Anda di halaman 1dari 79

USULAN PENELITIAN

PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL AKAR


PASAK BUMI (EURYCOMA
LONGIFOLIA) ORAL MENURUNKAN
KADAR F2-ISOPROSTAN PADA TIKUS
WISTAR (RATTUS NORVEGICUS) YANG
DIINDUKSI PELATIHAN FISIK
BERLEBIH

Ellen Destrisa Ratnapuri


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Semua mahkluk hidup pasti akan mengalami
siklus kehidupan
Proses penuaan terjadi secara alami, namun
masih menjadi momok
Penuaan dianggap sebagai takdir
1993 Anti Aging Medicine (AAM) : penuaan
terjadi akibat dari berbagai faktor, dapat dicegah,
diperlambat, bahkan dihambat
Hasil akhir AAM : usia harapan hidup menjadi
lebih panjang dengan kualitas hidup yang lebih
baik (Pangkahila, 2011)
Radikal
Bebas
Hormon
Glikosilasi
Internal
Kerusa
Metilasi
kan Apoptosis
Kerusa
oksidati Imunitas
kan
f
oksidati Genetik
f
Kerusa
kan
oksidati Unhealthy life
f
style
Unhealthy diet
Ekstern Unhealthy habit
al
Polusi
Stres
Penuaan Kemiskinan
Radikal bebas adalah suatu molekul reaktif dengan
satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan pada
orbit terluar (Riley, 1994).
Konfigurasi yang tidak stabil ini kemudian berinteraksi
dengan molekul yang berdekatan, seperti protein,
lipid, karbohidrat, dan asam nukleat, kemudian
menjadikan molekul tersebut tidak stabil dan
terjadilah reaksi rantai yang dapat merusak lipid
barrier membran sel dan baru akan berhenti setelah
diredam oleh senyawa yang bersifat antioksidan
(Rahman, 2007).
Radikal bebas berasal dari :
Dalam tubuh : akibat proses enzimatik (oleh
mitokondria, membran plasma, lisosom, retikulum
endoplasma, dan inti sel) maupun akibat proses
nonenzimatik (pada reaksi inflamasi dan iskemia).
Luar tubuh : asap rokok, asap kendaraan bermotor,
radiasi sinar UV, sinar X, sinar gamma, konsumsi
makanan tinggi lemak, caffeine, alkohol, pestisida
atau zat beracun lainnya. Selain itu radikal bebas
juga dapat dipicu oleh adanya stres atau pelatihan
fisik berlebih (Pham-Huy et al., 2008).
Beban pelatihan fisik atau fase pemulihan
sindrom pelatihan fisik berlebih / overtraining
syndrome, yang berpengaruh baik secara sik
maupun psikologis (Quinn, 2008).
Insidensi dan prevalensi OTS 7% - 20% dari
jumlah atlet yang melakukan pelatihan.
Angka resiko tertinggi : atlet lari, balap sepeda,
dan renang.
OTS sering terjadi pada individu yang memiliki
motivasi tinggi dan goal-oriented, juga pada atlet
yang merancang pelatihan fisiknya sendiri tanpa
berkonsultasi dengan ahlinya.
OTS performa buruk berkepanjangan, trauma,
penyakit, dan pensiun dini (Lewis et al., 2010).
Pelatihan fisik berlebih beban berat pada
sistem tubuh terbentuknya asam laktat dan
peroksidasi lemak menyebabkan terbentuknya
reactive oxygen spesies (ROS)
Selama pelatihan fisik berlebih, terjadi
peningkatan konsumsi oksigen 10 - 20 kali lipat
dari normal, dan pengambilan oksigen pada
muskulo-skeletal yang aktif meningkat sebesar
100 - 200 kali (Astrand dan Rodahl, 1986).

Stres
ROS AO Oksid
atif
Lokal :
artritis,
aterosklerosis,
dsb Stres
Oksidatif
Hilangnya
Fungsi Sel
dan
Akumulasi Jaringan
Kerusakan :
Sistemik
Oksidatiflupus
systemic
erythematosus
, diabetes, dsb
Kondisi stres oksidatif dapat dideteksi dengan
menggunakan indikator F2-isoprostan (8-iso-
PGF2)
F2-isoprostan adalah komponen prostaglandin-
like yang terbentuk dari katalisa peroksidasi
radikal bebas dari asam lemak esensial
(primarily arachidonic acid) tanpa perintah atau
aksi langsung dari enzim cyclooxygenase (COX).
F2-isoprostan merupakan mediator inflamasi
yang menimbulkan persepsi nyeri.
F2-isoprostan merupakan indikator yang akurat
dari peroksidasi lipid baik pada manusia maupun
hewan dalam konteks terjadinya stres oksidatif
(Morrow et al., 2002).
Upaya Pencegahan Penuaan

