Anda di halaman 1dari 39

REFERAT

DIAGNOSIS & TATA LAKSANA PADA


PENYAKIT CACINGAN

ILMU KESEHATAN ANAK

Nia Sahra Labetubun, S. Ked

PEMBIMBING :
dr. A. Septiarko, Sp.A
dr. Hj. Elief Rohana, Sp.A, M.Kes
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di Indonesia masih
Global 100 juta
banyak penyakit
orang telah
cacing perut yang
mengalami infeksi
ditularkan melalui
cacing
tanah

Kehilangan
Cacingan karbohidrat dan
menurunkan kondisi protein serta darah
kesehatan, gizi, dan
kecerdasan Penurunan kualitas
sumber daya manusia

Golongan penduduk
kurang mampu
mempunyai risiko
tinggi terjangkit
cacingan dan lebih
sering terjadi pada
anak-anak
Hasil survei cacingan di sekolah dasar
pada beberapa provinsi menunjukan
prevalensi sekitar 60%-80%, sedangkan
untuk semua umur berkisar 40%-60%
Cacingan mempengaruhi
pemasukan (intake),
pencernaan (digestif),
penyerapan (absorbsi), dan
metabolisme makanan

Cacingan menimbulkan
kerugian zat gizi berupa
kalori dan protein serta
kehilangan darah

Menghambat perkembangan
fisik, kecerdasan, dan
menurunkan ketahanan
tubuh sehingga mudah
terkena penyakit lainnya
B. Tujuan Penulisan
Sebagai kajian keilmuan dan pemahaman materi
tentang diagnosis dan tata laksana penyakit
cacingan secara lebih mandalam dalam rangka
menunjang kegiatan praktek di lapangan
C. Manfaat penulisan

Menambah Sebagai proses


wawasan ilmu pembelajaran
kedokteran
tentang penyakit
bagi dokter
cacingan pada muda yang
umumnya, sedang
khususnya mengikuti
bagaimana kepaniteraan
mendiagnosis dan
klinik bagian
memberikan
tatalaksana yang ilmu kesehatan
tepat. anak.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Penyakit yang disebabkan kelompok helminth
(cacing), salah satu parasit pada manusia dan
hewan yang sifatnya merugikan.
Manusia merupakan hospes untuk beberapa
jenis cacing.
Cacing terutama tumbuh dan berkembang
pada penduduk di daerah yang beriklim panas
dan lembab dengan sanitasi yang buruk.
B. Klasifikasi

Helminth

Nemathelminthes
Platyhelminthes
(Nematoda)

Nematoda Trematoda Cestoda


Nematoda Usus
Jaringan (Cacing daun) (Cacing pita)

Ascaris
lumbricoides,
Necator
Wuchereria Taenia saginata,
americanus,
Bancrofti, Brugia Hati, usus, paru, Taenia solium,
Ancylostoma
malayi dan Brugia dan darah Hymenolepis
duodenale,
timori nana
Trichuris trichiura,
Enterobius
vermicularis
C. Siklus Hidup
1. Askariasis (Infeksi Cacing Gelang)
Ascaris lumbricoides
1,3 milyar orang
pernah terinfeksi
dengan cacing
Manusia
ini. Dapat terjadi
terinfeksi
infeksi
dengan cara Hal ini terjadi
campuran
tertelan telur karena termakan
dengan cacing
cacing Ascaris makanan atau
lain, terutama
lumbricoides minuman yang
Trichuris
yang infektif tercemar oleh
trichiura. Telur
(telur yang telur cacing.
yang infektif
mengandung
ditemukan di
larva).
tanah, dapat
bertahan
bertahun-tahun.
Di daerah tropis, Bayi terinfeksi cacing
infeksi cacing melalui jari ibunya
mengenai hampir yang mengandung
seluruh lapisan telur Ascaris
masyarakat, dan anak lumbricoides segera
sering terinfeksi. setelah lahir.
Perbedaan insiden
dan intensitas infeksi
Pencemaran tanah anak dan dewasa
oleh telur cacing lebih disebabkan oleh
sering disebabkan perbedaan kebiasaan,
oleh tinja anak. aktivitas dan
perkembangan
imunitas didapat.
Penelitian di Kenya
menunjukkan bahwa Prevalensi tertinggi
infeksi Ascaris askariasis di daerah
lumbricoides tropis pada usia 3-8
mempengaruhi tahun.
pertumbuhan anak.
2. Trichuriasis (Infeksi Cacing
Cambuk)
Cacing ini ditemukan di seluruh dunia.
Di daerah dengan endemisitas yang
tinggi, anak kecil sering terkena infeksi
berat.
Pencemaran tanah oleh telur cacing
umumnya disebabkan oleh tinja anak
Umur rentan terinfeksi 5-15 tahun.
Kira-kira 900 Penyakit ini Cacing ini
juta orang sering banyak di
pernah dihubungkan daerah panas
terinfeksi dengan dan lembab
dengan cacing terjadinya
ini kolitis dan
sindrom disentri
pada derajat
infeksi sedang
Trichuriasis
banyak Di Afrika
ditemukan di prevalensinya
Asia 25% dan di
prevalensinya Amerika latin
>50% di daerah 12%.
Manusia
pedesaan.
terinfeksi
Sering terlihat
dengan
bersama-sama
menelan telur
dengan infeksi
yang infektif
Ascaris.
(mengandung
larva).
Cacing ini dapat
hidup dalam
tubuh manusia
bertahun-tahun
lamanya.
3. Ankilostomiasis (Infeksi Cacing
Cambuk)
N. Americanus maupun A.
Duodenale ditemukan di daerah
tropis dan subtropis seperti asia
dan afrika.
Kondisi yang optimal ditemukan
di daerah pertanian di negara
tropis.
Kondisi
menguntungk
an terjadinya
perkembanga
n telur
menjadi larva

