Anda di halaman 1dari 22

K E LO M P O K 1

KASUS A
Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun di bawa
oleh keluarganya ke UGD karena lumpuh kedua
kaki setelah terjatuh dari pohon. Keluhan disertai
ngompol dan mati rasa pada kakinya. Diketahui
bahwa ketika jatuh tubuh menyentuh tanah dalam
keadaan terduduk

Pemeriksaan fisik :
Jejas hematom pada vertebra thorakal 10
Pemeriksaan neurologis :
Hilang sensai raba, nyeri, tekan, suhu pada
ekstremitas bawah
Inkontinensia uri
HIPOTESIS
PA R A P L E G I A KO M P L I T
LEARNING OBJECTIVE
Mengetahui definisi dan etilogi paraplegia
Memahami mekanisme hilangnya kemampuan motorik
Memahami mekanisme hilangnya kemampuan sensorik
Memahami mekanisme timbulnya inkontinensia uri
DEFINISI
Paraplegia adalah dimana kondisi gerak bawah tubuh/ekstremitas inferior
kehilangan gerak dan sensasi sebagai akibat dari lesi transversal pada
medulla spinalis

ETIOLOGI
Cedera medula spinalis akibat kecelakaan
Infeksi
Kista / Tumor
Kanker
Hematoma Spinali
Sindrom Guillain-Barr
Kompresi epidural sumsum tulang belakang
neoplastik
Infark sumsum tulang belakang.
Kelainan/kolaps vertebra
MANIFESTASI KLINIS
L U M P U H PA D A E K S T R E M I TA S B A W A H
KEHILANGAN FUNGSI SENSORIK DAN
MOTORIK
KEHILANGAN KEMAMPUAN MENGENDALIKAN
BUANG AIR KECIL DAN BUANG AIR BESAR
(BLADER AND BOWEL CONTROL)
FISIOLOGIS TIMBULNYA RANGSANG MOTORIK
Medula Spinalis

Cornu Anterior Cornu Posterior

Traktus Descenden Traktus Ascenden


(Fungsi Motorik) (Fungsi Sensorik)

Impuls saraf dari Otak (girus
Impuls Saraf Menuju ke otak
presentral) melalui medulla spinalis
lalu menuju ke efektor yaitu otot

Traktus Traktus Traktus


Traktus Traktus
Traktus Spinotalamik
Kortikospina vestibulospina Spinotalamik Columna
Rubrospinal Anterior
l l Lateral dorsalis
(Gerakan otot (sensasi raba
(Gerakan otot (Gerakan otot (sensasi nyeri (sensasi raba
fleksor) kasar dan
volunteer) ekstensor) dan suhu) halus dan
tekanan)
getaran)
PATOFISIOLOGIS TERJADINYA KELUMPUHAN

Cornu Anterior Gangguan


Lesi
Medula Spinalis Fungsi
Motorik

Pada tot Kelumpuhan LMN Mengakibat


Otot yg (Lower Motor kan
dipersarafi Neuron)
CONT
Pada Kasus terjadi kelumpuhan kedua
kaki, di medula spinalis yang
mempersarafi extremitas bawah yaitu
L2-S2, jadi ketika anak tersebut jatuh
dalam keadaan terduduk maka
kemungkinan terbesar yang
mengalami benturan pertama kali
adalah daerah Lumbal dan Sakral,
sehingga dapat mengakibatkan
paralisis/kelumpuhan.
DERMATOM
JEJAS HEMATOM
Jejas hematom yang terjadi pada thoracal 10
disebabkan karena adanya trauma yang menyebabkan
kompresi (tekanan/tindihan). Fraktur kompresi pada
vertebra T10 diakibatkan karena terjadi tekanan
vertikal dengan atau tanpa fleksi atau rotasi yang
melebihi kemampuan vertebra untuk menahan.
Fraktura dislokasi memang paling sering terjadi pada
daerah transisional T10 sampai L1 dan berhubungan
dengan insiden yang tinggi dari gangguan neurologik.
Cedera yang terjadi pada daerah toraks mengakibatkan
paraplegia komplit.
FISIOLOGI FUNGSI SENSORIK
Rangsangan ujung saraf bebas radiks dorsalis kolumna grisea dorsalis

medula spinalis traktus spinotalamikus lateralis / spinotalamikus ventralis

medula oblongata pons mesensefalon thalamus

korteks sensorik.

Traktus Spinotalamikus Lateralis (nyeri dan


suhu)
Traktus Spinotalamikus Ventralis (raba dan
tekan)
PATOFISIOLOGI FUNGSI SENSORIK
Lesi traktus spinotalamikus lateralis / traktus spinotamalikus ventralis

radiks dorsalis Lesi hilangnya sensasi nyeri, suhu, raba, tekanan

hilangnya sensasi pada daerah yang dipersarafi oleh radiks tersebut.