Meminimalisi Antioksidan
r (pendonor
pembentuka elektron utk
n radikal radikal
bebas, bebas) utk
contoh: mereduksi
menghindari kerusakan
OTS oksidatif

Pelatihan Berasal dari:


fisik yang 1. Endogen
baik: 2. Eksogen
F dari
Frequency diet dan
I Intencity
Pasak bumi merupakan tanaman yang banyak
digunakan untuk meningkatkan vitalitas dan
fertilitas, namun belum banyak yang mengetahui
bahwa pasak bumi juga memiliki manfaat
sebagai antioksidan.
Pasak bumi atau tongkat ali, memiliki nama latin
Eurycoma longifolia (EL) dan merupakan bagian
dari famili Simaroubaceae. Tumbuhan ini banyak
ditemukan di Indonesia dan Malaysia.
Manfaat tumbuhan pasak bumi:
Antioksidan penangkal radikal bebas, anti-kanker, anti-
bakteria, pengobatan osteoporosis pada laki-laki,
aphrodisiac, anti-leukemia, anti-malaria, pengobatan
disentri, meningkatkan kadar testosteron total,
memperbaiki spermatogenesis tikus yang dipapar
estrogen, meningkatkan konsentrasi, motilitas,
morfologi, dan mitochondrial membrane potential
sperma

(Varghese et al., 2013; Nurhanan et al., 2005; Tee et al., 2007; Farouk dan
Benafri, 2007; Effendy et al., 2012; Ang et al., 2003; 2004; George dan Henkel,
2013; Novianti, 2015; Wahab et al., 2010; Solomon et al., 2013)
Ekstrak pasak bumi mengandung eurikomalakton,
eurikomanol, laurikomalakton A dan B,
dehidrokomalakton, eurikomanin, eurikomanol,
benzoquinon, saponin dan asam lemak ester (Supriadi,
2001).
Eurycomanone, kuasinoid yang tertinggi yang terdapat di
dalam akar pasak bumi dapat meningkatkan
steroidogenesis testosteron pada sel Leydig (Low et al.,
2013a), meningkatkan kadar cAMP (Pihie, 2004), dan
menurunkan proliferasi sel leukemia melalui efek anti-
inflamasi (Hajjouli et al., 2014).
Efek anti-inflamasi ini dihasilkan oleh antioksidan yang
terkandung dalam pasak bumi.
Erasmus, Solomon & Henkel pada
tikus secara in vivo (2011)

200
mg/kg 800
mg/kg

Meningkatkan konsentrasi, vitalitas, motilitas total


dan motilitas progresif sperma lebih signifikan
Varghese et al. (2013)

Menstabilkan250
membran sel
g/ml
dibutuhkan oleh
lisosom untuk
mencegah
pelepasan respon Antioksidan
inflamasi
mencegah
10 pembentukan
F2-isoprostan ROS
g/mlperantara inflamasi
akibat radikal bebas
stres oksidatif
1.2 Rumusan Masalah
Apakah pemberian ekstrak etanol akar pasak
bumi (Eurycoma longifolia) secara oral mampu
menurunkan kadar F2-isoprostan pada tikus
wistar yang diinduksi pelatihan fisik berlebih ?
1.3 Tujuan Penelitian
Umum: Apakah pemberian ekstrak etanol akar
pasak bumi (Eurycoma longifolia) secara oral
mampu menurunkan kadar F2-isoprostan pada
tikus wistar yang diinduksi pelatihan fisik berlebih
?

