Anda di halaman 1dari 34

KONSEP DASAR

TERAPI MANUAL
OLEH
SUDARYANTO, SST.Ft, M.Fis
APA ITU TERAPI MANUAL

Terapi Manual adalah berbagai teknik terapi yang dilakukan


secara manual (tangan terapis) untuk tujuan diagnostik dan tujuan
terapeutik terhadap berbagai gangguan pada sistem
neuromuskuloskeletal, terutama gangguan pada sendi dan otot.
Secara garis besar, terapi manual terdiri atas : Mobilisasi dan
Manipulasi
Teknik mobilisasi dapat diaplikasikan pada struktur sendi dan
saraf
Teknik manipulasi dapat diaplikasikan pada struktur sendi dan otot
MOBILISASI SENDI

Mobilisasi sendi merupakan teknik yang digunakan untuk mengobati


disfungsi sendi seperti saat terjadi keterbatasan, hipomobile sendi yang
reversible, atau nyeri.
Mobilisasi sendi adalah gerakan pasif yang dilakukan oleh terapis dengan
kecepatan yang cukup lambat sehingga pasien dapat menghentikan
gerakan (Kisner and Colby) ; dapat menggunakan gerakan fisiologis atau
gerakan asesoris, atau kombinasi gerak fisiologis dan asesoris.
Mobilisasi sendi adalah gerakan pasif yang dilakukan dengan teknik
tertentu yang berkaitan dengan kecepatan gerak dan dalam kontrol pasien
sehingga pasien dapat mencegah gerakan yang terjadi (G.D. Maitland)
MOBILISASI SENDI

Penerapan mobilisasi sendi dalam pengobatan adalah oscillasi, traksi,


distraksi, slide/translasi, dan roll slide.
Teknik mobilisasi yang sering digunakan adalah roll-slide dan oscillasi
Teknik roll-slide adalah aplikasi slide yang dikombinasikan dengan gerak
fisiologis tulang kearah keterbatasan sendi
Teknik oscillasi adalah aplikasi traksi/distraksi atau slide yang dilakukan
secara berulang-ulang dengan lembut dan kontinyu.
Teknik mobilisasi sendi lebih aman diaplikasikan pada keterbatasan
sendi pola kapsular daripada forced passive movement/passive
stretching
MOBILISASI SARAF

Konsep mobilisasi saraf awalnya hanya sekedar neural


tension/stretching, tetapi telah berkembang kearah neurodynamic
atau neuro mobilization dengan pendekatan clinical reasoning.
Salah satu kunci penting dari keberhasilan dalam mobilisasi saraf
adalah konsep mobilisasi yang lebih baik daripada stretching
Mobilisasi saraf memiliki efek mekanikal yang dapat
mempengaruhi dinamik vaskular, sistem transport axonal dan
jaringan konektif serta menghasilkan efek-efek sebagai berikut :
Memperbaiki transport axonal neural.
MOBILISASI SARAF

Memperbaiki aliran darah ke jaringan saraf


Memulihkan mekanikal normal dari jaringan konektif sehingga menurunkan
kemungkinan saraf terjepit atau kaku didalam jaringan konektif yang
membungkusnya.
Meningkatkan proses intraneural melalui perubahan tekanan pada sistem saraf dan
menghilangkan pembengkakan intraneural.
Teknik pengobatan Mobilisasi Saraf menggunakan prinsip Maitland pada
mobilisasi sendi ; diagram gerakan oleh Maitland dapat diaplikasikan pada
sistem saraf, yaitu grade 1 (gerakan yg kecil LGS yang kecil), grade 2 (gerakan
yang cukup LGS cukup besar), grade 3 (gerakan yang besar LGS lebih luas
mendekati titik nyeri), grade 4 (gerakan yang besar LGS lebih luas melewati
titik nyeri).
MANIPULASI

Menurut G.D. Maitland, manipulasi adalah suatu teknik yang dilakukan


dengan kecepatan tertentu sehingga pasien tidak mampu untuk
mencegah gerakan tersebut Teknik ini seringkali dilakukan secara
lembut, selalu dalam lingkup gerak yang kecil, dan dengan sentakan
Menurut Kisner and Colby, manipulasi adalah suatu gerakan pasif yang
menggunakan gerakan fisiologis atau gerakan asesori dengan aplikasi
thrust (dorongan/tarikan yang kuat).
Thrust adalah suatu gerakan tiba-tiba dengan kecepatan yang tinggi,
gerakan amplitudo kecil sehingga pasien tidak dapat mencegah
gerakan tersebut.
MANIPULASI

