Anda di halaman 1dari 42

Financial Distress

Corporate Finance
Ross Westerfield Jaffe
Sixth Edition

Dipresentasikan oleh :
1. M. Yassin
2. Nur Khamilatusy S
3. Pindo Asti

Magister Manajemen
UNISSULA
LATAR BELAKANG
Salah satu aspek pentingnya analisis terhadap
laporan keuangan dari sebuah perusahaan adalah
kegunaannya untuk meramal kontinuitas atau
kelangsungan hidup perusahaan. Prediksi
kelangsungan hidup perusahaan sangat penting
bagi manajemen dan pemilik perusahaan untuk
mengetahui kondisi keuangan perusahaan dan
mengantisipasi kondisi yang menyebabkan
kemungkinan adanya potensi kebangkrutan.
DEFINISI
Financial distress merupakan suatu kondisi
dimana keuangan perusahaan dalam keadaan
tidak sehat atau sedang krisis. Dengan kata lain
financial distress merupakan suatu kondisi dimana
perusahaan mengalami kesulitan keuangan untuk
memenuhi kewajiban-kewajibannya.
Sedangkan kesulitan keuangan merupakan
kesulitan likuiditas sehingga perusahaan tidak
mampu menjalankan kegiatan operasinya dengan
baik (Trijadi, 1999).
Financial distress itu bisa berarti mulai dari kesulitan
likuidasi (jangka pendek), yang merupakan financial distress
yang paling ringan sampai ke pernyataan kebangkrutan,
yang merupakan financial distress yang paling berat
(Brahmana, 2007). Adapun kesulitan keuangan jangka
pendek yang biasanya bersifat sementara dan mungkin tidak
begitu parah, jika tidak ditangani secepat mungkin akibatnya
dapat berkembang menjadi kesulitan keuangan yang besar
dan jika terjadi berlarut-larut, perusahaan bisa dilikuidasi
ataupun direorganisasi. Dalam suatu kasus, likuidasi lebih
baik untuk dilakukan apabila nilai likuidasi aset perusahaan
adalah lebih besar jika dibandingkan dengan nilai
perusahaan apabila diteruskan (Wardhani, 2006).
Apa Penyebab Terjadinya Financial
Distress ?
Menurut Brahmana (2007), financial distress
terjadi karena perusahaan tidak mampu
mengelola dan menjaga kestabilan kinerja
keuangan perusahaannya yang bermula dari
kegagalan dalam mempromosikan produknya
yang berakibat pada turunnya penjualan
sehingga dengan pendapatan yang menurun
dari sedikitnya penjualan memungkinkan
perusahaan mengalami kerugian operasional dan
kerugian bersih untuk tahun berjalan.
Lebih lanjut lagi, dari kerugian yang terjadi tersebut akan
mengakibatkan defisiensi modal dikarenakan penurunan
nilai saldo laba yang terpakai untuk melakukan pembayaran
dividen kepada para pemegang saham, sehingga total
ekuitas secara keseluruhan pun akan mengalami defisiensi.
Apabila hal tersebut terus terjadi secara berkelanjutan,
maka tidak menutupi kemungkinan bahwa suatu saat total
kewajiban perusahaan akan melebihi total aktiva yang
dimiliki oleh perusahaan tersebut. Kondisi yang telah
disebutkan di atas mengasosiasikan suatu perusahaan
sedang mengalami kesulitan keuangan (financial distress)
yang pada akhirnya apabila perusahaan tidak mampu
keluar dari kondisi seperti yang telah dijelaskan di atas,
maka perusahaan tersebut akan mengalami kapailitan atau
kebangkrutan.
Indikasi terjadinya kesulitan keuangan atau
financial distress dapat diketahui dari kinerja
keuangan suatu perusahaan. Kinerja keuangan
dapat diperoleh dari informasi akuntansi yang
berasal dari laporan keuangan. Laporan keuangan
merupakan laporan mengenai posisi kemampuan
dan kinerja keuangan perusahaan serta infromasi
lainnya yang diperlukan oleh pemakai informasi
akuntansi.
Oleh karena itu diperlukan berbagai cara
untuk mencegah suatu perusahaan agar
tidak terjebak pada kondisi financial distress,
salah satunya adalah melakukan prediksi
financial distress di suatu perusahaan.
Dengan mengetahui kondisi financial distress
diharapkan perusahaan dapat melakukan
tindakan-tindakan untuk mengantisipasi
kondisi yang mengarah pada kebangkrutan
sedini mungkin (Alimilia, 2004).
Salah satu hal yang berpengaruh
terhadap financial distress adalah financial
ratios, dimana bisa dilihat di dalam laporan
keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan.
Menurut standar akuntansi keuangan (2007) laporan
keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan
keuangan. Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari
neraca, laporan labarugi, laporan perubahan posisi
keuangan, catatan dan laporan lain yang berkaitan
dengan laporan tersebut.
Laporan keuangan yang diterbitkan oleh
perusahaan merupakan salah satu sumber
informasi mengenai posisi keuangan perusahaan,
kinerja serta perubahan posisi keuangan
perusahaan yang sangat berguna untuk
mendukung pengambilan keputusan yang tepat.
Agar informasi yang tersaji menjadi lebih
bermanfaat dalam pengambilan keputusan yang
tepat, data keuangan harus dikonversi menjadi
informasi yang berguna dalam pengambilan
keputusan ekonomis.
Kegunaan informasi jika suatu perusahaan mengalami
financial distress adalah:
1. Dapat mempercepat tindakan manajemen untuk
mencegah masalah sebelum terjadinya kebangkrutan.
2. Pihak manajemen dapat mengambil tindakan merger
atau takeover agar perusahaan lebih mampu untuk
membayar hutang dan mengelola perusahaan dengan
lebih baik.
3. Memberikan tanda peringatan dini/awal adanya
kebangkrutan pada masa yang akan datang.
Analisis rasio keuangan dapat digunakan
untuk menganalisis atau memprediksi
kebangkrutan dan financial distress agar
manajemen dapat mengambil tindakan untuk
mencegah kondisi yang tidak diinginkan. Prediksi
financial distress perlu untuk dikembangkan,
karena dengan mengetahui kondisi financial
distress perusahaan sejak dini diharapkan dapat
dilakukan tindakan tindakan untuk
mengantispasi yang mengarah kepada
kebangkrutan.
Variabel financial yang
digunakan

