Anda di halaman 1dari 51

TINJAUAN R.WATTS AND J.

ZIMMERMAN ;
TEORI AKUNTANSI POSITIF
PRESPEKTIF SEPULUH TAHUN PENGUNGKAPAN

Disampaikan Oleh :
Willyanto. K., M.Rojakputera, Ashari

PROGRAM DOKTOR ILMU EKONOMI


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
Ross Watts Professor of Accounting, Emeritus MIT Sloan School of
Management.
Office: E62-667; Tel: (617) 253-2668 Fax: (617) 253-0603
Email: rwatts@mit.edu

Jerold L Zimmerman
Profesor emeritus
Profesor Ronald L. Bittner Administrasi Bisnis
Email: jerry.zimmerman@simon.rochester.edu

Zimmerman adalah editor pendiri Jurnal Akuntansi dan Ekonomi.


Dia juga anggota dibedakan fakultas Konsorsium Doktor Asosiasi
Akuntansi Amerika ini, dan profesor tamu di Universitas Cina
Hong Kong, Hong Kong University of Science and Technology,
Universitas Hong Kong, dan Hong Kong Polytechnic University.
Dia berada di dewan direksi dari IEC Electronics dan audit dan
kompensasi komite perusahaan.
Road Map
Konsep Dasar Penelitian Awal Topik
Penelitian
Pendahuluan Relevansi Teori Normatif
dan PAT
Dasar Teori Akuntansi Positif
Metode Penelitian Hypotesis Penelitian
Analisis Pembahasan Penelitian
Keterbatasan Penelitian
Kesimpulan Dan Saran
KONSEP DASAR

Dipopulerkan pada akhir 1970-an oleh Watts dan


Zimmerman (misalnya 1978). Sejak saat itu banyak
sekali hasil penelitian yang mengklaim sebagai
positif.

Watts dan Zimmerman, banyak mengambil dari


perkembangan di bidang ekonomi dan keuangan
dan EMH dan asumsi neo klasik lainnya yang
mendasari akuntansi positif.

Seperti dijelaskan Kothari, pengembangan . . . teori


akuntansi positif melibatkan implikasi akuntansi dari
perkembangan teoritis keuangan dan ekonomi yang
terjadi bersamaan. Watts dan Zimmerman kemudian
menyatukan teori-teori tersebut untuk menjelaskan
TEORI AKUNTANSI POSITIF(DESKRIPTIF)

Teori akuntansi positif merupakan varian dari teori


ekonomi positif. Teori ini berkembang seiring dengan
kebutuhan untuk menjelaskan dan memprediksi realitas
praktik-praktik akuntansi yang ada di masyarakatwhat
it is (Watts dan Zimmerman, 1986).

Pada awalnya sekitar tahun 60an teori akuntansi masih


mengunakan teori normatif, tetapi kemudian pada tahun
70an teori akuntansi yang dipakai adalah teori akuntansi
positif, teori normatif dianggap tidak dapat menghasilkan
teori akuntansi yang siap dipakai didalam praktek sehari-
hari.

Teori positif bisa dibandingkan dengan teori normative.


Teori normative menjelaskan bagaimana praktek tertentu
harus dilakukan dan preskripsi ini mungkin menjadi
sebuah titik awal signifikan dari praktek yang ada.
Sebuah teori normative dibangkitkan sebagai hasil dari
teori tertentu yang mengaplikasikan beberapa norma,
Teori normatif pada awalnya belum menggunakan
pendekatan investigasi formal, baru pada
perkembangan berikutnya mulai digunakannya
pendekatan investigasi terstruktur formal, yaitu
pendekatan deduktif (dimulai dari proposisi akuntansi
dasar sampai dengan dihasilkan prinsip akuntansi yang
rasional sebagai dasar untuk mengembangkan teknik-
teknik akuntansi (Anis dan Imam,2003)). Berbagai teori
positif atau deskriptif berkembang dengan pesat dalam
akuntansi. Perkembangan teori mengarah pada teori
positif (deskriptif) ini dibarengi dengan perubahan
fokus teori akuntansi yang digunakan oleh lembaga
akuntansi, misalnya FASB yang menekankan pada
kegunaan dalam pengambilan keputusan dan tidak lagi
terfokus pada postulate seperti terlihat pada kerangka
konseptual yang diterbitkan oleh FASB mulai tahun 1979
yang dimulai dengan perumusan tujuan pelaporan
keuangan (SFAC 1,1979 dalam Anis dan Imam,2003).
Terdapat tiga alasan mendasar terjadinya pergeseran
pendekatan normatif ke positif yaitu :

1. Ketidakmampuan pendekatan normatif dalam menguji


teori secara empiris, karena didasarkan 'pada premis
atau asumsi yang salah sehingga tidak dapat diuji
keabsahannya secara empiris.

2. Pendekatan normatif lebih banyak berfokus pada


kemakmuran investor secara individual daripada
kemakmuran masyarakat luas.

