Anda di halaman 1dari 20

Review

KELOMPOK 8

Hanna Sofia N. (21020115140120)


Rheza Fadhil P. (21020115130121)
Shabrina Adine Vania (21020115130122)
Hendi (21020115130123)
Hanifah Fairuza P. (21020115140124)
Sayoga Pradana (21020115140126)
Membangun Sistem Teori
Arsitektur Nusantara:
Merubah Angan-Angan
Menjadi Kenyataan
Iwan Sudrajat
Teori adalah susunan definisi dan konsep yang menyediakan
pandangan yang teratur tentang suatu kejadian, peristiwa,
dan situasi melalui keterangan tentang hubungan di antara
faktor-faktor perubahannya, untuk menjelaskan suatu kejadian
peristiwa dan situasi tersebut.
Kemampuan dari teori memberi manfaat pada proses
penyusunan ide atau pemikiran, proses membentuk gagasan
atau simpulan umum dari suatu kejadian, proses penyimpulan,
pembatasan wilayah kajian melalui inklusi dan ekslusi, dan
pemeriksaan data.
Teorisasi adalah proses pengulangan dari kreasi lalu
menuju kritik, kemudian kembali pada kreasi sehingga
menghasilkan teori yang baik yang diciri-cirikan oleh 7
kriteria, menurut Stephen P. Borgatti, yaitu teori yang
baik memberikan pemahaman tentang proses, bersifat
umum, keberlakuan teori bersifat terbatas dan relatif
sementara, keberlakuan dapat dibuktikan melalui
eksperimen, gagasan yang dikandung bersifat
sederhana, dapat membangun keterlibatan diantara
bidang serta menarik dan membawa pemahaman baru
sehingga menghasilkan perkiraan yang tidak terduga.
Jan B. Ave mencoba menjelaskan asal usul sejarah
penggunaan istilah Indonesia, Insulinde dan
Nusantara. Istilah Indonesia pertama kali dipakai oleh
G.W Earl dan J.R Logan tahun 1850. Istilah Insulinde
diciptakan oleh Edward Douwes Dekker dalam
manuskripnya. Istilah Nusantara ditemukan dalam
manuskrip berbahasa Jawa abad ke 14 dan 15 dan dalam
pararaton. Penelusuran yang dilakukan oleh Jan B. Ave
tidak dapat memberikan kepastian tentang bagaimana
istilah-istilah tersebut dipakai, karena maknanya yang
cenderung berubah dari waktu ke waktu.
Sistem Teori Arsitektur Nusantara mempunyai tujuan untuk
membangun Body of Knowledge yang memiliki waktu berlaku yang
lama dan mebutuhkan komitmen ilmiah yang berkesinambungan.
Eksistensi Sistem Teori Arsitektur Nusantara tergantung pada visi,
moral, tanggung jawab serta dorongan akademik para ahli arsitektur
di Indonesia untuk membangun body of knowledge.
Karena para ahli di Indonesia saat ini tidak mampu untuk
memahami kejadian arsitektur yang terjadi pada kehidupan bangsa
yang beranekaragam dan penuh dengan pernyataan yang seolah-
olah bertentangan dengan pendapat umum tetapi kenyataanya
mengandung kebenaran.
Kualitas keilmiahan Sistem Teori Arsitektur Nusantara,
bergantung pada 3 hal, yaitu: pemahaman, penyusunan
dan pengujian atas sekuens spasial historis gejala
arsitektur di Nusantara sebagai komponen dasar sistem,
proses dan kritik dan sintesis diantara komponen dasar,
kerangka pemikiran yang disepakati bersama oleh para
ahli yang terlibat.
Sumber Teori Arsitektur tidak harus dari dokumentasi yang
berbentuk teks, mengingat bahwa dahulu, pengungkapan
pandangan dan sikap dalam bentuk tulisan masih sangat langka.
Sumber Teori Arsitektur bersifat polyvalent sehingga jika
