Anda di halaman 1dari 94

LAPORAN

KEDOKTERAN
KELUARGA
Hipertensi Grade II

Pembimbing :
dr. Hari Peni Julianti, M.kes, SpKFR

Disusun Oleh :
Astria Puspita Sari 131.0221.021 Sanitya Dwi Yuli
131.0221.008
Siti Maryam Istiqomah 131.0221.026 Nadia
Meisinta 131.0221.049
BAB I
PENDAHULUAN
Hipertensi:
Keadaan peningkatan tekanan darah dapat disebabkan
komplikasi dari aterosklerosis yang lama, pembentukan
trombus, jaringan parut, proliferasi sel otot polos
lumen arteri berkurang dan resistensi terhadap aliran
yang melintasi arteriyang akan berlanjut ke suatu
organ target seperti stroke, penyakit jantung koroner
(PJK) dan hipertrofi ventrikel kanan
Hipertensi seringkali
muncul tanpa gejala,
sehingga disebut
sebagai the silent killer
Hipertensi di seluruh dunia masih
tinggi dan mengalami peningkatan
setiap tahunnya Di Indonesia, hipertensi
sebagai penyebab kematian
Lebih dari seperempat jumlah populasi nomor 3 setelah stroke dan
dunia menderita hipertensi, tuberculosis. Dengan
diperkirakan menjadi penyebab prevalensi sebesar 31,7%
kematian sekitar 7,1 juta orang di (Data Riskesdas , 2010)
seluruh dunia (13% dari total
Pelayanan Pada pembinaan kasus
kedokteran keluarga kali ini akan dikemukakan
memegang peran mengenai hipertensi dan
faktor-faktor yang dapat
yang sangat besar mempengaruhi
dalam keberhasilan
menyelesaikan penatalaksanaannya baik
permasalahan yang dari segi genetik,
ada di masyarakat perilaku, lingkungan dan
pelayanan kesehatan
Oleh karena itu
Mengingat sifat pengobatan diperlukan suatu
penyakit ini yang harus terus pendekatan dokter
dilakukan seumur hidup keluarga agar
peran serta keluarga akan penatalaksaan yang
sangat berpengaruh diberikan dapat
optimal
Tujuan
MANFAAT
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA

HIPERTENSI
DEFINISI
Menurut American Society of
Hypertension (ASH) hipertensi
adalah suatu sindrom atau kumpulan
gejala kardiovaskuler yang progresif,
sebagai akibat dari kondisi lain yang
kompleks dan saling berhubungan
DEFINISI
Menurut WHO tekanan darah dianggap
normal bila sistoliknya 120-140 mmHg dan
diastoliknya 80-90 mmHg sedangkan
dikatakan Hipertensi bila lebih dari 140/90
mmHg dan diantara nilai tersebut dikatakan
normal tinggi. Batasan ini berlaku bagi
orang dewasa diatas 18 tahun.
TEKANAN DARAH = CURAH
JANTUNG X TAHANAN PERIFER

HIPERTENSI = PENINGKATAN CJ
DAN / ATAU PENIGKATAN TAHANAN
PERIFER
EPIDEMIOLOGI

Data epidemiologi menunjukkan bahwa dengan makin


meningkatnya populasi usia lanjut maka jumlah pasien dengan
hipertensi kemungkinan juga akan semakin bertambah.
Sampai saat ini, data hipertensi yang lengkap sebagian besar
berasal dari negara-negara yang sudah maju.
Data dari The National Health and Nutrition Examination Survey
(NHNES) menunjukkan bahwa dari tahun 1999-2000, insiden
hipertensi pada orang dewasa terjadi sekitar 29-31% yang
berarti terdapat 58-65 juta oraang dan terjadi peningkatan
sekitar 15 juta dari data NHANES III tahun 1998-1991.
Hipertensi esensial juga merupakan kasus terbanyak 95% dari
seluruh kasus hipertensi
ETIOLOGI
Etiologi
Hipertensi
Hipertensi
Esensial
Sekunder
(Primer)
genetika, lingkungan,
hiperaktivitas, Penyakit parenkim
susunan saraf renal/vakuler renal.
simpatik, system Penggunaan
rennin angiotensin, kontrasepsi oral
efek dari ekskresi Na, yaitu pil, gangguan
obesitas, merokok dan endokrin
stres
FAKTOR RISIKO
Faktor Risiko
Tidak dapat
Dapat dirubah
dirubah

