Anda di halaman 1dari 35

BIOINSEKTISIDA

MULYORINI RAHAYUNINGSIH
BAGIAN BIOINDUSTRI DEPARTEMEN TIN
FATETA IPB
RESIDU PESTISIDA
PADA TANAMAN DAN SAYUR KUBIS
Di Kecamatan Lembang, Cisarua, Pangalengan dan
Kartasari ditemukan profenofos 6,11 mg/kg, deltametrin
7,73 mg/kg, klorpirifos 2,81 mg/kg, teflubenzuron 2,89
mg/kg dan permetrin 1,80 mg/kg yang dijumpai pada
sayuran kubis, tomat dan wortel (Nurmala, 1992) .
Ditemukan 2,36 mg/kg profenofos dan 2,08 mg/kg
sifermetrin pada kubis, dimana residu tersebut telah
melampaui Batas Maksimum Residu (BMR) yang telah
ditetapkan (Lukman, 2002)
Residu insektisida pada kubis di Solok dan Agam (Aceh)
adalah 2,978 mg/kg (profenofos), 2,270 mg/kg (klorpirifos),
serta 1,059 mg/kg (deltametri) (Nusyirwan, 2002)
Wabah
Demam Berdarah...

Indonesia (2004) : 315 org meninggal (www. jpkm-


online.net)(data diperoleh dari bulan Januari-
Pebruari)
Secara global :  1,5 Milyar jiwa beresiko terjangkit
demam berdarah (Becker, et al (1991)

Solusi : Pemberantasan Nyamuk (Aedes aegypti)

bagaimana??
Upaya Pemberantasan :
1. Pengasapan kurang efektif
2. Program 3M (Mengubur, Menguras, Menutup)
3. Penggunaan Insektisida Kimia

tidak menguntungkan, karena:


 harga relatif mahal
 membahayakan jiwa manusia dan serangga non-target
 menyebabkan resistensi serangga vektor (nyamuk)

upaya paling tepat  memutus rantai kehidupan nyamuk


dengan membunuh larva nyamuk
menggunakan bioinsektisida B.t. i
(Bacillus thuringiensis israelensis)
INSEKTISIDA KIMIA
tidak menguntungkan, karena:
* harga relatif mahal
* membahayakan jiwa manusia dan serangga non-target
* menyebabkan resistensi

Solusi ???? : BIOINSEKTISIDA

SYARAT UNTUK PENGEMBANGAN


BIOINSEKTISIDA :
1. Secara teknis layak diproduksi secara kontinyu
2. Tidak toksik terhadap manusia, serangga non target, dan
tanaman
3. Terbukti efektifitasnya terhadap serangga target
BIOINSEKTISIDA ???
Insektisida mikrobial yang bersifat entomopatogen dan dapat
dikembangkan dari bakteri, virus, fungi atau protozoa (Ignoffo
dan Anderson, 1979).

Keunggulan bioinsektisida menurut Behle et al., 1999 antara lain :

- Spesifik terhadap hama serangga

- Aman dan ramah lingkungan

- Tidak mengakibatkan residu pada hasil pertanian dan tanah


BIOINSEKTISIDA BAKTERI

Spesies Bakteri Nama Dagang Produser


Bacillus moritae Rabirusu Sumitomo, Jepang
Bacillus popilliae Doom, japidemic Fairfax Bio USA
Bacillus thuringiensis (delta endotoksin) :
Agritol Merck & Co, USA
Bakhtane Rohm & Haas , USA
Bactospeine Roger Bellon, Perancis
Bathurin Cheko
Biospor Jerman
Biotrol USA
Dipel Abbbot, USA
Sporeine Perancis
Thuricide Sandoz, USA
Vectobac Abbot, USA
dll.
Bacillus thuringiensis ???
•Bakteri bersel vegetatif berbentuk batang bersifat gram
positif, aerob tapi umumnya anaerob fakultatif,
mempunyai flagela dan membentuk spora.

