Anda di halaman 1dari 34

PEMERIKSAAN

DIAGNOSTIK SISTEM
NEURO
Andy Dharma Pramudya
Ayu Rezki Amaliah
Edi Purnomo
Indah Endang Winarni
Indria Nirmala Putri
Kamsiah
Lima Prosedur diagnostik yang lazim
dilakukan yaitu Lumbal Pungsi,
Angiografi, Elekto Encephalografi,
Elektromiografi, Computerized Axial
Tomografi Scan (CT Scan) Otak.
LUMBAL PUNGSI
Pengertian
Adalah suatu cara pengambilan cairan
cerebrospinal melalui pungsi pada
daerah lumbal
Tujuan
Mengambil cairan cerebrospinal untuk
kepentingan pemeriksaan/diagnostik
maupun kepentingan therapi
Indikasi
Untuk diagnostik
kecurigaan meningitis
Kecurigaan perdarahan sub arachnoid
Pemberian media kontras pada pemeriksaan
myelografi
Evaluasi hasil pengobatan

Untuk Therapi
Pemberian obat anti neoplastik atau anti mikroba
intra tekal
Pemberian anesthesi spinal
Mengurangi atau menurunkan tekanan CSF
Persiapan

Persiapan pasien
- Memberi penyuluhan kepada pasien dan keluarga tentang lumbal pungsi
meliputi tujuan, prosedur, posisi, lama tindakan, sensasi-sensasi yang akan dialami
dan hal-hal yang mungkin terjadi berikut upaya yang diperlukan untuk mengurangi
hal-hal tersebut
- Meminta izin dari pasien/keluarga dengan menadatangani formulir kesediaan
dilakukan tindakan lumbal pungsi.
- Meyakinkan klien tentang tindakan yang akan dilakukan

Persiapan Alat
- Bak steril berisi jarum lumbal, spuit dan jarum, sarung tangan, kassa dan lidi
kapas, botol kecil (bila akan dilakukan pemeriksaan bakteriologis), dan duk bolong.
- Tabung reaksi tiga buah
- Bengkok
- Pengalas
- Desinfektan (jodium dan alkohol) pada tempatnya
- Plester dan gunting
- Manometer
- Lidokain/Xilocain
- Masker. Gaun, tutup kepala
Prosedur Pelaksanaan
1. Posisi pasien lateral recumbent dengan bagian punggung di pinggir tempat tidur. Lutut pada
posisi fleksi menempel pada abdomen, leher fleksi kedepan dagunya menepel pada dada
(posisi knee chest)
2. Pilih lokasi pungsi. Tiap celah interspinosus vertebral dibawah L2 dapat digunakan pada orang
dewasa, meskipun dianjurkan L4-L5 atau L5-S1 (Krista iliaca berada dibidang prosessus
spinosus L4). Beri tanda pada celah interspinosus yang telah ditentukan.
3. Dokter mengenakan masker, tutup kepala, pakai sarung tangan dan gaun steril.
4. Desinfeksi kulit degan larutan desinfektans dan bentuk lapangan steril dengan duk penutup.
5. Anesthesi kulit dengan Lidokain atau Xylokain, infiltrasi jaringan lebih dapam hingga ligamen
longitudinal dan periosteum
6. Tusukkan jarum spinal dengan stilet didalamnya kedalam jaringan subkutis. Jarum harus
memasuki rongga interspinosus tegak lurus terhadap aksis panjang vertebra.
7. Tusukkan jarum kedalam rongga subarachnoid dengan perlahan-lahan, sampai terasa lepas. Ini
pertanda ligamentum flavum telah ditembus. Lepaskan stilet untuk memeriksa aliran cairan
serebrospinal. Bila tidak ada aliran cairan CSF putar jarumnya karena ujung jarum mungkin
tersumbat. Bila cairan tetap tidak keluar. Masukkan lagi stiletnya dan tusukka jarum lebih
dalam. Cabut stiletnya pada interval sekitar 2 mm dan periksa untuk aliran cairan CSF. Ulangi
cara ini sampai keluar cairan.
8. Bila akan mengetahui tekananCSF, hubungkan jarum lumbal dengan manometer pemantau
tekanan, normalnya 60 180 mmHg dengan posisi pasien berrbaring lateral recumbent.
Sebelum mengukur tekanan, tungkai dan kepala pasien harus diluruskan. Bantu pasien
meluruskan kakinya perlahan-lahan.
9. Anjurkan pasien untuk bernafas secara normal, hindarkan mengedan.
10.Untuk mengetahui apakah rongga subarahnoid tersumbat atau tidak, petugas dapat
melakukan test queckenstedt dengan cara mengoklusi salah satu vena jugularis selama I\10
detik. Bila terdapat obstruksi medulla spinalis maka tekanan tersebut tidak naik tetapi apabila
tidak terdapat obstruksi pada medulla spinalis maka setelah 10 menit vena jugularis ditekan,
tekanan tersebut akan naik dan turun dalam waktu 30 detik.
11. Tampung cairan CSF untuk pemeriksaan. Masukkan cairan tesbut dalam
3 tabung steril dan yang sudah berisi reagen, setiap tabung diisi 1 ml
cairan CSF. Cairan ini digunakan untuk pemeriksaan hitung jenis dan
hitung sel, biakan dan pewarnaan gram, protein dan glukosa. Untuk
pemeriksaan none-apelt prinsipnya adalah globulin mengendap dalam
waktu 0,5 jam pada larutan asam sulfat. Cara pemeriksaanya adalah
kedalam tabung reaksi masukkan reagen 0,7 ml dengan menggunakan
pipet, kemudian masukkan cairan CSF 0,5 . diamkan selama 2 3 menit
perhatikan apakah terbentuk endapan putih.
Cara penilainnya adalah sebagai berikut:
( - ) Cincin putih tidak dijumpai
( + ) Cincin putih sangat tipis dilihat dengan latar belakang hitam dan bila
dikocok tetap putih
( ++ ) Cincin putih sangat jelas dan bila dikocok cairan menjadi
opolecement (berkabut)
( +++ ) Cincin putih jelas dan bila dikocok cairan menjadi keruh
( ++++ ) Cincin putih sangat jelas dan bila dikocok cairan menjadi sangat
keruh

