Anda di halaman 1dari 54

PERATURAN PEMERINTAH NO.

53
TAHUN 2010 TENTANG DISIPLIN
PNS DAN PERKA BKN
NO. 21 TAHUN 2010

DINAS KESEHATAN KABUPATEN


KEPULAUAN MENTAWAI

File : PP NO 53 TAHUN 2010 TENTANG DISIPLIN PNS DAN PERKA BKN NO 21 TAHUN 2010-KANREG V-KAWANUA-06-01-2011
Pengertian :
1. Disiplin PNS :
Kesanggupan PNS menaati kewajiban &
menghindari larangan Per-UU/Peraturan
kedinasan jika dilanggar dijatuhi
hukuman disiplin.
2. PNS : PNS Pusat dan PNS Daerah.
3. Hukuman Disiplin :
Hukuman yg dijatuhkan kpd PNS
karena melanggar peraturan disiplin
PNS.
pelanggaran disiplin
ucapan
setiap kata-2 yang diucapkan dihadapan atau dapat didengar orang
lain rapat ceramah diskusi TV telepon rekaman
dan atau alat komunikasi lainnya

tulisan
pernyataan pikiran dan/atau perasaan secara tertulis baik dalam
bentuk tulisan gambar coretan karikatur dan yang
serupa dengan itu

perbuatan
setiap tingkah laku sikap atau tindakan yang dilakukan PNS
atau tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan sesuai
dengan peraturan perundang undangan yang berlaku

dilakukan
di dalam atau diluar jam kerja
TINGKAT DAN JENIS HUKUMAN DISIPLIN

Pada Pasal 7 bagian kedua mengenai tingkat dan jenis hukuman


disiplin, disempurnakan dengan mengubah dan menambah jenis
hukuman sebagai berikut :
a. Untuk jenis hukuman sedang :
jenis hukuman yang berupa penurunan gaji sebesar 1
(satu) kali gaji berkala untuk paling lama 1 (satu) tahun
dihapuskan, karena tidak diamanatkan dalam Penjelasan
Pasal 29 UU Nomor 8 Tahun 1974 jo UU Nomor 43 Tahun
1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian.
penambahan jenis hukuman penurunan pangkat 1 (satu)
tingkat untuk selama 1 (satu) tahun, selama ini sebagai
hukuman berat.

4
b. Untuk jenis hukuman berat :
perubahan jenis hukuman berupa penurunan pangkat
1 (satu) tingkat untuk paling lama 1 (satu) tahun
menjadi selama 3 (tiga) tahun.
jenis hukuman berupa penurunan pangkat 1 (satu)
tingkat untuk paling lama 1 (satu) tahun dihapus,
diturunkan menjadi hukuman tingkat sedang.
penambahan jenis hukuman berupa pemindahan
dalam rangka penurunan jabatan dalam jabatan
setingkat lebih rendah sesuai dengan Penjelasan Pasal
29 UU Nomor 8 Tahun 1974 jo UU Nomor 43 Tahun
1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian.

5
3. Menambah ketentuan mengenai kewajiban untuk masuk kerja,
dirumuskan secara rinci untuk menjaring PNS yang tidak masuk
kerja tanpa alasan sah adalah sebagai berikut :
a. selama 5 s/d 15 hari kerja dikenai hukuman ringan.
1) 5 hari kerja dijatuhi hukuman teguran lisan;
2) 6 s/d 10 hari kerja dijatuhi hukuman teguran tertulis;
3) 11 s/d 15 hari kerja dijatuhi hukuman pernyatan tidak
puas secara tertulis.
b. selama 16 s/d 30 hari kerja dikenai hukuman sedang.
1) 16 s/d 20 hari kerja dijatuhi hukuman penundaan
kenaikan gaji berkala selama 1 (satu) tahun;
2) 21 s/d 25 hari kerja dijatuhi hukuman penundaan
kenaikan pangkat selama 1 (satu) tahun;
3) 26 s/d 30 hari kerja dijatuhi hukuman penurunan pangkat
setingkat lebih rendah selama 1 (satu) tahun.