3. Pendekatan normatif tidak mendorong atau


memungkinkan terjadinya alokasi sumber daya
ekonomi secara optimal di pasar modal. Hal ini
mengingat bahwa dalam sistem perekonomian yang
mendasarkan pada mekanisme pasar, informasi
akuntansi menjadi alat pengendali bagi masyarakat
dalam mengalokasi sumber daya ekonomi secara
efisien.
Terdapat tiga alasan mendasar terjadinya pergeseran
pendekatan normatif ke positif yaitu (Watt &
Zimmerman,1986 ):
1. Ketidakmampuan pendekatan normatif dalam
menguji teori secara empiris, karena didasarkan 'pada
premis atau asumsi yang salah sehingga tidak dapat
diuji keabsahannya secara empiris.
2. Pendekatan normatif lebih banyak berfokus pada
kemakmuran investor secara individual daripada
kemakmuran masyarakat luas.
3. Pendekatan normatif tidak mendorong atau
memungkinkan terjadinya alokasi sumber daya ekonomi
secara optimal di pasar modal. Hal ini mengingat bahwa
dalam sistem perekonomian yang mendasarkan pada
mekanisme pasar, informasi akuntansi dapat menjadi
alat pengendali bagi masyarakat dalam mengalokasi
sumber daya ekonomi secara efisien.
Teori Akuntansi Positif(Deskriptif) dapat dartikan untuk
menjelaskan mengapa kebijakan akuntansi menjadi
suatu masalah bagi perusahaan dan pihak-pihak yang
berkepentingan dengan laporan keuangan, dan untuk
memprediksi kebijakan akuntansi yang hendak dipilih
oleh perusahaan dalam kondisi tertentu .

Beberapa orang jadi terikat pada pertanyaan


pendekatan teori yang mana yang benar.

Sebagai contoh, Boland and Gordon (1992) dan Demski


(1988). Untuk tujuan-tujuan kita, bagaimanapun juga,
sangat penting untuk melihat bahwa pendekatan
normatif dan pendekatan positif terhadap
perkembangan teori sangatlah berharga. Untuk
memperluas bahwa pengambil keputusan
memprosesnya secara normatif, keduanya yaitu teori
positif dan teori normatif akan membuat prediksi yang
mirip. Dengan berpegang pada tes empiris atas
prediksi-prediksi ini, teori positif membantu menjaga
teori normatif tetap pada jalurnya. Efeknya, kedua
Banyak penelitian PAT difokuskan pada motif
manajemen dalam membuat pilihan akuntansi
ketika pasar adalah semi-kuat dan ada biaya yang
signifikan dalam menyusun dan menegakkan
kontrak serta maupun sebagai biaya politik yang
timbul dari proses regulasi.

Penelitian ini sering disebut sebagai penelitian


pemilihan akuntansi karena penekanannya adalah
untuk menjelaskan mengapa manajer membuat
perubahan metode akuntansi.

Ada sedikit perubahan penekanan dalam beberapa


penelitian PAT. Pilihan awalnya, penelitian
diasumsikan dibuat atas dasar oportunistik-
keputusan yang didasarkan pada kepentingan diri
sendiri. Beberapa peneliti kemudian menyatakan
bahwa pilihan seringkali dibuat dengan alasan
efisiensi.
Beberapa peneliti kemudian menyatakan bahwa
pilihan seringkali dibuat dengan alasan efisiensi.
Artinya, manajer dapat memilih metode akuntansi
tertentu karena lebih baik dalam mencerminkan
apa yang mereka yakini sebagai realitas ekonomi
yang mendasarinya.

Watts (1995) menyatakan bahwa penelitian PAT


adalah penerapan metodologi ilmu pengetahuan
(terutama yang digunakan dalam ilmu ekonomi
dan ilmu perilaku) untuk meneliti fenomena
akuntansi.

Tujuan-tujuan dari Watts and Zimmerman (1978) :


- Menjelaskan mengapa metode akuntansi
tertentu yang dipilih atas orang lain, dan
- Mengapa (kemudian) regulasi akuntansi
yang berada di tangan profesi bukan oleh
Positive Accounting Theory

Teori akuntansi positif mengarahkan pemahaman dan


prediksi pilihan kebijakan akuntansi perusahaan,
dinyatakan bahwa pilihan kebijakan akuntansi adalah
bagian dari kebutuhan perusahaan untuk
meminimalisir biaya kontraknya.

Kebijakan akuntansi ditentukan oleh struktur


organisasi perusahaan menurut kondisi
lingkungannya dan pilihan kebijakan akuntansi
menjadi bagian dari pengelolaan perusahaan.