pada teks ada pembatasan yang terlalu ketat, akan mengurangi
lingkup cakupan pada teori arsitektur.
Saat ini, teori arsitektur harus mampu memberikan gambaran
tentang kerumitan fenomena arsitektur. Sehingga teori arsitektur
harus bersifat pluralistik, terbuka bagi berbagai pandangan,
tidak bersifat reduksionis, tidak mengutamakan kesinambungan
serta tidak berpura-pura untuk mendapat label tertentu.
Teori Arsitektur memiliki 4 jenis yang merupakan sumber
penting dalam sistem pemahaman suatu fenomena arsitektur,
yaitu:
Teori Sosial Ilmiah, yang berupa pernyataan tentang sifat,
fungsi dan pengaruh arsitektur dalam masyarakat dan nilai sosial
budaya tertentu. Teori Normatif, yaitu bagaimana arsitektur
berperan dalam masyarakat sehingga dapat mengantisipasi
fenomena arsitektur. Teori Kerja, tentang pedoman cara kerja
mereka yang terlibat dalam produksi arsitektur. Teori Akal Sehat,
mengarah pada pemikiran dan gagasan subyektif dari
pengalaman individu.
Berdasarkan lingkup problematisasinya teori arsitektur menurut
Edward Robbins dikelompokkan menjadi 3, yaitu:
1. Theory in Architecture
Teori ini merumuskan dan mendefinisikan prinsip-prinsip yang
berdasarkan teori dan pengaplikasian yang penting bagi pembuatan
desain bangunan yang baik. Teori ini kurang dilandasi pemahaman yang
mendalam
2. Theory of Architcture
Teori ini menjelaskan bagaimana para arsitek mengembangkan prinsip
dan menggunakan pengetahuan untuk proses desain dan pembangunan.
3. Theory about Arhitecture
Teori ini bertujuan menjelaskan pengaruh arsitektur, kedudukan
arsitektur, dan bagaimana arsitektur bekerja sebagai produser budaya
dan bagaimana aristektur digunakan dan diterima oleh masyarakat.
Saat ini, sangat diperlukannya teori arsitektur yang berasal dari
praktek arsitektural itu sendiri. Karena banyaknya para teoritisi
arsitektur yang kesulitan untuk berteorisasi, sehingga mereka berpaling
dan beralih pada bahan wacana diluar wilayah arsitektur. Pada akhirnya
mereka melakukan teorisasi ke dalam arsitektur, bukan teorisasi
arsitektur.
Teori arsitektur modern hingga kini hanya membahas sebagian dari
proses arsitektural saja, yakni proses gestasi atau terbentuknya
bangunan tetapi kurang memperhatikan proses habitasi dan bermukim.
Hal yang perlu dirubah adalah kebiasaan teoritikus dalam
mengambil sudut pandang. Lalu teori arsitektur yang selama ini
menjadi alat dominansi dari kaum elit harus dirubah menjadi sarana
untuk masyarakat umum.
Menurut Linda Pollark, kerangka peimikiran baru dibutuhkan untuk
menghapuskan pembagian pertentangan antara teori dan praktek.
Berbagai persiapan dibutuhkan dalam membangun Sistem
Teori Arsitektur yang menuntut komitmen jangka panjang dan
berkelanjutan. Antara lain, pembentukan suasana akademik
yang kondusif, pebentukan komunitas masyarakat ilmiah,
standarisasi prosedur keilmiahan, penyediaan sarana untuk
publikasi ilmiah dan pemeriksaan suatu karya oleh pakar lain di
bidang tersebut, dan kesepakatan bersama tentang paradigma.
Apresiasi Arsitektur dengan
Pengutamaan Potensi Pikiran
Tjahja Tribinuka
Menurut Tjahja Tribinuka pikiran adalah proses dalam memahami suatu kejadian
dan menterjemahkannya ke dalam suatu hasil.

