Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN KASUS

MIGRAIN

Pembimbing :
dr. P. Budi Muliawan Sp,S

MARCHA FERRA YULENDA


pendahuluan
Migrain adalah nyeri kepala heterogen dengan nyeri hebat dan durasi lama
dibandingkan dengan nyeri kepala lain. Walaupun kebanyakan penderita
migren dilaporkan nyerinya sedang sampai berat selama serangan,
pengobatan terbanyak adalah dengan menggunakan obat-obatan over-the-
counter (OTC).

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa migrain adalah salah


satu dari 20 penyakit terbanyak yang menimbulkan gangguan aktivitas
kehidupan seseorang.
Nama : Ny. NNS
Umur : 32 th
Jenis Kelamin : perempuan
Pekerjaan : Pegawai swasta
Suku : Bali
Agama : Hindu
No. CM : 063896
Tanggal pemeriksaan : 18 Oktober 2016
Keluhan Utama
Anamnesa
Nyeri kepala sebelah kiri
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke IGD RSUD Klungkung tanggal 18 oktober 2016 pukul 23.30 WITA dengan
keluhan nyeri kepala sebelah kiri yang dirasakan sejak 2 hari yang lalu. Nyeri dirasakan
seperti berdenyut di area temporofrontalis sebelah kiri menjalar sampai ke daerah orbita. Nyeri
muncul tidak tentu dan mendadak, dirasakan terus menerus dan semakin lama semakin
memberat.
Pasien mengeluhkan sekali serangan, lama waktu nyeri bisa sampai lebih dari 72 jam
sampai 4 hari. Nyeri semakin berat jika digunakan untuk berjalan dan melakukan aktivitas.
Nyeri berkurang jika digunakan untuk berbaring. Pasien sudah minum obat anti nyeri, namun
tidak berkurang. Pasien juga mengeluhkan mual dan lemas dan tampak pucat. Pasien juga
mengeluhkan terganggunya aktifitas dan pekerjaan akibat nyeri kepala yang dirasakan oleh
pasien saat ini. Pasien mengatakan terkadang sering terbangun malam karena nyeri kepala
yang muncul secara tiba-tiba.
Pasien menyatakan tidak demam, tidak ada sesak. tidak ada penurunan kesadaran tidak ada,
kelemahan anggota tubuh lainnya tidak ada, BAB dan BAK lancar.
Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien mengalami keluhan nyeri kepala sudah sejak 5 tahun


yang lalu, pasien memiliki gangguan visus miopi sejak 2 tahun
yang lalu. Pasien tidak memiliki riwayat trauma sebelumnya.
Pasien tidak memiliki riwayat hipertensi, riwayat asma, kelainan
jantung. Diabetes melitus.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga yang mengalami seperti ini sebelumnya.

Riwayat Pengobatan
Pasien mengkonsumsi obat anti nyeri namun, nyeri tidak kunjungn
membaik.pasien juga sedang memakai suntuk KB 1 tahun terakhir.
Riwayat Sosial
Pasien merupakan seorang pegawai swasta yang bekerja di daerah
denpasar dan klungkung. Pasien tidak memiliki kebiasaan minum kopi dan
alkohol.
Riwayat alergi
Riwayat tidak memiliki alergi terhadap debu, cuaca, obat atau makanan
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum :Lemah
Kesadaran :Compos mentis
Nadi : 80x/menit
Nafas : 20x/menit, reguler, pernafasan
abdominotorakal
Suhu : 36,5oC (aksila)
Tekanan Darah : 130/80 mmHg
Status gizi
Berat badan : 65 kg
Tinggi badan : 167 cm
Kepala : normocepal,

Mata : konjungtiva anemis -/-, sclera ikterus -/-, reflek


cahaya (+), pupil isokhor.