Dalam praktiknya kebijakan akuntansi akrual


diterapkan lewat perlakuan transaksi yang berkaitan
dengan laba agar lebih mendekati nilai ekspektasi
perusahaan. Pihak manajemen memiliki kompetensi
untuk mengendalikan kuantifikasi kejadian yang
berpengaruh terhadap laba.
KONSEP DASAR
Agency Efficient Market
Theory Hypothesis (EMH)

Normative Positive
Theory Accounting
Theory (PAT)

Bonus Debt Political


Plan Covenant Cost
Hypothesis Hypothesis Hypothesis

Accounting Standards and Practices


Theory

Consistent

Observations Hypothesis Prediction

Test
Theory

Consistent

Observations Hypothesis Prediction

Not Consistent

Test
Banyak penelitian PAT difokuskan pada motif
manajemen dalam membuat pilihan akuntansi
ketika pasar adalah semi-kuat dan ada biaya yang
signifikan dalam menyusun dan menegakkan
kontrak serta maupun sebagai biaya politik yang
timbul dari proses regulasi.

Penelitian ini sering disebut sebagai penelitian


pemilihan akuntansi karena penekanannya adalah
untuk menjelaskan mengapa manajer membuat
perubahan metode akuntansi.

Ada sedikit perubahan penekanan dalam beberapa


penelitian PAT. Pilihan awalnya, penelitian
diasumsikan dibuat atas dasar oportunistik-
keputusan yang didasarkan pada kepentingan diri
sendiri. Beberapa peneliti kemudian menyatakan
bahwa pilihan seringkali dibuat dengan alasan
efisiensi.
The Three Hypotheses of
Positive Accounting Theory

Pilihan akuntansi tergantung pada variabel-variabel yang


mencerminkan intensif manajemen dalam memilih
metode akuntansi yang dinyatakan dalam bentuk perilaku
oportunistis dari para manajer dalam memaksimalkan
laba. Hipotesis tersebut adalah sebagai berikut:

The bonus plan hypothesis


The debt covenant hypothesis
The political costs hypothesis
1. Hipotesis Rencana Bonus
Hipotesis rencana bonus berpendapat bahwa
manajer perusahaan dengan rencana bonus
kemungkinan besar menggunakan metode akuntansi
yang meningkatkan laporan laba periode di periode
berjalan. Dasar pemikirannya adalah bahwa tindakan
seperti itu mungkin akan meningkatkan persentase
nilai bonus jika tidak terdapat penyesuaian terhadap
metode terpilih.

Dalam hipotesis ini, semua hal lain dalam keadaan


tetap, para manajer perusahaan dengan rencana
bonus cenderung untuk memilih prosedur akuntansi
dengan perubahan laba yang dilaporkan dari periode
masa depan ke periode masa kini. Hipotesis ini
tampaknya cukup beralasan. Dalam hipotesis ini,
semua hal lain dalam keadaan tetap, para manajer
perusahaan dengan rencana bonus cenderung untuk
memilih prosedur akuntansi dengan perubahan laba
yang dilaporkan dari periode masa depan ke periode
Para manajer perusahaan, seperti orang-orang lain,
menginginkan imbalan yang tinggi. Jika imbalan
mereka bergantung, paling tidak sebagian, pada
bonus yang dilaporkan pada pendapatan bersih,
maka kemungkinan mereka bisa meningkatkan
bonus mereka pada periode tersebut dengan
melaporkan pendapatan bersih setinggi mungkin.
Salah satu cara untuk melakukan ini adalah dengan
memilih kebijakan akuntansi yang meningkatkan
laba yang dilaporkan pada periode tersebut.

Sesuai dengan karakter dari proses akrual, hal ini


akan cenderung menyebabkan penurunan pada laba
dan bonus-bonus yang dilaporkan pada masa yang
akan datang, dengan taktor-faktor lain tetap sama.

Namun nilai masa kini (present value) dari kegunaan


manajer dari lini bonus masa depan yang dimilikinya
akan meningkat dengan memberikan perubahan
menuju masa kini.
Dapat disimpulkan Manajer perusahaan dengan
bonus tertentu cenderung lebih menyukai metode
yang meningkatkan laba periode berjalan. Pilihan
tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai
sekarang bonus yang akan diterima seandainya
komite kompensasi dari dewan direktur tidak
menyesuaikan dengan metode yang dipilih
2. Hipotesis Kontrak Hutang
Hipotesis ekuitas utang berpendapat bahwa semakin
tinggi hutang/ekuitas perusahaan yaitu sama dengan
semakin dekatnya (semakin ketatnya) perusahaan
terhadap batasan-batasan yang terdapat di dalam
perjanjian hutang dan semakin besar kesempatan
atas pelanggaran perjanjian dan terjadinya biaya
kegagalan teknis, maka semakin besar kemungkinan
bahwa para manajer menggunakan metode-metode
akuntansi yang meningkatkan laba.