6
c. selama 31 s/d 46 hari kerja atau lebih dikenai hukuman berat.
1) 31 s/d 35 hari kerja dijatuhi hukuman penurunan pangkat
setingkat lebih rendah selama 3 (tiga) tahun;
2) 36 s/d 40 hari kerja dijatuhi hukuman pemindahan dalam
rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah yang
menduduki jabatan struktural atau fungsional tertentu;
3) 41 s/d 45 hari kerja dijatuhi hukuman pembebasan dari
jabatan bagi PNS yang menduduki jabatan struktural atau
fungsional tertentu;
4) 46 hari kerja atau lebih dikenai hukuman pemberhentian
dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau
pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS.
Setiap PNS wajib datang, pulang dan melaksanakan tugas sesuai
dengan ketentuan jam kerja. Keterlambatan akan dihitung secara
kumulatif dan dikonversi 1 hari kerja sama dengan 7 jam.
Dalam hal PNS tidak masuk kerja secara terus-menerus
meskipun telah dipanggil 2 (dua) kali tetapi tetap tidak hadir, PNS
tersebut dijatuhi HD tanpa melalui pemeriksaan dan jenis
hukumannya berdasarkan jumlah hari ketidakhadiran secara
kumulatif. 7
dan anggota legislatif (DPR, DPD, dan DPRD) sebagaimana
amanat dalam UU No. 10 Tahun 2008 dan UU No. 42 Tahun 2008.
Dan penambahan butir larangan dalam mendukung calon Kepala
Daerah/Wakil Kepala Daerah yang selama ini ditetapkan di dalam
S.E. Menpan, yaitu:
a. Hukuman Sedang :
1) memberikan dukungan kpd calon Presiden/Wapres, DPR,
DPD, atau DPRD dgn cara ikut serta sbg pelaksana
kampanye, menjadi peserta kampanye dgn menggunakan
atribut partai atau atribut PNS, sbg peserta kampanye dgn
mengerahkan PNS lain
2) memberikan dukungan kpd calon Presiden/Wapres dgn
cara mengadakan kegiatan yg mengarah kpd
keberpihakan thd pasangan calon yg menjadi peserta
pemilu sebelum, selama, dan sesudah masa kampanye
meliputi pertemuan, ajakan, himbauan, seruan, atau
pemberian barang kpd PNS dalam lingk. unit kerjanya,
anggota keluarga, dan masyarakat;
3) memberikan dukungan kpd calon anggota DPD atau calon
Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dgn cara memberikan
surat dukungan disertai foto kopi KTP atau Surat 8
4) memberikan dukungan kpd calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah
dgn cara terlibat dalam kegiatan kampanye utk mendukung calon
Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah serta mengadakan kegiatan yg
mengarah kpd keberpihakan thd pasangan calon yg menjadi peserta
pemilu sebelum, selama, dan sesudah masa kampanye meliputi
pertemuan, ajakan, himbauan, seruan, atau pemberian barang kpd PNS
dalam lingk. unit kerjanya, anggota keluarga, dan masyarakat.
(yg dimaksud terlibat dlm kegiatan kampanye adalah seperti PNS bertindak
sbg pelaksana kampanye, petugas kampanye / tim sukses, tenaga hali,
penyandang dana, pencari dana, dll.
b. Hukuman Berat :
1) memberikan dukungan kpd calon Presiden/Wapres, DPR, DPD,
atau DPRD dgn cara sbg peserta kampanye dgn menggunakan
fasilitas negara;
2) memberikan dukungan kpd calon Presiden/Wapres dgn cara
membuat keputusan dan/atau tindakan yg menguntungkan atau
merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye;
dan
3) memberikan dukungan kpd calon Kepala Daerah/Wakil Kepala
Daerah, dgn cara menggunakan fasilitas yg terkait dgn jabatan
dalam kegiatan kampanye dan/atau membuat keputusan
dan/atau tindakan yg menguntungkan atau merugikan salah
satu pasangan calon selama masa kampanye. 9
pemberhentiannya menjadi wewenang
Presiden sepanjang mengenai jenis hukuman
berat.
b.oleh Pejabat Pembina Kepegawaian (Pusat
maupun Daerah) bagi pejabat struktural
eselon II, III, IV, V, Jabatan Fungsional
Tertentu, dan Jabatan Fungsional Umum
sepanjang mengenai jenis hukuman berat.
c. untuk jenis hukuman sedang diatur two step
down, bagi pejabat yang berwenang
menghukum kecuali PPK misalnya: Pejabat
struktural eselon I menjatuhkan hukuman
tingkat ringan bagi pejabat struktural eselon
III, dan seterusnya.
d.untuk jenis hukuman ringan diatur one step
down, bagi pejabat yang berwenang 10
Ketentuan baru yang mengatur mengenai Pejabat yang berwenang
menghukum wajib menjatuhkan HD kepada PNS yang melakukan
pelanggaran disiplin.
a. Apabila Pejabat yang berwenang menghukum tidak
menjatuhkan HD kepada PNS yang melakukan pelanggaran
disiplin, pejabat tersebut dijatuhi HD oleh atasannya. (Pasal 21
PP No 53 Tahun 2010).
b. Ketentuan penjatuhan HD oleh atasan kepada pejabat yang
seharus-nya menghukum berlaku juga bagi atasan secara
berjenjang.
c. Penjatuhan HD oleh atasan kepada pejabat yang tidak
menjatuhkan HD, dilakukan setelah mendengar keterangannya
dan tidak perlu dilakukan pemeriksaan yang dituangkan dalam
BAP.
d. Tingkat dan Jenis HD yang dijatuhkan kepada atasan yang
tidak menjatuhkan HD kepada PNS yang melakukan
pelanggaran disiplin sama dengan jenis HD yang seharusnya
dijatuhkan kepada PNS yang melakukan pelanggaran disiplin.
e. Atasan pejabat yang berwenang menghukum, juga
menjatuhkan HD terhadap PNS yang melakukan pelanggaran.
11
10. TATA CARA PEMANGGILAN, PEMERIKSAAN, PENJATUHAN,
DAN PENYAMPAIAN KEPUTUSAN HUKUMAN DISIPLIN (HD)

a. Pemanggilan
1) PNS yg diduga melakukan pelanggaran disiplin dipanggil
secara tertulis oleh atasan langsung utk dilakukan
pemeriksaan.
2) Pemanggilan kpd PNS yg diduga melakukan pelanggaran
disiplin dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja
sebelum tanggal pemeriksaan.
3) Apabila pada tanggal yg seharusnya ybs diperiksa tidak
hadir, maka dilakukan pemanggilan kedua paling lambat 7
(tujuh) hari kerja sejak tanggal seharusnya ybs diperiksa
pada pemanggilan pertama.
4) Apabila pada tanggal pemeriksaan PNS ybs tdk hadir juga
maka pejabat yg berwenang menghukum menjatuhkan HD
berdasarkan alat bukti dan keterangan yg ada tanpa
dilakukan pemeriksaan.
b. Pemeriksaan
1) Sebelum PNS dijatuhi HD setiap atasan langsung wajib memeriksa
terlebih dahulu PNS yang diduga melakukan pelanggaran disiplin.
2) Pemeriksaan dilakukan secara tertutup dan hasilnya dituangkan
dalam bentuk BAP.
3) BAP harus ditandatangani oleh pejabat yang memeriksa dan PNS
yg diperiksa.
4) Dalam hal PNS yg diperiksa tdk bersedia menandatangani BAP,
BAP tsb tetap dijadikan sebagai dasar utk menjatuhkan HD.
5) PNS yg diperiksa berhak mendapat foto copy BAP.
6) Berdasarkan hasil pemeriksaan, pejabat yg berwenang menghukum
menjatuhkan HD.
7) Dalam keputusan HD harus disebutkan pelanggaran disiplin yg
dilakukan oleh PNS ybs

