Anda di halaman 1dari 33

Tetanus

Oleh:
Andjasti Restu
Ningtyas
092011101076
Pembimbing:
Dosen Pembimbing:
dr. H. Ahmad Nuri, Sp. A
dr. Gebyar Tri Baskoro,
Sp. A
dr. Ramzy Syamlan, Sp.A
dr. Saraswati Dewi, Sp.A

SMF ILMU KESEHATAN


ANAK
RSD dr. SOEBANDI
JEMBER
2014
Definisi
Tetanus adalah suatu penyakit toksemia akut yang
disebabkan oleh eksotoksin Clostridium tetani,
dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa
disertai gangguan kesadaran.
Etiologi
Bentuk batang dengan spora diujungnya
sehingga seperti pemukul genderang/drum
stick, gram positif, obligat anaerob, membentuk
tetanolisin dan tetanospasmin.

- Bakteri Clostridium tetani tersebar luas di tanah, kotoran kuda, dan


debu
- Kondisi anaerob akan mengeluarkan tetanospasmin Toksin
neurotropik yang menyebabkan ketegangan dan spasme otot
Port dentree
Patofisiologi
Clostridium tetani masuk melalui luka,
gigi berlubang, otititis media (keadaan
anaerob) dalam bentuk spora bentuk
vegetatif tetanolisin
menghancurkan eritrosit, tetanospasmin
toksin sel saraf saraf motorik
SSP tidak dapat dinetralkan
Toksin yang bebas dalam darah
mudah dinetralkan oleh antitoksin
Tetanospasmin gangguan inhibisi
pre sinaps hilangnya keseimbangan
tonus otot spasme
Patofisiologi
Patofisiologi
Klasifikasi
1. Tetanus Lokal (localized tetanus)
2. Tetanus Sefalik
3. Tetanus Umum (Generalized tetanus)
4. Tetanus Neonatorum
1. Tetanus Lokal
kontraksi otot yang persisten pada daerah tempat dimana luka
terjadi
Kontraksi otot tersebut biasanya ringan, bisa bertahan dalam
beberapa bulan tanpa progresif dan biasanya menghilang secara
bertahap.
2. Tetanus Sefalik

Tetanus sefalik adalah bentuk yang jarang dari tetanus. Masa


inkubasi berkisar 1-2 hari yang berasal dari otitis media kronik,
luka pada daerah muka dan kepala, termasuk adanya benda asing
3. Tetanus Umum (Generelized tetanus)
Bentuk ini paling banyak dikenal.
Trismus merupakan gejala utama yang sering dijumpai
Gejala lain berupa risus sardonikus yakni spasme otot-otot
muka, opistotonus (kekakuan otot punggung), kejang dinding
perut.
Spasme dari laring dan otot-otot pernafasan bisa
menimbulkan obstruksi saluran nafas, sianosis asfiksia.
Bisa terjadi disuria dan retensi urine, kompresi fraktur dan
perdarahan di dalam otot.
Kenaikan temperatur biasanya hanya sedikit, tetapi bisa juga
mencapai 400C.
Bila dijumpai hipertermi, tekanan darah tidak stabil dan
dijumpai takikardia penderita biasanya meninggal.
4. Tetanus Neonatorum
Biasanya disebabkan infeksi C. tetani yang masuk melalui tali
pusat sewaktu proses pemotongan persalinan
Perjalanan alamiah tetanus neonatorum adalah adanya
peningkatan keparahan penyakit pada 7 hari pertama diikuti
kondisi yang tetap pada minggu kedua dan berkurang secara
bertahap pada 2 6 minggu berikutnya. Angka kematian
masih tinggi (> 50%)
Diagnosis
- Diagnosis cukup ditegakkan dengan gejala klinis
- Anamnesis:
Riwayat trauma : pemotongan tali pusat yang tidak steril,
luka kotor
Imunisasi DPT/TT tidak ada /tidak lengkap
Pada bayi sering malas minum
Gejala Klinis
Masa inkubasi (masa antara timbulnya luka sampai timbul gejala) 5
14 hari tidak lebih dari 15 hari
period of onset (waktu antara gejala pertama sampai timbul spasme
otot pertama) biasanya 2-3 hari.
Kekakuan dimulai dari otot setempat atau trismus, kemudian
menjalar ke seluruh tubuh tanpa disertai gangguan kesadaran
Kekakuan sangat khas yaitu fleksi kedua lengan ekstensi kedua kaki,
fleksi telapak kaki, tubuh kaku melengkung bagai busur.
Gejala Tetanus pada anak
Gejala tetanus pada anak:

