Anda di halaman 1dari 30

KEWASPADAAN

UNIVERSAL

Nirmala Kesumah

TIM PENANGGULANGAN
INFEKSI HIV/AIDS
RS. Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG
Kewaspadaan Universal
Salah satu dari upaya pengendalian
infeksi di rumah sakit
Harus diterapkan kepada semua Orang,
setiap waktu tanpa memandang status.
Untuk mengurangi resiko infeksi yang
ditularkan melalui darah atau cairan
tubuh
Melindungi Petugas Sarana Kesehatan
dan Pasien terhadap penularan penyakit
Alasan Dasar Penerapan
Kewaspadaan Universal
HIV/AIDS telah menjadi ancaman global.
Ancaman penyebaran HIV menjadi lebih tinggi
karena pengidap HIV tidak menampakkan gejala.
Masyarakat yang menerima pelayanan medis dan
kesehatan baik di RS atau klinik dihadapkan
pada resiko terinfeksi kecuali kalau diterapkan
kewaspadaan untuk mencegahnya
Staf pendukung (staf rumah tangga, pembuang
sampah dan staf lain) semuanya dihadapkan
pada resiko
Di Jawa Barat dilaporkan jumlah kasus
HIV /AIDS adalah 4051 (Juli 2008),
estimasi tahun 2006 adalah 20980.
Potensi penularan di masyarakat
cukup tinggi, misalnya melalui
perilaku sex bebas tanpa pelindung,
pelayanan kesehatan yang belum
aman karena belum diterapkannya KU
dengan baik, penggunaan bersama
peralatan menembus kulit; tato, tindik,
dan jarum suntik.
Penularan HBV dan HIV dari Pasien ke Petugas
Kesehatan
HBV atau
HIV
(agen)
Tubuh manusia Bagaimana virus
(pejamu) tersebar dari klien
yang terinfeksi

Darah, sekresi,
Pejamu yang rentan
Vagina atau air mani
(petugas kesehatan)

kepad Tusukan jarum, kulit luka Cara penularan


a Terpotong atau terciprat ke (bersentuhan
dalam selaput lendir
dengan yang
terkontaminasi
atau instrumen
yang
didekontaminasi)
Penelitian di Amerika Serikat
menunjukkan bahwa resiko penyakit
setelah terpapar dengan HBV dari luka
tusukan jarum satu kali berkisar antara
27-37% (Seef dkk 1978)
Risiko setelah pemaparan satu kali untuk
tusukan jarum untuk HIV lebih rendah
yaitu 0,2 0,4% (Gerberding 1990,
Gersham dkk 1995)
Tingkat transmisi HIV jauh lebih rendah
dari pada untuk HBV, mungkin karena
konsentrasi virus dalam darah orang yang
terinfeksi HIV lebih rendah
Resiko terbesar bagi petugas adalah :
Saat melakukan atau membantu
prosedur bedah (dokter, perawat dan
bidan)
Saat menangani instrumen operasi
dan peralatan (petugas); dan
Saat membersihkan ruangan dan
sampah, termasuk pembuangan
sampah yang terinfeksi
Operasional
Kewaspadaan Universal
(UP)
Cuci tangan
Menggunakan alat pelindung perorangan
(APP) untuk mengurangi pajanan darah
dan cairan tubuh
Pengelolaan Alkes Bekas Pakai
(Dekontaminasi, sterilisasi, disinfeksi)
Sharp Precautions/ Pengelolaan Benda
Tajam
Pengelolaan Limbah dan Sanitasi
Ruangan
Cuci Tangan
Air Mengalir
Sabun
10 detik
Penggunaan Antiseptik
dengan benar
Lap tangan kering/
sekali pakai