•Koloni Bacillus thuringiensis berbentuk bulat dengan


tepian berkerut, memiliki diameter 5-10 milimeter,
berwarna putih, elevasi timbul dan permukaan koloni
kasar (Bucher, 1981; Stahly et al., 1992; Shieh, 1994).
• Spora yang dibentuk oleh Bacillus thuringiensis berbentuk
oval, berwarna hijau kebiruan dan berukuran 1,0-1,3
mikrometer (Gill et al., 1992)
• Bt membentuk kristal protein (delta endotoksin) bersamaan
dg terbentuknya spora
Berbagai varitas Bacillus thuringiensis (Bt) penghasil
bioinsektisida :
-Bt thuringiensis - Bt morrisoni
-Bt finitimus - Bt ostriniae
-Bt alesti - Bt tolworthi
-Bt kurstaki (ulat) - Bt darmstadiensis
-Bt sotto, dendrolimus - Bt toumanofii
-Bt kenyae - Bt kyusuenshis
-Bt galleriae - Bt thompsoni
-Bt entomocidus - Bt aizawai (ulat)
-Bt israelensis (nyamuk) - Bt canadensis
-dll
Bacillus thuringiensis
sups. kurstaki (Bt.K) ???
•Patotipe Bt.k hanya spesifik terhadap
Lepidoptera (Ellar et al.,1986)
•Bakteri ini mampu melawan lebih dari
100 spesies Lepidoptera (ulat dari
kupu-kupu sebagai hama pertanian)
(Navon, 1993)

•Bacillus thuringiensis mampu membentuk


kristal protein (δ-endotoksin) yang
berbentuk bipiramidal yang mengandung
toksin bersamaan dengan pembentukan
spora.
Bacillus thuringiensis israelensis

spora

kristal protein
Pembentukan Kristal Protein (δ-
endotoksin)
δ-endotoksin Terbentuk
dalam sel
selama 2-3 jam
Kompleks setelah fase
Protein eksponensial

Kristal Sporulasi Spora


sempurna Efektifitas
toksisitas
meningkat
autolisis δ-endotoksin
PROSES INFEKSI BT.K
1. Larva ulat memakan tanaman
yang telah mengandung spora
dan kristal protein Bt.K
2. Dalam beberapa menit, kristal
protein berikatan dengan
reseptor spesifik pada dinding
usus dan ulat berhenti makan.
3. Beberapa menit kemudian,
dinding usus pecah sehingga
spora dan bakteri memasuki
jaringan tubuh, toksin pun larut
dalam darah.
4. Dalam 1-2 hari ulat akan mati.
Proses Toksifikasi B.t.i terhadap Larva Nyamuk
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN ?????

KELEBIHAN :
1. Aktivitas dengan spektrum luas
2. Tidak memberikan efek negatif pada vertebrata termasuk
manusia serta tanaman
3. Mudah diproduksi
4. Cepat responnya terhadap serangga target
5. Relatif stabil sifatnya selama penyimpanan
6. Belum dilaporkan adanya resistensi

KEKURANGAN :
1. Tidak tahan terhadap sinar UV
2. Spora dan kristal harus termakan agar berefek insektisida
BIOINSEKTISIDA DARI VIRUS

Tipe virus dan inang Nama dagang

Cytoplasmic polyhedrosis :
dendrolimus matsukemin
Nuclear polyhedrosis :
Heliothis Biotrol VHZ, Elcar,
Virex, Viron
Lymantria Virin ENSH
Mamestra Virin EX
Neodiprion Polyvirocide
Orgyia TM Biocontrol
Pieris Virin GKB
Prodenia Biotrol VPO, Viron/P
Spodoptera Viron/S
Trichoplusia Biotrol/VTN, Viron/T
BIOINSEKTISIDA DARI FUNGI
Spesies fungi nama dagang
Aschersonia aleyrodis Aseronija
Beauveria bassiana Biotrol FBB, Boverin
Hirsutella thompsonii ABG – 6065
Metarrhizium anisopliae Biotrol FMA
FASE PENGEMBANGAN INSEKTISIDA MIKROBIAL
1. Isolasi mikroba
2. Karakterisasi
3. Produksi skala lab
4. Formulasi
5. Efikasi pada uji terbatas (keamanan pada dosis tunggal
dan berbagai dosis)
6. Produksi skala pilot plant
7. Efikasi pada skala luas (uji keamanan lingkungan dan
personel)
8. Produksi skala komersial
ASPEK KEAMANAN BIOINSEKTISIDA
Beberapa tipe uji :
1. Acute Toxicity- Pathogenicity
2. Sub acute Toxicity- Pathogenicity
3. Primary Irritation
4. Terratogenicity
5. Carcinogenicity
6. In vitro development
7. Invertebrate Specificity
8. Phytotoxicity-Pathogenicity
Pertumbuhan
Bacillus thuringiensis