Trismus, kaku dan nyeri pada rahang

Risus sardonikus, disfagi, spasme laring

Spasme otot leher, badan, perut papan, opistotonus

Tungkai ekstensi, lengan fleksi, tangan terkepal

Spasme/bangkitan tetanik : kontraksi dan spasme tonik paroksismal otot-


otot baik spontan atau akibat stimuli eksternal (cahaya, raba, suara)
atau oleh emosi, menimbulkan rasa nyeri hebat dan pasien tetap sadar
Hiperaktifitas sistem saraf simpatis.
Gejala Tetanus neonatorum
Pada neonatus tidak dapat/sulit
menetek, mulut mencucu seperti mulut
ikan (carper mouth)
Bayi sadar terjadi spasme otot
berulang
Trismus (mulut sukar dibuka)
Perut papan
Opistotonus (ada sela antara punggung
bayi dengan alas saat bayi ditidurkan)
Tali pusat biasanya kotor dan berbau
Anggota gerak spastik (boxing position)
Hipoksia, sianosis, apneic spell
Karakteristik tetanus
Kesadaran tetap baik

Spasme bertambah berat selama 3 hari pertama dan menetap


selama 5 7 hari
Setelah 10 hari spasme mulai berkurang frekuensinya

Setelah 2 minggu spasme mulai hilang


Derajat menurut gejala klinis
a. Derajat I (Tetanus Ringan)
Trismus (lebar antar gigi sama atau lebih dari 2 cm)

Kekakuan umum

Tidak dijumpai kejang

Tidak dijumpai gangguan respirasi

b. Derajat II (Tetanus Sedang)


Trismus (lebar kurang dari 1cm)

Kekakuan umum makin jelas

Dijumpai kejang rangsang, tidak ada kejang spontan


c. Derajat III A (Tetanus Berat)
Trismus berat (kedua baris gigi rapat)

Otot sangat spastis, timbul kejang spontan

Takipnea, takikardia

Apneic spell (spasme laring)

d. Derajat III B (Tetanus Sangat Berat)


Gangguan otonom berat

Hipertensi berat dan takikardi, atau

Hipotensi dan bradikardia, atau

Hipertensi berat atau hipotensi berat

Gejala di atas dikenal dengan autonomic storm.


Diagnosis Banding
Penyakit Gambaran Differential

Infections

Abses gigi,parafaring/retrofaring/peritonsiler Trismus ada


Meningoencephalitis Demam, trismus tidak ada, sensorium depresi, abnormal CSF,
risus sardonikus tidak ada, ada gangguan kesadaran
Polio Trismus tidak ada, paralisis tipe flaksid, abnormal CSF

Rabies Riwayat gigitan binatang, trismus tidak ada, hanya oropharyngeal


spasm
Lesi oropharyngeal Hanya lokal, rigiditas seluruh tubuh atau spasme tidak ada

