Anda di halaman 1dari 16

FARMAKOTERAPI II

GAGAL GINJAL KRONIK

REDMI FERIS

1301076

S1-VI B

DOSEN PEMBIMBING : HUSNAWATI Msi., Apt


Ginjal adalah suatu organ yang secara
struktural kompleks dan telah berkembang
untuk melaksanakan sejumlah fungsi
penting, seperti : ekskresi produk sisa
metabolisme, pengendalian air dan garam,
pemeliharaan keseimbangan asam yang
sesuai, dan sekresi berbagai hormon dan
autokoid.

GINJAL
GAGAL GINJAL

Gagal Ginjal adalah suatu penyakit


dimana fungsi organ ginjal mengalami
penurunan hingga akhirnya tidak lagi
mampu bekerja sama sekali dalam hal
penyaringan pembuangan elektrolit
tubuh, menjaga keseimbangan cairan
dan zat kimia tubuh seperti sodium dan
kalium didalam darah atau produksi
urin.
ANATO
MI
GINJAL
FUNGSI GINJAL

Mengeluarkan zat toksis/racun


Mengatur keseimbangan air, garam/elektrolit, asam
/basa

1. Fungsi Mempertahankan kadar cairan tubuh dan elektrolit


(ion-ion lain)

Ekskresi
Mengekskresikan produk akhir nitrogen dari
metabolisme protein (terutama urea,asam urat dan
kreatinin)
Bekerja sebagai jalur ekskretori untuk sebagian
besar obat

Mensintesis dan mengaktifkan Hormon:


Renin, penting dalam pengaturan tekanan darah
Eritropoetin, merangsang produksi sel darah merah oleh
sumsum tulang

2. Fungsi Non 1,25-dihidroksivitamin D3 : hidroksilasi akhir vitamin D3


menjadi bentuk yang paling kuat

Ekskresi
Prostaglandin : sebagian besar adalah vasodilator, bekerja
secara lokal, dan melindungi dari kerusakan iskemik ginjal
Degradasi hormon polipeptida
Insulin, glukagon, parathormon, prolaktin, hormon
pertumbuhan, ADH dan hormon gastrointestinal (gastrin,
polipeptida intestinal vasoaktif).
KLASIFIKASI GAGAL GINJAL

a. Kerusakan Ginjal > 3


bulan, berupa kelainan b. LFG <60
struktur ginjal, dapat atau
tanpa disertai penurunan mL/menit/1,73
GAGAL Penyakit Ginjal
Laju Filtrasi Glomerulus
(LFG) yang ditandai
m2 selama >3
bulan, dapat
GINJAL Kronis (GGK) dengan: kelainan
patologi, dan adanya
disertai atau tanpa
adalah: disertai kerusakan
KRONIS pertanda kerusakan
ginjal, dapat berupa ginjal.
kelainan laboratorium
darah atau urine, atau
kelainan radiologi.
Laju filtrasi glomerulus (LFG) dan stadium penyakit
ginjal kronik
Stadium Deskripsi LFG (mL/menit/1.73 m)
0 Risiko meningkat 90 dengan faktor risiko
1 Kerusakan ginjal 90
disertai LFG normal
atau meninggi

2 Penurunan ringan 60-89


LFG
3 Penurunan moderat 30-59
LFG
4 Penurunan berat LFG 15-29
5 Gagal ginjal < 15 atau dialysis
GLOMERULONEFRITIS DIABETES MELITUS

ETIOLOGI

GINJAL POLIKISTIK HIPERTENSI


PATOFISIOLOGI
Penurunan fungsi ginjal yang progresif tetap
berlangsung terus meskipun penyakit
primernya telah diatasi atau telah terkontrol.
Hal ini menunjukkan adanya mekanisme
adaptasi sekunder yang sangat berperan pada
kerusakan yang sedang berlangsung pada
penyakit ginjal kronik. Perubahan dan adaptasi
nefron yang tersisa setelah kerusakan ginjal
yang awal akan menyebabkan pembentukan
jaringan ikat dan kerusakan nefron yang lebih
lanjut. Demikian seterusnya keadaan ini
berlanjut menyerupai suatu siklus yang
berakhir dengan gagal ginjal terminal
DIAGNOSA

Anamnesis harus terarah dengan mengumpulkan semua


a. Anamnesis dan keluhan yang berhubungan dengan retensi atau akumulasi
toksin azotemia, etiologi GGK, perjalanan penyakit
pemeriksaan fisik termasuk semua faktor yang dapat memperburuk faal
ginjal (LFG).

