Anda di halaman 1dari 46

LAPORAN KASUS

KEJANG DEMAM KOMPLEKS

WENNY RACHMITA MUHTI


NIM: 10101026

Pembimbing:
Dr. H. Wilson, Sp.A. M.Biomed
Definisi
Kejang demam bangkitan
kejang yang terjadi pada
kenaikan suhu tubuh (suhu
rektal di atas 38C) yang
disebabkan oleh suatu proses
ekstrakranium.
Kejang demam harus dibedakan
dengan epilepsi, yaitu ditandai dengan
kejang berulang tanpa demam
Bila anak berumur kurang dari 6 bulan
atau lebih dari 5 tahun mengalami
kejang didahului demam, pikirkan
kemungkinan lain misalnya infeksi
SSP, atau epilepsi yang kebetulan
terjadi bersama demam
EPIDEMIOLOGI
kejang demam umur 6 bulan - 5 tahun

Kejang demam lebih sering didapatkan pada laki-


laki daripada perempuan

AS, Amerika Selatan, dan Eropa Barat


mencapai 2 4%

Asia 20% di antara jumlah penderita


mengalami kejang demam kompleks
Klasifikasi
Kejang Demam Kejang Demam
Sederhana ( Simple Kompleks (Complex
Febrile Seizure) Febrile Seizure)
Kejang lama > 15
Kejang demam yang menit
berlangsung singkat
Kejang fokal atau
< 15 menit dan
parsial satu sisi atau
umumnya akan berhenti
sendiri kejang umum
didahului kejang
Kejang berbentuk umum parsial
tonik dan atau klonik,
tanpa gerakan fokal. Berulang atau lebih
dari 1 kali dalam 24
Kejang tidak berulang jam.
dalam 24 jam.
Menurut Livingstone, membagi kejang demam menjadi dua:

Kejang demam sederhana Epilepsi yang diprovokasi demam

Umur anak ketika kejang Kejang lama dan bersifat lokal


antara 6 bulan & 4 tahun
Umur lebih dari 6 tahun
Kejang berlangsung hanya
sebentar saja, tak lebih dari 15 Frekuensi serangan lebih dari 4
menit kali/tahun

Kejang bersifat umum, EEG setelah tidak demam


frekuensi kejang bangkitan abnormal
dalam 1 th tidak > 4 kali

Kejang timbul dalam 16 jam


pertama setelah timbulnya
demam

Pemeriksaan saraf sebelum


dan sesudah kejang normal

Pemeriksaan EEG yang dibuat


sedikitnya seminggu sesudah
suhu normal tidak
Faktor resiko
riwayat kejang demam pada orang tua atau
saudara kandung

perkembangan terlambat

problem masa neonatus

anak dalam perawatan khusus

kadar natrium rendah


Etiologi

Otitis media

gastroenteritis akut

infeksi saluran kemih

Infeksi saluran pernafasan atas


(tonsillitis dan faringitis)

Imunisasi DPT (pertusis) dan


campak (morbili) juga dapat
menyebabkan kejang demam
MANIFESTASI KLINIS

Umumnya kejang berlangsung singkat

Serangan kejang klonik atau tonik klonik

Sering berhenti sendiri

Setelah kejang berhenti sadar tanpa defisit


neurologis
DIAGNOSIS

Adanya kejang , jenis kejang, kesadaran, lama


kejang, suhu sebelum/saat kejang, frekuensi,
interval, pasca kejang, penyebab demam
Anamnes diluar susunan saraf pusat.
is
Riwayat perkembangan, kejang demam
dalam keluarga, epilepsi dalam keluarga.
Singkirkan penyebab kejang lainnya

Pemeriks kesadaran, suhu tubuh, tanda rangsal


meningeal, tanda peningkatan tekanan
aan Fisik
intrakranial, tanda infeksi di luar SSP
Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan
cairan
serebrospinal
Pemeriksaan
Bayi < 12 bulan Elektroensefalo
laboratorium Pencitraan
sangat dianjurkan grafi
( darah perifer, dilakukan (CT-scan), (MRI)
elektrolit dan (EEG)
Bayi antara 12-18
gula darah )
bulan dianjurkan
Bayi > 18 bulan
tidak rutin
DIAGNOSIS BANDING
No Kriteri Banding Kejang Demam Epilepsi Meningitis
Ensefalitis