Peritonitis Trismus atau spasme seluruh tubuh tidak ada

Kelainan Metabolik

Tetani Hanya carpopedial dan laryngeal spasme, hipokalsemia

Keracunan striknin Relaksasi komplet diantara spasme

Reaksi Phenothiazine Dystonia, respon dengan difenhidramin

Penyakit CNS

Status epileptikus Trismus tidak ada, Sensorium depresi

Hemoragik tumor Trismus tidak ada, Sensorium depresi

Kelainan psikiatrik

Histeria Trismus inkonstan, relaksasi komplet diantara spasme


Penyulit
Kegagalan respirasi/hipoksia : hipoksia, atelektasis,
bronkopneumonia, dan aspirasi pneumonia
Kardiovaskular dan otonom : takikardia -> hipertensi -> henti
jantung
Sepsis
Komplikasi ginjal : gagal ginjal akibat sepsis
Komplikasi hematologi : anemia karena infeksi
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit : hipakalemi,
hiponatremi
Komplikasi metabolik : asidosis respiratorik, alkalosis respiratorik
Pada kulit : dekubitus dan thrombophlebitis
Tulang vertebra : fraktur vertebra torakal
Komplikasi neurologis : neuropati perifer, ophtalmoplegi serta
gangguan memori dan penurunan kesadaran.
Penatalaksanaan
Terapi dasar tetanus :
1. Antibiotik
Antibiotik diberikan selama 10 hari, 2 minggu bila ada komplikasi
Peniciline procaine 50.000 IU/kgBB/kali intramuskular, tiap 12 jam, atau

Metronidazole loading dose 15 mg/kgBB/jam, selanjutnya 7,5 mg/kgBB tiap 6 jam

Ampicillin 150 mg/kg/hari 4x / hari

Gentamycin 5 mg /kg/hari dibagi 2 dosis (Tetanus Neonatorum)

Eritromisin 40 50 mg/kg/hr peroral dibagi 4 dosis

Catatan: Bila ada sepsis/pnumonia dapat ditambahkan antibiotik yang sesuai.


Penatalaksanaan
2. Anti toksin
Anti tetanus serum (ATS) efektif pada luka baru < 6 jam.
Dosisnya 50.000 100.000 IU untuk dewasa, setengah dosis
diberikan secara intravena dan setengah dosis yang tersisa
diberikan secara intramuskular. Dosis untuk neonatus 5.000
10.000 IU.
Human Tetanus Immunoglobulin (HTIG) 3.000 6.000 IU
intramuskular dan 500 IU (untuk tetanus neonatorum) satu
kali pemberian saja.
Dilakukan imunisasi DT/TT/DPT pada sisi yang lain, pada saat
yang bersamaan.
Penatalaksanaan

Petunjuk pencegahan terhadap tetanus pada keadaan luka


Penatalaksanaan
3. Mengurangi spasme dan menangani kejang
Pada dasarnya spasme diatasi dengan Diazepam
(sebagai muscle relaxan) dosis 0,1 0,3 mg/kg BB
dengan interval 2 4 jam sesuai gejala klinis atau dosis
yang direkomendasikan untuk anak < 2 tahun yaitu 8
mg/kg BB/hari dalam dosis 2-3 mg setiap 3 jam.
Skema pemberian diazepam pada tetanus dengan kejang
Penatalaksanaan
4. Terapi suportif
Bebaskan jalan napas

Hindarkan aspirasi (dengan menghisap lendir perlahan-lahan dan memindah-mindahkan posisi

pasien)
Pemberian oksigen
Perawatan luka atau port dentree yang dicurigai, dilakukan sekaligus dengan pembuangan

jaringan yang diduga mengandung kuman dan spora (debridement), sebaiknya dilakukan
setelah diberi antitoksin dan antikonvulsi.
Perawatan dengan stimulasi minimal (Isolasi untuk menghindari rangsang luar seperti suara

dan tindakan terhadap penderita)


Pemberian cairan dan nutrisi adekuat (diet cukup kalori dan protein), bila perlu dapat

dipasang sonde nasogastrik, asal tidak memperkuat kejang


Bantuan napas pada tetanus berat atau tetanus neonatorum (tracheostomi jika perlu)

Pemantauan/monitoring kejang dan tanda penyulit.


Penatalaksanaan
# Pada tetanus ringan dan sedang diberikan pengobatan tetanus dasar.

# Tetanus sedang diberi terapi sebagai berikut:


Terapi dasar tetanus

Perhatian khusus pada keadaan jalan napas (akibat kejang dan aspirasi)
Pemberian cairan parenteral, bila perlu nutrisi secara parenteral.