Khusus: Membuktikan pemberian ekstrak etanol


akar pasak bumi (Eurycoma longifolia) secara oral
mampu menurunkan kadar F2-isoprostan pada
tikus wistar yang diinduksi pelatihan fisik berlebih
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat Ilmiah
Dari hasil penelitian diharapkan akan
diperoleh informasi ilmiah mengenai
efektivitas ekstrak etanol akar pasak
bumi sebagai antioksidan dalam
menangkal radikal bebas dengan
indikator penurunan kadar F2-
isoprostan pada tikus wistar yang
diinduksi pelatihan fisik berlebih.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Penuaan
Proses menghilangnya secara perlahan kemampuan
jaringan untuk memperbaiki diri atau menggganti diri
dan mempertahankan struktur serta fungsi normalnya,
sehingga tidak dapat bertahan serta memperbaiki
kerusakan yang diderita.
Internal Eksternal
Radikal Bebas Unhealthy life style &
diet
Hormon, imunitas Kebiasaan buruk

Glikosilasi, Polusi
metilasi
Genetik Stres
Kemiskinan
Kerusakan
DNA

Wear & Radikal


Tear Bebas

Teori Glikosilasi
Penuaan Terbatasn
ya
Replikasi
Programm
Sel
ed
Proses
Imun
Transis
i
35-45 thn
Hormon 25% >45 thn
25-35 thn Massa otot, energi, + DHEA, progest
GH, T, estro mulai kekuatan Massa otot 1kg
Komposisi lemak per 3 bulan
turun
Lemak, BB
Gejala belum Mulai tjd resistensi
Penyakit kronis,
tampak insulin
aktivitas terhambat
Resiko CVD,

Subklin obesitas
Gejala: penglihatan,

ik
pendengaran,

Klinik
elastisitas kulit,
dorongan dan
bangkitan seksual
, rambut memutih
ANTI-AGING MEDICINE (AAM)
Anti-Aging Medicine adalah bagian dari ilmu
kedokteran yang didasarkan pada penggunaan
ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran
terkini untuk melakukan deteksi dini,
pencegahan, pengobatan, dan perbaikan ke
keadaan semula berbagai disfungsi,
kelainan, dan penyakit yang berkaitan
dengan penuaan, yang bertujuan untuk
memperpanjang hidup dalam keadaan sehat
(Pangkahila, 2011).
2.2 Radikal Bebas
Molekul reaktif dengan satu atau lebih elektron
yang tidak berpasangan pada orbit terluar tidak
stabil berinteraksi dengan molekul yang
berdekatan, seperti protein, lipid, karbohidrat, dan
asam nukleat chain reaction baru akan
berhenti setelah diredam oleh senyawa yang
bersifat antioksidan
Klasifikasi Radikal Bebas
(Halliwell et al., 1995, Salama Dan El-bahr, 2007)
Inf
Mit a-
o- ma
si

Sumber RB
kon
Dalam
Dalam tubuh
M dri
Is
e a tubuh ke
Dalam m- (non-
(enzimatik)
br mi
tubuh an enz.)
(enzima pl Pol
tik) as
m
a Lis
Dalam tubuh uta
nR

(non-
adi
oso asi
m St

enzimatik)
re
Luar s,
tubuh O
RE TS
Die

Luar tubuh t
le
ma
Int
Ca k
i
ffei
sel
ne
Alk
oh
ol
Tahap Inisiasi: menjadikan senyawa non radikal
menjadi radikal

Tahap Propagasi:
Pembentukan
pemanjangan rantai radikal /
chain reaction

Radikal Bebas
Tahap Terminasi: pembentukan non radikal dari
radikal bebas
Reactive Oxygen Species (ROS)
Radikal bebas yang paling sering menyebabkan
kerusakan sistem biologi adalah oxygen-free radical,
yang lebih dikenal sebagai reactive oxygen species
(ROS) (Rahman, 2007).
Berasal dari elemen oksigen
Sekitar 10% oksigen untuk proses hidroksilasi dan
reaksi oksigenisasi
Sekitar 1 2 % oksigen menjadi residu yang kemudian
dikonversi menjadi reactive oxygen species yang dikenal
juga dengan ROS (Baynes dan Dominiczak, 2014).
Reactive Oxygen Species (ROS) (Lanj.)
Mekanisme terbentuknya ROS secara in vivo terjadi melalui
tiga jalur, yaitu:

1) Akibat reaksi antara oksigen dengan ion metal (reaksi


Fenton)
2) Sebagai reaksi sampingan dari transpor elektron yang
terjadi di mitokondria
3) Melalui proses enzimatik normal seperti pembentukan
H2O2 oleh oksidasi asam lemak di peroksisom

(Baynes dan Dominiczak, 2014)


Dampak Reactive Oxygen Species (ROS)