Untuk test pandi bertujuan untuk mengetahui apakah ada peningkatan


globulin dan albumin, prinsipnya adalah protein mengendap pada larutan
jenuh fenol dalam air. cAranya adalah isilah tabung gelas arloji dengan 1
cc cairan reagen pandi kemudian teteskan 1 tetes cairan CSF, perhatikan
reaksi yang terjadi apakah ada kekeruhan.
12. Bila lumbal pungsi digunakan untuk mengeluarkan cairan liquor pada
Setelah Prosedur
1. Klien tidur terletang tanpa bantal selama 2 4 jam
2. Observasi tempat pungsi terhadap kemungkinan
pengeluaran cairan CSF
3. Bila timbul sakit kepala, lakukan kompres es pada kepala,
anjurkan tekhnik relaksasi, bila perlu pemberian analgetik
dan tidur sampai sakit kepala hilang.

Komplikasi
4. Herniasi Tonsiler
5. Meningitis dan empiema epidural atau sub dural
6. Sakit pinggang
7. Infeksi
8. Kista epidermoid intraspinal
9. Kerusakan diskus intervertebralis
ANGIOGRAFI
Pengertian
Melihat secara langsung sistem pembuluh darah otak. Zat kontras dimasukkan melalui
arteri. Biasanya pada arteri carotis dan arteri vertebra, atau mungkin juga pada arteri
brchialis dan arteri femoralis

Angiografi dapat mendeteksi :


a. sumbatan pada pembuluh darah cerebral seperti pada stroke
b. Anomali congenital pembuluh darah
c. Pergeseran pembuluh darah yang mungkin mengindikasikan SOL (Space
Ocupaying Lession)
d. Malformasi vaskuler, seperti pada aneurisma atau angioma

Persiapan Pasien
Menciptakan rasa aman dan nyaman pada diri klien. Persiapan ini meliputi :
Menjelaskan prosedur pelaksanaan, sensasi yang terjadi (rasa terbakar saat
penyuntikan zat kontras yang lama kelamaan akan menghilang)
Hal yang perlu dilakukan setelah tindakan dilakukan
Surat izin tindakan telah ditandatangani klien

Komplikasi
1. Hematom pada daerah suntikan. Dapat dicegah dengan
melakukan balut tekan pada daerah suntikan
2. Keracunan zat kontras. Dapat dicegah dengan pemberian anti
alergi sesuai program

Setelah prosedur
3. Observasi tanda-tanda vital setiap jam sampai kondisi stabil
4. Kompres es pada daerah suntikan untuk menghilangkan rasa
nyeri dan mengurangi/mencegah hematom
5. Klien tidur terlentang tanpa bantal selama 24 jam.
6. Jika penyuntikan dilakukan pada daerah femoralis, tungkai harus
tetap lurus selama 6-8 jam
7. Catat perubahan-perubahan neurologi setelah tindakan
angiografi.
Elektro Encephalografi (EEG)
Pengertian
Adalah suatu cara untuk merekam aktifitas listrik otak melalui tengkorak yang utuh.

