Anda di halaman 1dari 14

Pembiayaan Anggaran

Tujuan Pengelolaan Kas dan


Pengelolaan Utang
(IMF dan Bank Dunia, April 2014)
Tujuan utama pengelolaan kas adalah untuk memiliki
sejumlah uang yang tepat pada tempat dan waktu
yang tepat guna memenuhi kewajiban seefektif
mungkin.

Tujuan utama pengelolaan utang adalah untuk


memastikan bahwa kebutuhan pembiayaan guna
menutup defisit anggaran pemerintah dan kewajiban
pembayaran kembali utang mampu dipenuhi dengan
biaya serendah mungkin dalam jangka menengah atau
jangka panjang, sesuai dengen tingkat resiko terkendali
Pengelolaan Kas secara Aktif dan
Pembiayaan Anggaran di Indonesia
Pemerintah Indonesia menggunakan
pendanaan yang bersumber dari utang dan
bukan utang untuk membiayai defisit anggaran.

Sumber pembiayaan bukan utang berupa


akumulasi surplus kas dari Sisa Anggaran Lebih
(SAL), pembayaran kembali penerusan
pinjaman dan cicilan atas Perjanjian Pinjaman
ke Pemda/BUMN, serta hasil penjualan aset
atau privatisasi (HPA).
Koordinasi antara
Pengelola Utang dan Pengelola Kas
A.Strategi Pengelolaan Utang Jangka Menengah
Strategi Pengelolaan Utang Jangka Menengah Pemerintah tahun
2013-2016 menetapkan pedoman pengelolaan utang pemerintah
jangka menengah dan pedoman penyusunan strategi pembiayaan
utang tahunan. Dokumen ini mencakup berbagai strategi
pemerintah mengenai pengelolaan utang pemerintah yang akan
berdampak langsung pada anggaran tahunan.

Utang pemerintah tersebut terdiri dari pinjaman dan surat utang


yang dikelola oleh DJPPR, Kementerian Keuangan.

Strategi Utang Jangka Menengah pada akhirnya digunakan


sebagai masukan dalam menyusun APBN dan rencana
peminjaman tahunan dalam siklus pengelolaan utang.
B. Rencana Pembiayaan Tahunan
(RPT)
Sebelum dimulainya tahun anggaran, DJPPR menyusun
sebuah RPT untuk membiayai perkiraan defisit
pemerintah, kebutuhan pembiayaan ulang, dan investasi
terencana. RPT menentukan jadwal penerbitan utang.
Jadwal tersebut diumumkan sebelum dimulainya tahun
anggaran dan dikoordinasikan dengan Direktorat
Pengelolaan Kas Negara selama tahun berjalan.

RPT disesuaikan mengacu pada perubahan anggaran


(APBN-P), biasanya dilakukan pada pertengahan tahun
untuk mengatasi perbedaan antara asumsi awal dan
realisasi yang tengah berlangsung.
C. Koordinasi pada Tingkat
Kebijakan melalui Komite
Pengelolaan Aset dan Liabilitas
(Komite ALM)
Secara khusus, Komite ALM menelaah:
Gambaran ekonomi dan pasar (disampaikan oleh BKF,
Ditjen Perbendaharaan, dan DJPPR);
Perkiraan penerimaan (disampaikan oleh BKF, Ditjen
Pajak, Ditjen Bea & Cukai, dan Ditjen Anggaran);
Perkiraan pengeluaran (disampaikan oleh Ditjen
Anggaran dan Ditjen Perimbangan Keuangan);
Perkiraan kas dan pembiayaan (disampaikan oleh Ditjen
Perbendaharaan dan Ditjen Pengelolaan Utang); serta
Penilaian risiko terhadap neraca dan kegiatan anggaran,
penilaian kebutuhan kas dan pembiayaan baru pada
masa mendatang, dan rekomendasi atas perubahan
kebijakan jika diperlukan.
Saat ini, keanggotaan Komite ALM terbatas pada
perwakilan dari berbagai unit Kementerian
DJPPR bertanggung jawab atas
perkiraan mingguan dari
Keuangan. Peran setiap ditjen sebagai
penerbitan, anggota
pembelian ALM
kembali,
meliputi:
DJP bertanggung jawab atas
pengalihan utang, dan kewajiban
pembayaran utang; serta atas
perkiraan bulanan dari penyusunan bulanan gambaran
penerimaan dan pengembalian pasar surat utang. Dengan
pajak; mengetahui perkiraan tentang defi
DJBC bertanggung jawab atas sit/surplus kas dari Dirjen
perkiraan bulanan dari Perbendaharaan, Dirjen Pengelolaan
penerimaan bea dan cukai; Utang kemudian akan menetapkan
DJA bertanggung jawab atas kebijakan Penerbitan Utang
perkiraan bulanan dari PNBP, bulanan;
pengeluaran negara, dan DJKN bertanggung jawab atas
penerimaan hibah; perkiraan penerimaan bulanan dari
DJPK bertanggung jawab atas investasi pemerintah di BUMN;
perkiraan bulanan dari transfer BKF bertanggung jawab atas
fiskal ke pemerintah daerah; gambaran ekonomi makro bulanan
DJPB bertanggung jawab atas dan model simulasi penerimaan
penyediaan informasi terkini Sekjen Kementerian Keuangan
kondisi pasar uang dan atas mengawasi pemeliharaan harian
penyusunan perkiraan mingguan basis data, aplikasi, dan jaringan TI;
dan bulanan dari defi sit/surplus serta
kas berdasarkan perkiraan Staf Ahli Kementerian Keuangan
penerimaan danpengeluaran. bertanggung jawab atas koordinasi
D. Koordinasi pada Tingkat Operasional
melalui Jaringan Informasi
Perencanaan Kas (CPIN)
Selama tahun anggaran, sebuah komite antar direktorat
yang disebut Jaringan Informasi Perencanaan Kas (Cash
Planning Information Network, CPIN) terdiri dari staf
berbagai ditjen dan direktorat (Ditjen Anggaran, Ditjen
Perbendaharaan, DJPPR, Badan Kebijakan Fiskal, dan lain-
lain) yang akan berdiskusi secara berkala guna
memutakhirkan laporan prakiraan kas bulanan bagi
Kementerian Keuangan.

