Anda di halaman 1dari 36

POSTANESTHESIA CARE

DISUSUN OLEH :
BALYA IBNU MAULA
1210015013

LAB. ANESTESI DAN TERAPI INTENSIF


FK UNMUL/RSUD A.W. SJAHRANIE SAMARINDA
AGUSTUS 2016
Pengantar

- Postanesthesia care mulai berkembang sejak Perang Dunia II


- Perkembangan Postanesthesia Care Unit (PACU) dalam 2
dekade ini berkembang akibat perubahan pola perawatan
postoperatif

- Pelayanan pada PACU memiliki 2 fase :


Fase 1 : perawatan intensif pasien postoperatif dimulai sejak
terbangun dari efek anestesi sampai memenuhi standard PACU
Fase 2 : perawatan level lebih rendah yang memastikan pasien
siap untuk pulang
Postanesthesia Care Unit

Pasien postoperatif yang tindakan anestesinya telah dihentikan,


yang sudah tidak tersambung dengan alat monitoring, namun
baru akan tersadar dari efek sedasi/anestesi harus ditransfer ke
PACU

PACU memiliki 3 komponen penting :


1. Desain
2. Peralatan (Equipment)
3. Staf (Staffing)
Desain PACU

Desain PACU yang ideal meliputi :

- Dekat dengan OK, sarana radiologi, laboratorium, dan ICU


- Memiliki 1,5 bed PACU per 1 OK, dengan jarak antar bed
minimal 7 kaki
- Memiliki akses yang mudah untuk IV line, ventilator, peralatan
radiografi, sumber listrik (stop kontak), sumber oksigen, dan
suction
Peralatan (Equipment) PACU

Peralatan PACU yang dianjurkan ada meliputi :

- Pulse Oxymetri, EKG, dan Monitor NIBP


- Monitor Tekanan Intrarterial, CVP, Tekanan Intrapulmonar, dan
Tekanan Intrakranial dibutuhkan pada pasien tertentu
- Kapnografi untuk pasien yang memakai intubasi
- Alat pengukut suhu : strip pengukur suhu, termometer
- Alat penghangat atau pendingin : lampu penghangat, selimut
penghangat, atau selimut pendingin
- Airway equipment : OPA, NPA, LMA, laringoskop, sumber
oksigen, peralatan krikotirodotomi, dan masker/sungkup
Peralatan (Equipment) PACU

Peralatan PACU yang dianjurkan ada meliputi :

- Defibrilator dan obat-obatan antiaritmia


- Infus pump
- Kateter pacu transvena, pulse generator, peralatan trakeostomi,
chest tube, dan vascular cut down.
- Peralatan untuk gangguan respirasi : bronkodilator aerosol,
CPAP, dan ventilator
Staf (Staffing) PACU

Staf PACU yang ideal meliputi :


- Anestesiologis, Ahli Bedah, Perawat, Terapis Respirasi, dan
Konsultan lain yang diperlukan
- Anestesiologis berperan sebagai pengarah medis dalam PACU
- Ahli bedah berperan dalam mengatasi permasalahan akibat
prosedur pembedahan
- Perawat minimal memiliki kemampuan dalam managemen
airway, ACLS, perawatan luka, drainase kateter, dan penanganan
perdarahan postoperatif

Rasio minimal perawat : pasien = 1 : 2


Perawatan Pasien

Proses Sadarnya Pasien


- Anestesi Inhalasi
Berbanding lurus dengan ventilasi alveolar dan berbanding terbalik
dengan kelarutan zat anestesi

- Anestesi Intravena
1. Redistribusi zat anestesi
2. Metabolisme dan eliminasi zat anestesi adanya kelainan hepar dan
ginjal memperlambat sadarnya pasien
3. Jenis zat yang digunakan zat short acting mempercepat sadarnya
pasien
4. Pemakaian LMA lebih mempercepat sadarnya pasien daripada ETT
Perawatan Pasien

