Anda di halaman 1dari 66

LAPORAN KASUS

ODS RETINOPATI DIABETIK NON PROLIFERATIF


DERAJAT MINIMAL DAN
ODS PRESBIOPI

Disusun oleh :
Meilani Sulaeman
1420221145

Pembimbing:
dr. YB. Hari Trilunggono, Sp.M
dr. Dwidjo Pratiknjo, Sp.M

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
I. STATUS PASIEN

I.1 IDENTITAS PASIEN


Nama Pasien : Tn.S
Umur : 55 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaaan : Wiraswasta
Alamat : Mertoyudan, Magelang
Status Menikah : Menikah
Tanggal Pemeriksaan : Kamis, 9 Februari
2017
I.2 ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan pada hari Kamis,
9 Februari 2017 pukul 11:30 WIB
secara autoanamesis di Poli Mata RST
Dr. Soedjono, Magelang.

A. Keluhan Utama :
Penglihatan mata kanan dan kiri
kabur
B. Riwayat Penyakit
Sekarang
Pasien datang ke poli mata RST dr. Soedjono Magelang
dengan keluhan penglihatan mata kanan dan kiri kabur.
Awalnya kabur dirasakan pada mata kanan sejak 6
bulan yang lalu. Kemudian 3 bulan yang lalu keluhan
kabur dirasakan pula pada mata kiri. Keluhan mata
kabur dirasakan perlahan-lahan dan disertai dengan
melihat bintik-bintik gelap sehingga mengganggu
pandangannya. Keluhan melihat lingkaran-lingkaran
cahaya disangkal. Keluhan mata merah, cekot-cekot
pada mata dan mual muntah disangkal. Keluhan
pandangan lebih jelas pada malam hari dibandingkan
siang hari disangkal, keluhan membaca tanpa kaca mata
baca di sangkal.
Pasien memiliki riwayat kencing manis sejak
10 tahun yang lalu dimana pasien
merasakan keluhan sering kencing pada
malam hari, mudah merasa lapar dan mudah
merasa haus. Sampai saat ini pasien rutin
menjalani kontrol ke bagian penyakit dalam.
Pasien mengatakan diberikan 2 jenis obat
kencing manis, namun pasien mengaku obat
tersebut jarang di minum karena merasa
jenuh mengkonsumsi obat terus-menerus dan
semenjak 6 bulan terakhir hingga kini gula
darah pasien berkisar 200-300 dan 3 bulan
yang lalu sempat mencapai 400.
Keluhan kesulitan membaca dekat pun sudah
pasien rasakan sejak 5 tahun yang lalu
saat pasien mengaji, sehingga pasien harus
menjauhkan yang ia baca agar lebih jelas,
karena dirasakan sangat mengganggu
pasien memeriksakan matanya ke dokter
dan menggunakan kaca mata baca. Satu
tahun yang lalu pasien merasa kaca mata
baca yang digunakan sudah tidak cocok dan
mengganti dengan kaca mata baca plus 2.
Keluhan kabur saat melihat jauh dan lebih
kabur saat melihat dekat disangkal.
Riwayat darah tinggi disangkal,
riwayat penyakit kolesterol tidak ada,
riwayat konsumsi obat untuk sakit
lutut atau sendi disangkal, riwayat
konsumsi obat penenang disangkal,
riwayat trauma yang mengenai mata
pasien disangkal.
C. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat diabetes melitus diakui sejak
10 tahun yang lalu.
Riwayat hipertensi tidak ada.
Riwayat penyakit kolesterol tidak
ada.
Riwayat trauma pada mata
disangkal.
D. Riwayat Penyakit Keluarga
Saudara kandung (kakak) menderita
kencing manis.
Riwayat hipertensi tidak ada.
Riwayat penyakit kolesterol tidak
ada.
D. Riwayat Pribadi dan Sosial :

Pasien seorang wiraswasta. Sehari-


hari berdagang kelontongan di pasar.
Pasien periksa ke poli mata dengan
biaya ditanggung oleh BPJS. Kesan
ekonomi cukup. Pasien seorang
perokok sejak duduk di bangku SMA, 1
hari menghabiskan hingga 1
bungkus rokok.
I.3 PEMERIKSAAN FISIK