Komite tersebut menggunakan data riwayat penerimaan,


serta data dan asumsi terkini mengenai ekonomi makro
dan indikator moneter. Komite ini bertemu setidaknya
sekali dalam sebulan dan lebih sering lagi jika diperlukan.
E. Koordinasi Arus Informasi antara
Ditjen Anggaran, Ditjen
Perbendaharaan, dan DJPPR.
Perencanaan dan Pengelolaan Arus Kas untuk Pembiayaan Anggaran

A. Instrumen Pembiayaan
UU No. 24 Tahun 2002 mengatur tentang SBN. Pasal 5 ayat 1 UU No.24
Tahun 2002 tersebut memberikan wewenang kepada Menteri Keuangan
untuk menerbitkan SBN setelah menerima persetujuan DPR, seperti yang
tercermin dalam UU APBN. Jenis-jenis SBN meliputi:
Surat Perbendaharaan Negara (SPN) dengan tenor hingga 12 bulan
danpembayaran biaya bunga yang langsung memotong jumlah pokok;
Surat Berharga Negara dengan tenor lebih dari 12 bulan dan dengan
kupon dan/atau pembayaran biaya bunga yang langsung memotong
jumlah pokok;
Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dalam mata uang Rupiah atau
mata uang asing, termasuk Ijarah, Musyarakah, dan Istisna;
SBN dapat diterbitkan dalam: mata uang Rupiah atau mata uang asing;
surat yang dapat diperdagangkan atau tidak dapat diperdagangkan,
serta kupon dengan bunga tetap, mengambang atau nihil.
Perencanaan dan Pengelolaan Arus Kas untuk Pembiayaan Anggaran

B. Pengelolaan Arus Kas terkait dengan Pembiayaan

DJPPR menyiapkan informasi tentang pembayaran utang yang akan


jatuh tempo pada suatu tahun anggaran untuk disertakan ke dalam
anggaran pemerintah, baik untuk utang langsung pemerintah
maupun utang penjaminan pemerintah. Rekening Kas Umum
Negara (RKUN) yang dikelola oleh Ditjen Perbendaharaan digunakan
untuk membiayai pengeluaran terkait pembayaran utang.

Transaksi-transaksi pinjaman luar negeri dijalankan melalui KPPN


yang terpisah guna memastikan akuntabilitas dan mempermudah
rekonsiliasi arus-arus kas yang terkait denganpinjaman luar negeri.
Ditjen Perbendaharaan memiliki rekening-rekening terpisah untuk
transaksi pembayaran utang luar negeri dan dalam negeri.

Penempatan Jangka Pendek Surplus Saldo Kas Pemerintah

Kelebihan kas terdiri dari dana dalam mata uang apapun yang melebihi
sasaran saldo kas. Dana tersebut dapat digunakan untuk investasi
janga pendek (termasuk penempatan di bank komersial) dengan
mempertimbangkan prinsip-prinsip keamanan dan kehati-hatian dalam
alokasi dana negara secara efektif. Instrumen-intrumen yang tersedia
untuk penempatan dana surplus meliputi:
Penempatan kas negara di bank sentral;
Penempatan kas negara di bank komersial: pada deposito overnight
(1-3 hari); pada Deposit on Call yang dapat ditarik sewaktu-waktu
dengan pemberitahuan di awal; pada Deposito Berjangka yang dapat
ditarik pada tanggal jatuh tempo;
Pembelian obligasi pemerintah dari pasar sekunder; dan/atau
Repo/Reverse Repo

Ditjen Perbendaharaan tengah membangun infrastruktur untuk


menjalankan pengelolaan kas secara aktif, dan telah secara gencar
mengajukan usulan untuk pembentukan Dealing Room.