Hamba dan Khalifah
Allah

Sebagai khalifah senantiasa haruslah bekerja,


mengambil dan memanfaatkan kekayaan alan ini
sebaik-baiknya dalam bentuk yang positif yang
berpedoman kepada ajaran-ajaran yang terdapat
dalam al-Quran dan al-Hadits.

Menurut Prof. Abbas Mahmud al-Aqqad


mendefinisikan: manusia adalah makhluk yang
bertanggung jawab, yang diciptakan dengan sifat-sifat
ketuhanan.