Anda di halaman 1dari 21

BAB 5

KEUNTUNGAN
SEBAGAI TUJUAN
PERUSAHAAN
Jika meraup keuntungan
sebesar-besarnya tanpa batas
menjadi upaya pertama dari
bisnis, tidak dapat dielakkan
keberatan dari pihak etika.
Mengapa?
MAKSIMALISASI
KEUTUNGAN
SEBAGAI CITA-CITA
KAPITALISME
LIBERAL
Maksimalisasi keuntungan
merupakan tema penting dalam
ilmu manajemen ekonomi.

Ekonomi terapan justru mencapai


coraknya sebagai ilmu yang
sistematis dan memiliki kerangka
logis yang keras, karena hanya
memandang keuntungan sebagai
tujuan perusahaan, sambil melewati
semua tujuan lain yang mungkin.
Kalau memaksimalkan
keuntungan menjadi satu-satunya
tujuan perusahaan dengan
sendirinya akan timbul keadaan
yang tidak etis. Karena karyawan
sebagai manusia dikerahkan dan
diperalat sehingga prinsip etis
yang mendasar dilanggar:
tidak menghormati martabat
manusia.
Gerakan sosialisme berhasil
sedikit demi sedikit
memperbaiki nasib kaum buruh.

Serikat buruh menjadi sarana


yang ampuh menuntut haknya.

Gerakan sosialisme
Negara kesejahteraan
Masalah Pekerja
Anak
Pekerjaan yang dilakukan oleh anak merupakan topik
dengan banyak implikasi etis, tetapi masalah ini sekaligus
juga sangat kompleks, karena faktor-faktor ekonomis di
sini dengan aneka macam cara bercampur baur dengan
faktor-faktor budaya dan sosial.
Contoh :
1. Sebuah tradisi yg sudah lama yg ditemukan dlm sektor
pertanian dan peternakan. Dimana pada masa panen
anak-anak diikut sertakan dlm pekerjaan masa panen
terutama bila mekanisme pertanian blm begitu maju.
2. Dlm konteks peternakan tradisional anak-anak diluar
sekolah sering membantu orang tua menjalankan tugas
rutin seperti memeras sapi atau memberi pakan kepada
ternak
Contoh diatas belum menimbulkan masalah etis, baru
menimbulkan masalah etis yg serius dlm zaman
industrialisasi
ILO menentukan batas
minimum anak boleh bekerja 18
tahun untuk pekerjaan
berbahaya dan 16 tahun untuk
pekerjaan ringan.
Indonesia pada tahun 1999
menetapkan usia minimum 15
tahun.
Pekerjaan anak ditolak terutama karena dua alasan:

Pertama adalah bahwa pekerjaan itu melanggar hak para anak.


Masa anak adalah periode pertama dalam hidup seorang
manusia dengan segala ciri khasnya. Bekerja adalah secara
tipikal tugas dan tanggung jawab orang dewasa. Karena belum
dewasa, seorang anak juga belum bebas atau belum sanggup
menjalankan kebebasannya. Pekerjaan yang dilakukan oleh
anak melanggar juga hak anak, karena mengeksploitasi tenaga
mereka. Anak berhak untuk dilindungi terhadap segala upaya
eksploitasi, karena mereka belum mampu membela dirinya
sendiri.

Alasan kedua: mempekerjakan anak merupakan cara berbisnis


yang tidak fair. Sebab, dengan cara itu pebisnis berusaha
menekan biaya produksi dan dengan demikian melibatkan diri
dalam kompetisi kurang fair terhadap rekan-rekan pebisnis yang
tidak mau menggunakan tenaga anak, karena menganggap hal
itu cara berproduksi yang tidak etis. Pekerja anak bisa
memperparah lagi masalah pengangguran.
Karena alasan-alasan tadi mempekerjakan
anak menjadi tidak etis

Namun disini etika juga tidak boleh rigorus,


Mengapa? Apakah anak buruh jika tidak bekerja
lagi menjadi lebih baik? Belum tentu karena bisa
saja anak tersebut menjadi anak jalanan
Pekerjaan mereka kadang-kadang mempunyai segi
positif, karena dgn bekerja mereka mendapatkan
ketrampilan tertentu, apalagi kalau anak bekerja
dlm keadaan sehat dan dengan pembayaran yg
cukup, tentunya kita harus menilai positif.