- Kegemukan
- Umur - Psikologis dan
- Jenis stress, ras
- Asupan garam Na
kelamin - Merokok
- Keturunan - Alkohol
- Garam
- Hiperkolesterol
Faktor resiko

Umur : faktor struktur pembuluh darah


menjadi semakin kaku
Genetik : keturunan akan
mempengaruhi sekitar 30-40% dalam
keluarga penderita hipertensi
Jenis kelamin : pria > wanita karena
pria diduga faktor gaya hidup yg lebih
tinggi
Obesitas : Pada orang yang obesitas terjadi
peningkatan kerja pada jantung untukmemompa
darah agar dapat menggerakan beban berlebih
dari tubuh tersebut.
Stress psikis : berpengaruh terhadap sistem
simpatis
Rokok : nikotin dan karbon monoksida yang
dihisap melalui rokok yang masuk ke dalam
aliran darah dapat merusak lapisan endotel
pembuluh darah arteri mengakibatkan proses
artereosklerosis dan tekanan darah tinggi.
Alkohol : Mekanisme masih belum jelas. Namun,
diduga peningkatan kadar kortisol, dan peningkatan
volume sel darah merah serta kekentalan darah
berperan dalam menaikan tekanan darah. Beberapa
studi menunjukkan hubungan langsung antara
tekanan darah dan asupan alkohol, dan diantaranya
melaporkan bahwa efek terhadap tekanan darah
baru nampak apabila mengkonsumsi alkohol sekitar
2-3 gelas ukuran standar setiap harinya.
Garam berlebihan : menyebabkan
penumpukan cairan dalam tubuh karena
menarik cairan di luar sel agar tidak
dikeluarkan, sehingga akan meningkatkan
volume dan tekanan darah. Konsumsi
garam 3 gram atau kurang, ditemukan
tekanan darah rata-rata rendah, sedangkan
konsumsi 7-8 gram TD tinggi.
Ras : kulit hitam > kulit putih. Orang
dengan kulit hitam stres atau rasa tidak
puas pada nasib mereka
Kolesterol : hubungan dengan kejadian
aterosklerosis TD meningkat
MEKANISME
PENGATURAN
TEKANAN DARAH
Sumber : Farmakologi FK UI
PATOFISIOLOGI
Patofisiologi
Faktor risiko, seperti : diet dan asupan
garam, stres, ras, obesitas, merokok,
genetik
Sistem saraf simpatis
Keseimbangan antara modulator vasodilatasi
dan vasokontriksi : endotel pembuluh darah
berperan utama tetapi remodeling dari
endotel, otot polos dan interstisium juga
memberikan kontribusi akhir
Pengaruh sistem otokrin setempat yang
berperan pada sistem renin,
angiotensin dan aldosteron
Patofisiologi
Faktor risiko, seperti : diet dan asupan
garam, stres, ras, obesitas, merokok,
genetik
Sistem saraf simpatis
Keseimbangan antara modulator vasodilatasi
dan vasokontriksi : endotel pembuluh darah
berperan utama tetapi remodeling dari
endotel, otot polos dan interstisium juga
memberikan kontribusi akhir
Pengaruh sistem otokrin setempat yang
berperan pada sistem renin,
angiotensin dan aldosteron
Klasifikasi

WHO JNC VII

HIPERTENSI

Etiologi Berdasarkan
organ yang
terlibat
WHO
Sistolik Diastolik
Kategori (mmHg) (mmHg)
Tekanan darah optimal < 120 < 80
Tekanan darah normal 120-129 80-84
Tekanan darah normal 130-139 85-89
tinggi
Hipertensi ringan 140-159 90-99
Hipertensi sedang 160-179 100-109
Hipertensi berat >180 > 110
JNC VII
Kategori Sistol Dan / atau Diastol (mmHg)
(mmHg)
Normal <120 Dan <80
Pre hipertensi 120-139 Atau 80-89
Hipertensi 140-159 Atau 90-99
tahap 1
Hipertensi 160 Atau 100
tahap 2
Berdasarkan Organ yang
Terlibat
Kelompok Biasa Mendesak Darurat (Emergency)
(Urgency)
Tekanan Darah < 180/110 > 220/140 > 220/140
Gejala Tidak ada, kadang Sakit kepala Sesak napas, nyeri dada,
sakit kepala, hebat, sesak kacau, gangguan
gelisah napas kesadaran