A. Status Generalisata :
Kesadaran : Composmentis
Aktifitas : Normoaktif
Kooperatif : Kooperatif
Status Gizi : Cukup

B. Vital Sign :
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Suhu : 36,6C
Pernafasan : 20 x/menit
STATUS OFTALMIKUS
OD OS
I.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. ODS Retinopati Diabetik Non Proliferatif


Pemeriksaan laboratorium : pemeriksaan gula
darah GDS, GDP, GD2PP.
Angiografi fluoresein
Stereoscopic biomicroskopic
Optical Cohorence Tomography (OCT)

2. ODS Presbiopia
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang.
I.5 DIAGNOSIS BANDING
1. Keluhan pandangan mata kanan dan kiri kabur
ODS Retinopati Diabetika Non-proliferatif (NPDR) Dipertahankan
karena pada anamnesis didapatkan keluhan pandangan kabur, riwayat
diabetes dengan konsumsi obat yang tidak teratur, dari hasil funduskopi
didapatkan mikroaneurisma, dilatasi vena dan eksudat keras.

ODS Retinopati Diabetika Proliferatif (PDR) Disingkirkan karena


pada pemeriksaan funduskopi PDR ditemukan neovaskularisasi pada disk
(NVD) maupun neovaskularisasi di tempat lain (NVE) sedangkan pada
pasien ini tidak didapatkan temuan tersebut.

ODS Retinopati Hipertensi Disingkirkan karena pada retinopati


hipertensi didapatkan riwayat hipertensi, pemeriksaan tanda vital tekanan
darah masuk kategori hipertensi, pada pemeriksaan funduskopi dapat
ditemukan AV Rasio kecil, tanda crossing sign, copper wire arteriol, silver
wire arteriol maupun perdarahan flame shape sedangkan pada pasien ini
tidak ditemukan temuan tersebut.

ODS Katarak komplikata ex causa diabetes mellitus Disingkirkan


karena pada katarak terutama stadium imatur didapatkan kontroversi yakni
pandangan lebih jelas saat malam hari dibandingkan siang hari dan dapat
membaca tanpa kaca mata baca (second sight), pada pemeriksaan dapat
I.5 DIAGNOSIS BANDING (2)

2. Keluhan kesulitan membaca dekat

ODS Presbiopia Dipertahankan karena pada


anamnesis terdapat keluhan kesulitan membaca
dekat dan lebih baik jika dijauhkan.

ODS Presbiopia Prekok disingkirkan karena


pada presbiopia prekok didapatkan pada usia
dibawah 40 tahun akibat komplikasi diabetes
melitus, sedangkan keluhan membaca pasien
pertama kali dirasakan saat usia 50 tahun.

ODS Hipermetropia Disingkirkan karena pada


hipermetropia terdapat keluhan penglihatan kabur
ketika lihat jauh dan lebih kabur ketika lihat dekat
sedangkan pada pasien ini tidak ada keluhan
I.6 DIAGNOSIS KERJA

ODS Retinopati Diabetika Non-


proliferatif (NPDR) derajat minimal
ODS Presbiopia
I.7 TERAPI

1. ODS Retinopati diabetic non-


proliferatif
A. Medikamentosa
Topical : Tidak ada
Oral : Vitamin E 1x1 per oral
Parenteral: Tidak ada
Operatif : Tidak ada
B. Non Medikamentosa: -
I.7 TERAPI