Kesimpulannya tidak semua kasus pekerja


anak boleh disamakan
Cara mengatasi masalah pekerja anak:

Kesadaran dan aksi dari pihak publik konsumen

Kode etik yang dibuat dan ditegakkan juga oleh


perusahaan: perusahaan tidak akan
mengizinkan produknya dibuat dengan
memanfaatkan tenaga anak di bawah umur.

Melengkapi garmen jualan atau produk lain


dengan No Sweat Label, yang menjamin produk
itu tidak dibuat dengan menggunakan tenaga
anak atau dengan kondisi kerja yang tidak
pantas.
Kebaikan dan kesejahteraan anak
tidak pernah boleh dikorbankan
kepada keuntungan ekonomis
Relativasi
Keuntungan
Keuntungan dalam bisnis merupakan
suatu pengertian yang relatif

BEBERAPA CARA UNTUK MELUKISKAN


RELATIVITAS KEUNTUNGAN DALAM BISNIS :
1.) Bisnis tanpa tujuan profit bukan bisnis lagi, namun
keuntungan tidak dimutlakkan.
2.) Bisnis menjadi tidak etis, kalau perolehan
keuntungan dimutlakkkan dan segi moral
dikesampingkan
3.) Keuntungan memungkinkan bisnis hidup terus, tetapi
tidak menjadi tujuan terakhir bisnis
4.) Keuntungan merupakan tolak ukur untuk menilai
kesehatan perusahaan atau efisiensi manajemen dalam
perusahaan
5.) Keuntungan adalah pertanda yang menunjukkkan
bahwa produk atau jasanya dihargai oleh masyarakat
6.) Keuntungan adalah cambuk untuk meningkatkan
usaha
7.) Keuntungan merupakan syarat kelangsungan
perusahaan
Relativitas menurut Ronald Duska:
Harus membedakan antara purpose (maksud) dan
motive (motivasi)

Motivasi menjelaskan mengapa kita melakukan


sesuatu,
tetapi maksud membenarkan (justify) perbuatan
itu.

Keuntungan tidak merupakan maksud bisnis.


Maksud bisnis adalah menyediakan produk atau
jasa yang bermanfaat untuk masyarakat.
Keuntungan hanya sekedar motivasi untuk
mengadakan bisnis
Manfaat bagi
Stakeholders (semua pihak
yang berkepentingan dengan
kegiatan suatu perusahaan)
Suatu cara lain lagi untuk mendekati tujuan
perusahaan adalah melukiskan tujuan itu
sebagai the stackeholdersbenefit
(manfaat bagi stakehoders)

Stakeholders dibagi lagi atas :

Pihak Internal: pemegang saham, manajer dan


karyawan

Pihak Eksternal: orang atau instansi yang tidak


secara langsung terlibat dalam kegiatan
perusahaan, seperti konsumen, masyarakat,
pemerintah, lingkungan hidup
Kita bisa mengatakan bahwa tujuan
perusahaan adalah manfaat semua
stakeholders

Sekaligus juga di sini kita mempunyai


kemungkinan baru untuk membahas
segi etis dari suatu keputusan bisnis

Misal: tidak etis kalau dalam suatu


keputusan bisnis hanya kepentingan
para pemegang saham
dipertimbangkan
Misal : keputusan memindahkan
pabrik, ini mengandung implikasi etis
yang penting. Bukan saja kepentingan
pemegang saham yang
dipertimbangkan tetapi juga
kepentingan semua pihak seperti,
karyawan maupun masyarakat sekitar
pabrik.
Bagaimana nasib warung-warung kecil
yang menyediakan makanan untuk
karyawan perusahaan ?
Pertanyaan :
1. Mengapa maksimalisasi keuntungan menjadi
tidak etis, bila dianggap sebagai satu-satunya
tujuan perusahaan ?
2. Lukiskan masalah pekerja anak di negara-
negara sedang berkembang. Mengapa
memperkerjakan anak harus dianggap tidak etis
?
3. Bagaimana keuntungan sebagai tujuan bisnis
sekarang direlativasi ? Dalam konteks ini, apa
maksudnya
manfaat bagi stakeholders ?