Pemeriksaan Organ target tidak Gangguan organ Ensefalopati, edema


Fisik ada gangguan terget paru, gangguan fungsi
ginjal, iskemia jantung

Pengobatan Awasi 1 3 jam Awasi 3-6 jam, Pasang jalur intravena,


mulai/teruskan obat oral periksa laboraturium
obat oral, naikkan berjangka kerja standar, terapi obat
dosis pendek intravena

Rencana Periksa ulang Periksa ulang Rawat ICU


dalam 3 hari dalam 24 jam
Kerusak
an
Target
organ
Berdasarkan Etiologi
Hipertensi
Hipertensi
Esensial
Sekunder
(Primer)
genetika, lingkungan,
hiperaktivitas, Penyakit parenkim
susunan saraf renal/vakuler renal.
simpatik, system Penggunaan
rennin angiotensin, kontrasepsi oral
efek dari ekskresi Na, yaitu pil, gangguan
obesitas, merokok dan endokrin
stres
Diagnosis

Pemeriksaan
fisik Anamnesis
tekanan darah
Pemeriksaan
penunjang
TATALAKSANA
Penatalaksanaan
Tujuan terapi :

Target tekanan darah <140/90 mmHg, untuk


individu berisiko tinggi (diabetes, gagal ginjal
proteinuria) <130/80 mmHg
Penurunan morbiditas dan mortalitas
kardiovaskular
Menghambat laju penyakit ginjal proteinuria
Terapi
Medikamento
sa
Terapi yang dianjurkan oleh JNC
VII adalah :

-Diuretik,
-ACE inhibitor,
-Angiotensin II Receptor Bloker
atau AT1 receptor bloker (ARB),
-Beta Bloker,
-Calsium Channel Blocker.
Pemilihan obat hipertensi
dipengaruhi oleh :

Faktor sosio-ekonomi
Profil faktor risiko kardiovaskular
Ada tidaknya kerusakan organ
target
Diuretik
Diuretik bekerja meningkatkan ekskresi natrium,
air dan klorida menurunkan volume darah dan
cairan ekstreseluler penurunan curah jantung
dan tekanan darah.
ACE Inhibitor dan ARB
ACE inhibitors

menghambat perubahan angiotensin I


menjadi angitensin II terjadi vasodilatasi
dan penurunan sekresi aldosteron.
-Vasodilatasi akan menurunkan tekan darah.
-Penurunan sekresi aldosteron
menyebabkan ekskresi air dan natrium dan
retensi kalium.
Di ginjal, ACE inhibitor menyebabkan
vasodilatasi arteri renalis memperbaiki
aliran filtrasi glomerulus dan menurunkan
tekanan intraglomerular.
ARB (Antagonis Reseptor
Angiotensin II)
bekerja selektif pada reseptor AT1 Pemberian
obat ini akan menghambat efek vasokontriksi,
sekresi aldosteron, rangsangan saraf simpatis,
sekresi vasopresin
Beta bloker
dikaitkan dengan hambatan reseptor beta1 yaitu
penurunan frekuensi denyut jantung dan
kontraktilitas miokard menurunkan curah
jantung, hambatan sekresi renin di sel
jukstaglomeruler ginjal dengan akibat penurunan
produksi angiotensin II, efek sentral yang
mempengaruhi aktivitas saraf simpatis.
CCB (calsium canal
blocker)
menghambat influks kalsium sehingga
terjadi hambatan kontraktilitas di otot
jantung dan otot polos vaskular.
Selanjutnya terjadi relaksasi otot polos
vaskular, menurunkan kontraksi otot
jantung yang akan menurunkan tekanan
darah yang meningkat.
ALGORITMA TATALAKSANA
HIPERTENSI

2014 Evidence-Based Guideline for the Management of High Blood


Pressure in Adults: Report From the Panel Members Appointed to
the Eighth Joint National Committee (JNC 8)
Penanganan Hipertensi Menurut
JNC VII
Tata laksana komprensif
Modifikasi Rekomendasi Penurunan Tekanan Darah
Menurunkan Berat Badan Mengendalikan berat badan sesuai 2,5 5 kg menurunkan diastole 5
dengan IMT normal yaitu 18,5-24,9 kg/ mmHg

Diet dengan mengadopsi Cukup asupan kalium (potassium) Menurunkan sistolik 8 14 mmHg
diet DASH (Dietary dengan mengkonsumsi buah, sayuran
Approaches to Stop dan makanan yang rendah lemak.
Hypertension) yaitu diet
sehat untuk membantu
terapi ataupun mencegah
hipertensi.