# Tetanus berat/sangat berat diberi terapi sebagai berikut:


Terapi dasar seperti di atas

Perawatan dilakukan di ICU, diperlukan intubasi atau tracheostomi


Balans cairan dimonitor secara ketat

Apabila spasme sangat hebat (tetanus berat), perlu ventilasi mekanik dengan Pancuronium bromide

0,02 mg/kgBB intravena, diikuti 0,05 mg/kgBB/kali, diberikan tiap 2 3 jam


Apabila terjadi aktivitas simpatis yang berlebihan, berikan -blocker seperti propenolol/ dan -

blocker labetalol.
Pencegahan
I. Imunisasi aktif
a. Imunisasi dasar Diphteri Pertusis Tetanus (DPT)
diberikan tiga kali sejak usia 2 bulan dengan interval
4 6 minggu, ulangan pada umur 18 bulan dan 5
tahun

b. Eliminasi tetanus neonatorum dilakukan dengan


imunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada ibu hamil,
wanita subur, minimal 5x suntikan toksoid (untuk
mencapai tingkat TT lifelong-card).
Jadwal imunisasi tetanus booster anak sekolah
Pencegahan
II. Pencegahan pada luka
a. Luka dibersihkan, jaringan nekrotik dan benda asing dibuang
b. Luka ringan dan bersih
Imunisasi lengkap: tidak perlu Anti Tetanus Serum (ATS) atau tetanus
immunoglobulin
Imunisasi tidak lengkap: imunisasi aktif DPT/DT

c. Luka sedang/berat/kotor
Imunisasi (-) atau tidak jelas: ATS 3.000 5.000 IU, atau tetanus
immunoglobulin 250-500 IU. Toksoid tetanus pada sisi lain.
Imunisasi (+), lamanya sudah > 5 tahun: ulangan toksoid, ATS 3.000
5.000 IU, atau tetanus immunoglobulin 250 500 IU.
Prognosis
Masa inkubasi dan waktu onset, semakin pendek prognosis
makin buruk
Beratnya gejala klinik, (spasme dan disotonomi) makin berat
makin buruk
Usia, neonatus dan usia tua prognosis makin buruk

Gizi buruk, prognosis buruk

Penanganan komplikasi, bila ditangani secara optimal maka


prognosis baik.
Daftar Pustaka
1. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis Bagian II. 2008. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Jakarta: 322 329.
2. Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal. 2012. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan Volume I: 1 22.
3. Fadlyana, Eddy et al. 2013. Imunogenitas dan Kenyamanan Vaksin Tetanus Difteri (Td) pada Remaja Sebagai Salah Satu
Upaya Mencegah Reemerging Disease di Indonesia. Sari Pediatri Volume 15 (3): 141 149.
4. Iriani, Yulia et al. 2012. Kadar Imunoglobulin G Difteri dan Tetanus pada Anak Sekolah Dasar Kelas 1. Sari Pediatri Volume 14
(1): 46 51.
5. Leman, M. M dan Tumbelaka, A. R. 2010. Penggunaan Anti Tetanus Serum dan Human Tetanus Immunoglobulin pada Tetanus
Anak. Sari Pediatri Volume 12 (4): 283 288.
6. Pedoman Diganosis dan Terapi Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak Edisi III Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo. 2008. Halaman
118 124.
7. Pedoman Diagnosis dan Terapi Rumah Sakit dr. Soebandi. 2008. Halaman: 121 124.
8. Pedoman Pelayanan Medis Edisi I. 2010. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta: 315 318.
9. Rampengan, N. H et al. 2012. Profil Kasus Tetanus Anak di RS Prof. dr. RD Kandou Manado. Sari Pediatri Volume 14 (3): 173
178.
10. Ritarwan, Kiking. 2004. Tetanus Neurologi. Jurnal Fakultas Kedokteran Univeritas Sumatera Utara/RS Adam Malik. Halaman 1
10.
11. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak Edisi I. 2004. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta: 114 118.
12. Wibowo, Tunjung dan Anggraeni, Alifah. 2012. Tetanus Neonatorum. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan Volume I:
29 32.
13. World Health Organization. 2010. Current Recommendation for treatment of Tetanus during Humanization Emergencies.
Halaman 1 6.
Terima Kasih...