Anda di halaman 1dari 11

Effect of Phototherapy with

Alumunium Foil Reflectors on


Neonatal Hyperbilirubinemia

Paediatr Indonesia, Vol. 55, No. 1, January 2015


Hiperbilirubinemia pada neonatus merupakan salah
satu permasalahan tersering pada bayi baru lahir, 60%
terjadi pada bayi cukup bulan dan 80% terjadi pada
bayi kurang bulan atau prematur.
Fototerapi merupakan terapi yang digunakan pada
kejadian hiperbilirubinemia neonatus.
Efektivitas fototerapi tergantung pada sumber sinar,
intensitas, jarak antara sinar fototerapi dan neonatus,
dan paparan sinar dengan luas permukaan tubuh.
Selain pantulan tirai putih, alumunium foil dapat
memantulkan sekitar 92-98% sinar dan panjang
gelombang, maka bisa digunakan sebagai reflektor
pada fototerapi.
Tujuan dari penelitian ini untuk membandingkan durasi
fototerapi pada neonatus cukup bulan dengan
Hiperbilirubinemia Neonatus, baik yang menggunakan
fototerapi maupun yang tanpa reflektor alumunium foil.
Neonatus yang memenuhi kriteria inklusi mencapai 35.
Metode
Penelitian dilakukan di RS Dr. Hasan Sadikin, Bandung
pada Juli- Agustus 2013.
Kriteria inklusi:
Semua neonatus cukup bulan dengan HN tanpa
komplikasi dan menggunakan fototerapi berdasarkan
panduan dari AAP.
Kriteria eksklusi:
Semua neonatus yang terdiagnosis HN <24 jam awal
kehidupan, kongenial anomali, asfiksia berat, defisiensi
G6PD, atau tidak diketahui berat lahirnya.
Minimum jumlah sampel dihitung menggunakan dua formula yang berbeda, 95%
dengan confidence interval dan 80% dengan power test, hasilnya didapatkan 35
sampel pada masing-masing formula.
Alur:
1. Subjek yang dipilih adalah neonatus yang terdiagnosis HN
2. Dibagi dalam dua kelompok, yaitu fototerapi dengan reflektor alumunium
(kelompok intervensi) dan fototerapi tanpa reflektor (kelompok kontrol)
3. Bilirubin serum diambil pada 12 jam, 24 jam, 48 jam, selanjutnya setiap 24 jam
bila dibutuhkan. Pemeriksaan bilirubin serum dapat dihentikan sesuai dengan
panduan AAP.
4. Subjek tetap dalam kelompok masing-masing hingga fototerapi dihentikan atau
neonatus tereksklusi dari penelitian.
5. Reflektor alumunium diletakkan pada empat sisi neonatus.
Penelitian ini menggunakan fototerapi sinar biru dengan
panjang gelombang rata-rata 460-490 nm. Bola lampu
baru bersinar biru digunakan kedalam penelitian ini.
Jarak antara alat fototerapi dengan neonatus sekitar 30
cm, hal ini berdasarkan panduan AAP agar hantaran
spektrumnya optimal dalam menurunkan bilirubin
serum.
Vital sign dan hidrasi subjek dipantau setiap jam.
Asupan cairan meningkat sebesar 10 % dari kebutuhan
harian neonatus.
Analisis subjek menggunakan Chi-square untuk data
kategori dan Annova untuk data numerik.
Durasi fototerapi dengan atau tanpa reflektor
alumunium foil dianalisis menggunakan metode analisis
survival dan Gehan test, signifikan koefisien sebesar
p<0.05
Hasil Penelitian
Dari 70 neonatus yang menjadi kriteria inklusi, terdapat 35
neonatus sebagai kelompok kontrol dan 35 lainnya sebagai
kelompok intevensi.
Hubungan antara neonatus dan kadar bilirubin serum berhubungan
dengan asupan yang diberikan (ASI contohnya), perbedaan berat
badan lahir dan berat badan sebelum dilakukan fototerapi, usia
onset mendapat paparan fototerapi dan initial kadar bilirubin serum
pada masing-masing kelompok.
Bilirubin serum dipantau pada 12 jam, 24 jam, 48 jam, 72 jam dan
96 jam setelah paparan fototerapi. Pada penelitian ini dibandingkan
hasilnya antara paparan 72 jam dengan 96 jam terhadap kadar
bilirubin serum pada kelompok intervensi (pada tabel).
Analisis antara fototerapi dengan atau tanpa reflektor
alumunium foil, yaitu kelompok intervensi membutuhkan
waktu 72 jam untuk menghentikan fototerapi sedangkan
kelompok kontrol 96 jam, maka p= 0.01
Diskusi
Hasil penelitian membuktikan bahwa durasi fototerapi
dengan reflektor alumunium foil lebih singkat daripada
fototerapi tanpa reflektor.
Hubungan antara neonatus dan kadar bilirubin serum
berhubungan dengan asupan yang diberikan (ASI
contohnya), perbedaan berat badan lahir dan berat
badan sebelum dilakukan fototerapi, usia onset
mendapat paparan fototerapi dan initial kadar bilirubin
serum. Namun faktor-faktor ini tidak memiliki dampak
pada hasil penelitian.
Efektivitas fototerapi tergantung pada sumber sinar, intensitas sinar,
jarak antara alat fototerapi dengan neonatus dan paparan sinar
yang optimal pada permukaan tubuh. Satu atau dua dari faktor ini
mempengaruhi pengurangan durasi fototerapi dengan reflektor.
Penelitian ini menggunakan fototerapi sinar biru dengan panjang
gelombang rata-rata 460-490 nm sangat efektif untuk mengurangi
kadar bilirubin serum, hal ini mengoptimalkan penetrasi kedalam
jaringan, lalu mengubah bilirubin serum menjadi bilirubin
terkonjugasi agar lebih mudah diekskresi. Selama perlakuan ini,
subjek hanya memggunakan popok dan penutup mata. Posisi
neonatus berganti setiap 2-3 jam untuk memaksimalkan paparan
terhadap seluruh permukaan kulit.