2. ODS Presbiopi
A. Medikamentosa
Topical : tidak ada
Oral : tidak ada
Parenteral: tidak ada
Operatif : tidak ada
B. Non Medikamentosa: -
Penggunaan kacamata add + 2,25
I.8 EDUKASI
1. ODS Retinopati diabetik non-proliferatif
Menjelaskan bahwa penglihatannya berkurang oleh karena
penyulit dari penyakit kencing manisnya.
Memberitahukan bahwa keluhan kabur pada kedua matanya
dapat kembali membaik selama pasien dapat mengontrol
kadar gula darahnya.
Memberitahu pasien agar terus mengontrolkan kadar gula
darahnya pada dokter spesialis penyakit dalam dan rutin
meminum obat untuk kencing manisnya karena bila gula
darah tidak dikendalikan maka dapat berkembang ke
stadium lanjut dan dapat mengakibatkan kebutaan.
Memberitahu pasien untuk sering kontrol ke dokter mata
minimal setiap 9 bulan sekali supaya perjalanan penyakit
dapat dipantau.
I.8 EDUKASI
2. ODS Presbiopi
Menjelaskan bahwa penurunan tajam penglihatan
yang dialami salah satunya disebabkan
melemahnya otot mata karena usia tua.
Menjelaskan bahwa kaca mata baca yang digunakan
hanya sebagai alat bantu untuk membaca jarak
dekat.
Menjelaskan kepada pasien bahwa setiap
pertambahan usia 5 tahun, koreksi kacamatanya
akan ditambah +0,5, pasien nantinya akan merasa
kurang cocok dengan kacamatanya yang sekarang
dan harus ganti lagi.
I.9 RUJUKAN

Dalam kasus ini dilakukan Rujukan ke


Disiplin Ilmu kedokteran lainnya,
yaitu bagian penyakit dalam untuk
pengobatan Diabetes Melitus dan
hipertensi yang ada pada pasien.
I.10 KOMPLIKASI

1. ODS Retinopati Diabetik Non-


Proliferatif
a.Rubeosis iridis progresif
b. Glaukoma neovaskuler
c. Perdarahan vitreus rekuren
d. Ablasio retina

2. ODS Presbiopi : -
I.11 PROGNOSIS
TINJAUAN PUSTAKA
I. RETINOPATI DIABETIKUM

1. Definisi
Retinopati diabetik adalah kelainan
retina (retinopati) yang ditemukan
pada penderita Diabetes Melitus.
2. Insidensi
Insidensi tinggi yakni mencakup 40-50%
penderita diabetes mellitus.
Durasi diagnosis DM, pada pasien yang
didiagnosis DM sebelum umur 30 tahun,
insiden retinopati diabetik setelah 50 tahun
sekitar 50% dan setelah 30 tahun mencapai
90%.
Di Amerika Serikat terdapat kebutaan 5.000
orang per tahun akibat retinopati diabetes.
Di Inggris retinopati diabetes merupakan
penyebab kebutaan nomor 4.
3. Faktor Resiko
Kontrol glukosa darah yang buruk.
Kehamilan.
Hipertensi yang tidak terkontrol.
Nefropati, jika berat dapat
mempengaruhi retinopati diabetik.
Faktor risiko lain meliputi merokok,
obesitas, anemia, dan hiperlipidemia.
4. Diagnosis dan Klasifikasi
Retinopati Diabetik

Diagnosis retinopati diabetik berdasarkan hasil funduskopi.


Pemeriksaan dengan fundal fluorescein angiography (FFA)
merupakan metode diagnosis yang paling dipercaya, namun
dalam klinik pemeriksaan dengan oftalmoskopi sering
digunakan sebagai skrining. Pada umumnya klasifikasi
didasarkan atas beratnya perubahan mikrovaskular retina dan
atau tidak adanya pembentukan pembuluh darah baru di retina.

Early Treatment Diabetik Retinopathy Study Research Group


(ETDRS) membagi retinopati diabetik atas nonproliferatif dan
proliferatif. Retinopati diabetik digolongkan ke dalam retinopati
diabetik non proliferatif (RDNP) apabila hanya ditemukan
perubahan mikrovaskular dalam retina, pada tahap awal.
Neovaskularisasi merupakan tanda khas retinopati diabetik
proliferatif.
Hasil funduskopi pada NPDR menunjukkan mikroneurisma,
pendarahan intraretina (kepala panah terbuka), hard exudates
(deposit lipid pada retina) (panah), cotton-wool spots (infark serabut
saraf dan eksudat halus) (kepala panah hitam).
Hasil funduskopi pada PDR menunjukkan
adanya neovaskularisasi preretinal.
5. ETIOLOGI DAN PATOGENESIS

