Anda di halaman 1dari 19

KESELAMATAN DAN

KESEHATAN KERJA (K3)


KASUS -
KASUS K3

Kecelakaan lalu lintas


Perlunya Menjalankan Program K3

Kesehatan Keselamatan kerja (K3)


adalah sebuah kondisi di mana para
karyawan terlindungi dari cedera yang
disebabkan oleh berbagai kecelakaan
yang berhubungan dengan pekerjaan

Tidak seorang manusiapun yang


menginginkan terjadinya suatu
kecelakaan menimpa dirinya apalagi
sampai menyebabkan cedera.
Penyusunan Safety Plan
Safety plan adalah rencana
pelaksanaan K3 untuk proyek
yang bertujuan agar dalam
pelaksanaan nantinya proyek
akan aman dari kecelakaan dan
bahaya penyakit sehingga
menghasilkan produktivitas kerja
yang tinggi
JENIS KESELAMATAN KERJA

1. (Industrial safety)
2. (Mining Safety)
3. (Building & construction Safety)
4. (Traffic Safety)
5. (Flight Safety)
6. (Railway Safety)
7. (Home Safety)
8. (Office Safety)
Pelaksanakan Kegiatan K3 di Lapangan

Pelaksanaan kegiatan K3 di
lapangan meliputi : Kegiatan
K3 di lapangan berupa
pelaksanaan safety plan,
melalui kerja sama dengan
instansi yang terkait K3,
yaitu depnaker, polisi dan
rumah sakit.
Pengawasan pelaksanaan K3, meliputi kegiatan:

Safety patrol yaitu suatu tim K3 yang terdiri


dari 2 atau 3 orang yang melaksanakan patroli
untuk mencatat hal-hal yang tidak sesuai
ketentuan K3 dan yang memiliki resiko
kecelakaan.
Safety supervisor adalah petugas yang
ditunjuk manajer proyek untuk mengadakan
pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan
dilihat dari segi K3.
Safety meeting yaitu rapat dalam proyek yang
membahas hasil laporan safety patrol maupun
safety supervisor
LANJUTAN :

Pelaporan dan penanganan kecelakaan, terdiri


dari:
oPelaporan dan penanganan kecelakaan ringan
oPelaporan dan penanganan kecelakaan berat
oPelaporan dan penanganan kecelakaan
dengan
korban meninggal
oPelaporan dan penanganan kecelakaan
peralatan berat
Pelatihan Program K3
Pelatihan program K3 yang terdiri atas 2 bagian, yaitu:

1. Pelatihan secara umum : dengan materi pelatihan


tentang panduan K3 di proyek, misalnya:
Pedoman praktis pelaksanaan keselamatan dan
kesehatan kerja pada proyek bangunan gedung
Penanganan, penyimpanan dan pemeliharaan material
Keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan
sipil
Lanjutan :

2. Pelatihan khusus proyek, yang diberikan


pada saat awal proyek dan di tengah periode
pelaksanaan :
proyek sebagai penyegaran, dengan
peserta seluruh
petugas yang terkait dalam pengawasan
proyek, dengan materi tentang pengetahuan
umum.
Alat-alat pelindung Anggota badan

1. Pakaian Kerja
2. Pelindung tangan
3. Pelindung kaki
4. Pelindung kepala
5. Pelindung mata
6. Pelindung wajah
7. Pelindung bahaya jatuh
Gambar peralatan
perlindungan diri
PERALATAN LINGKUNGAN

Sarana peralatan lingkungan berupa:


tabung pemadam kebakaran
pagar pengamanan
penangkal petir darurat
pemeliharaan jalan kerja dan jembatan kerja
jaring pengamanan pada bangunan tinggi
pagar pengaman lokasi proyek
tangga
peralatan P3K
RAMBU PERINGATAN
Rambu-rambu peringatan, antara lain dengan fungsi:
peringatan bahaya dari atas
peringatan bahaya benturan kepala
peringatan bahaya longsoran
peringatan bahaya api
peringatan tersengat listrik
penunjuk ketinggian (untuk bangunan yang lebih dari 2 lantai)
penunjuk jalur instalasi listrik kerja sementara
penunjuk batas ketinggian penumpukan material
larangan memasuki area tertentu
larangan membawa bahan-bahan berbahaya
petunjuk untuk melapor (keluar masuk proyek)
GAMBAR RAMBU PERINGATAN :
Kasus Kasus Lingkungan
Ada 4 dasar hukum yang sering
menjadi acuan mengenai K3 yaitu:

Pertama, dalam Undang-Undang (UU) No.


1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja,
disana terdapat Ruang Lingkup
Pelaksanaan, Syarat Keselamatan Kerja,
Pengawasan, Pembinaan, Panitia Pembina
K-3, Tentang Kecelakaan, Kewajiban dan
Hak Tenaga Kerja, Kewajiban Memasuki
Tempat Kerja, Kewajiban Pengurus dan
Ketentuan Penutup (Ancaman Pidana)
Lanjutan :

Kedua, UU No. 21 tahun 2003 tentang


Pengesahan ILO Convention No. 81
Concerning Labour Inspection in Industry
and Commerce (yang mana disahkan 19
Juli 1947). Saat ini, telah 137 negara (lebih
dari 70%) Anggota ILO meratifikasi
(menyetujui dan memberikan sanksi
formal) ke dalam Undang-Undang,
termasuk Indonesia
Lanjutan :

Ketiga, UU No. 13 tahun 2003 tentang


Ketenagakerjaan, khususnya Paragraf 5
tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja,
pasal 86 dan 87. Pasal 86 ayat 1berbunyi:
Setiap Pekerja/ Buruh mempunyai Hak untuk
memperoleh perlindungan atas (a) Keselamatan
dan Kesehatan Kerja.