Keterlambatan Sadarnya Pasien


Terjadi ketika pasien tidak menjadi sadar 30-60 menit setelah anestesi
umum berakhir

Dipengaruhi oleh beberapa faktor :


1. Penggunaan premedikasi, misalnya midazolam
2. Pemakaian zat sedatif dan alkohol sebelum operasi
3. Hipotermia
4. Hipoksemia dan Hiperkarbia
5. Gangguan metabolisme dan elektrolit : hipoglikemia, hiperglikemia,
hiperkalsemia, hipermagnesemia, dan hiponatremia
6. Stroke Perioperatif
Perawatan Pasien

Keterlambatan Sadarnya Pasien


Syarat : pasien memiliki airway yang paten, ventilasi yang baik, dan
hemodinamik yang stabil. Dianjurkan untuk tetap diberikan oksigenasi
selama transport.

Pasien yang tidak stabil : transport dalam keadaan masih terintubasi


disertai dengan monitoring SpO2, EKG, dan NIBP.

Anjuran lain :
- Transport pasien dengan bed yang dapat diubah posisi kepalanya,
menjadi head-down atau back-up.
- Pasien dengan risiko muntah ditransfer dalam posisi miring.
Perawatan Pasien

Pemulihan Pasien : Anestesi Umum


Beberapa hal yang harus di monitoring meliputi :
- Patensi jalan napas
- Tanda vital (tiap 5 menit sampai stabil, lalu 15 menit)
- Oksigenasi
- Kesadaran
- Fungsi neuromuskular
- Skala nyeri
- Input dan output cairan, meliputi mual muntah, urine, drainase, dan
perdarahan
Perawatan Pasien

Pemulihan Pasien : Anestesi Umum


Setelah pasien stabil, lakukan pelaporan kepada perawat di PACU :
1. Riwayat preoperatif : status mental dan disabilitas
2. Kejadian intraoperatif : teknik anestesi, prosedur bedah, perdarahan,
cairan pengganti, dan komplikasi yang terjadi
3. Perkiraan komplikasi postoperatif
4. Antisipasi medikasi yang diperlukan saat di PACU, misalnya
antibiotik
5. Keperluan postanestesia lain : terapi nyeri, terapi mual muntah,
kateter epidural, terapi cairan dan transfusi darah, serta pemeriksaan
rutin lain untuk follow up
Perawatan Pasien

Pemulihan Pasien : Anestesi Regional


- Pasien yang masih tersedasi dan tidak stabil harus diberi
oksigenasi
- Periksa fungsi sensorik dan motorik secara periodik
- Monitoring vital sign, terutama tekanan darah
- Pemasangan kateter urine pada pasien dengan anestesi
spinal lebih dari 4 jam
Perawatan Pasien

Pemulihan Pasien : Kontrol Nyeri


Nyeri ringan sampai sedang
- Diobati dengan Paracetamol, Ibuprofen, Hidrokodon, dan Oksikodon
per oral
- Jika tidak membaik, dapat diberikan Ketrolac (15-30 mg) atau
Paracetamol (15 mg/kgBB atau 1 gr jika BB > 50 kg) per IV

Nyeri sedang sampai berat


- Opioid diberikan jika pemberian analgesik per oral tidak
memungkinkan
- Dapat diberikan opioid kerja lama, seperti Hidromorfon 0,25-0,50 mg
atau morfin 2-4 mg per IV secara titrasi
Perawatan Pasien

Pemulihan Pasien : Kontrol Nyeri


Nyeri sedang sampai berat
- Pemberian opioid tidak dianjurkan per IM, karena onsetnya yang lama
dan adanya perlambatan dalam depresi pernapasan
- Konsultasi dengan terapis nyeri mungkin diperlukan pada pasien
toleransi opioid

- Alternatif lain pada nyeri sedang sampai berat adalah pemasangan


kateter epidural
- Dapat diberikan Fentanyl (50-100 mcg) atau Sufentanyl (20-30 mcg)
dalam 5-10 ml Bupivacain 0,1%
- Morfin dapat diberikan, namun karena efek perlambatan depresi
napasnya, diperlukan monitoring ketat dalam 24 jam pasca pemberian
Perawatan Pasien

