Anda di halaman 1dari 43

Sari Kepustakaan

II

DEPRESI PASCA
STROKE
Zulfahmi,Wika Hanida Lubis,Habibah Hanum
Nasution

Divisi Psikosomatik
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM
PENDAHULUAN
Sindroma klinis gangguan
neurologis yang disebabkan
STROKE kerusakan dan kematian sel
akibat adanya gangguan aliran
darah otak

Kehilangan Mudah
kemampuan Ketidakmampua mengalami
menggunakan n berkomunikasi gangguan
anggota gerak mental

DEPRESI PASCA
STROKE
DEPRESI PASKA STROKE

Definisi Diagnostic and Statistical Manual


of Mental Disorder-IV Text Revision (DSM-
IV-TR)
Gangguan mood akibat kondisi medis umum
(dalam hal ini stroke) gejala utama afek depresi,
kehilangan minat dan kegembiraan, dan
kekurangan energi sehingga menyebabkan
seseorang menjadi mudah lelah dan penurunan
aktifitas
EPIDEMIOLOGI

Secara umum, 40%-72% pasien stroke


iskemik akan menderita depresi

Secara global, 600.000 pria & wanita yang


mengalami stroke 10-27% diantaranya
mengalami depresi berat
Insiden depresi pasca stroke berkisar 20-50%
setelah dua minggu hingga 1 bulan setelah
onset stroke dan meningkat seiring dengan
bertambahnya bulan
Beberapa Patofisiologi
Depresi Pasca Stroke

Lokasi Lesi

Mekanisme Inflamasi

Neurotransmiter Pathway

Genetic Factors
PATOFISIOLOGI

Lokasi Lesi
stroke hemisfer kiri khususnya
di regio frontal kiri dan basal
ganglia secara signifikan
berhubungan dengan depresi.
PATOFISIOLOGI

Mekanisme Inflamasi
Cytokines
Stroke memicu proinflamasi
cyt0kine aktivitas HPA axis
meningkat dan Serotonin
menurun di daerah paralimbic
frontal kiri dan temporal cortex
Depresi
PATOFISIOLOGI

Neurotransmiter
Lesi akut di otak penurunan
sintesis monoamine
cedera di axon ascending dari
basal ganglia ke cortex
serotonin dan norepinephrine
menurun
PATOFISIOLOGI

ETIOLOGI DEPRESI

pasien merasa Timbul reaksi


Mekanisme
reaksi akibat kehilangan ambivalensi
Psikososial
cacat / kemampuan (pasien marah pada
Depresi pasca
ketidakberdaya menggunakan diri sendri dan
stroke
an anggota gerak mengalami
tubuh devaluasi diri)
FAKTOR RISIKO

Jenis kelamin wanita,


Memiliki riwayat
depresi pada masa
FAKTO dahulu
DEPRE Riwayat penyakit
R
SI psikiatri lainnya
RISIKO
disfasia
gangguan fungsional,
hidup sendiri, dan social
isolation
GEJALA KLINIS
GEJALA TAMBAHAN
penurunan daya
konsentrasi
GEJALA UTAMA penurunan harga diri
adanya perasaan Penurunan rasa percaya
tertekan sepanjang hari, diri,
kehilangan minat dan merasa bersalah dan
semangat tidak berguna,
mudah lelah pesimistik,
menurunnya aktivitas insomnia,
penurunan nafsu makan
timbulnya pikiran bunuh
diri
DIAGNOSIS berdasarkan DSM
IV-TR
1. Mood depresi sepanjang hari, hamper setiap hari, dari DEPRESI
MAYOR
laporan subjektif (rasa sedih, empati) atau observasi yang
jika terdapat
dilihat orang lain (penuh air mata), pada anak dan remaja lebih atau
berupa mood iritabel. sama dengan
lima gejala
2. Hilangnya minat dan/atau kesenangan hampir seluruh menetap
hari, setiap hari terhadap aktivitas (secara subjektif atau selama lebih
observasi). dari 2 minggu

3. Penurunan berat badan yang bermakna tanpa diet atau


peningkatan berat badan (BB) (perubahan BB >5% dalam DEPRESI
satu bulan), penurunan atau peningkatan nafsu makan. MINOR
jika terdapat
4. Insomnia/hipersomnia setiap hari.
dua gejala
5. Agitasi/retardasi psikomotor setiap hari. berikut yang
menetap
6. Kelelahan/hilangnya tenaga hampir setiap hari.
selama lebih
7. Rasa tak berguna/rasa bersalah yang berlebih. dari 2 minggu
8. Menurunnya kemampuan berpikir/ konsentrasi/tidak tegas.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
DIAGNOSTIK
Patient Health Questionnaire-2
(PHQ-2)
Screening Test Pada Pasien Tanpa Gangguan Komunikasi

Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9)


Beck Depression Inventory (BDI)
Zung Self-Rating Depression Scale
Center for Epidemiologic Studies-Depression Scale
(CES-D)
Hamilton Depression Rating Scale (HDRS)
The Geriatric Depression Scale (GDS)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
DIAGNOSTIK

Screening Test Pada Pasien dengan Gangguan Komunikasi

Stroke Aphasic Depression Questionnaire


( SADQ)
Depression Intensity Scale Circle ( DISC)

Aphasic Depression Rating Scale (ADRS)

Visual Analogue Mood Scale (VAMS)


PEMERIKSAAN PENUNJANG
DIAGNOSTIK

PEMERIKSAAN LABORATORIUM &


NEUROIMEJING

Laboratorium
Tidak ada pemeriksaan Neuroimaging
laboratorium spesifik
Pemeriksaan rutin dapat
Head CT-Scan
dilakukan untuk kontras non
mengeksklusikan etiologi
lain dari depresi
kontras
FARMAKOTERAPI
GOLONGAN ANTIDEPRESAN