Tujuan pemeriksaan laboratorium yaitu memastikan dan


b. Pemeriksaan menentukan derajat penurunan faal ginjal (LFG),
identifikasi etiologi dan menentukan perjalanan penyakit
laboratorium termasuk semua faktor pemburuk faal ginjal.

c. Pemeriksaan
Pemeriksaan penunjang diagnosis harus selektif sesuai
penunjang dengan tujuannya
diagnosis
PENCEGAHAN

1. PENCEGAHAN PRIMER

Pencegahan primer adalah langkah yang harus dilakukan untuk menghindari diri dari
berbagai faktor resiko.
a. modifikasi gaya hidup
b. hindari pemakaian obat-obat yang bersifat nefrotoksik tanpa sepengatahuan dokter
c. monitoring fungsi ginjal

2. PENCEGAHAN SEKUNDER
a. Penegakan diagnosa secara tepat
b. Penatalaksanaan medik yang adekuat

3. PENCEGAHAN TERSIER

Pencegahan tersier merupakan langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah


terjadinya komplikasi yang lebih berat, kecacatan dan kematian.
a. cuci darah
b. transplantasi ginjal
Terapi
Konservatif

Tatalaksana
Terapi

Terapi
Terapi
Pengganti Simptomatik
Ginjal
KASUS
Pasien bapak M umur 53 tahun datang ke RS dengan
keluhan udem pada kaki, kepala dan pinggang nyeri. Hasil
pemeriksaan menunjukkan nilai SrCr = 5,7, K= 4,0, TD =
190/80 mmHg. Diagnosa : GGK stadium V +HD. Obat yang
diberikan :
Furosemid Injeksi 10 mg 1x1
Ketorolac 40 mg 2x1
Ranitidin Injeksi 50 mg 2x1
Asam Folat 5 mg 3x1
Vitamin B12 1000 g 3x1
PENYELESAIAN MENGGUNAKAN METODE
SOAP

Subjektif
Nama : Bapak M
Umur : 53 tahun
Keluhan : Udem pada kaki, kepala dan pinggang nyeri

Objektif
Sr Cr = 5,7 ( normal : 0,7 1,3 mg/dL untuk pria dan 0,6 1,1
mg/dL untuk wanita)
K = 4,0 ( normal : 3,7 5,0 mEq/L)
TD = 190/80 mmHg (normal : 120/80 mmHg)

Assesment
Berdasarkan data subjektif dan objektif dapat dinilai bahwa
pasien :
Pasien mengalami gagal ginjal kronik stadium V yang didukung
oleh data objektif pengukuran kadar kreatinin darah pasien
melebihi kadar normal yaitu sebesar 5,7 mg/dL.
Terapi farmakologi
Furosemid inj 20 mg 1 x 1
Ranitidin inj 50 mg 2 x 1
Asamfolat 5 mg 3 x 1
Vit B12 1000g 3 x 1

Terapi Non Farmakologi


Di anjurkan melakukan diaisis. Dialisis (cucidarah) dilakukan dengan
frekuensi minimal 2-3 kali seminggu, lamanya cuci darah minimal 4-5
jam untuk setiap kali tindakan.
Cukup asupan cairan
Diet rendah protein
Monitoring dan Follow UP
Asupan protein pada pasien gagal ginjal kronik. Asupan protein cukup
1-1,2 gr/kg BB/hari
Pemeriksaan tekanan darah. Tekanan darah yang tinggi dapat
memperburuk keadaan ginjal.
Pemeriksaan kadar ureum
Pemeriksaan kreatinin