Prinsip Kerja
Dengan elektroda yang ditempelkan pada berbagai daerah tengkorak, potensial permukaan
otak direkam. Perekaman ini berlangsung terus menerus untuk beberapa menit. Tegangan
yang tercatat pada kertas yang bergerak berupa gelombang-gelombang. Dengan memasang
16 elektroda pada tengkorak aktivitas seluruh otak dapat di tekan dan diselidiki. Tegangan
otak sebesar 50 mikrovolt agar dapat direkam harus diperkuat sampai 1 juta kali. Oleh
karena itu aliran listrik dari sumber lain seperti gerakan otot kepala atau generator listrik
juga ikut tercatat (artefak)

Macam-macam EEG
Seluruh korteks serebri merupakan medan listrik yang mencerminkan adanya gaya listrik
yang diproduksikan pada ujung-ujung dendrit, sebagai fenomena potensial aksi neuron-
neuron yang disalurkan kedndrit-dendritnya dikorteks serebri. Potensial dendrit pada korteks
selalu berubah-ubah juga. Fluktuasi inilah yang tercatat pada kertas EEG. Dari sekian banyak
fluktuasi, maka dapat dibedakan menurut frekuensinya dan menurut pada gelombangnya.
a.Empat gelombang menurut frekuensinya :
1)Gelombang Alfa, bersiklus 8 13 perdetik
2)Gelombang Beta, bersiklus lebih dari 13 perdetik
3)Gelombang teta, bersiklus 4 7 perdetik
4)Gelombang Delta, bersilus kurang dari 4 perdetik
b.Fluktuasi potensial otak menurut
pola gelombang
1)Gelombang lamda
2)Gelombang tidur
3)Kompleks K
4)Gelombang verteks
c.Gelombang patologis
1)Gelombang runcing (Spike)
2)Gelombang tajam (sharp wave)
3)Gelombang runcing (spike
4)Gelombang runcing multipel i
5)Hypsarithmia
Indikasi Pemasangan
Penderita dicurigai atau dengan epilepsi
Membedakan kelainan otak organik
Mengidentifikasi infark pembuluh darah atau adanya lesi (tumor, hematom, abses)
Diagnosa retardasi mental atau over dosis obat
Menentukan kematian jaringan otak