Dalam hipotesis ini semua hal lain dalam keadaan tetap,


makin dekat suatu perusahaan terhadap
pelanggaran pada akuntansi yang didasarkan pada
kesepakatan utang, maka kecenderungannya adalah
semakin besar kemungkinan manajer perusahaan
memilih prosedur akuntansi dengan perubahan laba
yang dilaporkan dari periode masa depan ke periode
masa kini.
Alasannya adalah laba yang dilaporkan yang makin
meningkat akan menurunkan kelalaian teknis.
Sebagian besar dari perjanjian hutang berisi
kesepakatan bahwa pemberi pinjaman harus
bertemu selama masa perjanjian. Sebagai contoh,
perusahaan yang mendapat pinjaman boleh sepakat
memelihara level tertentu dari hutang terhadap
harta, laporan bunga, modal kerja, dan harta pemilik
saham. Jika kesepakatan semacam itu dikhianati,
perjanjian hutang tersebut bisa
memberikan/mengeluarkan penalti, seperti
pembatasan dividen atau tambahan pinjaman.
Dengan jelas, prospek dari pelanggaran kesepakatan
membatasi kegiatan perusahaan dalam operasional
perusahaan itu sendiri. Untuk mencegah, atau paling
tidak menunda, pelanggaran semacam itu,
perusahaan bisa memilih kebijakan akuntansi
tertentu yang bisa meningkatkan laba masa kini.
Berdasarkan hipotesis kesepakatan hutang, ketika
perusahaan mendekati kelalaian, atau memang
sudah berada dalam lalai/cacat, lebih cenderung
untuk melakukan hal ini.
Dapat disimpulkan Makin tinggi rasio hutang atau
ekuitas perusahaan mkin besar kemungkinan bagi
manajer untuk memilih metode akuntansi yang dapat
menaikkan laba. Makin tinggi rasio hutang atau
ekuitas makin dekat perusahaan dengan batas
perjanjian atau peraturan kredit (Kalay, 1982). Makin
tinggi batasan krdit makin besar kemungkinan
penyimpangan perjanjian kredit dan pengeluaran
biaya. Manajer akan memiliki metode akuntansi yang
dapat menaikkan laba sehingga dapat
mengendurkan batasan kredit dan mengurangi biaya
3. Hipotesis biaya politik (the political cost hypotesis)

Hipotesis biaya politis berpendapat bahwa


perusahaan besar dan bukannya perusahaan kecil
kemungkinan besar akan memilih akuntansi untuk
menurunkan laporan laba.

Dalam hipotesis ini semua hal lain dalam keadaan


tetap, makin besar biaya politik yang mesti
ditanggung oleh perusahaan, manajer cenderung
lebih memilih prosedur akuntansi yang menyerah
pada laba yang dilaporkan dari masa sekarang
menuju masa depan.

Hipotesis biaya politik memperkenalkan suatu


dimensi politik pada pemilihan kebijakan akuntansi.
Perusahaan-pemsahaan yang ukurannya sangat
besar mungkin dikenakan standar kinerja yang lebih
tinggi, dengan penghargaan terhadap tanggung
jawab lingkungan, hanya karena mereka merasa
bahwa mereka besar dan berkuasa. Jika perusahaan
Perusahaan-perusahaan juga mungkin akan
menghadapi biaya politik pada poin-poin waktu
tertentu. Persaingan luar negeri mungkin mengarah
pada menurunnya profitabilitas kecuali perusahaan
yang terkena dampaknya ini bisa mempengaruhi
proses politik untuk bisa melindungi impor secara
keseluruhan. Salah satu cara untuk melakukan ini
adalah dengan mengadopsi kebijakan akuntansi
income-decreasing (pendapatan menurun) dalam
rangka meyakinkan pemerintah bahwa profit sedang
turun.

Perusahaan besar cenderung menggunakan metode


akuntansi yang dapat mengurangi laba periodik
disbanding perusahaan kecil. Ukuran perusahaan
merupakan ukuran variable proksi (proxsy) dan
aspek politik. Yang mendasari hipotesi ini adalah
asumsi bahwa sangat mahalnya nilai informasi bagi
individu untuk menentukan apakah laba akuntansi
betul-betul menunjukkan monopoli laba.
Di samping itu, sangatlah mahal bagi individu untuk
melaksanakan kontrak dengan pihak lain dalam
proses politik dalam rangka menegakkan aturan
hokum dan regulasi, yang dapat meningkatkan
kesejahteraan mereka. Dengan demikian individu
yang rasional cenderuang memiliki untuk tidak
mengetahui informasi yang lengkap. Proses politik
tidak beda jauh dengan proses pasar. Atas dasar cost
informasi dan cost monitoring tersebut, manajer
memiliki insentif untuk memiliki laba akuntansi
tertentu dalam proses politik tersebut.