- Merusak komponen - Melawan organisme


DNA patogen yg dihasilkan
- Merusak gugus oleh granulosit,
sulfhidril protein makrofag, monosit
- Menginisiasi - Sebagai substrat utk
peroksidasi lipid enzim
- Sebagai sinyal pada
metabolisme zat
tertentu
2.3 Overtraining Syndrome (OTS)
Secara terminologi, overtraining syndrome adalah
sebuah respon maladaptif dari sebuah pelatihan fisik
dengan beban berlebih dalam periode yang panjang
(biasanya 2 minggu), yang merupakan hasil dari
overreaching / overwork yang berkepanjangan.
Sementara overreaching / overwork adalah fase akut
yang terjadi saat beban pelatihan fisik (intensitas dan
volume) meningkat secara signifikan (Lewis et al., 2010).
Estimasi insidensi 7-20% dari jumlah atlet yang latihan
Resiko tertinggi: atlet lari, balap sepeda, dan renang
2.3 Overtraining Syndrome (OTS)
(Lanj.)

Penyebab OTS Faktor Resiko OTS

Kesehatan
Volume

Nutrisi inadekuat
Intensitas Status mood &
kepribadian (goal
oriented)
Usia lanjut
Durasi
Laki-laki

Frekuensi
Tanpa konsultasi ahli
Psikologi
kelelahan, anhedonia, gangguan
emosi, gangguan tidur, indera
persepsi abnormal
Kardiovaskular
VO2 maksimum, stroke volume,
kontraksi otot jantung, dan volume
plasma
Muskuloskeletal

Gejala
kekakuan otot, penurunan performa,
overuse injury

Imunitas
OTS
ISPA dan infeksi bakteri lain ;
sekresi IgA, IgA serum, fungsi sel NK

Biokimia Darah
negative nitrogen balance; glikogen otot,
mineral (zinc, cobalt, alumunium,
selenium, copper), testosteron ; kortisol

Patofisiologi
OTS

Hipotesis
Hipotesis Glutamin / Hipotesis
Hipotesis SSO
Neuroendokrin BCAA / Sitokin
Glikogen

Hipotesis sitokin menjelaskan bahwa pada cedera


jaringan kronik yang terjadi tanpa penyembuhan
regeneratif, terdapat inflamasi sistemik interleukin,
interferon, TNF, dan faktor pro-inflamasi
2.4 F2-Isoprostan
Isoprostan merupakan senyawa menyerupai
prostaglandin yang disintesis terutama oleh esterifikasi
asam arakhidonat akibat reaksi katalisasi radikal bebas
nonenzimatik in vivo.

Peroksidasi lipid in vivo dan in vitro dengan


menggunakan analisa kuantitatif F2-isoprostan
diketahui lebih unggul dibandingkan dengan metode
lain seperti TBARS (thiobarbituric acidreactive
substances), MDA, lipid hidroperoksida, dan exhaled
alkanes (ethane maupun pentane) (Basu, 2008).
F2-Isoprostan Sebagai Biomarker
Peroksidasi Lipid dan Stres Oksidatif
Kadar f2-isoprostan telah diketahui meningkat pada
beberapa keadaan yang berkaitan dengan cedera
oksidatif f2-isoprostan pada jaringan dan cairan tubuh
dapat menjadi penanda peroksidasi lipid akibat radikal
bebas secara in vivo.

Pada cedera oksidatif, kadar f2-isoprostan 10x lebih


tinggi daripada PGF2 enzimatik pada plasma. Bentuk
bebas dari f2-isoprostan dapat dengan mudah ditemukan
dalam jaringan dan cairan tubuh (Basu, 2008).
F2-Isoprostan dan Overtraining
Peningkatan isoprostan terjadi pada keadaan
pelatihan fisik berlebih seperti lari ultramaraton
yang dapat mencetuskan terjadinya lipid
peroksidase.

Kadar f2-isoprostan meningkat pada subyek sehat


setelah melakukan pelatihan fisik berupa knee
extensor selama tiga jam (Fischer et al., 2004;
Fischer et al., 2006).

Peningkatan kadar f2-isoprostan dapat ditemukan


72 jam setelah pelatihan fisik ekstrem akibat
kerusakan pada otot (Sacheck et al., 2003).
2.
5
A
nt
io
k
si Antioksidan merupakan molekul yang dapat mencegah teroksidasinya molekul

d
lain oleh radikal bebas, dengan cara mendonorkan elektronnya sehingga radikal
bebas menjadi stabil.
Enzimati GPx,
Klasifikas k CAT, SOD
i
Antioksid Metaboli
Non- k
an
enzimati
k Nutrien
Vit C, E, thiol,
melatonin,
karotenoid,
ALA, glutathione, L- flavonoid, trace
arginin, Q10, metals, omega-3,
melatonin, uric acid, omega-6, dsb
dsb
2.6Pasak Bumi
Pohon dan Akar Pasak
Taksonomi
Deskripsi
Bumi
Disebut
Tinggijuga:pohon 6 m
Tongkat Ali / Bedara Merah /
Batang tdk bercabang,
Kingdom : Plantae
Bedara
diameter Putih
15 dicm Malaysia
Divisi : Magnoliophyta
Cay