Pemulihan Pasien : Agitasi (Gelisah)


- Dapat disebabkan oleh gangguan sistemik seperti hipoksemia, asidosis
metabolik, hipotensi, distensi bladder, komplikasi pembedahan, dan
efek samping obat seperti antikolinergik, fenotiazin, dan ketamin

Tindakan yang dapat dilakukan meliputi :


- Atasi gangguan sistemik
- Menahan lengan dan kaki pasien (khususnya anak) agar tidak
mencederai diri sendiri
- Efek samping atropin atau skopolamin dapat diberikan Physostigmin
1-2 mg atau 0,05 mg/kgBB untuk anak per IV
- Jika gangguan sistemik sudah disingkirkan, berikan sedatif berupa
Midazolam 0,5-1 mg atau 0,05 mg/kgBB untuk anak per IV
Perawatan Pasien
Pemulihan Pasien : Postoperative Nausea and Vomiting (PONV)
Terdapat beberapa faktor yang berperan dalam terjadinya PONV
Perawatan Pasien

Pemulihan Pasien : Postoperative Nausea and Vomiting (PONV)


Penanganan
- Antagonis 5HT3 : Ondansetron 4 mg (0,01 mg/kgBB untuk anak),
Granisetron 0,01-0,04 mg/kgBB, atau Dolasetron 12,5 mg (0,035
mg/kgBB untuk anak)
- Metoklopramid 0,15 mg/kgBB per IV, namun tidak seefektif antagonis
5HT3
- Dexametasone 4-10 mg (0,1 mg/kgBB untuk anak) bermanfaat untuk
profilaksis PONV postdischarge
- Non-farmakologi : penekanan titik akupuntur P6 di pergelangan tangan
dan perbanyak hidrasi setelah puasa (20 ml/kgBB)
Perawatan Pasien

Pemulihan Pasien : Mengigil (Shivering) dan Hipotermia


- Mengigil biasanya disebabkan oleh hipotermia atau penggunaan zat
anestesi (anestesi inhalasi atau spinal/epidural). Penyebab lain yang
jarang adalah sepsis, alergi obat, dan reaksi transfusi.
- Hipotermia disebabkan oleh lingkungan kamar operasi yang dingin,
adanaya luka operasi yang sangat besar, penggunaan cairan drainase
atau intravena yang tidak dihangatkan, serta penggunaan oksigen/udara
yang tidak dilembabkan.

Penanganan
- Hipotermia : menggunakan alat penghangat, speerti lampu penghangat
dan selimut penghangat
- Menggigil : Meperidine 10-25 mg
Perawatan Pasien

Pemulihan Pasien : Kriteria Pulang


Kriteria Pulang Dari PACU
Sebelum keluar dari PACU, pasien harus diobservasi untuk efek depresi
napas selama 20-30 menit yang mungkin timbul akibat opioid terakhir
yang diberikan

Kriteria minimum
- Mudah dibangunkan
- Kesadaran penuh
- Mampu untuk proteksi airway
- Tanda vital stabil dalam 15-30 menit
- Mampu untuk memanggil bantuan, jika perlu
- Tidak ada komplikasi pembedahan, misalnya perdarahan
Perawatan Pasien
Pemulihan Pasien : Kriteria Pulang
Kriteria Aldrete

- Dapat keluar PACU jika skor Aldrete


9
- Pada anestesi regional ditambahkan
kriteria kembalinya fungsi sensorik dan
motorik
Perawatan Pasien
Pemulihan Pasien : Kriteria Pulang
Kriteria Pasien Rawat Jalan
Kriteria pasien dapat dipulangkan berdasarkan pada Kriteria
Postanesthesia Discharge Scoring System (PADS)