Mencegah munculnya Depresi pada pasien


Paska Stroke

Sebagai Terapi pada kasus baru depresi


paska stroke

Meningkatkan penyembuhan paska stroke


dengan gangguan kognitif
Mengurangi agresivitas dan iritabilitas yang
dialami pasien pada bulan pertama paska
stroke
FARMAKOTERAPI

GOLONGAN OBAT ANTIDEPRESAN

Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI)

Serotonine And Norepinephrine Reuptake Inhibitor


(SNRI)
Stimulan Methylphenidate

Tricyclic Antidepresant (TCA)

Suplemen herbal
EFEK SAMPING : - Nausea
Mulut kering
Konstipasi
Insomnia
Disfungsi sexual
Resiko perdarahan saluran cerna
Interaksi AntiDepresan
FARMAKOTERAPI

Antidepresan dimulai dari dosis kecil

Antidepresan Terapi Dosis


diberikan pada antidepresan diturunkan
Efek terapi dilanjutkan perlahan-lahan
pasien depresi
antidepresan minimum 6
sedang sampai Pada kasus
tampak dalam bulan pada
berat sebelum relaps bisa
3-4 minggu pasien yang
intervensi dilanjutkan lebih
psikologi menunjukkan
respons lama
TERAPI NON
FARMAKOLOGI
COGNITIVE BEHAVIORAL THERAPY
(CBT)
Membangun lebih banyak pikiran fungsional
atau kepercayaan diri pasien

Jumlah sesi yang dianjurkan : 6-8 sesi selama


10-12 minggu
Kombinasi dengan obat antidepresan untuk
mengurangi gejala residual dan risiko relaps
pada pasien depresi berat
TERAPI NON
FARMAKOLOGI
LATIHAN FISIK

Menginduksi neurogenesis

Menurunkan gejala depresi

Memperbaiki konsep diri pada pasien depresi

Aktivitas fisik yang dianjurkan : berjalan selama


30 menit hampir setiap hari per minggu
PROGNOSIS

Prognosis daripada depresi paska stroke cukup baik dimana


depresi mayor pasca stroke dapat diikuti dengan remisi
spontan umumnya 1 sampai 2 tahun setelah stroke,

Beberapa kasus depresi dapat menjadi kronis dan menetap


lebih dari 3 tahun pasca stroke.pada 34% pasien stroke usia
tua depresi dapat menetap selama 20 tahun

Peningkatan angka kematian pada penderita depresi pasca-


stroke berhubungan dengan ketidakpatuhan pasien dalam
pengobatan strokenya,dan penyakit penyerta lain
KESIMPULAN
Depresi pasca stroke
merupakan gangguan mood
yang timbul sebagai akibat
dari pasien mengalami stroke

Angka kejadiannya tinggi


Prognosis baik apabila pasien
dengan prevalensi wanita
patuh menjalani terapi.
lebih tinggi daripada pria

Skrining depresi dengan


Penatalaksanaan dapat
bantuan kuesioner sangat
berupa psikofarmaka
membantu dalam
ataupun terapi kognitif
menegakkan diagnosis
Kuesinoer ini
telah
divalidasi oleh
Spitzer et al.
PHQ-9 terdiri
atas 9 skala
depresi
dimana tiap
skala bernilai
0-3 sehingga
nilai
severitasnya
berkisar
antara 0-27.
BECK DEPRESSION
INVENTORY

BDI terdiri dari 21 pertanyaan yang


sering digunakan pada penelitian
depresi pasca stroke.
BDI mempunyai cutoff point
optimal dengan nilai 10,
sensitivitas 80.0, dan spesifisitas
61.4.
Zung Self-Rating Depression Scale

Terdiri atas 20
pertanyaan
yang terbagi
atas 10
pertanyaan
positif dan 10
pertanyaan
negatif

masing-masing
jawaban
pertanyaan
memiliki nilai
1-4.

Pertanyaan tsb
berfungsi
untuk menilai
simtom-simtom
CENTER FOR
EPIDEMIOLOGI
C STUDIES-
DEPRESSION
SCALE (CES-D)

merupakan
kuesioner
sebanyak 20
pertanyaan
yang digunakan
untuk menilai
perasaan,
tingkah laku
dan
penampakan
pasien pada
minggu
sebelumnya
HAMILTON
DEPRESSION
RATING SCALE
(HDRS)

Didisain untuk
orang dewasa
Tersusun atas 17
pertanyaan
dimana tiap
pertanyaan
memiliki nilai 3
hingga 5.

Interpretasi
kuesioner :
0-7 dalam
batas normal
> 20
depresi
GERIATRIC
DEPRESSION SCALE
(GDS)

Kuesioner sebanyak 30
item yang dirancang
khusus untuk
mengidentifikasi depresi
pada orang tua

Bila Nilai didapat 10 atau


11 atau lebih rendah, nilai
tsb merupakan ambang
batas untuk membedakan
pasien stress dengan
depresi
Effective remedies
The only herbal remedy that has been shown
beyond reasonable doubt to be effective as a
treatment for mild to moderate depression is
Hypericum perforatum (St Johns wort). The
active ingredients of this herbal medicine are
probably hypericin and/or hyperforin. Its
antidepressive activity seems to be due to
inhibition of both serotonin reuptake and
monoamine oxidase.
Stroke Aphasic Depression
Questionnaire(SADQ)
TERIMA
KASIH