Daun Ba Bihn di Vietnam
Kelas menyirip, bentuk
: Magnoliopsida
Tung Saw / Phiak / Hae Pan
oblong,
Ordo panjang 5-25cm x
: Sapindales
Chan di
1,25-3cm
Famili : Simaroubaceae
Bidara

Bunga laut / : Eurycoma
merah mempoleh
jingga, lebardi
Genus
Bangka
0,6cm Spesies : Eurycoma
Widara putih di Jawa
Buah berwarna
longifolia merah saat
Penawar pahit di Melayu
masak, panjang 1,25cm
Besan di Sumatera Utara
Pasak bumi yang
digunakan dalam
penelitian ini berasal
dari:
Desa: Long Pejeng

Kecamatan: Busang

Kabupaten: Kutai
Timur
Provinsi: Kalimantan
Timur
Pulau: Kalimantan
Anti Spermato
oksidan Artritis
genesis

Imun Anti Testos, LH,Estogen Demam


kanker FSH

Manfaat
Osteopo- Anti Kolesterol Malaria
rosis bakteri Total
Pasak Bumi Massa,
Anti
leukemia Hipertensi kekuatan
otot

Struktur
Vitalitas Disentri Migrain
kulit
kapasitas antioksidannya
eurycomaosi
5514,58 ppm GAEAC
(Gallic Acid
de
EquivalentAntioxidant
Capacity)
eurycolacton
IC 50 % (Inhibition

Kandungan
Concentration terhadap
e

Kandungan
radikal bebas DPPH 0,1
mM) sebesar 3,56 mg/ml
eurycomalact
one
kadar total fenol 3,01 %
b/b GAE (Gallic Acid

PB
PB
Equivalent)
eurycomanon
e
kadar tanin 0,63 % b/b TAE
(Tannic Acid Equivalent)
pasakbumin-
B
vitamin C 1496,60
mg/100g
alkaloid

Rendemen 0,35 % b/b


kuasinoid
ester 3,06%

Kandungan phenanthrolin
e 3,85%
PB naphthyridin
1,06%
beta sitosterol
5,77%
estragole
1,17%
Pasak Bumi Sebagai Antioksidan
Quassinoid dan saponin berfungsi sebagai anti-
inflamasi yang dapat mencegah pembentukan radikal
bebas (tahap inisiasi).
Flavonoid dapat menstabilkan membran sel dengan
cara menjaga stabilitas membran sel dan mencegah
peroksidasi lipid. Mekanisme ini juga diperoleh dari
kandungan tanin yang merupakan polifenol dan kaya
akan gugus OH sehingga dapat bertindak sebagai
donor elektron untuk radikal bebas reaktif (tahap
propagasi) (Schroeter et al., 2002).
Vitamin C mengeliminasi radikal alfa tokoferol yang
terdapat pada membran sel dan lipoprotein, dan juga
meningkatkan kadar glutation intrasel (tahap
terminasi) (Kojo, 2004; Naziroglu dan Butterworth,
2005).
Uji Toksisitas Pasak Bumi
Studi keamanan pasak bumi menunjukkan bahwa
penggunaan konsentrat pasak bumi sebagai terapi
(2.5 g/ml) tidak memiliki efek buruk terhadap
spermatozoa in vitro (Erasmus et al., 2011).
Pada data in vivo oleh Tambi (2006) didapatkan
bahwa ekstrak pasak bumi tidak toksik.
Pada studi hewan, tidak ada efek negatif pada
keturunannya, seperti malformasi maupun perubahan
berat badan dan jumlah keturunan (Solomon et al.,
2013).
Pada uji toksisitas akut yang dilakukan terhadap tikus
diungkapkan bahwa LD50 untuk ekstrak etanol dan
aqua dari pasak bumi sebesar 2000 dan 3000
mg/kgBB (Satyavidad et al., 1998; Kuo et al., 2003).
Uji Toksisitas Pasak Bumi
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa hanya pada
dosis di atas 1200 mg/kgBB ekstrak pasak bumi dapat
bersifat hepatotoksik pada tikus (Shuid et al., 2011a).
Choudhary et al. (2012) melakukan investigasi
terhadap toksisitas akut, sub-akut, dan sub-kronik
terhadap sebuah ekstrak standardised aqueous pasak
bumi bermerk Physta yang dilakukan pada tikus
Wistar jantan dan betina selama 90 hari dosis 250
mg/kgBB hingga 2000 mg/kgBB. Hasil dari penelitian
ini adalah tidak ada perubahan bermakna pada
parameter kimia darah, hematologi, histopatologi,
mortalitas dan tingkah laku hewan coba.
BAB III
KERANGKA BERPIKIR,
KONSEP, HIPOTESIS
PENELITIAN
Penuaan Radikal
Bebas
Penuaan Hormon