Cth BAP
14
c. Penjatuhan Hukuman Disiplin
1) Apabila menurut hasil pemeriksaan, kewenangan utk menjatuhkan
HD kepada PNS tsb merupakan kewenangan :
a) atasan langsung ybs, maka atasan langsung tsb wajib
menjatuhkan HD.
b) pejabat yang lebih tinggi, maka atasan langsung tsb wajib
melaporkan secara hierarki disertai BAP.
2) Khusus utk pelanggaran disiplin yg ancaman hukumannya sedang
dan berat dapat dibentuk Tim Pemeriksa oleh PPK (Pejabat
Pembina Kepegawaian ) atau pejabat lain yang ditunjuk (Pasal 25
PP 53 Thn 2010).
3) Tim pemeriksa terdiri atas atasan langsung, unsur pengawasan dan
unsur kepegawaian atau pejabat lain yang ditunjuk.
4) Apabila diperlukan, atasan langsung, Tim Pemeriksa atau pejabat
yg berwenang menghukum dapat meminta keterangan dari orang
lain.

Cth SK HD
16
17
d. Penyampaian Hukuman Disiplin
1) Setiap penjatuhan HD ditetapkan dgn keputusan pejabat yg
berwenang menghukum.
2) Keputusan disampaikan secara tertutup oleh pejabat yg berwenang
menghukum atau pejabat lain yg ditunjuk kpd PNS ybs serta
tembusannya disampaikan kpd pejabat instansi terkait.
3) Penyampaian keputusan HD dilakukan paling lambat 14 (empat
belas) hari kerja sejak keputusan ditetapkan.
4) Dalam hal PNS yang dijatuhi HD tidak hadir pada saat penyampaian
keputusan HD, keputusan dikirim kpd ybs
e. Pembebasan Sementara dari Tugas Jabatannya
Dalam rangka kelancaran pemeriksaan, PNS yg diduga melakukan
pelanggaran disiplin & kemungkinan akan dijatuhi HD tingkat berat,
dapat dibebaskan sementara dari tugas jabatannya oleh atasan langsung
sejak ybs diperiksa (Pasal 27 PP 53 Tahun 2010), dengan ketentuan sbb:
1) Pembebasan sementara dilakukan oleh atasan langsungnya.
2) Pembebasan sementara berlaku sejak ybs diperiksa sampai dengan
ditetapkannya HD.
3) PNS yang dibebaskan sementara tetap diberikan hak kepegawaian-
nya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
4) Apabila atasan langsungnya tidak ada, maka pembebasan sementara
dilakukan oleh pejabat yang lebih tinggi
f. Dasar Penjatuhan Hukuman Disiplin
1) PNS yang berdsrkan hasil pemeriksaan ternyata melakukan
beberapa pelanggaran disiplin, terhadapnya hanya dapat
dijatuhi satu jenis HD yg terberat setelah
mempertimbangkan pelanggaran yg dilakukan.
2) PNS yg pernah dijatuhi HD kemudian melakukan
pelanggaran disiplin yg sifatnya sama, kepadanya dijatuhi
jenis Hukuman Disiplin yg lebih berat dari HD terakhir yg
pernah dijatuhkan kepadanya.
3) PNS tdk dapat dijatuhi HD dua kali atau lebih untuk satu
pelanggaran disiplin.
4) Dalam hal PNS yang dpk/dpb dilingkungannya akan dijatuhi
HD yg bukan menjadi kewenangannya, Pimpinan instansi
atau Kepala Perwakilan mengusulkan penjatuhan HD
kepada PPK instansi induknya disertai BAP
a. Hukuman disiplin mulai berlaku sejak tanggal keputusan
ditetapkan oleh:
1) PRESIDEN;
2) PPK ( Pejabat Pembina Kepegawaian) untuk jenis HD,
berupa :
a) Semua jenis HD ringan,
b) Semua HD sedang,
c) HD berat berupa :
penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 3
thn;
pemindahan dlm rangka penurunan jabatan setingkat
lebih rendah;
pembebasan dari jabatan.
3) GUBERNUR selaku wakil pemerintah untuk jenis HD,
berupa :
a) pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat
lebih rendah; dan
b) pembebasan dari jabatan.
4) KEPALA PERWAKILAN RI. Untuk jenis HD ringan dan berat
berupa:
a) pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat
lebih rendah;
b) pembebasan dari jabatan 20
b. Tingkat dan jenis Hukuman Disiplin yg dijatuhkan oleh pejabat
SELAIN sebagaimana dimaksud pada huruf a apabila :
1) tidak diajukan keberatan maka mulai berlaku pada hari ke 15
(lima belas) setelah keputusan HD diterima.
2) diajukan keberatan maka mulai berlaku pada tanggal
ditetapkannya keputusan atas keberatan.
c. HD yg dijatuhkan oleh PPK atau Gubernur selaku wakil pemerintah
untuk jenis HD berat berupa :
1) pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri
sebagai PNS; dan
2) pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS.
apabila :
3) tidak diajukan banding administratif maka mulai berlaku pada
hari ke 15 (lima belas) setelah keputusan HD diterima.
4) diajukan banding administratif maka mulai berlaku pada tanggal
ditetapkannya keputusan banding administratif.
d. Apabila PNS yang dijatuhi HD tidak hadir pada waktu penyampaian
keputusan HD maka HD berlaku pada hari ke 15 (lima belas) sejak
tanggal yang ditentukan untuk penyampaian keputusan HD.
21
12. UPAYA ADMINSTRATIF
Upaya administratif terdiri dari keberatan dan banding administrasi
(Pasal 32 PP 53 tahun 2010)
13. HUKUMAN DISIPLIN YANG TIDAK DAPAT DIAJUKAN UPAYA ADMINIS-
TRATIF YAITU HD YANG DIJATUHKAN OLEH :
a. PRESIDEN;
b. PPK untuk jenis HD, berupa :
1) Semua jenis HD ringan,
2) Semua jenis HD sedang,
3) HD berat berupa :
a) penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 3 thn;
b) pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih
rendah;
c) pembebasan dari jabatan.
c. GUBERNUR selaku wakil pemerintah utk jenis HD berat berupa :
1) pemindahan dlm rangka penurunan jabtn setingkat lebih rendah;
2) pembebasan dari jabatan.
d. KEPALA PERWAKILAN RI Untuk jenis HD ringan dan berat
1) pemindahan dlm rangka penurunan jabtn setingkat lebih rendah;
2) pembebasan dari jabatan
e. PEJABAT YG BERWENANG MENGHUKUM utk semua jenis HD
ringan. 22
14. HUKUMAN DISIPLIN YANG DAPAT DIAJUKAN KEBERATAN ADALAH JENIS
HD SEDANG, BERUPA :
a. penundaan KGB selama 1 thn; dan
b. penundaan KP selama 1 thn.
yang dijatuhkan oleh :
1) Pejabat strukt. eselon I dan pejabat yg setara;
2) Sekda/Pejabat strukt. eselon II Kab/Kota;
3) Pejabat eselon II di lingk. Instansi vertikal;
4) Pejabat strukt. eselon II di lingk. instansi vertikal (memimpin satuan
organisasi di daerah yang bersifat mandiri) dan unit dgn sebutan lain
yg atasan langsungnya pejabat struktural eselon I yg bukan PPK (mis.
Kanwil Bea Cukai dan Kanwil Pajak) ditambah kewenangan menjatuhkan HD
berupa penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 1 (satu) tahun utk
eselon IV kebawah dan golru III/d kebawah (Psl 16 ayat (4);
(memimpin satuan
5) Pejabat strukt. eselon II di lingk. instansi vertikal
organisasi di daerah yang bersifat mandiri) dan Kantor
Perwakilan Provinsi dan unit setara dgn sebutan lain yg
berada di bawah dan bertanggung jawab kpd PPK (mis.
Kanreg BKN, Kanwil Agama, Ktr Perw. BPKP, dll) ditambah
kewenangan menjatuhkan HD berupa penurunan pangkat
setingkat lebih rendah selama 1 (satu) tahun utk eselon IV
kebawah dan golru III/d kebawah (Psl 16 ayat (4); 23
c. Keberatan dapat diajukan secara tertulis pada atasan pejabat yg
berwenang menghukum disertai alasan keberatan yg tembusannya
disampaikan kpd pejabat yg berwenang menghukum.
d. Keberatan diajukan dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari
terhitung mulai tanggal ybs menerima keputusan hukuman disiplin.
e. Pejabat yang berwenang menghukum harus memberi tanggapan atas
keberatan dan disampaikan secara tertulis kepada atasan pejabat
yang berwenang menghukum dalam jangka waktu 6 (enam) hari kerja
terhitung mulai tanggal ybs menerima tembusan surat keberatan.
f. Atasan pejabat yang berwenang menghukum wajib mengambil
keputusan atas keberatan yang diajukan oleh PNS dalam waktu 21
(dua puluh satu) hari kerja terhitung mulai tanggal ybs menerima
surat keberatan.
g. Keputusan atasan pejabat yang berwenang menghukum, dapat
berupa penguatan, peringanan, pemberatan, atau pembatalan
hukuman disiplin serta bersifat final dan mengikat.
h. Apabila dalam waktu lebih dari 21 (dua puluh satu) hari kerja, atasan
pejabat yang berwenang menghukum tidak mengambil keputusan
atas keberatan maka keputusan pejabat yang berwenang meng-
hukum batal demi hukum.
24
a. PNS yang mencapai BUP (Batas Usia Pensiun ) atau meninggal
dunia pada saat menjalani HD:
1) Penundaan kenaikan gaji berkala selama 1 (satu) tahun;
2) Penundaan kenaikan pangkat selama 1 (satu) tahun;
3) Penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 1 (satu)
tahun;
4) Penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 3 (tiga)
tahun,
dianggap telah selesai menjalani HD dan diberhentikan dengan
hormat sebagai PNS
b. PNS yg meninggal dunia sebelum ada keputusan atas upaya
adminis-tratif diberhentikan dengan hormat sebagai PNS.
c. PNS yang mencapai BUP sebelum ada keputusan atas
keberatan, dianggap telah selesai menjalani hukuman disiplin
dan diberhentikan dengan hormat sebagai PNS.
d. PNS yang sedang mengajukan banding adminsitratif dan telah
mencapai BUP, apabila meninggal dunia maka ybs
diberhentikan dengan hormat sebagai PNS.
Dalam hal PNS ybs sebelumnya dijatuhi HD berupa
pemberhentian tidak dengan hormat maka keputusan
pemberhentiannya ditinjau kembali oleh pejabat yang 25
18. Ketentuan lain-lain
a. Dalam hal seorang PNS diusulkan untuk dijatuhi HD berupa
pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih
rendah, terlebih dahulu diperhatikan jabatan yang lowong dan
kompetensinya.
b. PNS yang sedang mengajukan upaya administratif tidak
diberikan kenaikan pangkat dan/atau kenaikan gaji berkala
sampai dengan ditetapkannya keputusan yang mempunyai
kekuatan hukum tetap.
c. PNS yang sedang dalam proses pemeriksaan karena diduga
melakukan pelanggaran disiplin atau sedang mengajukan
upaya administratif, tidak dapat disetujui untuk pindah instansi.
d. PNS yang sedang dalam proses pemeriksaan karena diduga
melakukan pelanggaran disiplin tidak dapat dipertimbangkan
kenaikan pangkatnya.
e. PNS yang sedang menjalani HD tidak dapat dipertimbangkan
kenaikan gaji berkala dan kenaikan pangkatnya.