Rasio Leverage Rasio Aktivitas

Rasio Likuiditas Rasio Profitabilitas

Dikarenakan rasio-rasio ini dianggap dapat


menunjukkan kinerja keuangan dan efisiensi
perusahaan secara umum untuk memprediksi
terjadinya financial distress (Hanifah, 2013).
Rasio Leverage
Rasio leverage merupakan rasio yang
digunakan untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kewajiban-
kewajibannya baik itu jangka pendek
maupun jangka panjang jika pada suatu
saat perusahaan tersebut dilikuidasi. Rasio
ini menunjukkan seberapa banyak aset
perusahaan yang didanai dari hutang.
Dengan tingginya hutang yang dimiliki
perusahaan, maka perusahaan dipaksa
untuk menghasilkan pendapatan yang
lebih agar bisa membayar hutang dan
bunganya. Oleh karena itu, diperkirakan
ada hubungan positif antara rasio
leverage dengan financial distress.
Adapun dalam penelitian ini rasio leverage
diukur dengan menggunakan total debt to
asset ratio (Almilia dan Kristijadi, 2003).

DAR = Total Hutang


Total Aktiva
Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas menyatakan tingkat kemampuan
suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban
keuangannya pada saat ditagih. Tingginya rasio
likuiditas menunjukkan kemampuan perusahaan
untuk membayar kewajiban keuangannya pada
saat jatuh tempo. Oleh karena itu, diharapkan ada
hubungan negatif antara rasio likuiditas dan
financial distress. Adapun proxy pengukuran yang
digunakan untuk mengukur rasio likuiditas dalam
penelitian ini adalah current ratio (Almilia dan
Kristijadi, 2003).
CR = Aktiva lancar
Hutang lancar
Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas digunakan untuk mengukur
kemampuan perusahaan dalam mengelola
aset-asetnya sehingga memberikan aliran kas
masuk bagi perusahaan.
Tingginya rasio aktivitas menunjukkan
perusahaan mampu untuk menghasilkan
pendapatan atas terpakainya aset-aset mereka
untuk kegiatan operasi. Oleh karena itu,
diharapkan ada hubungan negatif antara rasio
aktivitas dengan financial distress.
TATO = Penjualan bersih
Total aktiva
Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas merupakan rasio yang mengukur
kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan
laba selama periode tertentu. Tingginya profitabilitas
suatu perusahaan akan menunjukkan bahwa
perusahaan mampu menghasilkan laba yang tinggi,
sehingga kenaikan aktiva juga akan terjadi dan akan
menjauhkan perusahaan dari ancaman financial
distress. Oleh karena itu, diperkirakan ada hubungan
negatif antara rasio profitabilitas dengan financial
distress.
ROA = Laba bersih
Total aktiva
ANALISIS PREDIKSI
FINANCIAL DISTRESS
METODE Z SCORE ALTMAN DAN
ZMIJEWSKI
Tujuan
Mendeteksi apakah perusahaan berpotensi
mengalami kebangkrutan atau tidak dapat dilihat dari
sebuah laporan keuangan suatu perusahaan. Analisa
yang sering digunakan dalam mengidentifikasi
kebangkrutan adalah analisa Z-score model Altman,
model Springate, model Zmijewski. Analisis tersebut
dikenal karena dalam mementukan prediksi
kebangkrutannya cukup akurat dan caranya tergolong
mudah. Analisa tersebut digunakan untuk memprediksi