Telinga : bentuk normotia, serumen -/-, otorhea -/-

Hidung : mukosa hidung merah muda, septum deviasi


(-), sekret (-)

Mulut : lidah kotor (-), stomatitis (-)

Leher : Pembesaran KGB (-), Pembesaran Tiroid (-),


JVP tidak meningkat
Thoraks :

Paru :

Inspeksi : normochest, pergerakan dinding


dada simetris, retraksi sela iga (-)

Palpasi : nyeri tekan (-), Vokal Fremitus normal

Perkusi : sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi : vesicular, ronki (-/-), Wheezing (-/-)


Jantung :
Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : ictus cordis teraba di ICS V midclavicula
Perkusi : batas atas di ICS III linea parasternalis dextra, batas kanan di
ICS IV linea parasternalis dextra, batas kiri di ICS V linea parasternalis
sinistra
Auskultasi : S1 S2 tunggal regular, gallop (-), murmur (-)

Abdomen :
Inspeksi : Distensi (-)
Auskultasi : Bising usus (+) Normal
Palpasi : nyeri tekan epigastrium (-), hepar dan lien dalam batas normal
Perkusi : timpani pada seluruh lapang abdomen
Ekstremitas
Atas : hangat, edema -/-, sianosis -/-
Bawah : hangat, edema -/-, sianosis -/-
Pemeriksaan fisik neurologis

Kesan umum
Kesadaran: GCS : E4V5M6
Kecerdasan : Sesuai tingkat pendidikan
Kranium
Bentuk : Normosefali
Fontanel : Tertutup
Simetris kiri-kanan : Simetris
Kedudukan : Normal
Palpasi : fraktur (-),cephal hematoma (-)
Pemeriksaan Khusus
Meningeal sign :
Kaku kuduk : (-)
Tanda Kernig : Tidak dievaluasi
Brudzinski I : Tidak dievaluasi
Brudzinski II : Tidak dievaluasi
saraf carnialis (I-XII) : Kanan /kiri
dalam batas normal
Reflek fisiologis : kanan/kiri
++/++
Reflek patologis : kanan/kiri
-/-
Reflek sensorik : kanan/kiri
-/-
Pem. Kekuatan motorik : Kanan/Kiri
Extremitas atas Extremitas bawah
Simetris : Simetris Simetris : Simetris
Tenaga Tenaga
m. deltoid :5 5 Fleksi panggul :5 5
m. bisep :5 5 Ekstensi panggul :5 5
m. trisep :5 5 Fleksi lutut :5 5
fleksi pergelangan tangan: 5 5 Ekstensi lutut :5 5
ekstensi pergelangan tangan : 5 5 Plantar fleksi :5 5
membuka jari-jari tangan: 5 5 Dorsi fleksi :5 5
menutup jari-jari tangan: 5 5 Tonus : Normal Normal
Tonus : Normal Normal Trofik :Eutrofik Eutrofik
Trofik : Eutrofik Eutrofik
Fungsi vegetatif
Kandung Kencing : Normal
Rektum : Normal
Genitalia : Normal
Gerakan involunter : Tidak ada
Sensibilitas
Rasa raba : Normal
Rasa nyeri : Normal
Rasa suhu : Normal
Pemeriksaan Lain
Tanda Lasegue : Tidak dikerjakan
PROBLEM :

Nyeri kepala sebelah kiri


ASSESMENT

Diagnosa klinis : cepalghia

Diagnosa topis : arteri intrakranial

Diagnosa etiologi : migrain


Planing Diagnosis

Cek DL

Rontgen skull AP/ Lateral


Planing Terapi

-analgetik : golongan NSAID : Ketorolac


inj. 1 amp.
-antiemetik : metokloperamide tab 2x1
-golongan Opioid : Pethidine 50 mg i.m IV
BAB II Tinjauan Pustaka
Nyeri kepala vaskular
Migrain berulang dengan
serangan nyeri
yang berlangsung
4-72 jam

sifat nyeri : satu sisi (unilateral),


sifatnya berdenyut, intensitas nyerinya
sedang sampai berat, diperberat oleh
aktivitas, dan dapat disertai dengan
mual dan atau muntah, fotofobia, dan
fonofobia
ETIOLOGI
Migraine bisa disebabkan oleh:
Dilatasi pembuluh darah besar ekstrakranial
Dibebaskannya subtansi neurokinin ketika vasodilatasi
pembuluh darah terjadi.
Gangguan pada autoregulasi arteri intrakranial
Faktor genetik, yaitu kelainan pada dua gen yang
berperan dalam autosomal dominan pada migraine yaitu
FHM1 dan FHM2.
Faktor-faktor pencetus migraine :
Perubahan hormonal biasanya pada wanita
Mengkonsumsi kafein
Ketegangan jiwa (stress) baik emosional maupun fisik
Cahaya kilat atau berkedp
Makanan; terutama banyak mengandung MSG
Banyak tidur atau kurang tidur
Faktor herediter
Faktor kepribadian
Faktor cuaca
Teori vaskular
Vasokontriksi intrakranial di bagian luar
korteks berperan dalam terjadinya migren
dengan aura autoregulasi arteri
intrakranial untuk vasodilatasi
Teori Neurovaskular dan Neurokimia

