Anda di halaman 1dari 30

SEPASANG MAYAT

DITEMUKAN TERKUNCI
DI DALAM KAMAR

F7

Tutor: dr. Irvan


Aspek Hukum dan Prosedur
Medikolegal

Kewajiban dokter membantu peradilan


Pasal 133 (1), 179, 180, 120 KUHAP
Pasal 224, 522 KUHP
Autopsi
Pasal 134, 135 KUHAP
Pasal 216, 222 KUHP
Pasal 117-122 UU No. 36 tahun 2009
VeR
Pasal 133 (1), (2), 184 KUHAP
Pasal 267 KUHP
Autopsi Forensik / Medikolegal

Tujuan :
Penentuan identitas mayat
Sebab pasti kematian
Memperkirakan cara kematian
Memperkirakan saat kematian
Mengumpulkan benda-benda bukti untuk penentuan
identitas benda penyebab serta pelaku kejahatan
Membuat laporan tertulis yang obyektif dan
berdasarkan fakta dalam bentuk VeR
Melindungi orang yang tidak bersalah dan
penuntutan terhadap orang yang bersalah
Autopsi Forensik / Medikolegal

Surat Permintaan Pemeriksaan / Pembuatan VeR


yang telah ditandatangani penyidik
Mayat yang akan diautopsi benar-benar mayat yang
dimaksud dalam surat
Mayat yang akan diperiksa telah diidentifikasi pihak
berwenang berupa penyegelan dengan label polisi
yang diikatkan pada ibu jari kaki mayat (nama,
alamat, tanggal, tempat kematian, dsb)
Keterangan yang berhubungan dengan kematian
(kejadian yang mendahului kematian, keadaan TKP)
Alat-alat yang diperlukan tersedia
Autopsi Forensik / Medikolegal

Harus pemeriksaan lengkap


Harus dilakukan dokter (tidak dapat
diwakilkan)
Kelainan sekecil apapun dicatat
termasuk hasil negatif
Dilakukan sedini mungkin
Visum et Repertum
Keterangan tertulis yang dibuat dokter,
berisi temuan dan pendapat
berdasarkan keilmuannya tentang hasil
pemeriksaan medis terhadap manusia
atau bagian tubuh manusia baik yang
hidup maupun mati atas permintaan
resmi dari penyidik yang berwenang
yang dibuat atas sumpah untuk
kepentingan peradilan
Visum et Repertum
Pembukaan : Pro justitia
Pendahuluan
Identitas dokter pemeriksa, instansi
pemeriksa, tempat dan waktu
pemeriksaan, instansi peminta visum,
nomor dan tanggal surat permintaan,
identitas korban
Hasil pemeriksaan
sistematis, jelas, dimengerti semua orang
Visum et Repertum (2)
Kesimpulan
Jenis luka, jenis kekerasan, derajat luka
Penutup
Demikianlah visum et repertum ini saya
buat dengan sesungguhnya berdasarkan
keilmuan saya dan dengan mengingat
sumpah sesuai dengan Kitab Undang-
undang Hukum Acara Pidana
Tatacara penulisan
Untuk hindari manipulasi
1. Kertas dengan kepala surat instansi pemeriksa
2. Nomor sesuai tatacara penomoran instansi
pemeriksa
3. Tanggal sesuai pembuatan visum
4. Satu spasi, rata kiri dan kanan, huruf resmi
ukuran normal
5. Angka ditulis dengan huruf
6. Bila kalimat tidak sampai ujung batas baris,
dibuat garis penutup
7. Bila > 1 halaman cantumkan tiga kata pertama
dari halaman berikutnya di bawah kanan
8. Setiap lembar diberi nomor visum
Pemeriksaan Medis pada Bidang
Tanatologi

Thanatos yang burhubungan dengan


kematian

Logos ilmu
Tanda-Tanda Kematian

Tidak Pasti Pasti

Livor Mortis
Pernapasan terhenti Rigor Mortis
Sirkulasi terhenti Algor Mortis
Kulit pucat Pembusukkan
Tonus otot menghilang Adiposera
Pembuluh darah retina mengalami Mummifikasi
segmentasi
Pengeringan kornea
Perkiraan saat Kematian
Perubahan pada mata
Perubahan dalam lambung
Perubahan rambut
Pertumbuhan kuku
Perubahan dalam cairan serebrospinal
Cairan vitreus
Kadar komponen darah
Reaksi supravital
Traumatologi Forensik
Mekanik : - kekerasan benda tajam
- kekerasan benda tumpul
- tembakan senjata api
Fisika : - Suhu
- Listrik dan petir
- Perubahan tekanan udara
- Akustik
- Radiasi
Kimia : - Asam dan Basa kuat
TOKSIKOLOGI