Dapat pulang jika skor PADS 9


Perawatan Pasien

Pemulihan Pasien : Kriteria Pulang


Kriteria Pasien Rawat Jalan
- Pada pasien anestesi regional, ditambahkan observasi untuk beberapa
komponen seperti :
1. Fungsi propioseptif : propioseptif ibu jari
2. Tonus simpatik : tidak adanya perubahan HR dan hipotensi ortostatik
3. Fungsi bladder : urinasi baik
4. Kekuatan motorik : pasien mampu melakukan plantar fleksi

- Pasien yang sudah pulang harus diberi tahu untuk segera menghubungi
unit gawat darurat jika terjadi komplikasi postoperatif
- Pasien dapat memulai aktivitas fisik setelah fungsi psikomotor membaik,
yaitu pada 24-72 jam postoperatif
Managemen Komplikasi : Komplikasi Respirasi

Obstruksi Jalan Napas


- Obstruksi jalan napas dapat parsial (suara respirasi mengeras) atau
total (suara respirasi menghilang dan gerak napas paradoksal)
- Penanganan obstruksi jalan napas meliputi :
1. Pemberian suplementasi oksigen
2. Lidah jatuh ke belakang : triple maneuver atau pemasangan OPA dan
NPA
3. Adanya cairan : suction
4. Jika obstruksi masih ada, kemungkinan terjadi laringospasme
- Lakukan Jaw Trust sambil diberikan VTP melalui face mask dengan
oksigenasi 100%
- Laringospasme refrakter dapat diberikan Suksinil Kolin 10-20 mg
Managemen Komplikasi : Komplikasi Respirasi

Obstruksi Jalan Napas


- Laringospasme anak dapat diberikan Dexametasone 0,5 mg/kgBB
maksimal 10 mg atau Epinefrin 2,25% dalam 3 ml NS diberikan
secara inhalasi
- Intubasi dapat dilakukan
- Jika intubasi gagal, dapat dipertimbangkan krikotirodotomi
- Trakeostomi hanya dapat dilakukan oleh ahli bedah
Managemen Komplikasi : Komplikasi Respirasi

Hipoventilasi
Hipoventilasi terjadi jika PaCO2 > 45 mmHg, biasanya asimtomatik
atau gejalanya ringan. Gejala muncul jika PaCO2 > 60 mmHg disertai
pH < 7,25

Tanda dan Gejala :


- Somnolen
- Obstruksi jalan napas
- Takipnea dengan pernapasan dalam
- Sulit bernapas
- Asidosis : takikardia, hipertensi, bahkan jika berat dapat menekan
sistem kardiovaskuler
Managemen Komplikasi : Komplikasi Respirasi

Hipoventilasi
Beberapa penyebab meliputi :
- Efek samping opioid
- Kelemahan muskular : asidosis dan hipokalemia
- Pembedahan thoraks dan abdomen
- Mengigil, hipertermia, dan sepsis

Penanganan :
- Atasi penyebabnya
- Jika disebabkan oleh induksi opioid, berikan Nalokson 80 mcg diberikan
secara titrasi
- Jika disebabkan oleh kelemahan otot, berikan Inhibitor Kolinesterase
- Jika disebabkan oleh nyeri akibat pembedahan thoraks dan abdomen,
berikan opioid, ketorolac, atau anestesi epidural
Managemen Komplikasi : Komplikasi Respirasi

Hipoksemia
Hipoksemia ringan (PaO2 50-60 mmHg) sering terjadi pada pasien
pemulihan yang tidak diberikan suplementasi oksigen

Tanda dan gejala :


- Kegelisahan (restlessness)
- Takikardia
- Iritabilitas kardiovaskuler
- Sianosis
- Jika parah, dapat terjadi bradikardia, hipotensi, sampai cardiac arrest
Managemen Komplikasi : Komplikasi Respirasi