Kebiasaan
Faktor yang BAB jelek,
Sumber
mempengar tinja
infeksi yang
mengandung
adekuat di uhi infeksi telur cacing
dalam pada tambang yang
populasi manusia mencemari
tanah

Kesempatan
larva
berkontak
dengan
manusia
4. Oxyuriasis (Infeksi Cacing Kremi)
Infeksi lebih
sering terjadi
pada daerah
dengan iklim
dingin dan sedang

Infeksi lebih
sering terjadi
dalam satu
keluarga atau
pada orang yang
tinggal dalam satu
rumah
oro-fecal

4 cara
terjad
retroinfecti
aerogenik i
on
infeks
i

Satu
tempat
tidur
5. Taeniasis Saginata dan Solium
Telur T. solium
bersifat polyxen :
Telur T. saginata
selain babi,
dan T. solium
manusia bisa
bertahan hidup di
sebagai hospes,
dalam tanah
sedangkan telur T.
selama
saginata bersifat
berminggu-
monoxen, dimana
minggu.
hanya sapi sebagai
hospes.
Secara Risiko Penularan
umum, penyakit ini terjadi
pengaruh T. sangat dengan
saginata tinggi di termakan
pada Amerika daging babi
kesehatan Tengah, atau sapi
manusia Afrika, yang
lebih India, mengandun
ringan Indonesia, g
cysticercus
dibandingk dan Cina.
cellulose
an dengan
yang
T. solium. kurang
dimasak
6. Hymenolepiasis Nana
Distribusi penyakit ini di seluruh dunia, jutaan orang
terinfeksi dengan cacing ini.

Penularan yang utama dari tangan ke mulut sehingga


penyakit ini lebih sering pada anak.

Prevalensi tinggi dilaporkan pada negara-negara di


selatan dan sentral di Amerika, seperti Puerto Rico dan
Meksiko dimana kondisinya sangat padat dan buruknya
kebersihan pribadi dan lingkungan.

Telur cacing ini dengan mudah akan rusak di luar tubuh.


DIAGNOSIS

Pemeriksaan Feses Untuk


Menemukan Telur dan Cacing
PENGOBATAN

Pirantel pamoat, dosis 10 mg/kgBB/hari, dosis


tunggal

Mebendazol, dosis 100 mg, 2x/hari, selama 3


hari berturut-turut. Efek samping iritasi cacing,
sehingga cacing dapat bermigrasi ke tempat
lain

Oksantel-pirantel pamoat, dosis 10 mg/kgBB,


dosis tunggal

Albendazol, >2 thn 2 tablet Albendazol (400


mg) atau 20 ml suspensi, dosis tunggal. Anak
<2 tahun diberikan separuhnya
Pada Ankilostomiasis dengan Creeping eruption :
Krioterapi dengan liquid nitrogen atau kloretilen spray,
tiabendazol topikal selama 1 minggu.

Pada cacing dewasa : gabungan pirantel-pamoat


dan mebendazol, dengan cara pirantel-pamoat 10
mg/kgBB pada pagi hari diikuti dengan mebendazol
100 mg 2x/hari selama 3 hari berturut-turut.
Pengobatan ini terutama pada infeksi campuran
cacing lain.

Prazyquantel dosis tunggal 25 mg/kgBB, secara oral.


Anemia berat (Hb<5
g/dL), preparat besi
diberikan sebelum
dimulai pengobatan
dengan obat cacing.
Besi elementer
diberikan secara oral
dengan dosis 2
mg/kgBB 3x/hari
sampai tanda-tanda
anemia hilang.
PROGNOSIS

Pada umumnya baik, tergantung


pengobatan dan organ tubuh yang diserang.
PENCEGAHAN

Jaga Kebersihan diri &


Lingkungan
Makan makanan yang dimasak
sampai matang