1. Demam Pencetusnya Tidak berkaitan Salah satu


demam dengan demam gejalanya demam

2. Kelainan Otak (-) (+) (+)

3. Kejang berulang (+) (+) (+)

4. Penurunan (+) (-) (+)


kesadaran
PENATALAKSANAAN
Dalam penanggulangan kejang demam ada 4
faktor yang perlu dikerjakan, yaitu :

Mengatasi kejang secepat mungkin

Pengobatan penunjang

Memberikan pengobatan rumat

Mencari dan mengobati penyebab


1. Penderita dimiringkan, mencegah aspirasi ludah atau lendir dari mulut

2. Jalan nafas dijaga agar tetap terbuka

3. Bila perlu berikan oksigen

4. Fungsi vital, keadaan jantung, tekanan darah, kesadaran, diikuti seksama

5. Perhatikan kebutuhan dan keadaan cairan, kalori dan elektrolit

6. Suhu yang tinggi harus segera diturunkan:


Kompres dingin, selimut dan pembungkus badan harus dibuka
Pemberian obat penurun panas: paracetamol 10-15 mg/kgBB atau ibuprofen 5-10
mg/kgBB

7. Bila masih kejang:


Diazepam IV atau per rectum
5 mg bila BB < 10 kg, 10 mg bila > 10 kg
Fenobarbital dgn dosis awal IM
30 mg untuk neonatus
50 mg untuk usia 1 bln 1 thn
75 mg untuk usia > 1 thn

Bila masih kejang :


15 mnt kemudian ulangi pemberian diazepam dgn dosis yang
sama
4 jam kemudian berikan fenobarbital dengan dosis
Hari pertama dan kedua : 8-10 mg/kgBB/hr - 2 dosis
Pemberian obat rumat
Pengobatan jangka panjang hanya diberikan jika kejang
demam menunjukan ciri-ciri sebagai berikut (salah satu):

Kejang lama > 15 menit

Kelainan neurologi yang nyata sebelum/sesudah kejang :


Hemiparesis, retardasi mental, hidrosefalus.

Kejang fokal

Pengobatan jangka panjang dipertimbangkan jika :

Kejang berulang 2 kali/lebih dalam 24 jam

Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan

Kejang demam 4 kali per tahun


EDUKASI PADA ORANG TUA

Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya


mempunyai prognosis baik

Memberitahukan cara penanganan kejang

Memberikan informasi mengenai kemungkinan


kejang kembali

Pemberian obat untuk mencegah rekurensi


memang efektif tetapi harus diingat adanya efek
samping obat.
Beberapa hal yang harus dikerjakan bila kembali
kejang

Tetap tenang dan tidak panik.

Kendorkan pakaian yang ketat terutama disekitar leher.

Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan


kepala miring. Bersihkan muntahan atau lendir di
mulut atau hidung. Walaupun kemungkinan lidah
tergigit, jangan memasukkan sesuatu ke dalam mulut.

Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang.

Tetap bersama pasien selama kejang.

Berikan diazepam rektal, dan jangan diberikan bila


kejang telah berhenti.

Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang


berlangsung 5 menit atau lebih
PROGNOSIS
Kematian
Dengan penanganan kejang yang cepat dan tepat, prognosa biasanya baik, tidak
sampai terjadi kematian. Dalam penelitian ditemukan angka kematian KDS 0,46
% s/d 0,74 %.

Terulangnya Kejang

Kemungkinan terjadinya ulangan kejang kurang lebih 25 s/d 50 % pada 6 bulan


pertama dari serangan pertama.

Epilepsi
Angka kejadian Epilepsi ditemukan 2,9 % dari KDS dan 97 % dari kejang demam
kompleks

Hemiparesis
Biasanya terjadi pada penderita yang mengalami kejang lama (berlangsung lebih
dari setengah jam) baik kejang yang bersifat umum maupun kejang fokal.

Retardasi Mental

Apabila kejang demam diikuti dengan terulangnya kejang tanpa demam,


kemungkinan menjadi retardasi mental adalah 5x lebih besar
ILUSTRASI KASUS
I. Identitas Pasien

Nama pasien : An. TNN

Nomor RM : 16.73.56

Umur : 1.6 tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Anak ke :2

Agama : Islam

Alamat : Jl. Sutomo Gg. Salak SIAK

Tanggal masuk : 25/07/2016

Tanggal diperiksa : 25/07/2016


Identitas Orang Tua

Ayah Ibu
Nama Tn. Rahim Ny.
Nugraha
Umur 34 Tahun 30 Tahun
Pekerjaan Karyawan Swasta Karyawati
Swasta
Agama Islam Islam
Perkawinan Pertama Pertama