Mekanisme terjadinya RD masih belum


jelas, namun beberapa studi menyatakan
bahwa hiperglikemia kronis merupakan
penyebab utama kerusakan multipel
organ.
Komplikasi hiperglikemia kronis pada
retina akan menyebabkan perfusi yang
kurang adekuat akibat kerusakan jaringan
pembuluh darah organ, termasuk
kerusakan pada retina itu sendiri.
Terdapat 4 proses biokimiawi yang terjadi pada
hiperglikemia kronis yang diduga berhubungan
dengan timbulnya retinopati diabetik, antara lain:
1) Akumulasi Sorbitol
2) Pembentukan protein kinase C (PKC)
3) Pembentukan Advanced Glycation End Product
(AGE)
4) Pembentukan Reactive Oxygen Speciesis (ROS)
6. GEJALA KLINIS

Retinopati diabetik biasanya


asimtomatik untuk jangka waktu
yang lama, hanya pada stadium
akhir dengan adanya keterlibatan
makula atau pendarahan vitreus
maka pasien akan menderita
penurunan visual dan buta
mendadak.
Gejala subyektif yang dapat dirasakan antara
lain:
Kesulitan membaca
Penglihatan kabur disebabkan karena
edema makula.
Penglihatan ganda
Penglihatan tiba-tiba menurun pada satu
mata
Melihat lingkaran-lingkaran cahaya jika
telah terjadi perdarahan vitreus.
Melihat bintik gelap & cahaya kelap-kelip
Gejala obyektif pada retina yang dapat dilihat antara
lain:
Mikroaneurisma, merupakan penonjolan dinding
kapiler terutama daerah vena dengan bentuk berupa
bintik merah kecil yang terletak dekat pembuluh darah
terutama polus posterior. Mikroaneurisma terletak
pada lapisan inti dalam dan merupakan lesi awal yang
dapat dideteksi secara klinis. Mikroaneurisma berupa
titik merah yang bulat dan kecil, awalnya tampak pada
temporal dari fovea. Perdarahan dapat dalam bentuk
titik, garis, dan bercak yang biasanya terletak dekat
mikroaneurisma di polus posterior.
PEMERIKSAAN KLINIS

Jika didapatkan gambaran Retinopati Diabetik


segera lakukan pemeriksaan :
Pemeriksaan GDS
Angiografi fluoresein
Stereoscopic biomicroskopic
Optical Cohorence Tomography (OCT)
Penatalaksanaan :
1. Pemeriksaan Rutin Pada Spesialis Mata
Sebagian besar penderita DM telah menderita retinopati saat
didiagnosis diabetes pertama kali. Pasien-pasien ini harus
melakukan pemeriksaan mata saat diagnosis ditegakkan.
Jadwal Pemeriksaan Berdasarkan Temuan Pada Retina

Abnormalitas retina Follow-up yang disarankan

Normal atau mikroaneurisma yang sedikit Setiap tahun

Retinopati Diabetik non proliferatif ringan Setiap 9 bulan

Retinopati Diabetik non proliferatif sedang Setiap 6 bulan

Retinopati Diabetik non proliferatif berat Setiap 4 bulan

Edema makula Setiap 2-4 bulan

Retinopati Diabetik proliferatif Setiap 2-3 bulan


Penatalaksanaan
2. Kontrol Glukosa Darah dan
Hipertensi
3. Fotokoagulasi
4. Injeksi Anti VEGF
5. Vitrektomi
Pemberian vitamin E sebagai pada
penderita retinopati diabetika
mampu mencegah peroksidasi lipid
pada membran sel pembuluh darah
dan mampu mencegah komplikasi.
8. Komplikasi

1. Rubeosis iridis progresif


2. Glaukoma neovaskuler
3. Perdarahan vitreus rekuren
4. Ablasio retina
9. Diagnosis Banding

Diagnosis banding harus menyingkirkan penyakit vascular


retina lainnya, adalah retinopati hipertensi. Retinopati
hipertensi adalah suatu kondisi dengan karakteristik
perubahan vaskularisasi retina pada populasi yang
menderita hipertensi. Tanda-tanda pada retina yang
diobservasi adalah penyempitan arteriolar secara general
dan fokal, perlengketan atau nicking arteriovenosa,
perdarahan retina dengan bentuk flame-shape dan blot-
shape, cotton-wool spots, dan edema papilla.
Kelainan makula: pada retinopati hipertensifmakula
menjadi star-shaped, sedangkan padaretinopati diabetik
mengalami edema. Kapiler pada retinopati hipertensif
menipis,sedangkan retinopati diabetik menebal (beading).
10. Prognosis

