Anda di halaman 1dari 10

Konsep, Filosofi, Teori,

Postulat Auditing
Oleh:
Retno Dyah Pekerti
C2D016002
Filosofi dan Teori Auditing
Filosofi menurut Webster Dictionary adalah bidang ilmu
yang mencari pemahaman umum terhadap nilai dan
realitas melalui kegiatan pemikiran bukan melalui
pengamatan lapangan. Sehingga filosofi auditing ini
merupakan kegiatan olah fikir yang membahas
bagaimana sebenarnya ilmu auditing itu baik dari aspek
realitasnya maupun nilainya.
Karakteristik pendekatan filosofi dapat dibedakan menjadi 4
bagian :
1. Comprehension (pemahaman), yakni menunjukkan
pemahaman keseluruhan dan bukan hanya bagian-bagian.
2. Perspektip, pandangan pendekatan filosofi yang
mengeksplorasi kebenaran sampai keakarnya. para Auditor
harus mempunyai wawasan yang sangat luas yang penting
untuk mendapatkan kebenaran dan signifikasi akan berbagai
hal dalam pembuktian audit.
3. Insight (Wawasan), auditor harus mampu memberikan
asumsi-asumsi yang rasional.
4. Vision (Visi), dalam pendekatan filosofi, auditing harus
mempunyai visi ke depan yang jelas.

Karakteristik
Mautz dan Sharaf (1961) mengemukakan bahwa
postulat merupakan syarat penting dalam
pengembangan disiplin, tidak perlu diperiksa
kebenarannya lagi, sebagai dasar dalam
pengambilan kesimpulan, sebagai dasar dalam
membangun struktur teori dan bisa juga
dimodifikasi sesuai perkembangan ilmu
pengetahuan.

Postulat Auditing
Mautz dan Sharaf mengemukakan ada 8 postulat yang dijadikan dasar
untuk pembentukan teori, yakni:
1. Laporan dan data keuangan harus bisa diperiksa.
2. Tidak ada konflik kepentingan antara auditor dan manajemen
perusahaan yang lagi diperiksa.
3. Laporan dan informasi keuangan diserahkan untuk diperiksa bebas
dari kolusi dan ketidakteraturan lainnya.
4. System internal control yang memuaskan dapat mengeliminasi
kemungkinan katidakteraturan dalam laporan keuangan.
5. Konsistensi laporan keuangan sesuai standar yang diterima umum
sehingga laporan keuangan disajikan secara wajar.
6. Dalam hal bukti tidak jelas atau bertentangan, maka apa yang
selama ini dianggap benar sekarang dan dimasa yang akan datang.
7. Pemeriksaan yang dilakukan untuk menyampaikan pendapat yang
independen, auditor harus bertindak selaku auditor.
8. Status professional dari seorang independen auditor menekankan
pada tanggungjawab professional.
Konsep adalah ide umum yang diambil dan dianggap
sebagai bagian dari suatu disiplin yang diamati melalui
perasaan. Konsep merupakan sesuatu yang saling
berhubungan dalam totalitasnya. Konsep berbeda dengan
persepsi, yang terakhir ini merupakan rekonstruksi
mental dan kombinasi dari pemahaman terhadap data.
Konsep adalah bentuk abstraksi yang diambil dari
pengamatan, pengalaman, ide umumyang membantu kita
melihat kesamaan dan perbedaan.

Konsep Auditing
Mautz dan Sharaf mengemukakan beberapa tentative konsep sebagai berikut:
1. Bukti (evidence)
Tujuannya adalah untuk memperoleh pengertian, sebagai dasar untuk memberikan
kesimpulan, yang dituangkan dalam pendapat auditor.
2. Pelaksanaan audit yang hati-hati
Konsep ini berdasarkan adanya issue pokok tingkat kehati-hatian yang diharapkan
pada auditor yang bertanggungjawab (prudent auditor). yang dimaksud dengan
tanggung jawab yaitu tanggungjawab seorang profesional dalam melaksanakan
tugasnya. dengan konsep konservatif.
3. Penyajian Atau Pengungkapan Yang Wajar
Konsep ini menuntut adanya informasi laporan keuangan yang bebas (tidak
memihak), tidak bias, dan mencerminkan posisi keuangan, hasil operasi, dan aliran
kas perusahaan yang wajar.
4. Independensi
Yaitu suatu sikap yang dimiliki auditor untuk tidak memihak dalam melakukan
audit. Konsep independensi berkaitan dengan independensi pada diri pribadi auditor
secara individual (practitioner-independence), dan independen pada seluruh auditor
secara bersama-sama dalam profesi (profession-independence)
5. Etika Perilaku
Etika dalam auditing, berkaitan dengan konsep perilaku yang ideal dari seorang
auditor profesional yang independen dalam melaksanakan audit.
Mautz dan Sharaf mencoba menjadikan auditing sebagai science sehingga
mereka sampai pada perumusan metodologi auditing sebagai berikut:
1. Pengakuan adanya masalah dengan kesediaan menerima penugasan.
2. Mengamati fakta-fakta yang relevan terhadap masalah itu.
3. Memilah problem menjadi berbagai problem individual.
4. Menentukan kecukupan bukti yang berkaitan dengan problem individu.
5. Memeilih teknik audit dan menyusun prosedur yang tepat.
6. Melakukan pengumpulan bukti.
7. Menilai kecukupan bukti dengan melihat:
a. Keterkaitan dengan keabsahan.
b. Melihat petunjuk adanya masalah baru.
c. Melihat kecukupan untuk mengambil keputusan professional.
8. Perumusan kesimpulan professional.
a. Menurut problem individual
b. Secara keseluruhan

Metodologi Auditing
Metode ini merupakan tahapan yang dilalui oleh seorang
auditor dalam melaksanakan tugas profesinya, mulai dari
penugasan, pengumpulan bukti, sampai pada pengambilan
keputusan.
Khususnya dalam proses pengambilan keputusan atau value
judgment maka Mautz dan Sharaf mengemukakan beberapa
tahap sebagai berikut:
1. Pengakuan masalah
2. Perumusan masalah
3. Memilih beberapa aternatif pemecahan masalah
4. Menilai alternative pemecahan masalah
a. Melihat pengalaman masa lalu dalam kasus yang sama
b. Mempertimbangkan akibat dari alternatife yang ada
c. Melihat kesesuaian alternative itu dengan prinsip dan sifat
professi.
Dari tahapan ini dapat kita lihat bahwa seorang auditor
dalam proses pengambilan keputusan tidak hanya terbatas
pada pengetahuan teknik, metode pemeriksaan, tetapi juga
kemampuan menggunakan pertimbangan professi. Dan ini
membutuhkan pengalaman, pengetahuan, ingatan, persepsi,
imajinasi dan tanggung jawab yang besar terhadap
integritas professi.

Perumusan Kesimpulan