Gerakan thrust dilakukan pada akhir dari batas patologis sendi, ditujukan untuk
mengubah kaitannya dengan positional sendi, untuk melepaskan perlengketan
(bunyi klik), atau untuk merangsang reseptor-reseptor sendi.
Menurut The American Physical Therapy Association (APTA) Manipulation
Education Committee, manipulasi adalah gerakan thrust dengan kecepatan
tinggi (high velocity) dan amplitudo rendah didalam ROM atau pada akhir ROM.
The International Federation of Orthopaedic Manipulative Physical Therapists
(IFOMPT) menjelaskan bahwa manipulasi adalah gerak pasif, kecepatan tinggi,
thrust amplitudo rendah yang diaplikasikan pada batas anatomikal sendi dengan
tujuan untuk memulihkan gerak dan fungsi optimal serta menurunkan nyeri
MOBILISASI SENDI versus
MANIPULASI
Teknik oscillasi merupakan bagian dari mobilisasi yang terdiri dari
grade I sampai grade V ; Manipulasi termasuk kedalam grade V dari
teknik oscillasi.
Manipulasi dapat menimbulkan risiko injury jika tidak
memperhatikan indikasi dan kontraindikasi.
Manipulasi kontraindikasi pada sendi yang aktif inflamasi,
menurunnya JPM dengan hard endfeel dalam arah hipomobile,
meningkatnya JPM dengan very soft endfeel dalam arah hipermobile,
ada nyeri dan muscle guarding, perubahan degeneratif sendi yang
berat, anomali kongenital tertentu.
MOBILISASI SENDI versus
MANIPULASI
Risiko cidera dapat terjadi lebih besar jika diaplikasikan teknik
manipulasi rotatory khususnya pada regio cranio-vertebral yang
aman dengan teknik translatoric linear traction thrust.
Ada 2 cara aplikasi manipulasi pada pasien :
Pertama, melakukan mobilisasi yang lebih baik yaitu gerakan sesuai
axis sendi yang lembut dengan oscillasi pasif yang berirama didalam
LGS yang ada atau pada batas LGS yang ada diakhiri dengan
sentakan.
Kedua, melakukan gerakan paksaan pada batas LGS patologis dengan
thrust yang tiba-tiba.
GRADE atau DOSIS GERAKAN

Ada 2 sistem grade atau dosis mobilisasi yang digunakan yaitu :


Grade/Dosis Oscillasi dan Grade/Oscillasi Sustained translatory joint-play
Grade/dosis Oscillasi :
Grade I : oscillasi berirama dengan amplitudo kecil dilakukan pada awal
ROM.
Grade II : oscillasi berirama dengan amplitudo besar dilakukan dalam
lingkup gerak yang ada, namun tidak mencapai batas keterbatasan.
Grade III : oscillasi berirama dengan amplitudo besar dilakukan sampai
mencapai batas gerakan yang ada dan diberikan stress kedalam resistance
jaringan.
GRADE atau DOSIS GERAKAN

Grade IV : oscillasi berirama dengan amplitudo kecil dilakukan pada batas


gerakan yang ada dan diberikan stress kedalam resistance jaringan.
Grade V : amplitudo kecil, teknik high-velocity thrust yang dilakukan untuk
meretakkan adhesion pada batas gerakan yang ada.
Kegunaan/manfaat dosis Oscillasi :
Grade I dan II terutama digunakan untuk mengobati keterbatasan sendi oleh
nyeri. Oscillasi memiliki efek inhibitory terhadap persepsi stimuli nyeri hebat
melalui stimulasi mechanoreceptor yang berulang-ulang sehingga
memblokade jalur nociceptive pada spinal cord atau level batang otak. Gerak
nonstretch ini juga membantu menggerakkan cairan sinovial untuk
memperbaiki nutrisi ke cartilago.
GRADE atau DOSIS GERAKAN

Kegunaan/manfaat dosis Oscillasi :


Grade III dan IV terutama digunakan sebagai manuver stretching.
Grade/Dosis Sustained Translatory Joint-Play :
Grade I (loosen) : aplikasi distraksi amplitudo kecil tanpa mengha-silkan stress
pada kapsul.
Grade II (tighten) : distraksi atau glide yang sedang diaplikasikan pada
jaringan yang tighten disekitar sendi. Kaltenborn menamakan dengan taking
up the slack.
Grade III (stretch) : distraksi atau glide diaplikasikan dengan amplitudo yang
cukup besar untuk menghasilkan stretch pada kapsul sendi dan struktur
periarticular disekitarnya.
GRADE atau DOSIS GERAKAN