Dipengaruhi oleh

Media Pertumbuhan
&
Kondisi Fermentasi
Media Pertumbuhan
Bacillus thuringiensis

Secara umum terdiri atas` :


- sumber karbon misalnya glukosa, pati ,
sukrosa, dll
- Sumber nitrogen misalnya urea, (NH4)2SO4,
tepung kedelai, dll
- Mineral dalam bentuk trace element

Dulmage et al., 1990 : media fermentasi Bt terdiri atas


garam, glukosa dan asam amino seperti asam
glutamat, asam aspartat dan alanin

Karbon adalah bahan utama untuk mensintesis sel


baru atau produk sel dan nitrogen
(Dulmage dan Rhodes, 1971)
Nitrogen organik harus disediakan dalam
bentuk asam amino tunggal atau bahan
kompleks termasuk asam nukleat dan
vitamin.

Mineral dibutuhkan mikroorganisme


untuk pertumbuhan dan pembentukan
produk metabolit, meliputi K, Mg, P, S
dan yang diperlukan dalam jumlah
sedikit antara lain Ca, Zn, Fe, Co, Cu, Mo
dan Mn.
Fermentasi
Bacillus thuringiensis

Ada dua tipe yaitu : fermentasi semi padat


(semi solid fermentation) dan fermentasi
terendam (submerged fermentation).
(Dulmage dan Rhodes, 1971)

Pertumbuhan optimum sebagian besar


bakteri terjadi pada pH sekitar 7

Kondisi fermentasi dalam labu kocok


dilakukan pada suhu 28-32oC, pH awal
medium 6,8-7,2, agitasi 142-340 rpm dan
pemanenan saat inkubasi 24-48 jam.

(Vandekar dan Dulmage, 1982; Sikdar et al., 1993)


PRAKTIKUM ????

bioinsektisida
Persiapan Medium
Sumber N +
Sumber C trace element
+CaCO3

Sterilisasi pada suhu 121oC


selama 15 menit

Dimasukkan ke dalam labu


Erlenmeyer 250 ml secara aseptik
Persiapan Inokulum
Satu lup biakan
B. thuringiensis

Inokulasi dalam 50 ml medium NB


(labu pembibitan I)

Inkubasi dalam rotary shaking incubator


( 200 rpm, 30oC, 12 jam)

Kultur digunakan untuk menginokulasi media


fermentasi
Produksi Bioinsektisida
Labu Erlenmeyer 250 ml
berisi medium fermentasi
100 ml steril

Inokulasi dengan inokulasi


dari labu pembibitan I
(10 % dari volume medium fermentasi)

Inkubasi pada rotary shaking incubator


(30oC, 200 rpm, selama 72 jam)

Biakan diamati pada interval


waktu tertentu
ANALISA PARAMETER

pH cairan fermentasi Pembentukan spora


(VSC :Viable Spore Count)

ANALISA

Kadar gula total (Metode Fenol)

Note : Pertumbuhan sel (TPC & Kerapatan optik)


Yang diuji : pH & VSC
ANALISA PARAMETER
2. Analisa Pasca fermentasi

Penentuan jumlah spora hidup dalam


produk bioinsektisida

ANALISA

Pengujian toksisitasnya terhadap larva


Croccidolomia binotalis Zeller (Metode Bioassay)

Anda mungkin juga menyukai