Diet rendah garam Kurangi asupan garam sampai kurang Menurunkan tekanan sistolik
dari 2.300 mg (satu sendok teh) setiap sebanyak 5 mmHg dan tekanan
hari. darah diastolik sekitar 2,5
mmHg

Latihan fisik (Olahraga), Olahraga yang tepat adalah jalan kaki, 4-9 mmHg
meditasi, dzikir bersepeda, senam dan berenang atau
olahraga aerobik. Contohnya : jalan kaki
cepat 3-5 kali seminggu, dengan lama
latihan 20-60 menit dalam sekali latihan

Batasi konsumsi alkohol Mengurangi konsumsi alkohol yaitu 2


gelas/hari untuk pria, dan 1 gelas untuk
wanita.
KOMPLIKASI
Otak : Stroke
Jantung : Aterosklerosis, penyakit jantung koroner, gagal
jantung
Mata : Kebutaan (pecahnya pembuluh darah pada mata)
Paru-paru : Edema paru
Ginjal : Penyakit ginjal kronik
Sistemik :Penyakit arteri perifer atau penyakit oklusi arteri
perifer
PROGNOSIS
Hipertensi dapat dikendalikan dengan baik dengan
pengobatan yang tepat.
Terapi dengan kombinasi perubahan gaya hidup dan
obat-obatan antihipertensi biasanya dapat menjaga
tekanan darah pada tingkat yang tidak akan
menyebabkan kerusakan pada jantung atau organ lain.
Kunci untuk menghindari komplikasi serius dari
hipertensi adalah mendeteksi dan mengobati sebelum
kerusakan terjadi.
Pendekatan
Kedokteran
Keluarga
Definisi Keluarga

UU No. 10 Tahun 1992 keluarga


adalah unit terkecil dalam masyarakat yang
terdiri dari suami istri, atau suami istri dan
anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu
dan anaknya.
Menurut Friedman keluarga adalah
kumpulan dua orang manusia atau lebih
yang satu sama lain saling terkait secara
emosional, serta bertempat tinggal yang
sama dalam satu daerah yang berdekatan.
Menurut Goldenberg (1980) keluarga
adalah tidak hanya merupakan suatu kumpulan
individu yang bertempat tinggal yang sama
dalam satu ruang fisik dan psikis yang sama
saja, tetapi merupakan suatu sistem sosial
alamiah yang memiliki kekayaan bersama,
mematuhi peraturan, peranan, struktur
kekuasaan, bentuk komunikasi, tata cara
negosiasi, serta tata cara penyelesaian masalah
yang disepakati bersama, yang memungkinkan
berbagai tugas dapat dilaksanakan secara
efektif.
PERAN DOKTER
KELUARGA
Continuity of Care (Pelayanan yang
Berkesinambungan).
Comprehensive of Care (Pelayanan Yang
menyeluruh).
Coordination of Care (Pelayanan yang
terkoordinasi).
Community (Masyarakat).
Prevention (Pencegahan).
Family (Keluarga).
BAB III

LAPORAN HASIL
KUNJUNGAN
RUMAH
Identitas Pasien
Nama : Tn. W
Umur : 55 Tahun
Jenis Kelamin : Laki - laki
Status Perkawinan : Menikah
Alamat : Dusun Sodongan, RT 011/RW
004 Desa Bumiharjo, B
Borobudur, Kabupaten
Magelang
Agama : Islam
Suku Bangsa : Jawa
Pendidikan Terakhir: SD
Pekerjaan : Buruh tani / Guru Ngaji
Genogram
Hiperten
si dan
stroke

Karakteristik
Demografis
Keluarga

Karakteristik
Kedatangan
Pasien ke
Puskesmas
Daftar Anggota Keluarga
No Nama
Kandung
Kedudukan JK Umur Pendi- Pekerjaan Ket
dalam (th) dikan
Keluarga