26
f. PNS yang sedang menjalani HD dan melakukan pelanggaran
disiplin, dijatuhi HD.
g. Hasil pemeriksaan pihak berwajib dan unsur pengawasan
dapat digunakan sebagai bahan utk melakukan pemeriksaan
atau melengkapi BAP terhadap PNS yang diduga melakukan
pelanggaran disiplin.
h. Surat panggilan, BAP, surat keputusan dan bahan lain yang
mengangkut HD adalah bersifat rahasia.
i. Calon PNS yang dijatuhi HD tingkat sedang atau berat,
dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk diangkat menjadi PNS
dan diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri
atau diberhentikan tidak dengan hormat sebagai Calon PNS.
j. Apabila PNS masih menjalani HD karena melanggar kewajiban
masuk kerja dan tidak menaati ketentuan jam kerja dan
melakukan pelanggaran tidak masuk kerja lagi, maka kepada
ybs dijatuhi hukuman yang lebih berat dan sisa hukuman yang
harus dijalani dianggap selesai dan berlanjut dengan HD yang
baru ditetapkan.
27
k. Dalam hal PNS yang sebelumnya dijatuhi HD penurunan
pangkat setingkat lebih rendah selama 1 (satu) tahun dan baru
menjalani sebagian dari masa hukuman, apabila ybs kemudian
dijatuhi HD berupa penurunan pangkat setingkat lebih rendah
selama 3 (tiga) tahun, maka PNS ybs hanya menjalani masa
hukuman selama 3 (tiga) tahun kedepan.
l. Pelanggaran terhadap kewajiban masuk kerja dan menaati
ketentuan masuk kerja dihitung secara kumulatif sampai
dengan akhir tahun berjalan yaitu mulai bulan Januari sampai
dengan bulan Desember tahun ybs.
m. Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri
atau tidak dengan hormat sebagai PNS terhadap pelanggaran
disiplin tidak masuk kerja dan menaati ketentuan masuk kerja
selama 46 (empat puluh enam) hari atau lebih didasarkan atas
pertimbangan obyektif dari PPK

28
Unsur-Unsur Sasaran Kerja
Pegawai
1. Kegiatan Tugas Jabatan
Mengacu pada Penetapan Kinerja/RKT. Dalam
melaksanakan kegiatan tugas jabatan pada
prinsipnya pekerjaan dibagi habis dari tingkat
jabatan tertinggi-jabatan terendah secara hierarki.
2. Angka Kredit (Bagi Pejabat Fungsional Tertentu baik
yang definitif maupun penugasan)
3. Target
Dalam menetapkan target meliputi aspek sbb:
Kuantitas (Target Output)
Kualitas (Target Kualitas)
Waktu (Target Waktu)
Biaya (Target Biaya)
SASARAN KERJA
PEGAWAI
TARGET ADALAH JUMLAH BEBAN KERJA YANG AKAN DICAPAI DARI
SETIAP PELAKSANAAN TUGAS JABATAN
Bagi pemegang jabatan struktural maupun
fungsional umum dengan sifat tugas yang
input/bahan kerjanya berasal dari unit
organisasi bersangkutan, maka penetapan
target didasarkan pada RKT yang telah
Bagi pemegang jabatan struktural maupun
ditetapkan
fungsional umum dengan sifat tugas yang
TARGET input/bahan kerjanya berasal dari
SKP output/hasil kerja unit organisasi lain, maka
penetapan target didasarkan pada asumsi
rata-rata tahun sebelumnya
Bagi pemegang jabatan fungsional tertentu
penetapan target berdasarkan pada angka
kredit yang dipersyaratkan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan
2. Prinsip
Penyusunan
JELAS, kegiatan yang dilakukan
harus dapat diuraikan secara jelas

