Anda di halaman 1dari 8

HUKUM PENGELOLAAN SUMBER

TAMBANG
Pendahuluan
Berkaitan dengan regulasi pengelolaan sumber
daya agrarian maka perlu kiranya dilihat aspek
keberlanjutannya, aspek perlindungan hokum
terhadap masyarakat Hukum Adat, partisipasi
public, daya penegakan hokum, hubungan
Negara dengan SDA, sinkronisasi dengan
perundang-undangan lainnya, penghormatan
HAM, desetralisasi dan aspek kelembagaan.
Dasar Hukum Pengelolaan Pertambangan ialah
UU No. 11 Tahun 1967 tentang Pertambangan.
Pemahaman tentang sumber daya alam
dalam UU ini bersifat reduksionis. SDA
lebih banayak hanya dipahami sebagai
komoditas. Dalam UU ini yang dimaksud
dengan sumber daya tambang sebagai
bahan galian (unsur kimia, mineral, dan
batuan yang merupakan endapan alam)
yang merupakan kekayaan nasional yang
dikuasai dan dipergunakan negara untuk
kemakmuran rakyat.
Selain pandangan reduksionis UU pertambangan lebih
menitikberatkan pada eksploitasi (use oriented) dari pada
kelestarian sumber daya tambang. UU pertambangan ini
bahkan hanya memberikan satu pasal perlindungan
lingkungan dari kegiatan pertambangan. Pengaturan ini
hanya berlaku untuk kegiatan pasca penambangan dengan
pengaturan bahwa:apabila selesai melakukan
penambangan bahan galian pada suatu tempat pekerjaan,
pemegang kuasa pertambangan yang bersangkutan
diwajibkan mengembalikan tanah sedemikian rupa
sehingga tidak menimbulkan bahaya penyakit atau bahaya
lain bagi masyarakat sekitarnya. Dengan ketentuan seperti
ini maka UU ini kurang memberi perhatian pada upaya
konservasi sumber daya alam dan lingkungan.
Pemanfaatan sumber daya tambang diarahkan untuk
meningkatkan pendapatan Negara yang dilakukan dengan
mengundang investor besar. Dengan demikian UU ini lebih
UU pertambangan juga bersifat sentralistik.
Penguasaan, pemanfaatan, pengusahaan serta
perijinan usaha pertambangan umum ditetapkan
oleh pemerintah pusat (Menteri Pertambangan).
Pemerintah daerah hanya berhak melakukan
penguasaan Negara dan mengatur usaha
pertambangan untuk bahan galian golongan C
(pasir, kapur, belerang dll) yang kurang memiliki
nilai ekonomis tinggi. Sedangkan bahan galian
tambang golongan A dan B (emas, tembaga, nikel,
minyak, gas bumi, batu bara, timah, bauksit dll)
menjadi bagian dari kewenangan pemerintah pusat.
Dengan semangat sentralistik tersebut tidak ada
ruang bagi pengaturan mengenai partisipasi public
dalam proses pengambilan keputusan dan
pembuatan kebijakan pengelolaan sumber daya
tambang. Kontrolpun dalam pengelolaan sumber
daya tambang sejak awal tidak diatur dalam UU
ini. Masyarakat yang berada di lokasi tambang
tidak pernah diberi informasi dan dimintakan
perstujuan bagi rencana pemberian ijin tambang.
Hal ini mengabaikan satu prinsip penting dalam
pengelolaan sumber daya alam yang dikenal
dengan prior informed consent principle.
Pengakuan pada hak-hak masyarakat adat
diitegrasikan dalam pengaturan tentang pertambangan
rakyat. UU ini menafsirkan bahwa rakyat setempat
yang mengusahakan kegiatan pertambangan
dipastikan sebagai masyarakat yang terikat oleh
hukhokumat. Dalam kenyantaannya tidak semua rakyat
setempat adalah masyarakat adat dan tidak semua
pertambangan rakyat dilakukan oleh masyarakat adat.
Membatasi hak masyarakat adat hanya pada
pengelolaan tambang skala kecil (pertambangan
rakyat) merupakan wujud sikap diskriminatif pada
masyarakat adat dalam penguasaan dan pemanfaatan
sumber daya tambang.
Implikasi pengaturan pengelolaan sumber daya
tambang yang bercorak sentralistik, sektoral, dan
diskriminatif secara nyata menimbulkan dampak
negative bagi ekologi dan lingkungan hidup. Kegiatan
dari usaha pertambangan telah menimbulkan
kerusakan air, tanah, dan degradasi sumber daya
alam hayati. Pasal 30 mengatur kewajiban pengusaha
untuk melakukan reklamasi dan rehabilitasi ternyata
bukan dimaksudkan sebagai upaya konservasi,
rehabilitasi, atau pengembalian fungsi lingkungan
hidup tetapi hanya sekedar sebagai upaya untuk
mencegah kemungkinan timbulnya penyakit.