1 Warsito KK L 55 Tamat SD Buruh tani / Sakit


Guru Ngaji
2 Siti Aisah Istri KK P 45 Tamat SD IRT dan Sehat
Wiraswasta
3 Ulfa Alif Anak I P 30 SMA Ibu Rumah Sehat
Tangga
4 M. Anak II L 28 STM Karyawan Sehat
Muchorobin
5 M. Rafa Cucu L 7 - - Sehat

6 Doni S Cucu L 3 - - Sehat


Resume Penyakit dan
Penatalaksanaan
Anamnesis
Anamnesis dilakukan pada hari Rabu, tanggal
29 April 2015 pukul 11.00 WIB di Puskesmas
Borobudur.
Keluhan Utama
Sakit kepala sejak 2 hari yang lalu.
Keluhan Tambahan
Terasa berat pada tengkuk.
Riwayat Penyakit Sekarang
Riwayat Penyakit Dahulu :
Diabetes melitus : disangkal
Hipertensi : disangkal
Sakit Jantung : di sangkal
Sakit Paru : di sangkal
Stroke : di sangkal

Riwayat Penyakit Keluarga


Ibu pasien menderita darah tinggi dan stroke
Riwayat Kebiasaan :
Konsumsi ikan asin setiap hari selama 2
tahun terakhir.
Minum kopi 3 gelas perhari sejak pasien
remaja.
Merokok sejak 30 tahun yang lalu
sebanyak 1 bungkus perhari
Pasien tidak suka berolahraga.
Hasil Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum: Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
BB: 60 Kg
TB : 160 Cm
Tanda vital :
TD : 170/100 mmHg
Pernapasan :20x/menit
Nadi :98x/menit
Suhu :36,7o C
Status Generalis
Kepala:DBN
Mata : Visus : 6/6,Gerakan bola mata ke segala
arah,kornea arcus senilis (+/+), konjungtiva anemis (-/-),
sklera ikterik (-/-), iris berwarna hitam, pupil bulat, reflek
cahaya pupil langsung (+/+) dan reflek cahaya pupil tak
langsung (+/+).
Hidung: DBN
Mulut : Mukosa bibir basah.
Telinga : Serumen (-/-), sekret (-/-).
Leher : Pembesaran KGB (-), deviasi trakea (-)
Toraks : Normochest
Jantung : DBN
Paru : DBN
Abdomen : DBN
Genitalia : Tidak dilakukan
Ekstremitas : DBN
Status Neurologi
Px. Nervus Cranialis : DBN
Tanda Rangsang Meningeal : DBN
Reflex Fisiologi : DBN
Reflex Patologi : (-)
Reflex Motorik : DBN
Pemeriksaan Sensorik : DBN
Sikap dan Koordinasi : DBN
Fungsi Vegetatif : DBN

Diagnosis Kerja
Hipertensi Grade II
Rencana
Penatalaksanaan
Non Medikamentosa (Edukasi)
Medikamentosa Disarankan untuk periksa EKG
Lab (fungsi ginjal, kolesterol, gula
darah)
Captopril 25
mg, 2 kali 1 per Edukasi mengenai hipertensi, faktor
resiko, komplikasi yang dapat terjadi.
oral, Istirahat yang cukup dan olahraga
teratur
Pamol 500 mg,
1 kali 1 per oral Pola makan yang sehat, hindari
penggunaan penyedap rasa dan
(jika pusing). menghentikan konsumsi ikan asin,
kopi dan rokok
Pasien dianjurkan minum obat
teratur
Apabila terdapat keluhan segera
memeriksakan diri ke puskesmas
atau ke dokter untuk mendapat
penanganan lebih lanjut.
Hasil Penatalaksanaan
Medis
Obat yang diberikan dari Puskesmas
diminum.
Keluhan sakit kepala mulai berkurang.
Saat kunjungan rumah (Sabtu, 2 Mei 2015),
keadaan kesehatan pasien membaik, dan
aktivitas harian berlangsung seperti biasa.
Tekanan darah pasien 140/80 mmhg, Nadi
72 kali permenit, Pernapasan 18 kali
permenit, Suhu 36,8 o C
IDENTIFIKASI FUNGSI
Fungsi KELUARGA Fungsi
Biologis
dan Pendidika
Reproduk n
Fungsi
si
Psikologi