Toksikologi ialah ilmu yang mempelajari


sumber sifat serta khasiat racun, gejala-
gejala dan pengobatan pada keracunan,
serta kelainan yang didapatkan pada
korban yang meninggal
Racun ialah zat yang bekerja pada tubuh
secara kimiawi dan fisiologik yang dalam
dosis toksik akan menyebabkan
gangguan kesehatan atau mengakibatkan
kematian
Penggolongan
Berdasarkan sumber, dapat dibagi
menjadi racun yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan: opium (dari papaver
somniferum), kokain, kukare, aflatoksin
(dari aspergilus niger)
berasal dari hewan: bisa/toksin ular/laba-
laba/hewan laut, mineral: arsen timah
hitam atau sintentik: heroin
Penggolongan
Berdasarkan tempat di mana racun berada, dapat dibagi
menjadi racun yang terdapat di alam bebas, misalnya gas
racun yang ada di alam, racun yang terdapat di rumah
tangga: misalnya deterjen, desinfektan, insektisida,
pembersih (cleaners)
Racun yang digunakan dalam pertanian, misalnya
insektisida, herbisida, pestisida
Racun yang digunakan dalam industri dan laboratorium,
misalnya asam dan basa kuat, logam berat
Racun yang terdapat dalam makanan, misalnya CN dalam
singkong, toksin botulinus, bahan pengawet, zat aditif
serta racun dalam bentuk obat, misalnya hipnotik,
sedatif, dll
FAKTOR YANG MEMPEGARUHI KERACUNAN

Jumlah racun
Cara masuk
Umur
Kondisi tubuh
Kebiasaan sangat berpengaruh pada racun
golongan alkohol dan morfin
Idiosinkrasi dan alergi pada vitamin E,
penisilin, streptomisin, dan prokain.
Adiksi dan singergis: Alkohol, barbiturat,
morfin
KRITERIA DIAGNOSTIK
Diagnosa keracunan didasarkan atas adanya tanda
dan gejala yang sesuai dengan racun penyebab.
Dengan analisis kimiawi dapat dibuktikan adanya
racun pada sisa barang bukti. Yang terpenting pada
penegakan diagnosis keracunan adalah dapat
ditemukan racun/sisa racun dalam
tubuh/cairan tubuh korban, jika racun menjalar
secara sistemik serta terdapatnya kelainan pada
tubuh korban, baik makroskopik maupun
mikroskopik yang sesuai dengan racun penyebab.
Disamping itu perlu pula dipastikan bahwa korban
tersebut benar-benar kontak dengan racun.
PEMERIKSAAN DOKTER
FORENSIK
Dalam menangani kasus kematian akibat
keracunan perlu dilakukan beberapa
pemeriksaan penting yaitu: Pemeriksaan
di tempat kejadian, autopsi, dan analisis
toksikologik.
PEMERIKSAAN DI TEMPAT KEJADIAN

Pemeriksaan harus ditujukan untuk menjelaskan apakah


mungkin orang itu keracunan, misalnya dengan memeriksa
tempat obat, apakah ada sisa obat atau pembungkusnya.
Bila terdapat muntahan, apakah berbau fosfor (bau bawang
putih); bagaimana sifat muntahan
Apakah terdapat gelas atau alat minum lain, atau ada surat
perpisahan/peninggalan jika merupakan kasus bunuh diri.
Mengumpulkan keterangan sebanyak mungkin tentang
saat kematian, kapan terakhir kali ditemukan dalam
keadaan sehat, sebelum kejadian ini apakah ia sehat-sehat
sata. Berapa lama gejala timbul setelah makan/minum
terakhir, dan apa gejala-gejalanya.
Pengambilan Bahan
Pada semua kasus pengambilan bahan
perlu diambil:
Darah Jantung
Urin
Lambung
Usus
Hati
Ginjal
Otak
Empedu
Pengambilan Bahan
Cara lain pengambilan bahan:
Tempat masuk racun (lambung, tempat
suntikan)
Darah (menandakan racun beredar secara
sistemik)
Tempat keluar (urin, empedu)
Wadah Bahan Pemeriksaan Toksikologi

Minimal 9 wadah:
2 buah peles @ 2 liter hati dan usus
3 buah peles @ 1 liter lambung, otak dan
ginjal
4 botol @ 25 ml darah (2), urin dan
empedu

Wadah harus dicuci terlebih dahulu


dengan asam kromat hangat dibilas
dengan akuades dikeringkan
Bahan Pengawet
Alkohol absolute
Larutan garam dapur jenuh
Larutan NaF 1%
Larutan NaF + Na sitrat ( 5 ml NaF + 50
ml Na sistrat untuk tiap 10 ml bahan)
Na benzoate + fenil merkuri nitrat (urin)
Cara pengiriman
Kriteria pengiriman:
Satu tempat hanya berisi satu contoh
bahan pemeriksaan
Contoh bahan pengawet harus disertakan
untuk control
Disegel, diberi label tempat pengambilan
bahan, nama korban, bahan pengawet dan
isinya
Pembedahan Jenazah
Inspeksi in Situ warna otot otot, alat-alat
keracunan (usus, lambung, hati)
Warna darah
Bercak perdarahan pada organ organ
Lidah
Esofagus
Epiglotis dan glotis
Paru-paru
Lambung dan usus dua belas jari
Usus
Hati
Pembedahan Jenazah (2)
Ginjal
Urin
Otak
Jantung
Limpa
Empedu
Paru-paru
Jaringan lemak
Jaringan sekitar tempat suntikan
Rambut dan kuku
Pemeriksaan Luar
Bau
Pakaian
Lebam mayat
Perubahan kulit
Kuku
Rambut
Sklera
Kesimpulan
Kematian tidak wajar karena tidak
ditemukan sebab kematian yang jelas
dan 2 orang korban mati mendadak
bersama.
Cont
oh
Visu
m