suatu perusahaan tentang penilaian akan suatu kondisi
yang terjadi di perusahaan.
CONTOH ANALISIS PERBANDINGAN
PREDIKSI FINANCIAL DISTRESS PADA
PERUSAHAAN WHOLESALE DAN RETAIL
TRADE YANG TERDAFTAR
DI BURSA EFEK INDONESIA DENGAN
MENGGUNAKAN METODE Z- SCORE
ALTMAN DAN ZMIJEWSKI
Statistik Deskriptif Altman Perusahaan Non Distress
Dari tabel diatas dapat dilihat variabel WCTA
memiliki rata-rata yang sangat berbeda antara
kategori 1 dan kategori 2. Rata-rata WCTA kategori
1 dan 2 bernilai positif yaitu 0,0938 dan 0,2206.
Standar deviasinya tidak berbeda jauh, yaitu
0,54026 untuk kategori 1 dan 0,27069 untuk
kategori 2. Tetapi nilai standar deviasi kategori 1
lebih besar dari kategori 2. Hal ini berarti nilai
WCTA kategori 1 lebih berfluktuasi dibanding
kategori 2.

WCTA = kemampuan perusahaan untuk menghasilkan modal kerja bersih dari


keseluruhan total aktiva yang dimilikinya.
Modal kerja bersih yang negatif kemungkinan besar akan menghadapi masalah
dalam menutupi kewajiban jangka pendeknya karena tidak tersedianya aktiva
lancar yang cukup untuk menutupi kewajiban tersebut dan sebaliknya.
Variabel RETA memiliki rata-rata yang
sangat berbeda antara kategori 1 dan kategori 2.
Rata-rata RETA kategori 1 bernilai negatif yaitu
-0,1707 sedangkan ratarata RETA kategori 2
bernilai negatif yaitu -0,5129. Standard
deviasinya berbeda, yaitu 1,72747 untuk
kategori 1 dan 1,79521 untuk kategori 2. Hal ini
berarti nilai RETA kategori 1 dan kategori 2
memiliki fluktuasi yang sama.

RETA = menunjukan perbandingan antara saldo laba dengan total aktiva yang di
miliki perusahaan.
Variabel ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba ditahan
dari total aktiva perusahaan. Laba ditahan merupakan laba yang tidak dibagikan
kepada para pemegang saham. Dengan kata lain, laba ditahan menunjukkan berapa
banyak pendapatan perusahaan yang tidak dibayarkan dalam bentuk dividen kepada
para pemegang saham.
Variabel EBITTA memiliki rata-rata yang sangat
berbeda antara kategori 1 dan kategori 2. Rata-rata
EBITTA kategori 1 bernilai positif yaitu 0,0558 sedangkan
rata-rata EBITTA kategori 2 bernilai positif yaitu 0,0395.
Standar deviasinya tidak berbeda jauh, yaitu 0,19975
untuk kategori 1 dan 0,17682 untuk kategori 2. Tetapi nilai
standard deviasi kategori 1 lebih besar dari kategori 2. Hal
ini berarti nilai EBITTA kategori 1 lebih berfluktuasi
dibanding kategori 2.

EBITA = menunjukan perbandingan antara laba sebelum biaya bunga


dan pajak dengan total aktiva yang dimiliki perusahaan.
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari
aktiva perusahaan, sebelum pembayaran bunga dan pajak. Melemahnya faktor ini
merupakan indikator terbaik akan hadirnya kebangkrutan
Variabel MVEBVD memiliki rata-rata yang
sangat berbeda antara kategori 1 dan kategori 2.
Rata-rata MVEBVD kategori 1 bernilai positif
yaitu 0,8460 sedangkan rata-rata MVEBVD
kategori 2 bernilai positif yaitu 4,4266. Standard
deviasinya berbeda cukup jauh, yaitu 0,82009
untuk kategori 1 dan 5,96053 untuk kategori 2.
Hal ini berarti nilai MVEBVD kategori 2 lebih
berfluktuasi dibandingkan dengan kategori 1.