Apresiasi arsitektur melalui pikiran bisa dilakukan dengan menelaah obyek


arsitektur, lalu menganalisa sebab dan akibatnya. Dari data yang didapat tersebut,
terdapat hal-hal yang perlu dicermati dalam membedakan pendataannya.
Pendataan dengan pikiran bersifat datar terhadap perasaan, tidak menimbulkan
emosi. Sedangkan pendataan dengan pikiran lebih bersifat obyektif karena terukur.

Ada beberapa langkah pemikiran yang dapat diambil untuk mencari data dalam
mengapresiasi arsitektur. Pertama, data tersebut dapat didapatkan melalui
pengalaman ketika berapresiasi atau pengetahuan yang didapatkan melalui teori.
Selanjutnya yang dapat dilakukan adalah menetapkan kesimpulan atau rangkuman
atas perbandingan data yang didapat oleh apresiator. Di dalam tahap ini,
apresiator mencari beberapa persamaan dari berbagai data dan perbandingan. Jika
tidak dapat dicari persamaannya, langkah yang dapat diambil adalah hanya
membuat rangkumannya saja.
Membaca dan
Menerjemahkan
(upaya interpretasi ke
implementasi desain)

Oleh : Abdul Malik, Ir. MSA


Merujuk dari kata iqra, kata tersebut harus di telaah
lebih dalam karena memiliki arti yang lebih dari sekedar
membaca. Kata iqra sendiri memiliki ragam makna seperti,
menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti untuk
mengetahui ciri sesuatu dll. Dengan kata lain, membaca
merupakan bagian dari proses belajar. Membaca dan belajar
adalah kegiatan mengeksplorasi dan merekam
( menghimpun) apapun yang dibutuhkan sifat keingin
tahuan manusia untuk peningkatan kualitas diri si pelaku.
Jadi membaca dan belajar merupakan 2 suku kata yg tidak
dapat dipisahkan. Orang tidak bisa jadi pandai hanya dari
membaca tanpa belajar.
Sebuah objek arsitektur dapat diibaratkan sebagai
suatu kumpulan teks yang terangkai dan terealisasi
melalui paparan fisik maupun non fisik yang ingin
mengkomunikasikan bahasa pemikiran pembuatnya.
Kehadiran karya arsitektur selalu ingin menyampaikan
pesan tertentu yang merupakan ekspresi dari
pembuatnya. Karya arsitektur dianggap unik dan original,
tetapi tidak mungkin ada 2 objek yang sama persis
kecuali memang sengaja dibuat untuk diulang lagi.
Setiap orang memilki cara masing-masing dalam
menyampaikan pikirannya, namun karena pesan yang
dihadirkan tidak tertulis maka dapat menimbulkan
penafsiran yang berbeda-beda.
Dalam memahami suatu objek diperlukan suatu kearifan.
Kearifan dapat diartikan sikap yang bijak, bijak berarti
mengetahui segala sesuatu secara baik dan selalu bersandar
pada filosofi nilai norma, etika, tatacara dan perilaku yang
benar dalam memandang situasi apapun. Sikap bijak berarti
menunjukan tingkat moralitas yang di bawa oleh etika.

Etika menjadi landasan pemahaman tentang konsep :


benar, salah, baik, buruk yang bermuara pada sikap
tanggung jawab terhadap perilaku. Jadi sebaiknya kita
menggunakan etika normatif. Contoh dalam suatu kasus
ingin membangun suatu bangunan baru dikawasan yang
terbaca amat kental identitas lokalnya. Solusi arsitekturalnya
memanfaatkan resep arsitektural yang ada di daerah
tersebut. Disini si pembuat paham bahwa penting untuk
Kawasan Pendrikan Kidul Sebagai Bahan Bacaan

Perkembangan Kota Semarang tidak lepas dari salah satu kampung


yaitu kawasan Pendrikan Kidul. Kawasan Pendrikan Kidul pada awalnya
dikuasai oleh Belanda, namun pada akhirnya berpindah kke tangan
mangkunegaran. Kawasan ini mulai berubah pola tatanannya pada saat
didirikan UDINUS. Keberadaan kampus merubah format kegiatan
perekonomian warganya, diantaranya merebaknya fotokopian, warung
makan, telpon umum, dan kamar-kamar kos.
Perubahan yang terjadi di kawasan Pendrikan Kidul umumnya masih
sama seperti daerah-daerah lain. Karena pemilik sudah berbuah, status
sosial pun berubah dan menurutkan hawa selera. Namun di sela-sela
perubahan tersebut, masih menyisakan jejak masa lalu yang terwakili
oleh sosok arsitektural kelas priyayi. Rata-rata hunian kaum priyayi
memiliki kapling yang lebih lebar. Kawasan ini tidak memiliki fasilitas
secara khusus, hanya sekolah dasar dan masjid sebagai ruang sosial
warganya. Interaksi sosial banyak dilakukan di ruang jalan. Keberagaman
Kerekatan ini di dukung dengan struktur tata ruang huniannnya.
Ini membuat antar warga dapat saling akrab berkomunikasi.
Namun kedekatan ini juga menuntut adanya etiket saling
menghargai privasi masing-masing antar penghuni.
Sebagai bagian dari sejarah kota, kawasan Pendrikan Kidul
perlu di pahami sebagai tempat yang punya sense of place.
Sudah seharusnya diperlakukan secara arif dan terhormat
dengan menjaga fungsi hunian dari perusakan karakter oleh
struktur besar yang menjulang seperti kampus UDINUS,
toleransi rasio dan skala garis langit sebagai kawasan hunian,
toleransi terhadap pertumbuhan dan peran ruang mikronya
sebagai bentuk kebertahanan kelangsungan hidup ekonomi
maupun sosial penghuni dll.