Penelitian Perluasan Dari Bonus Plan Hypothesis


Penelitian ini merupakan perluasan dari bonus plan
hypothesis. Jika pada suatu tahun tertentu laba
bersih perusahaan rendah (di bawah bogey) maka
tindakan manajer adalah menurunkan pendapatan,
sehingga laba perusahaan akan menjadi lebih rendah
(taking a bath) yang bermaksud untuk mencapai
bonus pada tahun berikutnya.
Sedangkan jika pada satu tahun tertentu laba bersih
perusahaan tinggi (diatas cap) maka tindakan yang
dilakukan manajer adalah menurunkan pendapatan,
sehingga laba perusahaan akan menjadi lebih
rendah. Tindakan ini dilakukan karena manajer tidak
akan mendapatkan bonus yang lebih tinggi dari
target yang telah ditentukan. Intinya manajer akan
melakukan manajemen laba pada saat laba bersih
berada diantara bogey dan cap.
BAHAN MATERI DARI
MAS ROJAK
Meskipun berbagai ilmu ekonomi dan perilaku
digunakan, awal penelitian PAT berpijak pada
ekonomi keuangan (finance) untuk dukungan teoritis.
Hal ini kemudian diperluas ke teori ekonomi lainnya.

Klaim kunci oleh penganut PAT adalah bahwa


penelitian sebelum PAT tidak memiliki fungsi tujuan
yang tidak terlepas dari preferensi subjektif.

Apa artinya ini adalah bahwa fungsi tujuan dari teori


sebelumnya diperoleh dari fungsi tujuan secara
subyektif, sebagai hasil dari pertimbangan nilai.
Misalnya, apa tujuan dari akuntansi? Beberapa
berpendapat untuk efisiensi ekonomi, perlindungan
investor untuk dan sebagainya. Tidak ada, penganut
PAT berpendapat, cara untuk menetapkan kebenaran
pilihan. Namun, begitu pula teori PAT! Seperti yang
ditunjukkan pada penelitian awal PAT didasarkan
pada asumsi perilaku oportunistik dan kemudian
asumsi efisiensi yang diinginkan.
Dengan demikian, baik teori pra-PAT maupun PAT
tidak dapat menetapkan fungsi tujuan secara obyektif
(cf Zimmerman, 1978, p 610).

Namun, tersirat dalam klaim penganut PAT bahwa,


tidak seperti ahli-ahli teori pra-PAT teori, mereka
obyektif.
KRITIK PENELITIAN NEO-EMPIRIS
Telah ada sejumlah besar penelitian neo-empiris yang
dilakukan dan hasilnya mendominasi jurnal tertentu.
Karenanya, penelitian ini diberi label penelitian utama
(mainstream research).

Bagaimanapun, ada sejumlah besar kritik terhadap


terhadap penelitian mainstream ini. Banyak dari kritik
ini diarahkan pada penelitian PAT meskipun tenor kritik
dimaksudkan untuk semua penelitian neoempirical.

Kritik ini di semua tingkatan adalah terhadap asumsi


ontologis yang mendasari metode penelitian yang
digunakan. Diasumsikan di sini bahwa penelitian
dilakukan baik untuk menghasilkan teori-teori baru
maupun untuk mendukung teori yang ada. Oleh karena
itu, kritik terhadap penelitian neo-empiris dapat
dibahas dalam hal bagaimana teori dipengaruhi.
Ontologis penelitian neo-empiris mengadopsi posisi
realis yang kuat dan menentukan epistemologi dan
metodologi yang digunakan.

Secara metodologis itu berarti positivis atau modernis


yang berkomitmen untuk menggunakan metode ilmu
fisik. Akibatnya, ini sangat berakar pada epistemologi
empiris.

Metode-nya adalah metodologi hipotetiko-


deduktif.

Namun, penjelasan ini, meskipun akurat, harus


diperlakukan dengan hati-hati karena pendukung
penelitian PAT tidak selalu menggunakan istilah dan
konsep secara konsisten.

Bahkan, seorang kritikus awal, Christenson (1983),


berpendapat bahwa Watts dan Zimmerman dalam
Godfrey et al (2003), pendukung kuat PAT, pertama
menyatakan pentingnya falsificationism di (semua)
penelitian (p 270) kemudian ia setuju dengan saran
dalam literatur bahwa falsificationism tidak tepat untuk
PAT (p 353).

Nama PAT berasal dari ekonomi, khususnya dua


ekonom, John Neville Keynes (menulis pada tahun
1891) dan Milton Friedman, tak satu pun dari mereka
menyebut teori positif melainkan ilmu positif.

Keynes menggemakan sentimen populer di abad ke-19


tentang pernyataan positif yang memberikan
kontribusi untuk ilmu positivis.

Friedman mengangkat ide ilmu positif yang concern


dengan "apa", tetapi menurut teorisasinya, paling baik
digambarkan sebagai instrumentalisme, di mana teori
berguna hanya sebagai instrumen untuk menghasilkan
prediksi yang sukses tentang fenomena yang diamati.
Ahli teori PAT mengklaim hanya mengakui pernyataan
"apa" yang menunjukkan bahwa mereka jelas selaras
dengan positivisme (yang memegang garis keras pada
hal ini) dan bukan instrumentalisme (yang menerima
pandangan yang sedikit lebih liberal bahwa pernyataan
seperti itu perlu dan berguna tetapi tidak selalu dapat
dibuat).