DAPAT DIUKUR, kegiatan yang


dilakukan harus dapat diukur secara
kuantitas maupun kualitas
RELEVAN, kegiatan yang dilakukan
SKP harus berdasarkan lingkup tugas
masing-masing
DAPAT DICAPAI, kegiatan yang
dilakukan harus disesuaikan dengan
kemampuan PNS
MEMILIKI TARGET WAKTU,
kegiatan yang dilakukan harus dapat
ditentukan waktunya
SEBAGAI IMPLEMENTASI
KEBIJAKAN DALAM
RANGKA MENCAPAI
TUJUAN DAN SASARAN
ORGANISASI YANG
TELAH DITETAPKAN DAN
HARUS BERORIENTASI
PADA HASIL SECARA
MEMUAT NYATA DAN TERUKUR
MENGACU
KEGIATAN
SKP KEPADA
TUGAS
RKT/PKT DALAM MELAKSANAKAN
JABATAN
KEGIATAN TUGAS
JABATAN PADA
PRINSIPNYA PEKERJAAN
DIBAGI HABIS DARI
TINGKAT YANG
TERTINGGI SAMPAI
DENGAN TINGKAT
TERENDAH SECARA
HIERARKI
SKP
Kegiatan tugas jabatan harus mengacu pada
ESELON renstra dan RKT yang dijabarkan sesuai dengan
I tugas dan fungsi, wewenang, tanggung jawab dan
uraian tugasnya sebagai kegiatan dalam SKP
pejabat
Kegiatanstruktural eselonharus
tugas jabatan I mengacu kepada
SKP
ESELON SKP eselon I dijabarkan sesuai dengan tugas dan
II fungsi, wewenang, tanggung jawab dan uraian
tugasnya sebagai kegiatan dalam SKP pejabat
struktural eselon II
SKP
Kegiatan tugas jabatan harus mengacu kepada
ESELON SKP eselon II dijabarkan sesuai dengan tugas
III dan fungsi, wewenang, tanggung jawab dan
uraian tugasnya sebagai kegiatan dalam SKP
pejabat struktural eselon III
SKP Kegiatan tugas jabatan harus mengacu kepada
SKP eselon III dijabarkan sesuai dengan tugas,
ESELO wewenang, tanggung jawab dan uraian tugasnya
N VI sebagai kegiatan dalam SKP pejabat struktural
eselon IV
Kegiatan tugas jabatan harus mengacu kepada
FUNGSI
SKP eselon IV dijabarkan sesuai dengan tugas,
ONAL
UMUM
wewenang, tanggung jawab dan uraian tugasnya
sebagai kegiatan dalam SKP pejabat fungsional
umumn
PENILAIAN TUGAS TAMBAHAN
PNS yg diberikan tugas lain atau tugas tambahan
oleh atasan langsungnya dan dapat dibuktikan
dengan surat keterangan, maka akan diberikan
nilai tugas tambahan.
REKOMENDASI
Pejabat penilai dapat memberikan rekomendasi
berdasarkan hasil penilaian prestasi kerja sbb:
Untuk peningkatan kemampuan dengan
mengikutsertakan diklat teknis, e.g. diklat
komputer, kenaikan pangkat, pensiun,
kehumasan, sekretaris, dsb.
Untuk menambah wawasan pengetahuan dalam
bidang pekerjaan, perlu dilakukan rotasi
pegawai.
Untuk kebutuhan pengembangan, perlu
peningkatan pendidikan dan peningkatan karier
(promosi).
TataCara
Tata CaraPenilaian
Penilaian
Penilaian prestasi kerja dilakukan dengan cara menggabungkan
penilaian SKP dengan penilaian perilaku kerja.
Bobot nilai unsur SKP 60% (enam puluh persen) dan perilaku
kerja 40% (empat puluh persen).
4. UNSUR YANG DINILAI JUMLAH
a. Sasaran Kerja PNS (SKP) 86 x 60 %
51,60

b. Perilaku 1. Orientasi Pelayanan 90 Baik


Kerja
2. Integritas 90 Baik
3. Komitmen 90 Baik
4. Disiplin 90 Baik
5. Kerjasama 90 Baik
6. Kepemimpinan - -
7. Jumlah 450 -
8. Nilai rata rata 90 -
9. Nilai Perilaku Kerja 90 x 40 % 36,00
87,60
Nilai Prestasi Kerja
(Baik)
5. KEBERATAN DARI PEGAWAI NEGERI SIPIL
YANG DINILAI (APABILA ADA)

Tanggal, ..........................................
Penilaian prestasi kerja dilaksanakan oleh pejabat
penilai sekali dalam 1 (satu) tahun.

Penilaian prestasi kerja dilakukan setiap akhir


Desember pada tahun yang bersangkutan dan
paling lama akhir Januari tahun berikutnya.

Nilai Prestasi Kerja PNS dinyatakan dengan


Nilai Prestasi Kerja PNS dinyatakan dengan
angka dan sebutan sebagai berikut :
angka dan sebutan sebagai berikut :
a.91 ke atas: sangat baik
a.91 ke atas: sangat baik
b.76 90: baik
b.76 90: baik
c.61 75: cukup
c.61 75: cukup
d.51 60: kurang
d.51 60: kurang
e.50 ke bawah: buruk
e.50 ke bawah: buruk
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara
penilaian diatur dengan Peraturan Kepala Badan
Kepegawaian Negara.
Pejabat
PejabatPenilai
Penilaidan
danAtasan
AtasanPejabat
Pejabat
Penilai
Penilai

Pejabat penilai wajib melakukan


penilaian prestasi kerja terhadap setiap
PNS di lingkungan unit kerjanya.
Pejabat penilai yang tidak
melaksanakan penilaian prestasi kerja
dijatuhi hukuman disiplin sesuai
dengan peraturan perundang-undangan
yang mengatur disiplin PNS.
Pejabat pembina kepegawaian
sebagai pejabat penilai dan/atau
atasan pejabat penilai yang tertinggi
di lingkungan unit kerja masing-
masing.
1.Penyusunan dan penilaian SKP bagi PNS
yang mutasi/pindah.