Penatalaksanaan
a.Persiapan pasien
1)Penyuluhan kesehatan
- Penderita diberitahu hal-hal yang akan dilakukan. EEG akan dikerjakan diruangan
yang aman (laboratory diagnostik) oleh teknisian EEG. Didalam ruanga penderita
akan dipasang elektroda sebanyak 16-24 dengan pasta, elektroda yang kecil
tersebut akan dihubungkan dengan mesin EEG, tunjukkan melalui gambar atau
video cassate bila memungkinkan..
- Menganjurkan pada pasien untuk membebaskan rasa gelisah selama 45-60 menit,
pemasangan alat bukan merupakan alat yang berbahaya.
- Melakukan pendekatan kepada pasien untuk mengurangi kemungkinan terjadinya
stres, kecemasan atau gemetaran akibat pemasangan elektroda.
- Menjelaskan kepada pasien bahwa pada waktu pemeriksaan harus dalam keadaan
relaksasi sempurna, duduk atau tiduran dengan tanpa gerakan sedikitpun
sehingga mendapatkan hasil yang baik.
- Anjurkan pasien mengikuti perintah petugas selama prosedur, antara lain :
hiperventilasi selama 3-5 menit danusahakan untuk tetap dapat menutup mata
2) Fisik
obat-obatan depresan susunan saraf pusat (alkohol atau tranqualizer)
atau stimulan tidak diberikan selama 24 jam sebelum pemeriksaan
dilakukan karena akan memberikan pengaruh terhadap aktivitas listrik
otak. Dokter akan memberikan instruksi untuk pemberian anti konvulsi
bila perlu 24 48 jam sebelum tindakan.
Cairan yang mengandung caffein seperti kopi, cokelat dan the tidak
diberikan selama 24 jam sebelum tindakan dilakukan
Rambut harus bersih, bebas dari spray, minyak lotion dan hair fastener.
Pasien harus makan pagi sebelum melakukan pemeruiksaan, karen
ahipoglikemia menyebabkan ketidak normalan potensial listrik.
3) Pelaksanaan
posisi pasien berbaring, ciptakan suasana sedemikian rupa sehingga
nyaman bagi pasien
petugas EEG menempelkan 14-16 elektroda pada lokasi yang spesifik
pada kulit kepala serta menghubungkannya. Melalui kawat penghubung
ke mesin/alat EEG.
Pencetakan garis dasar (gambar dasar) dihasilkan mengikuti 3 urutan
pemeriksaan yaitu hiperventilasi, stimulasi photic dan tidur.
Hiperventilasi :
Pasien dianjurkan untuk melakukan hiperventilasi dengan cara mengambil
nafas 30-40 nafas melalui mulut setiap menitnya selama 3-5 menit. Perlu
diingat kenaikan PH serum kira-kira 7,8 akan menaikkan rangsangan
neuron dan akan menyebabkan serangan aktivitas pada pasien epilepsi
Photic stimulasi :
Cahaya yang silau difokuskan kepasien dimana pasien dianjurkan untuk
menutup matanya . stimulasi ini akan menyebabkan aktivitas serangan
bagi pasien yang mempunyai kecenderungan mendapat serangan
Tidur :
Pasien dianjurkan untuk tidur, jika pasien tidak bisa tidur dapat diberikan
hipnotik yang bekerjanya cepat. Hasil perekaman dari aktifitas listrik
tersebut diinterpretasikan oleh neurologi
4) Setelah tindakan
bersihkan dan cuci rambut pasien
ciptakan lingkungan yang tenang sehingga pasien dapat beristirahat
dengan tenang
berikan posisi tidur yang baik dan perhatikan pernafasan pasien terutama
yang menggunakan obat hipnotik
observasi aktivitas kejang bagi pasien yang cenderung untuk mendapat
serangan kejang.
Elektromyegrafi (EMG)
Pengertian
Adalah suatu cara yang dilakukan untuk mengukur dan mencatat aliran
listrik yang ditimbulkan oleh otot-otot skeletal. Dalam keadaan istirahat otot
tidak melepaskan listrik, tetapi bila oto berkontraksi secara volunter
potensial aksi dapat direkam.
Tujuan
membantu membedakan antara gangguan otot primer seperti distrofi otot
dan gangguan sekunder
membantu menetukan penyakit degeneratif saraf sentral
membantu mendiagnosa gangguan neuromuskular seperti myestania grafis
Penatalaksanaan
a.Persiapan pasien
Menginformasikan kepada pasien seluruh pemeriksaan prosedur ini akan
menyebabkan gangguan rasa nyaman sementara. Khususnya bila pasien
sendiri diberi rangsangan listrik.
Pastikan bahwa pasien tidak menggunakan obat-obat depresan atau sedatif
24 jam sebelum prosedur.
Cegah terjadinya syok listrik
Mengurangi rasa sakit dan rasa takut
b.Prosedur
prosedur dapat dilakukan disamping tempat tidur atau diruang
tindakan khusus.
elektroda ditempatkan pada syaraf-syaraf yang akan diperiksa.
Dimulai dengan dosis kecil rangsangan listrik melalui elektorda
kesaraf dan otot, apabila konduksi pada saraf selesai maka otot
akan segera berkontraksi.
Untuk mengetahui potensial otot digunakan macam-macam jarum
elektroda dari nomor 1,3 7,7 cm.
Pasien mungkin dianjurkan untuk melakukan aktifitas untuk
menukur potensila otot selama kontraksi minimal dan maksimal
Derajat aktifitas saraf dan otot direkam pada osiloskop dan
akanmmemberikan gambaran grafik yang dapat dibaca.
Perawat berusaha memberikan rasa nyaman dan memantau daerah
penusukan tarhadap kemungkinan terjadinya hematoma.
c.Setelah tindakan
Berikan kompres es pada daerah hematoma untuk mengurangi rasa
nyeri.
Ciptakan lingkungan yang memudahkan klien untuk beristirahat
Computerized Axial Tomografi (CT
Scan)
Pengertian
CT Scan adalah suatu prosedur yang digunakan untuk mendapatkan
gambaran dari berbagai sudut kecil dari tulang tengkorak dan otak.

