Anda di halaman 1dari 24

TINJAUAN YURIDIS MENGENAI KERJASAMA

PEMERINTAH DAERAH DENGAN BADAN USAHA


DALAM PENGEMBANGAN SEJUTA RUMAH DI
SAMARINDA
(Ditinjau Dari Peraturan Presiden Republik Indonesia
Nomor 38 Tahun 2015)
Latar belakang
Sebagaimana diamanatkan dalam Undang Undang
Dasar (UUD) 1945 pasal 28 H Amandemen UUD 1945,
rumah adalah salah satu hak dasar setiap rakyat
Indonesia, maka setiap warga negara berhak untuk
bertempat tinggal dan mendapat lingkungan hidup
yang baik dan sehat.
Menurut Undang-Undang Nomor 1 tahun 2011 Tentang
Perumahan Dan Kawasan Pemukiman, rumah adalah
bangunan gedung yang berfungsi sebagai tempat
tinggal yang layak huni, sarana pembinaan keluarga,
cerminan harkat dan martabat penghuninya, serta
asset bagi pemiliknya.
Backlog sebesar 7,6 Juta unit pada tahun 2014 berdasarkan
konsep penghunian

Menjadi 5 juta unit pada tahun 2019


Backlog sebesar 13,5 juta unit pada tahun 2014 berdasarkan
konsep kepemilikan

Menjadi sebesar 6,8 juta unit pada tahun 2019


Masalah di sektor perumahan ini
menjadi salah satu perhatian dari
pemerintahan presiden Republik
indonesia joko widodo meluncurlah
program sejuta rumah murah.
Sejuta rumah ini merupakan hasil
revisi dari program awal yang
sempat dipatok 2 juta unit rumah
pertahun.
APBN
113.422
MBR

NON APBN
586.578

NON MBR 300.000


KEMUDAHAN DALAM PROGRAM SEJUTA
RUMAH

UANG MUKA KPR 1%


MBR

BUNGA KPR 5 %

bantuan PSU
PENGEMBANG

Kemudahan Proses IMB


Namun program mulia ini tak luput dari
oknum pengembang untuk mencari
keuntungan yang mencoreng program
bertujuan mulia ini. Salah satunya
pengembang menjual rumah itu di atas harga
yang telah ditentukan Pemerintah Pusat,
yakni maksimal Rp 130 juta.
Bahkan, tidak sedikit warga yang melaporkan
oknum pengembang kepada polisi. Salah
satunya, kasus membawa kabur uang panjar
tanpa membangun rumah
Gambar : Saka Indah Permai (Jln. P. Suryanata, Gang
Saka Kamp. Pinang RT. 17 No. 88 Kel. Bukit Pinang
Samarinda Ulu)
Dalam menjalankan Program
Sejuta Rumah, dibutuhkan
kerjasama antara berbagai
pihak . Pihak tersebut antara lain
: Pemerintah Pusat, Daerah,
dunia usaha (pengembang) dan
masyarakat.
BerdasarkanPasal 1 angka 6 Peraturan Presiden Nomor
38 Tahun 2015 Tentang Kerjasama Pemerintah dan
Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur, dalam
Peraturan tersebut, Kerjasama Pemerintah Dan Badan
Usaha yang selanjutnya disebut sebagai KPBU adalah
kerjasama antara pemerintah dan Badan Usaha dalam
Penyediaan Infrastruktur untuk kepentingan umum
dengan mengacu pada spesifikasi yang telah ditetapkan
sebelumnya oleh Menteri/Kepala Lembaga/Kepala
Daerah/Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik
Daerah, yang sebagian atau seluruhnya menggunakan
sumber daya Badan Usaha dengan memperhatikan
pembagian risiko diantara para pihak.
Agar terciptanya kerjasama yang
baik maka perlu evaluasi serta
pengawasan dalam hal
pengembangan Program kerja
mengingat bisnis poperti merupakan
bisnis yang sangat menguntungkan
bagi semua golongan masyarakat
serta ketelitian dalam memastikan
badan usaha agar tidak tejadi bisnis
ilegal yang melenceng dengan visi
dan misi progam Sejuta rumah.
RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana Kerjasama Pemerintah Dan Badan
Usaha (KPBU) dalam pengembangan Sejuta rumah
ditinjau dari Peraturan Presiden Republik Indonesia
Nomor 38 Tahun 2015?
2. Bagaimana keabsahan perusahaan sebagai
pengembang program Sejuta rumah di Samarinda
ditinjau dari Peraturan Presiden Republik Indonesia
Nomor 38 Tahun 2015?
3. Bagaimana peran dan pengawasan pemerintah
daerah kota samarinda sebagai pengemban
dalam program 1 juta rumah murah ?
TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk Mengetahui dan mengkaji bagaimana
Kerjasama Pemerintah Dan badan usaha dalam
pengembangan Sejuta rumah di Samarinda ditinjau
dari Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2015.
2. Untuk mengetahui dan mengkaji bagaimana
keabsahan pengembang program Sejuta rumah di
Samarinda ditinjau dari Peraturan Presiden Nomor
38 Tahun 2015.
3. Untuk mengetahui pengawaan serta evaluasi
Pemerintah Daerah dalam pengembangan Sejuta
rumah di samarinda.
MANFAAT PENELITIAN
1. Untuk mengetahui mengenai kerjasama
pemerintah Dan badan usaha dalam
pengembangan Sejuta rumah berdasarkan
Peraturan Presiden Nomor 38 tahun 2015
2. Penelitian ini diharapkan mampu menambah
wawasan pengetahuan yang bermanfaat bagi
penulis pada khususnya dan bagi masyarakat
pada umumnya tentang kerjasama
pemerintah daerah dan badan usaha dalam
pengembangan Sejuta rumah di Samarinda.
KEASLIAN PENELITIAN
Sampai saat ini belum ada penelitian yang sama
dengan judul yang penulis angkat yaitu mengenai
TINJAUAN YURIDIS MENGENAI KERJASAMA
PEMERINTAH DAERAH DENGAN BADAN USAHA DALAM
PENGEMBANGAN SEJUTA RUMAH DI SAMARINDA
TEORI DAN KONSEP
1. Teori Hukum
2. Kerjasama Pemerintah Dan Badan
Usaha (KPBU)
3. Public Private Partnership
4. Tinjauan Umum Tentang Tindak
Pidana Penipuan
5. Teori Pengawasan
METODE PENELITIAN