Perpindahan pegawai dapat terjadi


baik secara horizontal dan vertikal
(promosi/demosi), maupun diagonal
(antar jabatan struktural, fungsional,
dari struktural ke fungsional atau
sebaliknya).
Selama di jabatan lama dan di
jabatan baru dibuat SKP-nya, kemudian
untuk menentukan hasilnya,
dijumlahkan kemudian dibagi 2 (dua).
Contoh Penilaian SKP bagi PNS yang Mutasi / Pindah
Seorang PNS bernama Ali Muktar Raja, S.Sos dimutasikan ke unit
kerja lain
SASARAN KERJA PEGAWAI
(UNIT KERJA YANG LAMA)
No I. PEJABAT PENILAI No II. PEGAWAI NEGERI SIPIL YANG DINILAI
1 Nama Drs. Indra Hidayat 1 Nama Ali Muktar Raja, S.Sos
2 NIP 196104121983011099 2 NIP 197507132000011099
3 Pangkat/Gol.Ruan Penata Tk. I/ III/d 3 Pangkat/Gol.Ruang Penata / III/c
g
4 Jabatan Kepala Bagian Mutasi 4 Jabatan Kepala Subbagian Mutasi
Jabatan dan Tenaga Tenaga Fungsional Guru
Fungsional Non Dosen
5 Unit Kerja Biro Kepegawaian 5 Unit Kerja Biro Kepegawaian
TARGET
No III. KEGIATAN TUGAS POKOK JABATAN AK KUANT/ KUAL/ WAKTU BIAYA
OUTPUT MUTU
1 Menyelesaikan Nota Persetujuan KP Guru
- 5000 NP 100 12 bln -
Golru III/d ke bawah
2 Menyelesaikan Nota Persetujuan KP Penilik
- 1500 NP 100 12 bln -
Sekolah Golru III/d ke bawah
3 Menyelesaikan Nota Persetujuan KP Jabatan -
1500 NP 100 12 bln -
Fungsional Tertentu Golru III/d ke bawah
4 Membuat laporan tahunan - 1 laporan 100 12 bln -
Pejabat Penilai Jakarta, 5 Januari 2014
Pegawai Negeri Sipil Yang Dinilai
Drs. Indra Hidayat
NIP. 196104121983011099 Ali Muktar Raja, S.Sos
NIP. 197507132000011099
PENILAIAN SASARAN KERJA PEGAWAI NEGERI
Jangka waktu penilaian 5 Januari s/d 31 Desember 2014
SIPIL
NILAI
I. Kegiatan Tugas Pokok A A PENGHI-
NO Target REALISASI CAPAIA
Jabatan K K TUNGAN
N SKP
Kuan/ Kual/ Wakt Biay Kuan/ Kual/ Wakt Biay
Output Mutu u a Output Mutu u a

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
1 Menyelesaikan Nota - 500 100 12 - - 250 85 6 - 276 92
Persetujuan KP Guru Golru 250 6 NP bln
III/d ke bawah NP Bln
2 Menyelesaikan Nota - 1500 100 12 - - 700 80 6 - 269,33 89,78
Persetujuan KP Penilik 750 6 NP bln
Sekolah Golru III/d ke NP Bln
bawah
3 Menyelesaikan Nota - 1500 100 12 - - 600 80 6 - 256 85,33
Persetujuan KP Jabatan 750 6 bln bln
Fungsional Tertentu Golru NP
III/d ke bawah
4 Membuat laporan tahunan - 1 100 12 - - - - - - - -
laporan bln
II Tugas Tambahan dan
kreativitas unsur
penunjang:
a. Tugas Tambahan

b. Kreativitas

Jakarta, 30 Juni 2014


NILAI CAPAIAN SK (429,99:5)= 89,04
Pejabat Penilai
(Baik)

(Drs. Indra Hidayat)


NIP. 19610412 198301 1 099
Pada unit kerja baru Sdr. Ali Muktar Raja, S.Sos meyusun SKP yang baru untuk periode Juli
sampai dengan Desember 2014, sebagai berikut:
SASARAN KERJA PEGAWAI
(UNIT KERJA YANG BARU)
No I. PEJABAT PENILAI No II. PEGAWAI NEGERI SIPIL YANG DINILAI
1 Nama Dra. Indra 1 Nama Ali Muktar Raja, S.Sos
2 NIP 196002111984012099 2 NIP 197507132000011099
3 Pangkat/Gol.Rua Pembina/ IV/a 3 Pangkat/Gol.Ruan Penata / III/c
ng g
4 Jabatan Kabag Perbendaharaan 4 Jabatan Kasubbag Tatalaksana
Keuangan
5 Unit Kerja Biro Keuangan 5 Unit Kerja Biro Keuangan
TARGET
No III. KEGIATAN TUGAS POKOK JABATAN AK KUANT/ KUAL/ WAKTU BIAYA
OUTPUT MUTU (Rp)
1 Memeriksa Kelengkapan dan Menganalisa
- 5000 SPP 100 6 bln -
SPP
2 Memeriksa Kelengkapan dan Menganalisa
- 5000 SPM 100 6 bln -
SPM
3 Membuat laporan Tatalaksana Keuangan - 1 laporan 100 6 bln -

Pejabat Penilai Jakarta, 31 desember 2014


PNS Yang Dinilai
Drs. Indra Hidayat
NIP. 196104121983011099 Ali Muktar Raja, S.Sos
NIP. 197507132000011099
PENILAIAN SASARAN KERJA
PEGAWAI NEGERI SIPIL
Jangka waktu penilaian 1 Juli s/d 31 Desember 2014
PENG
NILAI
N I. Kegiatan Tugas Pokok HI-
AK Target AK REALISASI CAPAIA
O Jabatan TUNG
N SKP
AN
Kuan/ Kual/ Wak Bia Kuan/ Kual/ Wak Biay
Output Mutu tu ya Output Mutu tu a