Pada kasus pasien kehilangan sensasi sensorik (nyeri, suhu, raba, tekanan)
diakibatkan oleh karena adanya lesi pada nervus lumbal dan sakral yang mana
nervus-nervus ini mempersarafi daerah ekstremitas bawah, sehingga
rangsangan yang diterima tidak dapat diteruskan ke pusat yang lebih tinggi.
Berhubungan
dengan
medulla
spinalis (S-
PERSARAFAN KANDUNG KEMIH
2,S-3)
melalui
Serat otot lurik
pleksus
yang berjalanan
sakralis
melalui nervus
Nervus Pelvikus pudendal menuju
sfingter eksternus
kandung kemih
Serat Saraf Serat Saraf
Sensorik Motorik
Serat saraf somatik
yang mempersarafi
Saraf motorik dan mengontrol
Mendeteksi yang berjalan otot lurik pada
derajat regangan dalam nervus sfingter.
pada dinding pelvikus adalah
kandung kemih serat
parasimpatis
PROSES FISIOLOGIS: MEKANISME KONTINENSI
Stimulasi N.
Volume Urine
Pudendus

Aktivitas Simpatis
Aktivitas
Parasimpatis

Relaksasi otot-otot
detrusor
Kontraksi otot sfinger uretra Kontraksi otot sfinger uretra
interna eksterna

Tekanan Uretra > Tekanan Kandung


Kemih
Mekanisme
Kontinensi
PROSES PATOLOGIS: INKONTINENSIA URINE
Stimulasi N.
Volume Urine
Pudendus

Aktivitas Simpatis
Aktivitas
Parasimpatis

Kontraksi otot-otot
detrusor
Kontraksi otot sfinger uretra Kontraksi otot sfinger uretra
+
interna eksterna

Tekanan Kandung Kemih > Tekanan


Uretra
Inkontinensia Urine
PENEGAKAN DIAGNOSA
Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan neurologis
Pemeriksaan penunjang
ANAMNESIS
Anamnesis adalah suatu teknik pemeriksaan yang dilakukan lewat suatu
percakapan antara seorang dokter dengan pasiennya secara langsung atau
dengan orang lain yang mengetahui tentang kondisi pasien untuk
mendapatkan data pasien berserta permasalahan medisnya.

Pada kasus didapatkan anamesis :


1. lumpuh pada kedua kaki setelah terjatuh dari atas pohon
2. Ngompol dan mati rasa pada kedua kaki

PEMERIKSAAN FISIK
pada kasus pemeriksaan fisik didaptkan Jejas hematom pada daerah vertebra thorakal 10
PEMERIKSAAN NEUROLOGIS
Sensasi Pemeriksaan
Raba Menggunakan kapas, tissue, kuas halus harus
distimulasi seringan mungkin. Pada telapak
kaki tekanan di tambah
Nyeri Menggunakan jarum tumpul dan tajam, dengan
menekan kulit penderita seminimal mungkin

Tekan Dengan menekan tendon achilles

Suhu Menggunakan tabung air berisi berisi air


bersuhu 5-10C untuk sensasi dingin dan suhu
40-45C untuk sensasi panas. Tabung di
tempelkan pada kulit penderita
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. F O T O P O L O S J I K A T E R L I H AT
K O L A P S V E R T E B R A ATA U
KERUSAKAN PEDIKEL
2. M R I S P I N A L
3. C T S C A N
4. R O N T G E N
DIAGNOSIS BANDING
PARAPLEGIA Gejala yang sama:
Hilangnya sensari rasa raba, nyeri, dan suhu
Hilangnya sensasi rasa
Gangguan fungsi motorik
raba, nyeri, dan suhu
Disfungsi ekstremitas bawah, kandung kemih Gangguan fungsi
dan usus motorik
Disfungsi kandung
kemih dan usus
ANTERIOR CORD SYNDROME (ACS)
Hilangnya sensasi nyeri dan fungsi motorik di Gejala yang tidak
bawah lesi sama:
Kehilangan kontrol dalam eliminasi urun dan
feses Adanya deformatis
Adanya deformatis tulang belakang tulang belakang
Disfungsi seksual

CAUDA EQUINA SYNDROME (CES)


Hilangnya sensasi raba, rasa tekan, dan suhu
KESIMPULAN
Pada kasus di atas anak tersebut menderita paraplegia dikarenakan anak
tersebut jatuh ketinggian (atas pohon). Manifestasi klinis yang tampak pada
paraplegia yaitu lumpuh pada ekstremitaas bawah, hilangnya fungsi
senrorik, motorik, dan terjadi inkontinensia uri.
Hilangnya fungsi motorik karena adanya lesi pada cornu anterior medula
spinalis sehingga fungsi motorik terganggu dan mengakibatkan
kelumpuhan LMN (lower motor neuron) pada otot-otot yang dipersarafi
Hilangnya fungsi sensorik karena adanya lesi pada nervus lumbal dan
sakral sehingga rangsangan yang diterima tidak dapat diteruskan ke pusat
yang lebih tinggi.
Inkontinensia uri terjadi karena stimulus n. Pudendus terganggu sehingga
otot sfingter uretra eksterna dan interna tidak berkontraksi sehingga
tekanan kandung kemih lebih besar dari pada tekanan uretra dan terjadi
inkontinensia uri