1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang akan penulis gunakan dalam
penulisan skripsi ini adalah yuridis empiris yaitu
mengkaji hukum yang dikonsepkan sebagai perilaku
nyata (actual behavior) sebagai gejala sosial yang
bersifat tidak tertulis, yang dialami setiap orang dalam
hubungan hidup bermasyarakat.
2. Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan
Live Case Study , yaitu pendekatan studi kasus pada
peristiwa hukum yang dalam keadaan berlangsung atau
belum berakhir. Pada tipe pendekatan ini, peneliti
melakukan pengamatan (observation) langsung terhadap
permasalahan hukum pada peristiwa tertentu.

3. Lokasi Penelitian
Berdasarkan judul dalam penulisan ini, maka lokasi
penelitian dilakukan di Kota Samarinda Provinsi
Kalimantan timur
4. Waktu Dan Jadwal Penelitian
Waktu dan jadwal penelitian ini dimanfaatkan selama
masa tenggang waktu yang diberikan sampai pada
penyelesaiaan penelitian serta penulisan skripsi ini.
Terhitung dimalai tanggal 14 desember 2016 sampai
dengan tanggal 14 Mei 2017.
5. Populasi dan Sampel Penelitian
Penulis membagi populasi menjadi 3 bagian yaitu Pemerintah Daerah,
Pihak Bank dan pihak Developer dan sampel dalam penelitian ini adalah
Dinas perumahan dan pemukiman Kota Samarinda, Bank Tabungan
Negara dan Real Estate Indonesia (REI).

6. Jenis Dan Sumber Data


. Data hukum premier berupa data yang diperoleh dengan melakukan
penelitian lapangan (field research). Penelitian lapangan ini adalah
penelitian data yang dilakukan secara langsung dilapangan
terhadap obyek lokasi yaitu Sejuta rumah di Samarinda dan
bagaimana pelaksanaan serta pengawasan pengembangan Sejuta
rumah di Samarinda.
. Data hukum sekunder adalah sumber peneliti butuhkan yang
diperoleh dari studi pustaka yang terdiri dari buku-buku dan
peraturan perundang-undangan yang terkait yaitu Peraturan
Presiden Nomor 38 tahun 2015 tentang Kerjasama pemerintah
daerah dengan badan usaha dalam pengembangan infrastruktur.
. Data hukum tertier meliputi media masa pada situs-situs internet,
kliping serta artikel-artikel, yang digunakan sebagai pelengkap
dalam penelitian ini.
7. Teknik Pengumpulan Data Hukum
- Studi lapangan, yaitu pencarian data dengan melakukan
wawancara yaitu memberikan beberapa pertanyaan
secara langsung, baik itu berupa wawancara yang bersifat
tertutup maupun terbuka.
- Studi kepustakaan yaitu mengkaji perundang-undangan,
buku, skripsi, tesis, jurnal, makalah, artikel, dan dokumen
hukum
8. Analisis Data
Analisis data yang digunakan oleh penulis adalah
menggunakan analisis data secara deskriptif kualitatif,
yaitu analisis yang dilakukan pada saat pengumpulan data
berlangsung dan setelah selesai pengumpulan data dalam
waktu tertentu dan menguraikan data, maksudnya data
yang diperoleh disajikan secara deskriptif (memaparkan
dan menjelaskan) dan secara sistematis sehingga tidak
menimbulkan penafsiran yang beragam.
TERIMA KASIH