Anda di halaman 1dari 9

Pengenalan PJ

Penginderaan jauh adalah ilmu atau seni untuk memperoleh


informasi tentang objek,daerah atau gejala, dengan jalan
menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat,
tanpa kontak langsung dengan objek, daerah atau gejala yang
akan dikaji (Lillesand dan Kiefer, 1990).
Dalam penginderaan jauh didapat masukan data atau hasil
observasi yang disebut citra.
Citra dapat diartikan sebagai gambaran yang tampak dari suatu
objek yang sedang diamati, sebagai hasil liputan atau rekaman
suatu alat pemantau.
Interpretasi citra merupakan kegiatan mengkaji foto udara dan atau
citra dengan maksud untuk mengidentifikasi objek dan menilai arti
pentingnya objek tersebut (Estes dan Simonett, 1975).
interpretasi citra merupakan suatu proses pengenalan objek yang
berupa gambar (citra) untuk digunakan dalam disiplin ilmu tertentu
seperti Geologi, Geografi, Ekologi, Geodesi dan disiplin ilmu lainnya.
Dalam menginterpretasikan citra dibagi menjadi beberapa tahapan,
yaitu:
Deteksi ialah pengenalan objek yang mempunyai karakteristik
oleh sensor.
Identifikasi ialah mencirikan objek dengan menggunakan data
rujukan.
Analisis ialah mengumpulkan keterangan lebih lanjut secara
terinci.
Oleh karena sensor tidak ditempatkan pada objek, maka perlu
adanya wahana atau alat sebagai tempat untuk meletakkan
sensor. Wahana tersebut dapat berupa balon udara, pesawat
terbang, satelit atau wahana lainnya. Antara sensor, wahana,
dan citra diharapkan selalu berkaitan, karena hal itu akan
menentukan skala citra yang dihasilkan.
Gambar 1. Wahana Penginderaan Jauh (Lindgren,
1985).
Data penginderaan jauh direkam dengan sensor inderaja
menggunakan detektor elektronik. Cara perekamannya
dengan menggunakan tenaga elektromagnetik yang luas,
yaitu spektrum tampak, ultraviolet, inframerah dekat,
infrmerah termal, dan gelombang mikro. Setiap citra inderaja
satelit mempunyai sifat khas datanya, yang dipengaruhi oleh
sifat orbit satelit,
sifat dan kepekaan sensor inderaja terhadap panjang
gelombang elektromagnetik,
jalur transmisinya,
sifat sasaran (obyek), dan sifat sumber tenaga radiasinya.
Teknologi penginderaan jauh dapat menghasilkan data tentang permukaan
bumi yang cepat, efisien, efektif, dan lengkap yang sesuai dengan tingkat
pengambilan keputusan, baik di tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota
bahkan kecamatan. Selain itu, kelebihan dari data penginderaan jauh
adalah kesalahan manusia (human error) lebih kecil dan datanya selalu up
to date tergantung resolusi temporal dari citra tersebut yang semakin
pendek. Untuk melengkapi data penginderaan jauh dapat diintegrasikan
dengan survei lapangan sehingga datanya benar-benar akurat yang
dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan. Saat ini perkembangan
penginderaan jauh sangat cepat dilihat dari kemampuan resolusinya, baik
resolusi spasial maupun resolusi temporalnya. Resolusi spasial menyangkut
luasan objek yang direkam oleh sensor satelit, misalnya satelit Landsat
ketelitian objek yang direkam adalah 30 meter, satelit Quickbird 0,6 meter,
dan satelit Ikonos 1 meter. Kemudian resolusi temporalnya semakin cepat,
misalnya Landsat 16 hari, satelit Quickbird dan Ikonos 3 hari sehingga
dapat mempercepat survei dan pemetaan informasi tentang kebumian.
Suatu wilayah baik di pedasaan maupun di perkotaan menampilkan
wujud yang rumit, tidak teratur dan dimensi yang heterogen.
Kenampakan wilayah perkotaan jauh lebih rumit dari pada kenampakan
daerah. Hal ini disebabkan persil lahan kota pada umumnya sempit,
bangunannya padat, dan fungsi bangunannya beraneka. Oleh karena itu
sistem penginderaan jauh yang diperlukan untuk penyusunan tata
ruang harus disesuaikan dengan resolusi spasial yang sepadan. Untuk
keperluan perencanan tata ruang detail, maka resolusi spasial yang
tinggi akan mampu menyajikan data spasial secara rinci. Data satelit
seperti Landsat TM dan SPOT dapat pula digunakan untuk keperluan
penyusunan tata ruang hingga tingkat kerincian tertentu, misalnya
tingkat I (membedakan kota dan bukan kota). hingga sebagian tingkat II
(perumahan, industri, perdagangan, dsb.). Sedangkan untuk tingkat III
(rincian dari tingkat II, misalnya perumahan teratur dan tidak teratur)
dan tingkat IV (rincian dari tingkat III, misalnya perumahan teratur yang
padat, sedang, dan jarang.
Pengembangan wilayah mengandung arti yang luas, namun
pada prinsipnya merupakan berbagai upaya yang dilakukan
untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan hidup di wilayah
tertentu, memperkecil kesenjangan pertumbuhan, dan
ketimpangan kesejahteraan antar wilayah. Berbagai konsep
pengembangan wilayah telah diterapkan di berbagai negara
melalui berbagai disiplin ilmu. Konsep-konsep yang telah
pernah berkembang sebelumnya umumnya didominasi oleh
ilmu ekonomi regional, walaupun sesungguhnya dalam
penerapannya akan lebih banyak tergantung pada potensi
pertumbuhan setiap wilayah yang akan berbeda dengan
wilayah lainnya, baik potensi SDA, kondisi sosial budaya dan
ekonomi masyarakat, ketersediaan infrastruktur, dan lainnya.