Anda di halaman 1dari 15

INDONESIAS NATIONAL

EVALUATION
SYSTEM
KESUKSESAN DALAM ECD DI
INDONESIA DITENTUKAN OLEH:
1. Kepedulian, apresiasi, dan keseragaman pemahaman antara
decisionmakers dan evaluation managers tentang pentingnya
evaluasi,

2. Komitemen terhadap ketersediaan sumber daya keuangan dan


manusia yang cukup untuk mendukung evaluator yang profesional,
berdedikasi, dan mampu bekerja dengan efektif.
TAHAPAN ECD DI INDONESIA

1. Pembentukan Steering Commitee pada 1994;


2. Bantuan terhadap Comitee dari Bappenas (melalui Bureau for
Project Implementation) dan World Bank (melalui Institutional
Development Fund Grant);
3. Penyelenggaraan studi terhadap 30 institusi pemerintah;
4. Pengembangan kerangka Development of Evaluation;
5. Pelatihan terhadap 120 middle manager;
6. Penerbitan National Policy on Development Project Performance
Evaluation di 1996
PRINSIP ECD DI INDONESIA
1. Fokus terhadap hasil dan manfaat, bukan terhadap prosedur dan
prosesnya.
2. Mengintegrasikan fungsi manajemen.
3. Dua fokus ECD :
Indikator performa
Studi atas evaluasi
4. Bappenas memiliki tanggungjawab fungsional
5. Department menyelenggarakan kegiatan evaluasi.
ECD IN INDONESIA:
FAKTOR-FAKTOR
KESUKSESAN
Terminologi yang jelas, pemahaman umum
Arahan yang Kuat
Pendekatan partisipatif
Tanggung jawab fungsional kepada Bappenas
Dukungan dan partisipasi dari Bank
Melobi untuk dan diundangkan dari kebijakan Nasional
KEY SUCCESS FACTOR
#1
Determined efforts to establish, from the very start, a clear
terminology and common understanding related to evaluation,and
to eliminate many of the misconceptions and misunderstandings
about evaluation.
KEY SUCCESS FACTOR
#2
Considered and forceful actions (that often went against
bureaucratic culture) by the champions of ECD in their efforts to
promote and encourage performance evaluation in Indonesia, in
particular, through their careful selection of participants to
committees, meetings, study tours and training.
KEY SUCCESS FACTOR
#3
A participatory approach taken in adapting the general principles of
evaluation to the Indonesian context, and the resulting creation of
a core group of committed ECD supporters, both decisionmakers
and evaluation managers.
Key Success Factor #4
Bappenas bertanggung jawab untuk menjalankan fungsi
penilaian tertentu, sehingga membuat departemen
bertanggung jawab terhadap rencana yang dibuat dan
mengaplikasikannya. Hal ini berawal dari pemanfaatan
idikator penilaian.
Hal-hal pendukung :
Departemen memiliki informasi internal
Departemen membutuhkan petunjuk
Tanggung jawab fungsional dari Bappenas
Pelaksanaan desentralisasi
Penggunaan indikator kinerja
Key Success Factor #5
Aktif, hadir, dan terus-menerus berpartisipasi dilakukan
oleh World bank, untuk meyakinkan Pemerintah Indonesia
dan pengambil keputusan tentang pentingnya dan
manfaat dari evaluasi.
Hal-hal pendukung :
Senior Staf dari World Bank dan pihak donor
memberikan dukungan, masukan, dan
menyakinkan agar senior manajer tetap
melaksanakan rencana-rencana nya.
Partisipasi, umpan balik dan dorongan semangat
diberikan karena di negara berkambang sulit
untuk menerima manajemen baru.
Partisipasi dan bimbingan dari pihak world bank
sama pentingnya dengan dukungan finansial
yang didapat
Key Success Factor #5
Melobi untuk dibahas dan dijadikan peraturan tentang
Kebijakan Nasional untuk Pembangunan
Proyek Evaluasi Kinerja, dalam bentuk Keputusan Menteri.
Hal-hal pendukung :
Peraturan formal penting agar tercipta
kesepakatan bersama (mufakat),
pemahaman, pelimpahan wewenang
Dinegara indonesia sangat penting dasar
hukum dan pelaksanaan yang jelas untuk
menghindari kesalapahaman yang disengaja
atau ambiguitas
Lobi yang kuat dalam pembahasan dengan
pihak legislatif
= TERIMA KASIH =