Glikosilasi
Internal Metilasi
Apoptosis
Imunitas
Genetik

Unhealthy life
style
Unhealthy diet
Ekstern Unhealthy habit
al
Polusi
Stres
Kemiskinan
Salah satu indikator
yang dapat digunakan
untuk melihat stres
oksidatif adalah F2-
isoprostan (8-iso-
PGF2) yang merupakan
hasil peroksidase lipid
membran sel di dalam
Pasak bumi merupakan tanaman obat yang
tumbuh di berbagai daerah di dunia, salah
satunya di Kalimantan, Indonesia; banyak
mengandung zat aktif dan diduga memiliki
manfaat berbeda-beda.

Salah satu manfaatnya: mempertahankan


struktur membran sel yang diduga terjadi akibat
aktivitas antioksidan dari eurycomanone yang
merupakan kuasinoid tertinggi yang terdapat di
dalam akarnya.

Aktivitas antioksidan ini diduga terjadi melalui


efek anti-inflamasi terhadap radikal bebas akan
tetapi mekanismenya belum diketahui secara
jelas.
3.2 Konsep
3.3 Hipotesis Penelitian
Pemberian ekstrak etanol akar pasak bumi
(Eurycoma longifolia) secara oral mampu
menurunkan kadar F2-isoprostan pada tikus
wistar yang diinduksi pelatihan fisik berlebih
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Rancangan Penelitian
Pretest-posttest control group design
Kelompok 1: kelompok kontrol. Kelompok ini
adalah kelompok tikus wistar jantan yang
diberikan plasebo berupa aquadest 2cc dan
pelatihan fisik berlebih.
Kelompok 2: kelompok perlakuan /
kelompok tikus wistar jantan yang diberikan
ekstrak etanol akar pasak bumi (Eurycoma
longifolia) 2,25 mg/hari dan pelatihan fisik
berlebih.
Perhitungan dosis yang digunakan untuk
penelitian ini:

Dosis ekstrak etanol akar pasak bumi


(Eurycoma longifolia) jika rata-rata berat tikus
adalah 250 gram dan dosis untuk manusia
adalah 500mg/kgBB, maka dosis tikus yaitu 9
mg/kgBB dan dosis yang diberikan adalah 2,25
mg.
4.2 Lokasi dan Waktu
Penelitian
Lokasi: Penelitian dan pemberian
perlakuan bertempat di Laboratorium
Patologi Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Udayana. Dilanjutkan
tahap pembuatan sediaan dan
pemeriksaan F2-isoprostan bertempat
di UPT Laboratorium Analitik Program
Studi Pendidikan Dokter Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana.
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian (Lanj.)
Penelitian dilaksanakan selama 5 minggu

Minggu I : persiapan, pemilihan, adaptasi sampel


Minggu II : pelatihan fisik berlebih selama 7 hari
Minggu III-IV : pemeriksaan kadar F2-isoprostan
pretest, pemberian perlakuan pelatihan
fisik berlebih dan ekstrak atau plasebo sesuai
kelompoknya selama 14 hari
Minggu V : pemeriksaan kadar F2-isoprostan
posttest, pengolahan data, konsultasi
4.3 Populasi dan Sampel
Populasi pada penelitian ini adalah tikus wistar
jantan berusia 2-3 bulan dengan berat 200-220
gram. Lingkungan berupa suhu, kelembaban,
cahaya dan higienitas dari tempat penelitian.
Makanan berupa konsentrat pakan ternak dan
minuman air yang diberikan ad libitum. Kandang
berupa kotak plastik dengan atap penutup dari
kawat yang dilengkapi tempat makan dan
minum. Sampel atau subyek yang diambil
adalah tikus yang memenuhi kriteria inklusi.
4.3.2 Kriteria Subyek
Kriter Kriter
ia Tikus ia
Inklus putih Drop
i Usia tikus
jantan Out Tikus
2-3 bulan mati
galur
Wistar
Berat Kondisi
badan Tikus
tikus
tikus 200- sakit
sehat
220 gr
4.4 Penentuan Besar dan Cara
Pengambilan Sampel
Besar sampel yang digunakan
diambil dan dihitung dengan
menggunakan rumus Pocock:

