Anda di halaman 1dari 17

Pemeliharaan IPAL

Pertm 12

Sugeng Abdullah (2009) 1


Skema IPAL Lumpur aktif

Bak aerasi Bak Sedimentasi II


Influen
Q Efluen
X

lumpur
Udara (O2) dari
Qr blower
Xr Qw

dikembalikan dibuang

Sugeng Abdullah (2009) 2


Masalah 1 : Lumpur mengapung pada bak clarifier
( bulking sludge).

Indikator / Penyebab :
Tumbuhnya organisme filamentous SVI (sludge
volume index) > 150 Ditemukan serabut serabut
filamen pada pemeriksaan MLSS secara mikroskopis.
Proses denitrifikasi yang menghasilkan gas nitrogen
(N) yang terperangkap pada gumpalan lumpur
Kontrol :
Periksa konsentrasi oksigen terlarut pda bak aerasi
Periksa pH air limbah pada bak aerasi
Periksa kandungan nutrien pada air limbah yang akan
diolah (influen). Utamanya TKN (N-amoniak + N-
organik) dan P
Periksa SVI
Periksa konsentrasi BOD5 pada influen (disarankan)
Sugeng Abdullah (2009) 3
Cara mengatasi masalah 1 :
Pertahankan kandungan oksigen terlarut dalam bak aerasi
minimal 1 mg/L, dengan cara mengatur suplai udara pada aerator.
Atur pH menjadi netral
Tambahkan nutrien (N dan P = Urea dan TSP), sehingga
diperoleh perbandingan BOD : N : P = 100 : 5 : 1. Cara
menentukan jumlah urea dan TSP yang ditambahkan dapat
dilihat pada lampiran.
Tambahkan 5 - 6 mg/L chlorine / kaporit pada lumpur yang
dikembalikan kedalam bak aerasi dari bak clarifier (Qr = return
sludge ), sampai dengan SVI < 150
Kurangi nilai F/M ratio , yaitu dengan (a) mengurangi suplai
makanan ( zat organik / BOD), (b) mengurangi lumpur yang
dibuang atau (c) menaikkan umur lumpur.
Bila dikarenakan proses denitrifikasi , cukup dengan (a)
menaikan jumlah lumpur yang diresirkulasi (Qr), (b) menaikan
konsentrasi oksigen terlarut dalam bak aerasi, atau (c)
mengurangi umur lumpur.

Sugeng Abdullah (2009) 4


Masalah 2 :
effluen keruh
Indikator / Penyebab :
SVI > 150 atau SVI melebihi kriteria disain
Turbulensi pada bak aerasi yang terlalu tinggi
Oksidasi lumpur yang berlebihan
Kondisi anaerob pada bak aerasi (oksigen terlarut = 0 mg/L)
Kehadiran zat toksik pada influen.

Kontrol
Periksa SVI
Periksa oksigen terlarut
Periksa olakan air pada bak aerasi
Periksa kemungkinan adanya jazad protozoa inaktif/mati (karena
ada racun) pada MLSS secara mikroskopis.

Sugeng Abdullah (2009) 5


Cara mengatasi masalah 2:
Kurangi olakan air yang disebabkan oleh
aerator
Tambahkan jumlah lumpur yang dibuang, atau
kurangi umur lumpur.
Tambahkan suplai udara/oksigen , bila
kondisinya anaerob
Lakukan pre treatment yang sesuai, bila

ditemukan adanya racun.

Sugeng Abdullah (2009) 6


Masalah 3 :
Terdapat buih warna hitam

Indikator / Penyebab
Umur lumpur yang terlalu lama

Kontrol :
Hitung jumlah lumpur yang dibuang secara tepat dan teliti

Cara mengatasi
Buih disemprot dengan air yang bertekanan
Bila dengan penyemprotan tidak berhasil, kurangi umur lumpur
dengan cara menambah jumlah lumpur yang dibuang.

Sugeng Abdullah (2009) 7


Masalah 4 :
Terdapat buih warna putih tebal dan berombak
pada bak aerasi

Indikator / Penyebab :
TSS / MLSS terlalu rendah ( < 1500 mg/L).
Atau TSS/ MLSS kurang dari kriteria disain.
Kontrol :
Periksa kandungan TSS / MLSS pada bak
aerasi
Cara mengatasi :
Kurangi jumlah lumpur yang dibuang

Sugeng Abdullah (2009) 8


Masalah 5 :
Konsentrasi MLSS berbeda pada setiap bak
aerasi

Indikator / Penyebab :
problem ini hanya terjadi pada instalasi pengolahan air limbah
yang memiliki bak aerasi lebih dari satu unit, disebabkan oleh
distribusi aliran yang tidak merata.
Kontrol :
Periksa sistem distribusi aliran yang ada. ( bak pembagi,
valve, pintu air dll)
Cara mengatasi :
Atur bukaan valve atau pintu air dalam sistem distribusi
aliran , khusunya pada inlet/influen dan resirkulasi lumpur.