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
1 Memeriksa Kelengkapan - 5000 6 - - 2000 6 -
100 100 206 68,67
dan Menganalisa SPP SPP bln SPP bln
2 Memeriksa Kelengkapan - 5000 6 - - 2500 6 -
100 100 211 70,33
dan Menganalisa SPM SPM bln SPM bln
3 Membuat laporan - 1 - - 1 -
6 6
Tatalaksana Keuangan lapora 100 lapora 100 276 92
bln bln
n n
II Tugas Tambahan dan
kreativitas unsur
penunjang:
a. Tugas Tambahan

b. Kreativitas

77
NILAI CAPAIAN SK
Jakarta, 31 Desember 2014 (Baik)
Pejabat Penilai

(Dra. indira)
NIP. 19600211 198401 2099
Maka pada akhir tahun 2014, yang bersangkutan
memperoleh penilaian SKP sebagai berikut:

- Nilai SKP pada unit kerja lama = 89,04


- Nilai SKP pada unit kerja baru = 77

89,04 + 77 = 166,04 = 83,02


2

Sehingga nilai SKP Sdr. Ali Muktar Raja, S.Sos


tahun 2014 adalah 83,02
2. PNS yang melaksanakan tugas belajar
di dalam maupun di luar negeri tidak
wajib menyusun SKP pada awal tahun.
Penilaian prestasi kerja pada akhir
tahun dinilai dari prestasi akademik
dan unsur perilaku kerja.
PENILAIAN PRESTASI KERJA BAGI PNS YANG TUGAS BELAJAR

UNSUR YANG DINILAI Jumlah

4. a. Sasaran kerja Pegawai (SKP)/ Nilai Akademik 91,26 x 60% 54,76


b. Perilaku Kerja 1. Orientasi pelayanan 82 Baik

2. Integritas 85 Baik

3. Komitmen 85 Baik

4. Disiplin 86 Baik

5. Kerja sama 87 Baik

6. Kepemimpinan - Baik

Jumlah 425 Baik

Nilai rata-rata 85 Baik

Nilai Perilaku kerja 85 x 40% 34

NILAI PRESTASI KERJA 88,76


(Baik)
5. KEBERATAN DARI PNS YANG DINILAI (APABILA ADA)
Tanggal,
6. TANGGAPAN PEJABAT PENILAI ATAS KEBERATAN

Tanggal, ................
7. KEPUTUSAN ATASAN PEJABAT PENILAI ATAS KEBERATAN

Tanggal, ................

8. REKOMENDASI

9. DIBUAT TANGGAL 31 DESEMBER 2014


PEJABAT PENILAI,
Bintarti, S.Sos.
NIP. 19631012 198509 2099

10. DITERIMA TANGGAL 5 JANUARI 2015


PEJABAT NEGERI SIPIL YANG DINILAI,
Lukito
NIP. 19760222 199610 1099

11. DITERIMA TANGGAL 7 JANUARI 2015


ATASAN PEJABAT PENILAI,
Drs. Andra Kesumawati, M.Si.
NIP. 19601112 198401 2099
3. Penyusunan SKP bagi PNS yang menjalani
cuti bersalin/cuti besar harus
mempertimbangkan jumlah kegiatan dan
target serta waktu yang akan
dilaksanakan oleh PNS ybs.
4. Penyusunan SKP bagi PNS yang menjalani
cuti sakit harus disesuaikan dengan sisa
waktu dalam tahun berjalan
5. Penyusunan SKP bagi PNS yang ditunjuk
sebagai Pelaksana Tugas (Plt), maka
tugas-tugas sebagai Plt. dihitung sebagai
tugas tambahan
6. SKP bagi PNS yang kegiatannya dilakukan
dengan tim kerja, maka Penyusunan berlaku
ketentuan sbb:
a. Jika kegiatan yang dilakukan merupakan
tugas jabatannya, maka dimasukkan ke
dalam SKP ybs.
b. Jika kegiatannya bukan merupakan tugas
jabatannya, maka kinerja yang
bersangkutan dinilai sebagai tugas
tambahan.
7. Penyusunan SKP bagi PNS yang dipekerjakan/
diperbantukan, maka
penyusunan/penilaiannya dilakukan di tempat
ybs dipekerjakan/ diperbantukan.
8. Penilaian SKP apabila terjadi faktor-faktor
di luar kemampuan PNS (bencana
alam/force major), maka penilaiannya
disesuaikan dengan kegiatan-kegiatan di
luar SKP yang telah ditetapkan
9. Penyusunan SKP bagi PNS yang
menduduki jabatan rangkap sesuai dengan
peraturan perundang-undangan, maka
penyusunan SKP yang dilakukan sesuai
dengan tugas dan fungsi jabatan
struktural
9.PENILAIAN TUGAS TAMBAHAN
PNS yang diberikan tugas lain atau tugas
tambahan oleh atasan langsungnya dan dapat
dibuktikan dengan surat keterangan maka akan
diberikan nilai tugas tambahan
No Tugas tambahan Nilai
1. Tugas tambahan yang 1
dilakukan dalam 1 tahun
sebanyak 1-3 kegiatan
2. Tugas tambahan yang 2
dilakukan dalam 1 tahun
sebanyak 4-6 kegiatan
3. Tugas tambahan yang 3
dilakukan dalam 1 tahun
sebanyak 7 kegiatan atau
lebih
REKOMENDASI
Pejabat penilai dapat memberikan rekomendasi
berdasarkan hasil penilaian prestasi kerja sbb:
Untuk peningkatan kemampuan dengan
mengikutsertakan diklat teknis, e.g. diklat
komputer, kenaikan pangkat, pensiun,
kehumasan, sekretaris, dsb.
Untuk menambah wawasan pengetahuan dalam
bidang pekerjaan, perlu dilakukan rotasi
pegawai.
Untuk kebutuhan pengembangan, perlu
peningkatan pendidikan dan peningkatan karier
(promosi).
SEKIAN
DAN
TERIMAKASI
H