Kegunaan/manfaat dosis Sustained Translatory Joint-Play :


Grade I distraksi digunakan dengan seluruh gerak gliding dan dapat
digunakan untuk mengurangi nyeri.
Grade II distraksi yang gentle dapat diaplikasikan secara intermitten
untuk menginhibisi nyeri. Grade II glide dapat digunakan untuk
mempertahankan joint play ketika ROM terbatas.
Grade III distraksi atau glide digunakan untuk menghasilkan stretch
pada struktur sendi sehingga terjadi peningkatan joint-play.
Sistem grade ini hanya menggunakan teknik joint-play yang
memisahkan (distraksi) atau glide/translasi pada permukaan sendi.
Grade/Dosis Grade/Dosis Sustained
Oscillasi Translatory
ORTHOPEDIC MANIPULATIVE THERAPY KALTENBORN -
EVJENTH

Orthopedic Manipulative Therapy merupakan spesialis fisioterapi yang


sangat penting, mencakup evaluasi dan pengobatan pada sendi
Orthopedic Manipulative Therapy Kaltenborn Evjenth system merupakan
hasil kolaborasi antara fisioterapis dan dokter orthopedic, pertama kali
muncul di Norwegia dari tahun 1954 1970, kemudian menyebar ke seluruh
dunia
Orthopedic Manipulative Therapy menekankan pada translatoric linear JPM
yang berhubungan dengan bidang pengobatan untuk evaluasi dan mobilisasi
sendi, menggunakan grade gerakan, hukum konveks-konkaf, pre-positioning
3-dimensi untuk gerakan sendi, proteksi sendi-sendi disekitarnya yang sehat
selama prosedur, self treatment, dan prinsip ergonomis.
ORTHOPEDIC MANIPULATIVE THERAPY KALTENBORN -
EVJENTH

Teknik Manipulasi telah berkembang selama 50 tahun terakhir ;


manipulasi tradisional mengaplikasikan gerakan long-lever rotational
menghasilkan gaya kompresi sehingga kadang-kadang terjadi injury/cidera
Metode Kaltenborn Olaf Evjenth memperkenalkan konsep gerakan
translatoric linear tulang, dalam bentuk traksi-translasi linear dan gliding
hubungannya dengan bidang pengobatan sehingga dapat meminimalkan
terjadinya kompresi sendi
Dalam Orthopedic Manipulative Therapy Kaltenborn Evjenth System,
prinsip biomekanik membentuk suatu core analisis dan pengobatan pada
kondisi muskuloskeletal.
Manipulasi
tradisional Manipulasi tradisional
Bidang Pengobatan Kaltenborn
ORTHOPEDIC MANIPULATIVE THERAPY KALTENBORN -
EVJENTH

Prinsip biomekanik Kaltenborn Evjenth adalah :


Pengobatan translatoric dalam bidang pengobatan Kaltenborn dapat
memberikan keamanan dan efektifitas mobilisasi sendi
Terapis selalu mengevaluasi translatoric JPM untuk traksi dan gliding
dengan merasakan kelenturan gerakan dan sense terhadap endfeel. Terapis
dapat menggunakan grade gerakan untuk mengetahui besarnya JPM
Posisi sendi 3-dimensi, harus hati-hati diaplikasikan sebelum diberikan
mobilisasi, memperhalus dan mengarahkan gerakan.
Hukum konveks konkaf Kaltenborn memberikan determinasi secara tidak
langsung terhadap arah gliding sendi yang menurun untuk memastikan
mekanik sendi normal selama pengobatan.
ORTHOPEDIC MANIPULATIVE THERAPY KALTENBORN -
EVJENTH

Terapis harus mengevaluasi dan mengobati seluruh kombinasi


gerakan, coupled dan non-coupled
Terapis menggunakan evaluasi spesifik dan pengobatan spesifik,
mencakup tes-tes spesifik untuk melokalisir struktur-struktur yang
menimbulkan gejala, dan untuk mengobati hipomobile hipermobile.
MANIPULASI SOFT TISSUE