Kontrol optimum glukosa darah (HbA1c < 7%)


dapat mempertahankan atau menunda retinopati.
Hipertensi arterial tambahan juga harus diobati
(dengan tekanan darah disesuaikan <140/85
mmHg). Tanpa pengobatan, Detachment retinal
tractional dan edema makula dapat
menyebabkan kegagalan visual yang berat atau
kebutaan. Bagaimanapun juga, retinopati diabetik
dapat terjadi walaupun diberi terapi optimum.
II. PRESBIOPIA
1. Definisi
Presbiopia merupakan kondisi mata dimana lensa kristalin kehilangan
fleksibilitasnya sehingga membuatnya tidak dapat fokus pada benda yang
dekat.
Presbiopi adalah suatu bentuk gangguan refraksi, dimana makin berkurangnya
kemampuan akomodasi mata sesuai dengan makin meningkatnya umur.
Presbiopia merupakan bagian alami dari penuaan mata. Presbiopi ini bukan
merupakan penyakit dan tidak dapat dicegah.
Presbiopi atau mata tua yang disebabkan karena daya akomodasi lensa mata
tidak bekerja dengan baik akibatnya lensa mata tidak dapat menmfokuskan
cahaya ke titik kuning dengan tepat sehingga mata tidak bisa melihat yang
dekat.
Presbiopi adalah suatu bentuk gangguan refraksi, dimana makin berkurangnya
kemampuan akomodasi mata sesuai dengan makin meningkatnya umur. Daya
akomodasi adalah kemampuan lensa mata untuk mencembung dan memipih.
Biasanya terjadi diatas usia 40 tahun, dan setelah umur itu, umumnya
seseorang akan membutuhkan kaca mata baca untukmengkoreksi
presbiopinya.
2. Etiologi

Terjadi gangguan akomodasi lensa


pada usia lanjut.
Kelemahan otot-otot akomodasi.
Lensa mata menjadi tidak kenyal,
atau berkurang elastisitasnya akibat
kekakuan (sklerosis) lensa.
3. Patofisiologi

Pada mekanisme akomodasi yang normal


terjadi peningkatan daya refraksi mata
karena adanya perubahan keseimbangan
antara elastisitas matriks lensa dan kapsul
sehingga lensa menjadi cembung. Dengan
meningkatnya umur maka lensa menjadi
lebih keras (sklerosis) dan kehilangan
elastisitasnya untuk menjadi cembung.
Dengan demikian kemampuan melihat
dekat makin berkurang.
4. Klasifikasi

Presbiopi Insipien tahap awal perkembangan presbiopi, dari


anamnesa didapati pasien memerlukan kaca mata untuk
membaca dekat, tapi tidak tampak kelainan bila dilakukan tes,
dan pasien biasanya akan menolak preskripsi kaca mata baca
Presbiopi Fungsional Amplitud akomodasi yang semakin
menurun dan akan didapatkan kelainan ketika diperiksa
Presbiopi Absolut Peningkatan derajat presbiopi dari presbiopi
fungsional, dimana proses akomodasi sudah tidak terjadi sama
sekali
Presbiopi Prematur Presbiopia yang terjadi dini sebelum usia 40
tahun dan biasanya berhungan dengan lingkungan, nutrisi,
penyakit, atau obat-obatan
Presbiopi Nokturnal Kesulitan untuk membaca jarak dekat pada
kondisi gelap disebabkan oleh peningkatan diameter pupil.
5. Gejala

