Anda di halaman 1dari 10

Terdapat faktor yg dijumpai pada kedua kelompok, yaitu hipotermia.

Hipotermia dgn ekskresi NUU pada kelompok LBK dan LBNK yg tidak
menunjukkan peningkatan menggambarkan kondisi hipometabolisme
yg mjd karakteristik fase syok.

Kasus-kasus pada studi ini dihadapkan pada dua kemungkinan:


masih berada dalam fase syok

fase syok berkepanjangan

menunjukkan bahwa prosedur resusitasi belum tercapai


CRP, PCT, dan PTT merupakan beberapa parameter inflamasi.

Pada studi ini peningkatan CRP dan PCT menunjukkan perbedaan

bermakna, beratnya respons inflamasi dan kerusakan yg tjd pada LBK.

PTT mengalami pemanjangan karena keterlibatan trombosit di awal

respon inflamasi.

Pada studi ini kelompok LBK menunjukkan jumlah trombosit masih

dalam rentang normal.


Melalui uji multivariate ditemukan dua variabel
berperan sbg prediktor: BS (data demografi) dan BD
(parameter laboratorik).

Semakin tinggi nilai BS, semakin besar kecenderungan


berkembang ke arah kritis.

Semakin tinggi nilai BD, semakin kecil kecenderungan


berkembang ke arah kritis.
BS merupakan indikator yg layak dipegang sbg prediktor.

Pada kasus LBK yg meninggal sebagian besar menunjukkan nilai BS di


bawah 100.

Dibandingkan dgn nilai prediksi 140 yg ditetapkan dalam kriteria


prognosis, parameter ini mjd tolak ukur mutu pelayanan LB di Indonesia.

Sistem penatalaksanaan kondisi-kondisi emergensi khususnya LB di


Indonesia perlu dibenahi, ditata, dan dikembangkan.
BD secara tidak langsung memberi informasi jenis gangguan keseimbangan

asam basa yg tjd akibat syok.

Pada studi ini ditunjukkan perubahan nilai BD disertai nilai anion gap normal;

menunjukkan hilangnya cadangan bikarbonat atau tjd asidosis metabolik.

Pada studi ini ditunjukkan bahwa BD layak dipegang sbg prediktor yg

menunjukkan perkembangan ke arah kritis.

Namun nilainya belum banyak dimanfaatkan dalam aplikasi klinik.


Kadar Hb dan Ht menunjukkan adanya hemokonsentrasi
pada kedua kelompok.

Peningkatan pada kelompok LBK ditemukan lebih tinggi,


uji statistik tidak menunjukkan perbedaan bermakna.

Artinya kedua kelompok dihadapkan apda masalah


hemokonsentrasi
Kadar GDS yg menggambarkan inefektivitas utilisasi
glukosa pada hipoksia sel.

Kelompok LBK menunjukkan peningkatan lebih tinggi


dibandingkan dgn kelompok LBNK tetapi tidak
menunjukkan perbedaan bermakna.

Artinya kedua kelompok dihadapkan pada masalah


hiperglikemia
Saturasi vena campur yg menggambarkan utilisasi
oksigen oleh sel.

Sebagian besar kasus menunjukkan batas atas dalam


rentang normal.

Meski masih perlu dibuktikan lebih lanjugt, nilai ini


menunjukkan bahwa pada kedua kelompok masih
berada pada fase adaptasi.
Kesimpulan
Terdapat beberapa variabel karakteristik subjek yg menunjukkan perbedaan antara kelompok LBK dgn LBNK, yaitu:
a. Variabel data demografik
1) Luas luka bakar

2) Baux score

b. Parameter klinik
1) Tekanan vena sentral (CVP)

2) Mean arterial pressure (MAP)

3) Cairan produksi lambung

c. Parameter laboratorik
1) Kadar serum laktat

2) Eksresi NUU

3) SGOT

4) Kadar ureum

5) Base deficit

6) PRR

7) CRP

8) PCT
Luas LB, BS, MAP, CPL, kadar serum laktat, base deficit
an PTT merupakan variabel-variabel yg memiliki korelasi
dgn kematian.

Semakin tinggi nilai BS, semakin besar kecenderungan


berkembang ke arah kritis, berkebalikan dengan BD.