Prosedur 7 Langkah.
Kedua tangan harus dicuci dengan sabun dan
air bersih (atau menggunakan penggosok
antiseptik) sesudah melepas sarung tangan
karena kemungkinan sarung tangan berlubang
atau robek, sehingga bakteri dapat dengan
mudah berkembang biak di lingkungan yang
hangat dan basah di dalam sarung tangan
(CDC 1989)
7 Langkah cuci tangan
ALCUTA = Cuci Tangan Kering
Larutan penggosok antiseptik yang
efektif tidak mahal dan sederhana
untuk membuatnya
Larutan berbasis alkohol untuk
penggosok tangan
Penggosok tangan antiseptik yang
bersifat non-iritasi dapat dibuat dengan
menambahkan baik gliserin, propilen
glikol atau sorbitol dengan alkohol (2ml
pada 100ml dari 60 90% larutan etil
atau isopropil alkohol) (Larson 1990;
Pierce 1990). Gunakan 5ml (kira-kira
Pemakaian Sarung
Tangan
Cuci tangan dan penggunaan sarung tangan,
merupakan komponen kunci dalam
meminimalkan penularan penyakit serta
mempertahankan lingkungan bebas infeksi
(Garner dan Favero 1986).
Pemahaman kapan diperlukan sarung tangan
steril atau disinfeksi tingkat tinggi dan kapan
tidak perlu memakainya akan dapat
mengurangi biaya disamping tetap
mempertahankan keselamatan pasien dan
petugas.
Sarung tangan tidak dapat menggantikan
perlunya cuci tangan
Tergantung situasi, pemakaian sarung
tangan bila:
- akan terjadi kontak tangan dengan
darah atau duh tubuh lainnya, selaput
lendir atau kulit yang terluka
- akan melakukan tindakan medik invasif
(pemasangan alat-alat vaskuler seperti
intra vena perifer)
- akan jenis
Semua membersihkan sampah
sarung tangan pemeriksaan
terkontaminasi atau dapat
amat tipis, dan tidak memegang
diproses
permukaan
kembali untuk yang terkontaminasi
pemakaian ulang
(Kormiewicz dkk 1990)
Jenis sarung tangan :
1. Sarung tangan bedah , dipakai sewaktu
melakukan tindakan invasif atau
pembedahan
2. Sarung tangan pemeriksaan, dipakai
untuk melindungi petugas kesehatan
sewaktu melakukan pemeriksaan atau
pekerjaan rutin
3. Sarung tangan rumah tangga, dipakai
sewaktu memroses peralatan, menangani
bahan-bahan terkontaminasi, dan sewaktu
membersihkan permukaan yang
terkontaminasi
Alat Pelindung Perorangan
(APP)
Sarung Tangan
Pelindung Muka
Masker
KacaMata/ gogle
Gaun/Jubah/Apron
Pelindung Kaki
Kap, masker, dan tirai yang
terbuat dari kertas tidak boleh
dipakai ulang karena tidak ada
cara untuk membersihkannya.

Kalau Anda tidak dapat


mencucinya,
jangan dipakai ulang!
Pengelolaan Alkes Bekas
Pakai
Dekontaminasi
Cuci
Sterilisasi/DTT
Penggunaan Dekontaminasi

Disinfektan dg
Benar Cuci bersih

Disinfeksi
Sterilisasi
Tingkat Tinggi

Pendinginan & Penyimpanan


Siap pakai
Pengelolaan Alat Kesehatan
Dekontaminasi
Rendam dalam larutan klorin 0.5% selama 10 menit

Cuci bersih dan tiriskan


Pakai sarung tangan dan pelindung terhadap objek
tajam

Sterilisasi Disinfeksi Tingkat Tinggi

Uap Pemanasan Kimiawi Kimiawi Uap Rebus


Bertekanan Kering Rendam dalam
Tinggi larutan rendam dalam Tutup dalam diamkan
170o C disinfektan 10 - larutan uap air mendidih
Autoclaf
selama 60 24 jam disinfektan 20 mendidih selama 20
121o C
menit Atau menit selama 20 menit
106 kPa (1 atm)
Gas ETO menit
20 30 menit