Sugeng Abdullah (2009) 9


Masalah 6 :
Lumpur / gumpalan lumpur ikut terbuang
bersama effluen.
Indikator / Penyebab :
Beban padatan terlalu tinggi
Aliran yang terlalu besar, melampaui kemampuan beban
clarifier
Distribusi aliran tidak merata
Konsentrasi MLSS terlalu tinggi
Jumlah lumpur yang diresirkulasi tidak tepat.

Kontrol
Periksa beban padatan / solid loading (overflow rate)
Periksa sistem distribusi aliran
Periksa sistem resirkulasi lumpur (dari kemungkinan rusak
atau tersumbat)

Sugeng Abdullah (2009) 10


Cara mengatasi masalah 6
Atur bukaan valve atau pintu ai dalam sistem

distribusi aliran , khusunya pada inlet/influen


dan resirkulasi lumpur.
Tingkatkan debit resirkulasi lumpur untuk
menjaga agar zona air bersih pada clarifier
minimal 1 (satu) meter. Cocokkan dengan
kriteria disain yang ada.
Atau tambahkan jumlah lumpur yang dibuang

Sugeng Abdullah (2009) 11


Masalah 7 :
Lumpur melimpah melalui salah satu weir

Indikator / Penyebab :
Distribusi aliran tidak merata
Level weir tidak sama

Kontrol :
Periksa sistem distribusi aliran
Periksa level weir

Cara mengatasi :
Atur bukaan valve atau pintu ai dalam sistem distribusi
aliran , khusunya pada inlet/influen dan resirkulasi lumpur.
Perbaiki level weir

Sugeng Abdullah (2009) 12


Masalah 8 :
Gelembung aerasi terlalu besar atau
mengelompok disatu tempat

Indikator / Penyebab :
Sistem difuser/aerator rusak atau tersumbat
Kontrol :
Periksa sistem aerasi, suplai udara dan filter
membran pada blower
Kuras bak aerasi dan periksa sistem perpipaan
udara dan diffuser
Cara mengatasi :
Bersihkan kotoran yang menyumbat, perbaiki
atau ganti peralatan yang rusak. Bila dikuras,
lakukan prosedur pengoperasian awal
(starting/seeding).

Sugeng Abdullah (2009) 13


Masalah 9 :
pH < 6,7 pada bak aerasi

Indikator / Penyebab :
Terdapat banyak limbah yang mengandung asam, yang
masuk pada instalasi pengolahan air limbah Terjadinya proses
nitrifikasi
Kontrol :
Periksa kandungan Amoniak dan nitrat pada effluen
Periksa pH influen
Cara mengatasi :
Lakukan pengaturan yang tepat pada umur lumpur dan
jumlah lumpur yang dibuang.
Tambahkan larutan kapur, bila pH influen kurang dari 6,7.
Kontrol influen dengan benar.

Sugeng Abdullah (2009) 14


Masalah 10 :
MLSS sangat rendah pada resirkulasi
lumpur (< 800 mg/L)

Indikator / Penyebab :
Tumbuh organisme filamentous secara berlebihan Rate
resirkulasi lumpur yang tinggi Terlalu banyak jumlah lumpur yang
dibuang.
Kontrol :
Periksa kemungkinan keberadaan filamentous pada MLSS
Periksa debit resirkulasi lumpur dan debit lumpur yang dibuang
Periksa oksigen terlarut pada bak aerasi
Cara mengatasi :
Pengaturan yang tepat pada pengurangan resirkulasi dang
pengurangan lumpur yang dibuang Naikan konsentrasi oksigen
terlarut pada bak aerasi sampai dengan 2 mg/L ( apabila DO < 0,5
mg/L).

Sugeng Abdullah (2009) 15


Masalah 11 :
Aerasi berhenti
Indikator / Penyebab :
Difuser tersumbat Aerasi lemah
Kontrol :
Periksa sistem aerasi / difusser
Cara mengatasi :
Keringkan atau kuras bak aerasi, kemudian
adakan perbaikan atau pergantian pada
sistem aerasi / difusser. Lakukan prosedur
pengoperasian awal.

Sugeng Abdullah (2009) 16


Sugeng Abdullah (2009) 17