Menunggu hasil penelitian


Diambil beberapa ekor tikus putih jantan
sesuai kriteria inklusi, kemudian dikelompokan
menjadi dua kelompok secara random, yaitu :
1. Kelompok kontrol diberi plasebo berupa
aquadest 2 cc dan pelatihan fisik berlebih
2. Kelompok perlakuan I diberi perlakuan
dengan ekstrak etanol akar pasak bumi
(Eurycoma longifolia) 2,25 mg/hari dan
pelatihan fisik berlebih
4.5 Variabel Penelitian
Klasifikasi Variabel
Variabel bebas: ekstrak etanol akar

pasak bumi (Eurycoma longifolia) dan


pelatihan fisik berlebih
Variabel tergantung: kadar F2-

isoprostan urin
Variabel terkendali: strain tikus, jenis

kelamin, umur, berat badan tikus


Definisi Operasional
Tikus wistar jantan yang digunakan adalah jenis tikus
putih (Rattus norvegicus) galur wistar jantan, 2-3 bulan,
200-220 gram, dan tikus sehat karena adanya penyakit
pada tikus wistar jantan dapat menyebabkan hasil
penelitian yang tidak dapat dipercaya.

Pelatihan fisik berlebih pada tikus adalah pelatihan


berlebih yang diukur berdasarkan waktu maksimal
kemampuan renang tikus pada ember berdiameter 35
cm dengan kedalaman air 20 cm, yang dilakukan setiap
hari selama 65 menit (Binekada, 2002), dengan lama
pelatihan 7 hari sebelum pretest dan 14 hari setelah
pretest.
Definisi Operasional (lanj.)
Meninjau proses penuaan akibat stres oksidatif
menggunakan F2-isoprostan yang merupakan indikator
akurat dari peroksidasi lipid baik pada manusia maupun
hewan dalam konteks terjadinya stres oksidatif akibat
radikal bebas, diukur dengan menggunakan metode 8-iso-
prostaglandin F2 yang merupakan enzyme immunoassay
kit (EIA) dari assay design dengan menggunakan metode
Spektrometri. Kadar F2-isoprostan urin normal <2ng/ml
kreatinin. Kadar F2-Isoprostan ini dapat meningkat dalam
kondisi stres oksidatif.

Plasebo adalah substansi / preparat yang bukan zat aktif


dan digunakan sebagai kontrol berupa cairan aquadest
yang diberikan dua kali sehari dengan menggunakan
sonde, sebanyak 2 cc pada tikus wistar jantan.
Definisi Operasional (lanj.)
Ekstrak etanol akar pasak bumi adalah ekstraksi yang
dilakukan dengan memotong kecil akar pasak bumi yang telah
dibersihkan. Hasil potongan kemudian dikeringkan selama 2-3
hari dalam oven dengan suhu maksimal 40 derajat celcius,
kemudian dihaluskan dan dimaserasi dalam pelarut etanol
96% dengan perbandingan 1:5 (berat/volume) selama 24 jam,
lalu disaring dengan kertas saring. Kemudian residu dimaserasi
sekali lagi agar memaksimalkan penarikan zat aktif pada
bahan yang akan diekstraksi. Filtrat atau ekstrak diperoleh
dengan cara penyaringan melalui 4 lapis kasa dan kertas
saring whatman no 1, lalu diuapkan dengan menggunakan
vacuum rotary evaporator pada suhu 45-50 derajat celcius,
sampai pelarut habis menguap sehingga diperoleh ekstrak
kasar akar pasak bumi. Kemudian diberikan 2 kali sehari
dengan menggunakan sonde sebanyak 2cc yang setara
dengan dosis 2,25 mg/hari kepada tikus selama 14 hari.
4.6 Bahan dan Instrumen
Penelitian
Bah
Alat Alat pembuat

an
ekstrak

Makanan ternak Kandang tikus dari Buku, handschoen,


dan air minum plastik isi sekam, face mask
tempat makan
minum, ditutup
Plasebo / aquadest atap kawat Alat pemeriksaan
F2-isoprostan
Wadah tampung
Ekstrak akar pasak urin
bumi
Timbangan skala
Tikus jantan galur
gram
wistar, 2-3 bulan,
Urin tikus Ember, spuit, 200-220 gr
sonde
4.7 Prosedur Penelitian
Pemeliharaan tikus percobaan
Pemeliharaan tikus percobaan dilakukan di Laboratorium
Patologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas
Udayana dengan memperhatikan hal berikut :
Tikus dipelihara dalam ruangan berventilasi cukup

