Anda di halaman 1dari 10

PENGELOLAAN

KAWASAN HUTAN
BERBASIS MASYARAKAT

DISAMPAIKAN OLEH :
KELOMPOK
Hendri Subagio
15/389112/PTK/10232
Laelabilkis
15/389124/PTK/10244
Indra
Magister Perencanaan Kota Pranajaya
dan Daerah

15/389119/PTK/10239
UNIVERSITAS GADJAH MADA
LATAR
BELAKANG
Pengelolaan kawasan hutan di Kalibiru
dilakukan untuk mengoptimalkan
peluang ekonomi melalui kegiatan
wisata alam yang berdampak pada
peningkatan kesejahteraan warga,
dengan tetap memperhatikan fungsi
lindung kawasan sebagai hutan lindung
dan produksi yang merupakan daerah
tangkapan air bagi Waduk Sermo.

Lahan yang semula kurang bernilai


ekonomi, oleh masyarakat
dimanfaatkan sebagai obyek wisata
yang dapat menarik wisatawan.

Pengembangan kegiatan wisata ini


dilakukan dengan tetap
mempertahankan fungsi lahan sebagai
daerah penyangga dan tangkapan air
bagi kawasan di bawahnya.
URGENSI
TOPIK

Permasalahan lahan kota tidak berdiri


sendiri sebagaimana fungsi kota yang saling
terkait dengan daerah lain.
Salah satu langkah preventif dalam manajemen lahan di perkotaan
adalah melalui penciptaan peluang kehidupan ekonomi yang lebih baik di
desa dengan harapan dapat mengurangi perpindahan penduduk ke kota
yang menjadi sumber masalah di perkotaan.
Pengelolaan kawasan hutan berbasis masyarakat di Desa Kalibiru
merupakan wujud kongkret peningkatan peluang ekonomi warga di desa
yang dapat mengurangi potensi urbanisasi warga dari desa ke kota.
ESKRIPSI KASUS Tahun 1945 1949
Status kawasan tutupan yang tadinya
dikuasai Pemerintah Kolonial diambil
Kawasan Kalibiru alih oleh Pemerintah Indonesia, yang
merupakan salah satu kemudian ditetapkan sebagai Hutan
kawasan hutan di Negara.
Kabupaten Kulonprogo
Tahun 1949 1964
Sebelum tahun 1930 Pada masa ini pemerintah berhasil
Kawasan hutan ini awalnya melakukan reboisasi di kawasan
merupakan desa permukiman Hutan Negara, sehingga kawasan
penduduk yang diubah fungsinya ini mampu berfungsi sebagaimana
menjadi hutan mestinya.

Tahun 1964 2000


Tahun 1930 1945 Pada periode ini kondisi Hutan
Penduduk mulai dipindahkan dan Negara mulai mengalami
kawasan dirubah fungsinya kerusakan.
sebagai hutan. Secara perlahan-lahan kualitas
hutan semakin menurun akibat
Dalam pengelolaan kawasan pengrusakan hutan.
penduduk dilibatkan sebagai Karena desakan kebutuhan
tenaga harian yang diupah dalam ekonomi, masyarakat memilih
program reboisasi antara lain jalan pintas dengan cara mencuri
NJUTAN DESKRIPSI KASUS
DAMPAK
Tahun 1964 2000 1. Pemanfaatan lahan disekitar
kawasan hutan lebih terkendali.
2. Menahan laju urbanisasi
Tahun 1999 2008
Memuncaknya pembalakan
hutan yang terjadi antara tahun
1997 2000 telah membuat PERUBAHAN EKONOMI WARGA
beberapa warga yang peduli Median pendapatan rumah tangga
terhadap hutan merasa prihatin. per bulan di Kalibiru relatif tinggi
yaitu Rp. 2.014.791,67 dengan
Lembaga Swadaya Masyarakat kontribusi terbesar bagi pendapatan
(LSM), yaitu Yayasan Damar, bersumber dari komponen di luar
masuk ke masyarakat di sekitar pertanian
Hutan Negara.
1. Berbagai fasilitas pendukung
kegiatan wisata alam (ekowisata)
Tahun 2009 sekarang yang telah tersedia antara lain
Pengembangan wisata alam di pendopo, penginapan (cottage dan
Kalibiru mulai dirintis pada homestay) dan flying fox.
tahun 2008 oleh Komunitas 2. Paket wisata yang ditawarkan di
Lingkar. Kalibiru diantaranya adalah flying
EMBAHASAN KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

Pengelolaan kawasan hutan Kalibiru


oleh masyarakat sebagai objek wisata
memberikan hasil yang positif
terhadap kesejahteraan masyarakat
sekitar kawasan hutan.

Tetapi pada kenyataannya sedikitnya


masyarakat yang ikut terlibat
menyebabkan keuntungan materi dari
pariwisata hanya dikuasai oleh
kelompok tertentu, yaitu pengelola
Wisata Alam Kalibiru

Masyarakat Kalibiru yang belum


terlibat dalam pariwisata tidak
mendapatkan keuntungan
pendapatan ekonomi. Hal ini
menyebabkan timbulnya
kecemburuan sosial yang ditunjukan
dengan rasa tidak puas warga yang
FAKTOR SUKSES
Faktor lingkungan kebijakan, berupa peran LSM,
karakteristik dan dukungan kelompok sasaran dan
disposisi kepala daerah;
Faktor ketersediaan sumberdaya yang meliputi
sumberdaya manusia dan sumberdaya finansial;
Faktor ketepatan instrumen kebijakan.
Pariwisata juga menyebabkan
perubahan kultural terhadap
masyarakat Kalibiru, terutama dalam
hal pemaknaan hutan. Masyarakat
Kalibiru pada awalnya merupakan
masyarakat yang memaknai hutan
sebagai sebuah simpanan.
Masyarakat akan menebang pohon
LESSON LEARNED didalam hutan ketika mereka
membutuhkan uang dalam jumlah
besar. Tetapi setelah disadarkan oleh
Diawali dengan banyaknya
LSM Damar, mereka merubah
konflik manyangkut pemikiran tersebut dan memikirkan
pemanfaatan hasil hutan oleh cara lain untuk memanfaatkan hutan
masyarakat yang tinggal di tanpa merusaknya.
sekitar kawasan hutan, maka
LSM Damar melakukan edukasi
serta pendampingan dalam
pemanfaatan potensi kawasan
hutan yang ada. Masyarakat
Kalibiru terdorong untuk
membentuk kelompok tani HKm
yang menjadi batu loncatan
munculnya pariwisata di
Kalibiru. LSM Damar memiliki
KESIMPULAN

Manajemen lahan tidak terlepas dari pemanfaatan dan


pengendalian lahan. Pemanfaatan lahan di Kawasan hutan
sebagai Objek dan Daya Tarik Wisata di Kalibiru sudah dapat
mengurangi dampak negatif dari penyalah gunaan hasil hutan
yang pada akhirnya bisa berakibat terhadap perubahan
pemanfaatan lahan.

Partisipasi masyarakat Kalibiru dalam pengelolaan kawasan hutan


sebagai wisata alam merupakan model ideal dalam pemanfaatan
kawasan hutan.

Pemanfaatan kawasan hutan menjadi Objek dan Daya Tarik Wisata


di Kalibiru dapat memberikan peningkatan kesejahteraan
masyarakat di sekitar kawasan hutan.

Disisi lain peningkatan kesejahteraan masyarakat, secara tidak


langsung ikut menahan laju perpindahan penduduk ke Kota
khususnya Kota Yogyakarta.
TERIMA KASIH