Hipoksemia
Penyebab hipoksemia meliputi :
- Hipoventilasi
- Right to the left shunting intrapulmonar
- Operasi yang membutuhkan hipoventilasi dengan VT yang kecil
- Kolaps paru akibat kesalahan intubasi atau penumpukan sekret
endobronkial
- Aspirasi pulmoner
- Edema paru wheezing 60 menit setelah operasi dengan sekret merah
muda di jalan napas
- Operasi thoraks dan abdomen yang menyebabkan trauma diafragma
- Pneumothoraks, misalnya pada penggunaan CPC, fraktur costae, blok
supraklavikula atau intercostae
Managemen Komplikasi : Komplikasi Respirasi

Hipoksemia
Penanganan hipoksemia :
- Pemberian oksigen dengan FiO2 30-60%
- Pada pasien dengan hipksemia berat atau persisten, dapat diberikan
oksigen dengan FiO2 100% via NRM
- Pasien harus dimonitor dengan pulse oxymetri, pemberian oksigen
harus dikontrol pada pasien dengan gangguan fungsi ekspirasi

Penanganan penyebab :
- Pneumothoraks : pemasangan WSD atau needle thorakosentesis
- Gagal jantung akibat kelebihan cairan : diuretik
- Atelaktasis akibat penyumbatan mukus : bronkoskopi disertai drainase
atau suction mukus
Managemen Komplikasi : Komplikasi Kardiovaskuler

Hipotensi
Hipotensi disebabkan oleh beberapa penyebab, meliputi :
- Hipovolemia : tidak adekuatnya terapi cairan, sekuestrasi cairan ke
rongga ketiga, perdarahan, dan drainase luka
- Disfungsi ventrikel sinistra : infark miokard, penyakit katup jantung,
dan gagal jantung kongestif
- Vasodilatasi pembuluh darah : anestesi spinal/epidural, pemakaian
venodilator dan -blocker
- Sepsis dan reaksi alergi
- Pneumothoraks
- Temponade jantung
Managemen Komplikasi : Komplikasi Kardiovaskuler

Hipotensi
Penanganan meliputi :
- Hipovolemia : terapi cairan dengan kristaloid dan/atau koloid
- Hipotensi berat : dapat ditambahkan Inotropik atau Vasoconstriktor
- Tension pneumothoraks : needle thorakosentesis
- Temponade jantung : pericardiosentesis
Managemen Komplikasi : Komplikasi Kardiovaskuler

Hipertensi
Hipertensi sering terjadi pada 30 menit postoperatif. Beberapa
penyebab hipertensi meliputi :
- Nyeri insisi
- Intubasi endotrakeal
- Distensi bladder
- Respons neuroendokrin terhadap stress
- Tonus simpatis akibat hipoksia, hiperkarbia, dan asidosis
- Kelebihan cairan
- Hipertensi intrakranial
Managemen Komplikasi : Komplikasi Kardiovaskuler

Hipertensi
Penanganan hipertensi meliputi :
- Hipertensi ringan sampai sedang dapat diobati dengan -blocker, ACE-
Inhibitor, atau Calcium Channel Blocker secara intravena
- Hipertensi berat dapat diobati dengan natrium nitroprusid,
nitrogliserin, nicardipin, clevidipine, atau fenoldopam secara intravena
dan dilakukan pemasangan kateter intraarterial untuk monitoring
Managemen Komplikasi : Komplikasi Kardiovaskuler

Aritmia
Aritmia dapat terjadi akibat gangguan respirasi, seperti hipoksia,
hiperkarbia, dan asidosis, agen anestesi, peningkatan tonus simpatis,
abnormalitas metabolik, dan penyakit jantung dan paru yang pernah
diderita.

Penyebab lain meliputi :


- Bradikardia : inhibitor kolinesterase, opioid, dan -blocker
- Takikardia : antikolinergik, -agonis, hidralazin, nyeri, demam,
hipovolemia, dan anemia
- Kontraksi atrial dan ventrikel prematur : hipokalemia,
hipomagnesemia, peningkatan tonus simpatis, dan infark miokard
- Takiaritmia supraventrikular : bedah thoraks
Terimakasih Atas Perhatiannya