Pada saat serangan migren nervus trigeminus mengeluarkan CGRP (Calcitonin


Gene-related Peptide) dalam jumlah besar. vasodilatasi pembuluh darah multipel,
nyeri kepala.

CGRP adalah peptida yang tergolong dalam anggotacalcitonin yang terdiri dari
calcitonin, adrenomeduin, dan amilin.

Dengan adanya rangsangan aferen pada pembuluh darah, maka menimbulkan nyeri
berdenyut.
TANDA DAN GEJALA MIGRAINE :

Migren tanpa aura


Serangan dimulai dengan nyeri kepala
berdenyut di satu sisi dengan durasi
serangan selama 4-72 jam. Nyeri
bertambah berat dengan aktivitas fisik dan
diikuti dengan nausea dan atau fotofobia
dan fonofobia.
Migren dengan aura
Sekitar 10-30 menit sebelum sakit kepala dimulai (suatu periode yang disebut aura),
gejala-gejala depresi, mudah tersinggung, gelisah, mual atau hilangnya nafsu makan
muncul pada sekitar 20% penderita.
Terkadang mengalami hilangnya penglihatan pada daerah tertentu (bintik buta atau
skotoma) atau melihat cahaya yang berkelap-kelip.
kesemutan atau kelemahan pada lengan dan tungkainya. Gejala biasanya menghilang
sesaat sebelum sakit kepala dimulai, tetapi kadang timbul bersamaan saat sakit kepala
Pada penderita yang memiliki aura, pola dan lokasi sakit kepalanya pada setiap
serangan migran adalah sama.

Migren bisa sering terjadi selama waktu yang panjang tetapi kemudian menghilang
selama beberapa minggu, bulan bahkan tahun.
4 fase migrain
Klasifikasi
Berdasarkan klasifikasi dari International Headache Society tahun 2013, migren dibagi menjadi dua, yaitu:

Migrain dengan aura ( classic migraine )


nyeri kepala biasanya tidak lebih dari 60 menit
Migrain tanpa aura
yaitu sekitar 5-20 menit.
-Sakit kepalanya hampir sama dengan
- Diawali dengan gangguan pada fungsi saraf,
migren dengan aura.
terutama visual, diikuti oleh nyeri kepala
unilateral, mual, dan kadang muntah, aura --Nyerinya salah satu bagian sisi
dapat berupa : kepala dan bersifat : berdenyut
-Gangguan penglihatan, seperti melihat titik dengan disertai mual, fotofobia dan
garis atau skotoma fonofobia.
-Kesemutan unilateral
-Nyeri kepala berlangsung selama 4-
-Paresis unilateral dengan atau tanpa afasia
72 jam
-Gangguan pembicaraan yang lain.
DIAGNOSIS MIGRAINE DITEGAKKAN BERDASARKAN THE
INTERNATIONAL HEADACHE SOCIETY (IHS) YAITU

Migren tanpa aura : Migren dengan aura :