Kesulitan membaca tulisan dengan cetakan huruf yang halus


/ kecil
Setelah membaca, mata menjadi merah, berair, dan sering
terasa pedih. Bisa juga disertai kelelahan mata dan sakit
kepala jika membaca terlalu lama
Membaca dengan menjauhkan kertas yang dibaca atau
menegakkan punggungnya karena tulisan tampak kabur
pada jarak baca yang biasa (titik dekat mata makin menjauh)
Sukar mengerjakan pekerjaan dengan melihat dekat,
terutama di malam hari
Memerlukan sinar yang lebih terang untuk membaca
Terganggu secara emosional dan fisik
Sulit membedakan warna
6. Diagnosis Presbiopi
Anamnesa gejala-gejala dan tanda-tanda presbiopi
Pemeriksaan Oftalmologi
Visus Pemeriksaan dasar untuk mengevaluasi presbiopi dengan
menggunakan Snellen Chart.
Refraksi Periksa mata satu per satu, mulai dengan mata kanan.
Pasien diminta untuk memperhatikan kartuJaeger dan
menentukankalimat terkecil yang bisa dibaca pada kartu. Target
koreksi pada huruf sebesar 20/30.
Motilitas okular, penglihatan binokular, dan akomodasitermasuk
pemeriksaan duksi dan versi, tes tutup dan tes tutup-buka, tes
Hirschberg, amplitudo dan fasilitas akomodasi, dan steoreopsis.
Penilaian kesehatan okular dan skrining kesehatan umumuntuk
mendiagnosa penyakit-penyakit yang bisa
menyebabkanpresbiopia.
Pemeriksaan ini termasuk reflek cahaya pupil, tes konfrontasi,
penglihatan warna, tekanan intraokular, dan pemeriksaan
menyeluruh tentang kesehatan segmen anterior dan posterior dari
mata dan adnexanya.Biasanya pemeriksaan dengan
ophthalmoskopiindirect diperlukan untuk mengevaluasi segmen
7. Penatalaksanaan
Digunakan lensa positif untuk koreksi presbiopi. Tujuan
koreksi adalah untuk mengkompensasi ketidakmampuan
mata untuk memfokuskan objek-objek yang dekat.
Kekuatan lensa mata yang berkurang ditambahan
dengan lensa positif sesuai usia dan hasil pemeriksaan
subjektif sehingga pasien mampu membaca tulisan pada
kartu Jaeger 20/30.
Karena jarak baca biasanya 33 cm, maka adisi +3.00 D
adalah lensa positif terkuat yang dapat diberikan pada
pasien. Pada kekuatan ini, mata tidak melakukan
akomodasi bila membaca pada jarak 33 cm, karena
tulisan yangdibaca terletak pada titik fokus lensa +3.00
D.
8. Komplikasi

Tidak ada komplikasi pada


presbiopia.
Terima Kasih
DAFTAR PUSTAKA

Ilyas, S. 2014. Presbiopia dalam Kelainan Refraksi dan


Koreksi Penglihatan. Edisi 5. Jakarta: Penerbit FKUI. hal:
75-76.
Ilyas, S. 2014. Retinopati Diabetik dalam Ilmu Penyakit
Mata. Edisi 5. Jakarta: Penerbit FKUI. hal: 230-234.
James, Bruce,Chris C., Anthony B..2005. Lecture Notes
Oftalmologi. Edisi 9. Jakarta : Erlangga. Hal: 35.
Nema HV., 2002. Text Book of Opthalmology, Edition 4,
Medical Publishers, New Delhi, page: 249-251.
Riordan, Paul, Whitcher, John P. 2010. Vaughan &
Asbury Oftalmologi Umum. Jakarta: EGC. Hal: 211-214.
a. Retinopati Diabetika Proliferatif (PDR)
: dari NPDR yang tidak tertangani dengan
baik (DM tidak ditangani /tidak terkontrol)
PDRiskemia retina yang
progresifmerangsang pembentukan
pembuluh darah baru (NVD dan
NVE)kebocoran protein
serumneovaskularisasi mudah
rapuhpecahterjadi perdarahan di korpus
viterus yg masif penurunan penglihatan
mendadak.
Rubeosis iridis
Tand glaukoma glaukoma
neovascular
Vitreus peradarahan floaters kalo
masih dini
Ablasio retina kilatan cahaya