Fungsi
Ekonomi
dan
Pemenuhan Fungsi
Fungsi Kebutuhan Religius
Sosial dan
Budaya
Pola Konsumsi Makan
Pasien
Frekuensi makan 3 kali sehari.
Makanan diolah sendiri oleh istri pasien
dengan makanan yang bervariasi dan ikan
asin setiap hari.
Variasi makanan sebagai berikut: nasi, tahu,
tempe, ikan asin, sayur, kadang-kadang
diselingi telur. Pasien tidak minum susu dan
senang minum kopi 3 gelas perhari.
Identifikasi Faktor-faktor
yang Mempengaruhi
Kesehatan
Identifikasi
Lingkungan
Rumah
- Gambaran Lingkungan

- Ventilasi

- Pencahayaan

- Kamar Tidur Pasien

- Pembuangan Tinja dan


Jamban

- Kamar mandi

- Dapur

- Pembuangan Sampah dan


Kotoran
Diagnosis Fungsi Fungsi
Keluarga Fungsi
Fungsi Ekonomi dan
Biologis Pemenuhan
Kebutuhan

FungsiReli Fungsi
Fungsi
gius, Psikologis Penguasaan
Sosial dan Masalah dan
Budaya Kemampuan
Adaptasi

Faktor Faktor
Non Perilaku
Perilaku
Diagram Realita Yang Ada Pada
Keluarga
Tabel. Masalah kesehatan
dan
Risikorencana
dan pembinaan
No. Masalah Rencana Pembinaan Sasaran
Kesehatan
1. Hipertensi Grade II Edukasi, diskusi dan Pasien dan istri
konseling tentang hipertensi,
faktor risiko, gejala,
komplikasi, pengobatan dan
perubahan pola makan,
kebiasaan,olahraga serta
minum obat teratur
Tabel. Pembinaan Hasil
Kegiatan
Keluarga yang
Tanggal Kegiatan yang dilakukan Hasil kegiatan
terlibat
1 Mei 2015 Penyuluhan tentang penyakit Pasien dan istri Pengetahuan tentang
Hipertensi, dari faktor risiko, hipertensi dan gaya
tanda dan gejala, komplikasi, hidup sehat
pengobatan untuk pasien dan meningkat
penyuluhan tentang perubahan
gaya hidup

4 Mei 2015 Monitoring hasil penyuluhan Pasien dan istri Penyuluhan berhasil

11 Mei Evaluasi hasil penyuluhan Pasien dan istri Keluhan pasien


2015 berkurang dan tidak
terjadi kekambuhan
Komprehensive Pengelolaan
Pasien dan Keluarga
Kesimpulan Pembinaan
Keluarga
Diagnostik Holistik
Aspek Personal
Alasan kedatangan :
Pasien datang berobat ke puskesmas karena sakit
kepala dan nyeri pada tengkuk.
Harapan :
Pasien memiliki harapan untuk dapat sembuh dan
keluhan tidak bertambah memburuk.
Kekhawatiran :
Pasien khawatir akan kesehatan dirinya jika ia terus
mengalami keluhan seperti yang ia keluhkan saat ini.

Aspek Klinis
Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang disimpulkan sebagai berikut
:
Diagnosis kerja : Hipertensi Grade II
Aspek Internal
Genetik :
Terdapat faktor genetik dalam keluhan yang dialami
pasien.
Pola makan :
Pola makan pasien yang belum memenuhi pola gizi
seimbang.
Kebiasaan :
Pasien memiliki kebiasaan makan ikan asin, kopi,
merokok dan jarang berolahraga.
Spiritual :
Pasien percaya bahwa penyakit yang dideritanya adalah
ketentuan dari Allah SWT dan menerimanya, pasien juga
tidak lupa terus berdoa agar selalu diberikan kesehatan
Aspek Eksternal
Faktor pendukung kesehatan pasien :
adanya dukungan dari istri dalam mengupayakan agar
pasien mengkonsumsi pola makan gizi seimbang,
menghindari makanan yang asin, kopi dan rokok
melakukan aktivitas fisik/berolahraga,
memberitahu agar pasien rutin kontrol ke Puskesmas
dan meminum obat.
Derajat Fungsional
Menurut skala pasien termasuk derajat 0 dimana
pasien dapat secara ,mandiri melakukan seluruh
aktivitasnya tanpa dibatasi oleh masalah.
BAB IV
PENUTUP