A. Setidaknya lima serangan memenuhi kriteria B
hingga D. A. Setidaknya dua serangan memenuhi kriteria B.
B. Serangan sakit kepala berlangsung 4 hingga 72
B. Migren dengan aura memenuhi kriteria B dan
jam (tidak dirawat atau telah
dirawat namun belum sukses). C untuk satu dari subklasifi kasi sebagai berikut:
C. Sakit kepala memiliki setidaknya dua dari
karakteristik berikut: - Typical aura with migraine headache
1. Lokasinya satu sisi (unilateral)
- Typical aura with non-migraine headache
2. Kualitas berdenyut (pulsating)
3. Intensitas nyeri sedang atau berat -Typical aura without headache
4. Diperberat oleh atau menyebabkan terganggunya
aktivitas fisik rutin/harian - Familial hemiplegic migraine (FHM)
(misalnya berjalan atau naik tangga)
D. Selama sakit kepala berlangsung setidaknya - Sporadic hemiplegic migraine
disertai satu hal berikut ini: - Basilar-type migraine
1. Mual dan/atau muntah
2. Photophobia dan phonophobia C. Tidak berhubungan dengan gangguan lainnya
E. Tidak berhubungan dengan gangguan lainnya.
PENATALAKSANAAN
TERAPI
Secara umum, direkomendasikan tiga lini terapi.
Pemilihan obat bergantung pada indikasi,
pengalaman klinisi, cost-effectiveness, efek
samping, waktu paruh, keterjangkauan, dan
ketersediaan obat.
1. terapi lini pertama
2. terapi kini kedua
3. terapi lini ketiga
TERAPI LINI PERTAMA
menggunakan antiemetik oral atau intravena,
parasetamol, asam asetil-salisilat (ASA), NSAID
(ibuprofen, naproksen, diklofenak), fenotiazin,
dioergotamin (DHE) intranasal atau subkutan,
naratriptan, rizatriptan, atau zolmitriptan.
Terapi lini kedua
Beberapa agen gastroprokinetik efektif mengatasi mual dan muntah
Contoh obat golongan ini adalah metoklopramid (10 mg PO, IM,
atau IV ) dan domperidon (20-30 mg PO atau PR), Klorpromazin
(25-50 mg IM), metoklopramid (10 mg IV atau IM), dan
proklorperazin (10 mg IV atau IM) juga telah digunakan sebagai
terapi tunggal untuk mengatasi migren.
Terapi lini ketiga
Terapi akut spesifik

Triptan Sumatriptan, Eletriptan dan rizatriptan adalah


triptan oral dengan aksi paling cepat, yang efeknya
terlihat setelah 30 menit.
Pada pasien ini diberikan terapi:

analgetik : golongan NSAID

antiemetik : metokloperamide tab 2x1

golongan Opioid : Pethidine 50 mg i.m IV

KIE dengan menghindari faktor pencetus seperti stress dan beberapa


makanan yang menyebabkan migrain timbul. Apabila tanda-tanda nyeri
kepala mulai muncul maka obat-obatan yang bersifat profilaksis seperti
propanolol sangat membantu dalam pencegahan saat serangan migrain.
DAFTAR PUSTAKA
Srivasta S. Pathophysiology and treatment of migraine and related headache. [Internet]; 2010 Mar 29 [cited
2013 February 14]. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/1144656-overview
Katzung, Bertram. Basic and Clinical Pharmacology. 10th edition. Boston: McGraw Hill. 2007. p 289
Blanda, M. Migraine headache. [Internet]; 2010 Jul 12 [cited 2010 Sept 16]. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/792267-overview
Chawla J. Migraine headache: Follow-up. [Internet]; 2010 Jun 3 [cited 2010 Sept 16]. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/1142556-followup
Gladstein. Migraine headache-Prognosis. [Internet]; 2010 Jun 3 [cited 2010 Sept 15]. Available from:
http://www.umm.edu/patiented/articles/how_serious_migraines_000097_2.htm
Sidharta P. Tata Pemeriksaan Klinis dalam Neurologi. Edisi ke-2. Jakarta : Dian Rakyat, 1985 : 311-17
Katzung, Bertram. Basic and Clinical Pharmacology. 10th edition. Boston: McGraw Hill.
2007. p 289
Sumelahti ML, Mattila K, Sillanmaki L, Sumanen M. Prescription pattern in preventive and abortive migraine
medication. Cepha lalgia. 2011;31(16);1659-63.
Chang M, Rapoport AM. Acute treatment of migraine headache. Techniques in Regional Anesthesia and
Pain Management. 2009;13:9-15.
Tepper SJ, Spears RC. Acute treatment of migraine. Neurol Clin. 2009;27:417-27. 4.
Lance JW, Goadsby PJ. Migraine pathophysiology. In: Lance JW, Goadsby P, editors. Mechanism and
management of headache. 7thed. Philadelphia; 2005. p. 87-121.
TERIMAKASIH..