Pemeriksaan ini mendeteksi :


gambaran lesi dari tumor, hematoma dan abses
perubahan vaskuler : malformasi, naik turunnya vaskularisasi dan infark
brain contusion, brain atrofi, hydrocephalus
Inflamasi

Hal-hal yang diperhatikan sebelum pemeriksaan


berat badan klien dibawah 145 Kg ( pertimbangan tingkat kekuatan
scanner)
Kesanggupan klien untuk tidak mengadakan perubahan selama 20-45
meni (berkaitan dg lamanya pemeriksaan)
Kaji kemungkinan klien alergi terhadap iodine, sebab akan disuntik dg
zat kontras berupa iodine based contras material sebanyak 30 ml
Prinsip kerja
Film yang menerima proyeksi sinar diganti dengan alat
detektor yang dapat mencatat semua sinar secara
berdipensiasi. Pencatatan ini dilakukan dengan
mengkombinasikan tiga pesawat detektor, dua
diantaranya menerima sinar yang telah menmbus tubuh
dan yang satunya berfungsi sebagai detektor aferen
yang mengukur intensitas sinar rontgen yang telah
menembus tubuh dan penyinaran dilakukan menurut
proteksi dari tiga titik, menurut posisi jam 12, 10 dan jam
02 dengan memakai waktu 4,5 menit.
Penatalaksanaan
Persiapan pasien
Pasien harus diberitahu sebaiknya dengan keluarga. Pasien diberi
gambaran tentang alat yang akan digunakan. Bila perlu berikan
gambaran dengan menggunakan kaset video atau poster, hal ini
dimaksudkan untuk memberikan pengertian pada pasien dengan
demikian mengurangi stress sebelum waktu prosedur dilaukuan.
Test awal yang dilakukan meliputi: kekuatan untuk diam ditempat
(dimeja scanner) selama 45 detik; melakukan pernafasan dengan
aba-aba ( untuk keperluan bila ada permintaan untuk
melakukannya) saat dilakukan pemeriksaan.; mengikuti aturan
untuk memudahkan injeksi zat kontras.
Penjelasan kepada klien bahwa setelah penyuntikan zat kontras
wajah akan nampak merah dan terasa agak panas pada seluruh
badan. Hal ini merupakan hal yang normal dari reaksi obat
tersebut. Perhatikan keadaan klinik klien apakah pasien
mengalami alergi terhadap iodine. Apabila pasien merasakan
adanya rasa sakit berikan analgetik dan bila pasien merasa cemas
dapat diberikan minor transqualizer. Bersihkan rambut pasien dari
jelli dan obat-obatan. Rambut tidak boleh dikelabang dan tidak
memakai wig.
Prosedur
Posisi terlentang dengan tangan terkendali
Meja elektronik masuk kedalam meja scanner
Dilakukan pemantauan melalui komputer dan pengambilan gambar dari
beberapa sudut yang dicurigai adanya kelainan.
Selama prosedur berlangsung pasien harus diam absolut selama 20-45 menit
Pengambilan gambar dilakukan dari berbagai posisi dengan pengaturan
komputer.
Selama prosedur berlangsung perawat harus menemani pasien dari luar
dengan memakai protektif lead approan.
Sesudah pengambilan gambar, pasien dirapihkan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan


observasi keadaan alergi terhadap zat kontras yang disuntikkan. Bila terjadi
alergi dapat diberikan benadryl 50 mg
mobilisasi secepatnya karena pasien mungkin akan kelelahan selama
prosedur berlangsung
ukur intake dan output. Hal ini merupakan tindak lanjut setelah pemberian zat
kontras yang eliminasinya selama 24 jam. Oliguri merupakan gejala gangguan
fungsi ginjal. Memerlukan koreksi yang cepat oleh seorang perawat dan
dokter
Magnetic Resonance Imaging
(MRI)
Pemeriksaan MRI merupakan salah
satu bentuk pemeriksaan radiologi
yang menggunakan prinsip
magnetisasi. Medan magnet
digunakan untuk proses magnetisasi
komponen ion hidrogen dari
kandungan air di tubuh. MRI dapat
menggambarkan dengan sangat
jelas dan kontras berbagai bagian
organ tubuh.
Apa Keunggulannya?
Dalam praktek klinik, MRI digunakan untuk
membedakan berbagai jaringan patologis (misalnya
tumor, pembengkakan) dari jaringan tubuh yang
normal. Perbedaan dapat dilihat dengan sangat
jelas dan kontras.