Manipulasi Soft Tissue merupakan teknik osteopathic yang


dikembangkan oleh para ahli Osteopathic ; terdiri atas Muscle Energy
Technique, Myofascial Release Technique, Strain-Counterstrain.
Muscle Energy Technique suatu kelompok metode manipulasi
osteopathic soft tissue yang menggabungkan arah dan kontrol yang
tepat dari pasien, kontraksi isometrik dan/atau isotonik, yang didesain
untuk memperbaiki fungsi muskuloskeletal dan menurunkan nyeri.
Ada 2 bentuk aplikasi MET yaitu postisometrik relaksasi dan reciprocal
inhibition.
MANIPULASI SOFT TISSUE

Postisometrik relaksasi adalah :


Setelah otot berkontraksi maka secara automatik akan terjadi
keadaan relaks secara singkat pada fase akhir
Penurunan tonus akan terjadi pada otot atau group otot setelah
jangka waktu singkat dari kontraksi isometrik
Dengan kontraksi isometrik akan mencapai derajat kenyamanan pada
otot dan terciptanya potensial gerakan tambahan pada jaringan yang
memendek.
MANIPULASI SOFT TISSUE

Reciprocal inhibition adalah :


Ketika otot berkontraksi maka secara automatik antagonis akan
terinhibisi
Ketika suatu otot berkontraksi secara isometrik maka antagonis akan
terinhibisi dan akan menunjukkan penurunan tonus dengan cepat
setelah kontraksi tersebut.
MANIPULASI SOFT TISSUE

Myofascial release technique adalah suatu bentuk terapi jaringan lunak yang
digunakan untuk mengobati disfungsi somatik yang menghasilkan nyeri dan
keterbatasan gerak.
Myofascial release technique ditujukan pada fascia yang mengelilingi otot dan
menghubungkan setiap sel otot didalamnya.
Myofascial release technique merupakan suatu teknik terapi yang memfokuskan
pada pembebasan keterbatasan gerak yang berasal dari jaringan lunak tubuh.
MRT berperan untuk memberikan stretch atau elongasi pada struktur otot dan
fascia dengan tujuan akhir adalah mengembalikan kualitas cairan atau lubrikasi
pada jaringan fascia, mobilitas jaringan fascia dan otot, dan fungsi sendi normal.
MOBILIZATION WITH MOVEMENT (MWM)

Teknik mobilization with movement diperkenalkan oleh Brian


Mulligan pada tahun 1970-an di New Zealand.
Konsep Brian Mulligan yaitu mobilisasi dengan gerakan (MWM)
merupakan kelanjutan progression yang natural dalam perkembangan
manual terapi dari latihan aktif self stretching ke aplikasi gerak
fisiologis secara pasif sampai teknik mobilisasi pasif asesoris.
Mobilisasi dengan gerakan merupakan perpaduan aplikasi mobilisasi
asesoris bebas nyeri dengan gerak fisiologis secara aktif dan/atau
pasif. Kemudian, diaplikasikan overpressure atau stretching secara
pasif pada akhir ROM tanpa nyeri sebagai suatu hambatan.
MOBILIZATION WITH MOVEMENT (MWM)

Dalam konsep Mulligan, hampir seluruh mobilisasi spine yang disertai


dengan gerakan dilakukan dengan pasien weight bearing (dalam posisi
berdiri atau duduk).
Mulligan menganggap hal ini sangatlah penting karena begitu sering
teknik mobilisasi spine dilakukan dengan posisi non weight bearing tetapi
perbaikan yang dicapai kurang berhasil ketika pasien kembali mengambil
posisi tegak.
Teknik Mulligan dapat diaplikasikan ketika :
Tidak ada kontraindikasi untuk manual terapi
Hasil pemeriksaan dan evaluasi hanya menunjukkan patologi muskuloskeletal.
MOBILIZATION WITH MOVEMENT (MWM)

Hasil analisis biomekanik spesifik menunjukkan hilangnya gerakan dan/atau


nyeri yang berhubungan dengan fungsi.
Tidak ada nyeri yang dihasilkan selama teknik aplikasi atau seketika setelah
teknik aplikasi
Prinsip teknik Mulligan adalah PILL (Pain Free, Instant, Long Lasting),
dan CROCKS rules :
C = Contraindication ; secara general, kontraindikasi MWM adalah inflamasi,
infeksi, fraktur
R = Repetitions ; repetisi harus dilakukan selama MWM dengan gerakan
yang bebas nyeri, yang akhirnya membangun dynamic natural, dalam MWM
adalah 6 10 repetisi selama 3 set
MOBILIZATION WITH MOVEMENT (MWM)