Oleh karena itu, meskipun diawali dengan ekonomi


neo-klasik Friedman, tampaknya bahwa PAT
mengadopsi pandangan positivis yang strik/kuat
dibanding instrumentalis. Hal ini lahir dari desakan
mereka pada keyakinan bahwa mereka benar-benar
ilmiah (misalnya Watts, 1995, Zimmerman, 2002, -
eksponen terkemuka PAT).

Landasan epistemologis PAT adalah empirisme - bahwa


semua pengetahuan berasal dari pengalaman indrawi
(sensorik).
Christenson (1983) menjelaskan beberapa masalah
diantaranya. Pengetahuan tidak dapat diturunkan dari
empirisme murni karena harus dijelaskan dalam bahasa
dan menggunakan konsep yang harus apriori (cf upaya
oleh Nelson untuk merendahkan beberapa penelitian
dengan menggambarkan sebagai a priori - Dibahas
dalam Gaffikin, 1986).

Namun, masalah praktis yang paling signifikan adalah


masalah induksi. Ini adalah keyakinan pada sifat
keberagaman fenomena dan didasarkan pada
pengamatan masa lalu.

Dengan kata lain, seorang inductivist berpendapat


bahwa ia akan mampu membuat prediksi berdasarkan
pengetahuan yang berasal dari pengamatan masa lalu.
Anggapan bahwa sesuatu tersebut tetap sama seperti
saat diamati di masa lalu adalah pedoman untuk hal-
hal tidak teramati di masa lalu dan masa depan, tetapi
anggapan ini hanya berdasarkan (masa lalu) fenomena
yang telah diamati. Karenanya penalarannya akan
kita membenarkan ketergantungan pada induksi
dengan mengandalkan induksi. Namun, dalam hal ilmu
pengetahuan, Popper mengklaim ini tidak masalah
karena metode ilmu pengetahuan adalah hipotetiko-
deduktif. yakni, memulai dengan hipotesis dan satu set
kondisi, menyimpulkan apa yang ada dari mereka dan
kemudian menguji kesimpulan untuk menentukan
apakah mereka pada kenyataannya benar.

Misalnya, mulai dengan proposisi bahwa besi lebih


berat dari air sehingga dapat disimpulkan bahwa besi
akan tenggelam dalam air. Hal ini kemudian dapat diuji
dan jika besi tenggelam dalam air maka hipotesis
dikonfirmasi (diverifikasi).

Namun, dalam praktiknya tidaklah sesederhana ini


karena
seringkali ada banyak asumsi yang terlibat dan selalu
ada pertanyaan tentang pengujian, termasuk masalah
induksi. Karenanya sering kali tidak mungkin untuk
Untuk mengatasi hal ini Popper mengenalkan ide
falsifikasi yang menyatakan bahwa selama sebuah
pernyataan dapat di difalsifikasi maka ia dapat
menjadi bagian dari teorisasi ilmiah.

Sebuah contoh dari pernyataanyang dapat


difalsifikasi adalah pengumuman laba tidak
mempengaruhi harga saham.

Sebuah contoh dari pernyataan yang tidak dapat


difalsifikasi adalah adalah harga saham meerespon
maupun mengabaikan pengumuman laba.

Dalam kasus pertama mudah untuk membuktikan


atau menyangkal pernyataan tersebut, dalam kasus
kedua pernyataan tersebut dikemas sedemikian rupa
sehingga membuat tidak mungkin untuk dibuktikan
atau disangkal.
Sulit untuk menghindari kesimpulan bahwa PAT
sebenarnya bukan teori tapi prescripsi metodologis.
Zimmerman telah memberikan pernyataan yang jelas
tentang apa yang diyakini oleh pendukung PAT bahwa
teori adalah:

Dinyatakan dengan jelas, sebuah teori menjelaskan apa


yang telah diamati, menguji secara empiris hipotesis
yang berasal dari teori, dan kemudian memprediksi apa
yang belum diamati. (2002)

Dia kemudian melanjutkan dengan mengutip Hempel,


yang bersama dengan Popper, adalah eksponen
terkemuka proses hipotetiko-deduktif. Namun, ia
menarik beberapa kesimpulan yang tampaknya
bertentangan. Sebagai contoh, ia menunjukkan bahwa
"pengujian hipotesis yang berasal dari teori
memungkinkan pengetahuan untuk terakumulasi";
"Teori berusaha untuk menjelaskan keteraturan
sistematis ", dan" Teori mengusulkan hipotesis yang
Normalnya akan diklaim oleh ahli hipotetiko-deductivis
bahwa hipotesis yang membentuk teori. Dia setuju
dengan Hempel bahwa tanpa hipotesis pengumpulan
data buta, tapi Zimmerman menunjukkan proses
melingkar (circular process) yang tampaknya akan
membawa dia untuk mengalami kesulitan yang sama
seperti masalah yang dihadapi oleh induksi namun ia
mengklaim bahwa "teori membuat prediksi tentang
fakta-fakta yang belum dikumpulkan.