Salah satu keunggulan yang lain adalah keamanan


MRI. MRI menggunakan prinsip medan magnet, dan
bukan radiasi non ion seperti alat radiologi yang
tradisional. Penggunaan radiasi berlebih memiliki
berbagai dampak negatif bagi tubuh.
Pemeriksaan MRI dapat dilakukan pada berbagai organ dan sistem
tubuh. Sebuah jaringan tubuh yang rusak akan menimbulkan
pembengkakan (edema). Adanya pembengkakan ini akan
memberikan warna kontras yang berbeda dengan jairngan
normal. MRI dapat digunakan untuk berbagai kelainan di bidang
saraf, anggota gerak tubuh, tumor, dan penyakit jantung.

Di bidang saraf: stroke, tumor otak, kelainan mielinisasi otak,


gangguan aliran cairan otak/hidrocephalus, beberapa bentuk
infeksi otak, gangguan pembuluh darah otak, dsb.
Di bidang muskuloskeletal: tumor jaringan tulang atau otot,
kelainan saraf tulang belakang, tumor spinal, jeputan akar saraf
tulang belakang, dsb.
Di bidang kardiologi: pembuluh darah besar, pemeriksaan MRA
(Magnetic Resonance Angiografi) carotis, dsb.
Indikasi Pemeriksaan MRI
Berbagai kelainan / gangguan dari beberapa jaringan maupun organ tubuh
dapat dideteksi dengan pemeriksaan MRI, dan sebagai penunjang
diagnostik yang canggih, MRI lebih sensitif pada indikasi kelainan-kelainan
pada :
Kepala, Leher dan Tulang Belakang (misalnya : infeksi, tumor, kelainan
pembuluh darah)
Telinga, Hidung dan Tenggorokan (misalnya : sinus paranasal, nasofaring,
laring)
Rongga dada (misalnya : tumor, infeksi, kelainan pada mediastinum)
Rongga perut (misalnya : pada usus, hati, limpa, pancreas, saluran
empedu, ginjal)
Organ obstetric dan Gynekologi (Kebidanan dan Kandungan)
Muskuloskeletal (otot , tulang, dan persendian)
Kontra indikasi MRI
Secara umum tidak terdapat kontra indikasi pada pemeriksaan MRI, kecuali
pada pasien-pasien yang menggunakan :
Alat pacu jantung yang mengandung ferro magnetic
Beberapa tipe clip aneurisma
Alat bantu dengar
Beberapa prothesa dan implant gigi
Prosedur pemeriksaan MRI
Prosedur pemeriksaan MRI sangat sederhana, beberapa langkah yang
harus diikuti pasien adalah sebagai berikut :
Pasien mengenakan pakaian yang telah disiapkan petugas kami.
Pasien harus menanggalkan semua perhiasan yang bersifat logam atau
alat elektronik genggam, misalnya handphone, kalkulator, dll, karena
dapat mempengaruhi gambaran diagnostik.
Kartu kredit tidak boleh dibawa ke dalam ruang pemeriksaan, karena
magnet kartu kredit akan rusak.
Pasien dengan alat pacu jantung/katup jantung, dilarang masuk ke ruang
magnet, sedangkan pasien dengan prothesa, gigi palsu, alat bantu
pendengaran, diharuskan menginformasikan kepada petugas kami.
Sedangkan pasien anak yang tidak kooperatif, maka diperlukan obat
penenang.
Pasien diminta untuk berbaring dengan tenang di meja pemeriksaan.
Selama prosedur pemeriksaan tersebut pasien akan mendengar suara-
suara ribut yang menandakan medan magnet sedang bekerja, tetapi
dengan kemampuan fasilitas MRI yang kami miliki, maka suara ribut tsb
sangat ditekan, dan kami memeberikan pilihan musik selama
pemeriksaan, sehingga pasien menjalani pemeriksaan dengan nyaman.