O = Overpressure ; untuk memperoleh gerakan yang maksimal (pemulihan gerak


penuh) maka harus digunakan overpressure, dilakukan oleh pasien sendiri
C = Communication dan co-operation ; memberikan perintah yang jelas dengan
bahasa yang mudah dan pasien harus kooperatif
K = Knowledge ; terapis harus menguasai ilmu anatomi, biomekanik, dan
positional faults
S = Sustain, Sense, Skill, Slow, Subtle Change
Keberhasilan teknik MWM harus memberikan penurunan nyeri pada
comparable sign sementara secara signifikan memperbaiki fungsi selama
aplikasi teknik kombinasi dengan self treatment yang menggunakan
prinsip MWM & tape adhesive.
MOBILIZATION WITH MOVEMENT (MWM)

Prinsip MWM dalam praktek klinik :


Satu atau lebih comparable signs dapat diidentifikasi selama pemeriksaan :
comparable sign adalah suatu tanda tes positif yang dapat diulang setelah
manuver terapi untuk menentukan efektifitas dari manuver tersebut.
Mobilisasi pasif sendi diaplikasikan sesuai dengan prinsip Kaltenborn. Glide
atau distraksi asesori yang diaplikasikan harus paralel atau perpendicular
dalam bidang pengobatan dan harus bebas nyeri.
Gunakan pemahaman tentang anatomi dan mekanik sendi, sense terhadap
tension jaringan, dan clinical reasoning yang jelas, serta terapis harus mampu
menentukan kombinasi beragam dari glide asesori yang paralel atau
perpendicular untuk menemukan arah gerakan bebas nyeri dan grade gerakan
asesori
MOBILIZATION WITH MOVEMENT (MWM)

Prinsip MWM dalam praktek klinik :


Sementara terapis melakukan mobilisasi asesori yang terus menerus dan bebas
nyeri, pasien diminta untuk melakukan comparable sign
Terapis harus selalu memonitor reaksi pasien untuk memastikan tidak ada nyeri
yang dihasilkan. Kegagalan memperbaiki comparable sign menunjukkan bahwa
terapis tidak menemukan arah mobilisasi asesori yang tepat atau grade gerakan
atau teknik tersebut bukan indikasi.
Keterbatasan sebelumnya dan/atau nyeri gerak yang hebat atau aktivitas diulang
6 sampai 10 kali oleh pasien sementara terapis secara kontinyu mempertahankan
mobilisasi asesori yang tepat. Pencapaian yang besar diharapkan melalui repetisi
gerakan selama sesi pengobatan, khususnya ketika overpressure pasif yang bebas
nyeri diaplikasikan untuk mencapai akhir ROM.
MOBILIZATION WITH MOVEMENT (MWM)

Teknik-teknik Mulligan adalah :


NAGs (Natural Apophyseal Glides) ; NAGs merupakan nama yang
menggambarkan mobilisasi oscillatory yang dapat diaplikasikan pada
facet joint antara C2 dan C7. NAGs merupakan mobilisasi facet joint mulai
dari mid-range sampai end-range yang diaplikasikan kearah antero-cranial
sepanjang bidang pengobatan dari sendi facet yang terpilih.
Reverse NAGs ; Mobilisasi Reverse NAGs adalah mobilisasi yang terbaik
untuk upper thoracic spine. Mobilisasi Reverse NAGs bisa bermanfaat
untuk lower cervical tetapi mobilisasi pengobatan ini merupakan pilihan
yang baik untuk upper thoracic spine. Mobilisasi Reverse NAGs tidak
begitu bermakna untuk regio upper cervical atau middle cervical
MOBILIZATION WITH MOVEMENT (MWM)

Teknik-teknik Mulligan adalah :


SNAGs (Sustained Natural Apophyseal Glides) ;
Mobilisasi SNAGs merupakan pendekatan baru dalam bidang manual
terapy dan teknik ini merupakan kombinasi antara mobilisasi facet joint
dengan gerakan (MWMS) :
SNAGs berguna sebagai pengobatan untuk cervical, thoracic dan lumbar
spine ; kombinasi antara glide facet yang kontinyu dan gerakan spine
Mobilisasi SNAGs selalu menggunakan posisi weight bearing, dimana
seluruh prosedur SNAGs dilakukan dengan posisi duduk atau berdiri.
SNAGs merupakan mobilisasi dengan gerakan aktif yang diikuti dengan
tekanan pasif yang besar overpressure pada akhir ROM yang ada
TERIMA KASIH