Pendinginan & Penyimpanan


Siap pakai

Catatan:
1Alat yang terbungkus dalam bungkusan steril dapat disimpan sampai satu
minggu bila tetap kering
2Alat yang tidak terbungkus harus disimpan dalam tempat (tromol) steril
3Alat yang diolah dengan disinfeksi tingkat tinggi disimpan dalam wadah
terutup yang tidak mudah terbuka atau segera dipakai
Dekontaminasi merupakan langkah
pertama dalam menangani alat bedah,
sarung tangan dan benda lainnya yang
telah tercemar.
Sebelum membersihkan alat
didekontaminasi dengan direndam dalam
larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
Langkah ini dapat me-non-aktifkan HBV,
HIV, dan HCV serta dapat mengamankan
petugas yang membersihkan alat tersebut
Dekontaminasi
dengan lar klorin 0,5% -
10
Pengelolaan Alat/Benda
Tajam
(Sharp Precautions)
Pisau bedah, jarum suntik,
pecahan kaca, dsb
Segera singkirkan ke
dalam wadah tahan
tusukan oleh pemakai
Wadah limbah tajam di
tempat strategis, anti
tumpah
Dilarang menyerahkan
alat tajam secara
langsung
Jangan menutup -
menutup jarum suntik
satu tangan
Wadah Tahan Tusukan
Tip Keselamatan Mempergunakan
Jarum Suntik dan Semprit
Mempergunakan tiap-tiap jarum dan
semprit hanya sekali pakai
Jangan melepas jarum dari semprit
setelah digunakan
Jangan menyumbat, membengkokkan,
atau mematahkan jarum sebelum dibuang
Lakukan dekontaminasi atas jarum dan
semprit sebelum dibuang
Buanglah jarum dan semprit di wadah
antibocor
Pengelolaan Limbah dan
Sanitasi Ruangan
Limbah Cair
Sampah Medis
Sampah
RT/nonmedis
Insinerasi
Penguburan
Disinfeksi
permukaan
PENGELOLAAN LIMBAH
Limbah non-medis : Plastik hitam sampah kota
- Tidak kontak dengan darah atau cairan tubuh
- Risiko rendah
- sampah di ruang tunggu, administrasi & kebun
Limbah medis : Plastik kuning insenerasi
- limbah klinis : darah, caitan tbh, jaringan, benda tajam
bekas pakai & bahan lain yang infeksius
- limbah laboratorium : risiko tinggi insenerasi
Limbah bebahaya
- Bahan kimia beracun: obst sitotoksik, radioaktif,
desinfektan
dll.
Studi Pengetahuan, Sikap dan Praktik Petugas
Kesehatan Mengenai Universal Precaution Terkait
Penularan Infeksi Yang Diperantarai Darah di RS
Hasan Sadikin : Hasil Pendahuluan di Bagian
Kebidanan dan Penyakit Kandungan
Soehartinah K. Antono, dkk

Sebuah analisis pendahuluan terhadap dataset di


bagian Kebidanan & Penyakit Kandungan telah
dilakukan dengan hasil analisis sebagai berikut :
180 dari 377 subyek (48%) pernah mengalami
kecelakaan kerja akibat benda tajam (occupational
sharp injury) selama 1 tahun terakhir.
Sebagian besar kecelakaan tersebut terjadi pada
malam hari ( 44,3%)
Benda tajam yang tersering adalah jarum suntik
(58,9%), jarum jahit (16,4%) dan jarum infus (15,9%)
Kecelakaan akibat tersimbah atau terpercik langsung
darah atau cairan tubuh penderita lainnya dialami
oleh 62% subyek setahun terakhir
Secara umum, tingkat pengetahuan
responden cukup baik dengan rata-
rata nilai 71,1 (SD = 7,59) dari skala
100; seluruh responden memiliki
sikap yang positif terhadap KU.
Sebagian besar subyek (95%)
melaporkan bahwa tingkat
kepatuhannya relatif rendah
terhadap standar KU.
Tertular
Periode HIV + AIDS
Jendela
3 - 6 BULAN 3 - 10 - 15TAHUN 1 - 2 TAHUN

2-3 mgg terinfeksi : Tanpa gejala : Gejala:


Diare-Berat Badan turun-
Gejala seperti flu Aktifitas normal Demam-Ggn saraf-Paru-
Kulit-Mulut-jamur-Parasit
dll