Teori tidak membuat prediksi, tapi prediksi yang


digunakan untuk menguji teori.

Dalam terminologi Popper, explanans (hipotesis awal


dan kondisi-kondisi), diuji dengan upaya yang serius
untuk memfalsifikasi mereka dan bila tetap tidak
difalsifikasi hasilnya ini yang disebut teori.
Ini, Zimmerman menggambarkan dengan menyatakan
bahwa mengingat gagasan perilaku random walk dari
harga saham, bersama-sama dengan "prinsip-prinsip
dari ekonomi" memungkinkan EMH untuk di deduksi.

Sebagaimana ditunjukkan di atas, EMH telah mengalami


berbagai ujj dan sebagian besar bukti menunjukkan
bahwa EMH telah difalsifikasi. Namun banyak peneliti
PAT dan peneliti lainnya di dalam akuntansi tampaknya
mengabaikan fakta ini dan terus beraktivitas atas dasar
bahwa EMH adalah "teori" mapan. Zimmerman mungkin
tidak bingung tentang definisi dan tempat teori tapi
deskripsinya pasti.
KRITIK SOSIAL- POLITIK PAT

Di atas telah berusaha ditunjukkan bahwa banyak


masalah teknis dan filosofis yang tidak terjawab
dengan banyak penelitian neo-empiris, terutama
PAT. Meskipun dengan adanya masalah ini banyak
peneliti masih berkomitmen untuk PAT dan mengaku
dijalur penelitian akuntansi yang tepat.

Kuhn menyatakan bahwa kepatuhan yang


berkelanjutan terhadap cara berpikir (dia
menggunakan kata paradigma) pada akhirnya
adalah masalah keyakinan. Namun, mungkin ada
banyak penjelasan sosiologis dan politis untuk
masalah keyakinan ini. Sejarah pengetahuan
manusia memiliki contoh yang sangat banyak di
mana kekuatan sosiologis dan politik telah
menyebabkan ide untuk tetap pada pendirian ketika
Misalnya, gereja Kristen selama bertahun-tahun
bertahan dengan keyakinan seperti Bumi menjadi pusat
alam semesta ketika para peneliti seperti Galileo Galilei
menunjukkan bahwa kenyataannya Bumi berputar
mengelilingi Matahari sebagai bagian dari alam semesta
yang jauh lebih besar

Pendukung PAT telah sangat berhasil dalam


memeliharanya sebagai kekuatan dominan dalam
penelitian akuntansi. Mereka telah melakukan ini
dengan menggunakan kekuasaan untuk membentuk
disiplin akuntansi (penelitian). Mereka telah mengubah
pepatah lama pengetahuan adalah kekuasaan menjadi
kekuasaan adalah pengetahuan - mereka telah
mendefinisikan PAT secara strategis sebagai satu-
satunya bentuk pengetahuan akuntansi berguna. Untuk
melakukan hal ini mereka telah melaksanakan teknik
politik dan berbagai teknis lainnya seperti bahasa.

Watts (1995, hal 299) telah menjelaskan salah satu


Masuk akal untuk menyimpulkan dari hal ini bahwa
bisnis menginginkan penelitian akuntansi yang
mendukung perusahaan bisnis. Untuk membenarkan
kegiatan mereka. Dengan disiplin yang mendasari
tampaknya mereka mengacu pada ekonomi dan
keuangan yang sudah dijiwai dengan ideologi (seperti
ekonomi neo-klasik) bisnis yang kuat (kapitalis).

Retorika adalah perangkat linguistik di mana orang


membujuk orang lain untuk sudut pandang mereka.
Pendukung PAT telah menepatkan retorika ideologi
ekonomi tertentu. Mouck (1992) telah menulis tentang
bagaimana pendukung PAT telah menggunakan
perangkat retoris untuk meyakinkan dan satu-satunya
cara untuk kebenaran akuntansi.

Mouck menyatakan, perangkat retoris yang mereka


gunakan adalah imbauan kepada otoritas ilmu
pengetahuan, termasuk "ilmu ekonomi", mengklaim
menjadi satu-satunya cara netral untuk pengetahuan
Sama-sama salah arah adalah klaim para pendukung
PAT bahwa mereka netral dalam penelitian mereka.
Mereka melakukan ini karena sejak zaman Plato
objektivitas telah dianggap sebagai tujuan yang
diinginkan dari pengetahuan yang dapat diandalkan.
Jelas sekali peneliti PAT membuat value judgment
dalam memutuskan apa masalah yang dapat diteliti,
apa bukti-bukti yang relevan dan bagaimana ini
dimasukkan ke dalam kesimpulan mereka. Ini adalah
perangkat kedua retorika, Mouck berpendapat bahwa
ini digunakan oleh para pendukung PAT.