MVEBVD = kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban


dari nilai pasar modal sendiri (saham biasa).
Variabel SATTA memiliki rata-rata yang sangat berbeda
antara kategori 1 dan kategori 2. Rata-rata SATTA kategori
1 bernilai negatif yaitu 2,0665 sedangkan rata-rata SATTA
kategori 2 bernilai positif yaitu 1,1112. Standard deviasinya
berbeda cukup jauh, yaitu 1,88422 untuk kategori 1 dan
0,85078 untuk kategori 2. Hal ini berarti nilai SATTA
kategori 1 lebih berfluktuasi dibandingkan dengan
kategori 2.

SATTA = menunjukkan apakah perusahaan menghasilkan volume bisnis


yang cukup dibandingkan investasi dalam total aktivanya.
Rasio ini mencerminkan efisiensi manajemen dalam menggunakan keseluruhan
aktiva perusahaan untuk menghasilkan penjualan dan mendapatkan laba. Dengan
kata lain rasio ini mengukur besar kecilnya kemampuan manajemen dalam
menghadapi kondisi persaingan
Statistik Deskriptif Zmijewski Perusahaan Non Distress
Dari perbandingan metode prediksi Zmijewski antara perusahaan kelompok
Distress dengan Non Distress dapat dijelaskan sebagai berikut :

Nilai rata-rata pada kelompok perusahaan distres untuk variabel ROTA


memiliki nilai sebesar 0,0206 berbeda dengan nilai ROTA pada perusahaan non
Distress dengan nilai sebesar 0,0766. Kemudian untuk variabel TDTA pada
kelompok perusahaan distress memiliki nilai rata-rata sebesar 0,7494 yang
menunjukkan hasil lebih tinggi dibanding variabel yang non distress sebesar
0,4884.
Kemudian untuk variabel CACL pada variabel distress menunjukkan nilai
rata-rata sebesar 1,3392 dan rata-rata CACL pada kelompok non distress
sebesar 5,2088 lebih besar dari variabel distress.
ROTA = digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen dalam memperoleh
keuntungan (laba setelah pajak) yang dihasilkan dari rata-rata total aset yang
bersangkutan. Semakin besar ROA, semakin besar pula tingkat keuntungan yang
dicapai perusahaan sehingga kemungkinan suatu perusahaan dalam kondisi
bermasalah semakin kecil.

TDTA = mengindikasikan proporsi utang terhadap total aktiva perusahaan. Semakin


tinggi debt ratio maka semakin banyak kewajiban hutang dari aktiva perusahaan.

CACL = sampai sejauh mana tagihan- tagihan jangka pendek dari para kreditor dapat
dipenuhi dengan aktiva lancar yang diharapkan akan dikonversi menjadi uang tunai.
Semakin besar nilai current ratio maka semakin baik karena kewajiban perusahaan
dapat dipenuhi dengan aktiva lancar.
KESIMPULAN
ALTMAN ZMIJEWSKI
1. perusahaan yang mengalami distress
untuk menghasilkan modal kerja bersih 1. kemampuan manajemen pada
dari keseluruhan total aktiva yang perusahaan distress dalam
dimilikinya akan menghadapi masalah memperoleh keuntungan mengalami
dalam menutupi kewajiban jangka penurunan
pendeknya karena tidak tersedianya 2. Nilai TDTA perusahaan yang
aktiva lancar yang cukup untuk
menutupi kewajiban tersebut . mengalami distress tingi , sehingga
2. kemampuan perusahaan yang semakin tinggi debt ratio maka
mengalami distress untuk menghasilkan semakin banyak kewajiban hutang dari
laba dari aktiva perusahaan, sebelum aktiva perusahaan.
pembayaran bunga dan pajak 3. Perusahaan yang mengalami distress
mengalami kelemahan, hal ini tidak dapat memenuhi tagihan- tagihan
merupakan indikator hadirnya
kebangkrutan jangka pendek dari para kreditor yang
3. menurunnya kemampuan manajemen dapat dipenuhi dengan aktiva lancar
perusahaan yang mengalami distress yang diharapkan.
dalam menghadapi kondisi persaingan
TERIMAKASIH