Suhu ruangan berkisar antara 28-32 derajat celcius

Makanan dan minuman ad libitum

Setiap hari dilakukan pembersihan kandang

Penerangan diatur dengan siklus 12 jam terang dan 12

jam gelap dimana siklus terang dimulai pukul 06.00


WITA sampai dengan pukul 18.00 WITA
Disiapkan
tikus
jantan F2- Tikus
galur isopros- dirawat
wistar, 2- tan oleh staff
3 bulan, posttest lab
200-220
gram

Perlakuan
sesuai
Adaptasi
kelompok
7 hari
selama

Pelaksana
14 hari

an
Over-
training
F2-
isoprost
an
Perlakuan
7 hari
pretest
Cara Pembuatan Ekstrak Akar Pasak Bumi

Akar pasak bumi yang telah dibersihkan dipotong kecil.


Hasil potongan kemudian dikeringkan selama 2-3 hari
dalam oven dengan suhu maksimal 40 derajat celcius,
kemudian dihaluskan dan dimaserasi dalam pelarut
etanol 96% dengan perbandingan 1:5 (berat/volume)
selama 24 jam, lalu disaring dengan kertas saring.
Kemudian residu dimaserasi sekali lagi agar
memaksimalkan penarikan zat aktif pada bahan yang
akan diekstraksi. Filtrat atau ekstrak diperoleh dengan
cara penyaringan melalui 4 lapis kasa dan kertas
saring whatman no 1, lalu diuapkan dengan
menggunakan vacuum rotary evaporator pada suhu
45-50 derajat celcius, sampai pelarut habis menguap
sehingga diperoleh ekstrak kasar akar pasak bumi.
Cara Pemeriksaan F2-Isoprostan
Urin dengan Metode 8-iso-
prostaglandin F2
Pemeriksaan kadar F2-isoprostan dilakukan
dengan menggunakan 8-iso-PGF2 enzyme
immunoassay kit (EIA) dari assay design,
menggunakan antibodi poliklonal terhadap
F2-isoprostan untuk dapat mengikatnya
dengan cara yang kompetitif yang terdapat
dalam sampel atau dalam molekul alkaline
phospatase yang memiliki F2-isoprostan
yang secara kovalen melekat padanya.
4.9 Analisis Data
Menggunakan Statistical Package for the Social Sciences
(SPSS) 17.0

Adapun langkah-langkah analisa data yang dilakukan, yaitu:


Analisis deskriptif: dilakukan sebagai dasar untuk statistik
analitis (uji hipotesis) untuk mengetahui karakteristik data
yang dimiliki. Analisis deskriptif dilakukan dengan program
SPSS. Pemilihan penyajian data dan uji hipotesis tergantung
dari normal tidaknya distribusi data.
Uji normalitas: digunakan uji Shapiro-wilk karena sampel
yang digunakan kurang dari 30 sampel. Data berdistribusi
normal bila p>0,05.
Uji homogenitas: dilakukan dengan Levenes Test. Varian
data bersifat homogen bila nilai p>0,05.
4.9 Analisis Data (Lanj.)
Uji komparasi: untuk mengetahui perbedaan rerata
antar kelompok baik sebelum dan sesudah perlakuan,
dengan ketentuan sebagai berikut:
Bila data berdistribusi normal (p>0,05) dilakukan uji t-
independent untuk antar kelompok. Untuk mengetahui
perbedaan sebelum dan sesudah perlakuan pada
masing-masing kelompok dengan paired t-test.
Bila data tidak berdistribusi normal (p>0,05) maka perlu
ditransformasi. Bila tidak juga normal, uji t-independent
diganti dengan uji Mann-Whitney dan paired t-test
diganti dengan uji Wilcoxon Sign.
Tingkat kepercayaan dalam penelitian ini sebesar 95 %
(=0.05%). Ho ditolak jika p<0.05.
DAFTAR PUSTAKA