Klaim perangkat ketiga retorika Mouck digunakan oleh


PAT adalah penghinaan atau peremehan alternatif-
alternatif: kampanye "strategi fitnah" dan upaya untuk
"menurunkan dan menstigmatisasi oposisi" (dikutip
dalam Mouck,, 1982). Ini sudah termasuk menekankan
perbedaan antara penelitian normatif dan positif dan
mengklaim bahwa peneliti normatif tidak "ilmiah" (lihat
"The Decline of teori tidak Normatif" dalam Watts,
1995).
Pernyataan yang tidak benar ini telah diambil dan
dipopulerkan tanpa pertanyaan oleh beberapa penulis
buku teks (misalnya Godfrey et al, 2003) yang membuat
klaim seperti "Mereka (PAT kritikus) gagal untuk
memberikan competing theory yang memiliki daya
penjelas atau prediksi superior" dengan mengabaikan
kegagalan total PAT untuk berdampak pada praktek
akuntansi. Itulah kekuatan dari retorika pada
masyarakat rentan!

Peneliti Neo-empiris menggunakan perangkat retoris


lain seperti narasi emansipasi. Dengan ini, merupakan
panggilan bagi para peneliti untuk membebaskan diri
dari konstriksi yang tidak mungkin dari penelitian
terdahulu yang mencari kebenaran seperti pendapatan
sebenarnya (true income) dan hanya berkonsentrasi
pada deskripsi yang akan mengarah pada hipotesis dan
teori baru. Seperti Watts menyatakan:
Salah satu kesulitan dengan normativist adalah bahwa
ada alternatif yang berjumlah tak terbatas dari fungsi
kemungkinan yang bisa dipenuhi oleh akuntansi .
Implikasinya adalah bahwa dengan terlibat dalam PAT
peneliti dibebaskan dari "pencarian yang tidak
mungkin" di antara semua fungsi alternatif yang
mungkin untuk salah satu yang mendukung ideologi
ekonomi yang dominan.

KONSEKUENSI
Makalah ini menggambarkan pergeseran besar dalam
pendekatan penelitian di bidang akuntansi yang terjadi
sekitar tahun 1970. Disaat masih modernist yang
mengklaim sebagai yang ilmiah, karena berbeda dari
penelitian sebelumnya di beberapa asumsi dan metode
penelitian.

Sementara beberapa penelitian baru ini telah


memberikan wawasan terhadap kemungkinan
penggunaan akuntansi dalam analisis ekonomi karena
Telah ada bukti yang cukup untuk menyangkal salah
satu asumsi yang paling dasar, bahwa pasar beroperasi
secara efisien (EMH).

Ada juga bukti yang menyangkal asumsi lain yang


digunakan dalam penelitian baru (misalnya CAPM).
Ada kesulitan teknis seperti bagaimana menafsirkan
bukti (Healy dan Palepu, 2002, p I-419).
Ada inkonsistensi metodologis dan kesalahpahaman
(seperti yang diajukan oleh Chritenson, 1983).
Ada pertanyaan tentang asumsi sosiologis (rasionalitas
ekonomi).

Namun, meskipun semua masalah penelitian baru ini


terus mendominasi dunia akuntansi akademik dengan
mengorbankan alternatif membuat akuntansi berbeda
dari disiplin ilmu terkait erat lainnya (lihat Alamat
Presiden untuk Pertemuan Tahunan American
Accounting Association di San Francisco, Agustus 2005).
Dominasi ini telah dimungkinkan karena kekuatan yang
terkandung dan dilaksanakan oleh Kelompok lembaga
akuntansi tertentu.

Sementara konsekuensi positif dari kekuatan ini telah


mewarnai penelitian di akademisi akuntansi, aspek-
aspek negatifnya adalah kunci kendali digunakan untuk
menolak penelitian disiplin akuntansi yang berbeda
dengan mereka. Artinya, itu harus sesuai dengan
prescripsi mereka yang anehnya tidak konsisten dengan
komitmen mereka untuk deskripsi sebagai lawan dari
prescripsi.
Kesimpulan

PAT mencoba untuk memahami dan memprediksi


kebijakan akuntansi untuk dipilih oleh suatu
perusahaan. kebijakan akuntansi yang akan dipilih
adalah bagian dari kebutuhan bagi perusahaan
untuk mengurangi biaya kontrak. Ini sangat
ditentukan oleh struktur organisasi perusahaan yang
pada gilirannya ditentukan oleh lingkungan
perusahaan. Ini berarti bahwa tata kelola
perusahaan perusahaan secara keseluruhan sangat
mempengaruhi kebijakan akuntansi perusahaan.
Penelitian PAT telah difokuskan pada tiga aspek
utama struktur perusahaan organisasi dan
lingkungan, kontrak kompensasi manajemen,
struktur modal, dan paparan biaya politik, penelitian
yang dilakukan telah menghasilkan sejumlah besar
bukti empiris.
Terima Kasih
- Tim Penyaji