ANAMNESIS
Autoanamnesis dan Alloanamnesis pada ayah
dan ibu pasien

KELUHAN UTAMA :

Kejang 15 menit SMRS


RIWAYAT PENYAKIT
SEKARANG

1 hari SMRS pasien demam, demam mendadak, terus-


menerus pasien sempat diberikan paracetamol sirup dengan
pemberian 4 kali sehari yang sudah di sediakan dirumah, tetapi
pasien masih demam (38.8 oC). Pasien juga mengeluhkan batuk
berdahak 1 minggu, pilek 2 hari, tidak disertai mual,
muntah dan sesak napas.
15 menit SMRS, pasien kejang sebanyak 1 kali, kejang
berlangsung 1 menit. Kejang terjadi seluruh tubuh, tangan
dan kaki pasien kaku, bibir membiru dan badan terlihat pucat.
Ayah pasien mengatakan sebelumnya pasien sedang bermain
dengannya tetapi setelah itu pasien tiba-tiba jatuh, kejang dan
tidak sadarkan diri. Pasien langsung dibawa ke RSUD Tengku
Rafian, tetapi pasien sadar dan langsung menangis ketika
berada didepan IGD. Pasien diberi oksigen dan obat penurun
panas.
Next..

1 jam di IGD pasien kembali kejang, kejang


berlangsung < 5 menit. Kejang seluruh tubuh.
Tangan dan kaki pasien kaku, mata mendelik ke
atas, bibir membiru (-), mulut tidak terkunci dan
tidak mengeluarkan busa. Pasien Buang air besar
sebanyak 1 kali, lembek, berwarna kuning. Buang
air kecil warna kuning jernih terakhir 4 jam SMRS.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU :
Riwayat menderita keluhan yang sama
disangkal
Riwayat trauma (-)

RIWAYAT PENYAKIT DALAM KELUARGA


:
Tidak ada keluarga pasien yang
mengeluhkan keluhan yang sama
RIWAYAT PEKERJAAN, SOSIAL EKONOMI, KEJIWAAN
& KEBIASAAN:

Kebiasaan :

Pasien tinggal di lingkungan tidak padat penduduk

Sumber air minum : Galon isi ulang

Pekarangan : bersih

Sampah : dikubur dan dibuang tempat pembuangan


sampah

Kesan: higiene dan sanitasi lingkungan baik


RIWAYAT KEHAMILAN DAN PERSALINAN:

Penyakit : Tidak ada Riwayat Persalinan : SC


atas indikasi PEB (RSIA Eria
Pemeriksaan Kehamilan : Bunda)
ANC rutin ke bidan dan
dokter spesialis obstetrik Keadaan bayi :
ginekologi (RSIA Eria Bunda)
Berat lahir : 2900 gr
Tindakan selama
kehamilan : USG 2 kali di Panjang badan : Lupa
RSIA Eria Bunda bulan ke 5 Lingkar kepala : Lupa
dan 8
Lingkar dada : Lupa
Lama hamil : 38-39 minggu
Saat lahir : Langsung
Riwayat konsumsi obat : menangis
Konsumsi obat dari dokter
SPOG Kelainan Bawaan : tidak ada
RIWAYAT IMUNISASI
Hepatitis B : saat lahir
Polio : saat lahir, 2 bulan, 4 bulan
BCG : 1 bulan (scar BCG + lengan kanan)
DPT : lupa
Campak : 9 bulan

Kesan : imunisasi dasar lengkap (menurut


ibu)
RIWAYAT PERTUMBUHAN DAN
PERKEMBANGAN

Riwayat tumbuh Riwayat tumbuh


Umur Umur
kembang kembang
Tertawa Lupa Lari lupa

Miring Lupa Gigi pertama tumbuh 9 bulan

Tengkurap Lupa Bicara 10.5 bulan

Duduk 6 bulan Membaca -

Merangkak 8 bulan Sekolah -

Berdiri 1 tahun

Kesan : tumbuh kembang sesuai umur


RIWAYAT MAKAN MINUM ANAK
Umur (bulan) ASI/PASI
02 ASI
24 ASI
46 ASI
68 ASI+bubur susu
8 10 ASI + Susu formula + nasi saring
10 12 ASI + Susu formula + nasi saring
1 tahun - ASI + Susu formula +
sekarang makanan keluarga

Kesan : kualitas dan kuantitas cukup


PEMERIKSAAN JASMANI

PEMERIKSAAN UMUM : PEMERIKSAAN FISIK:


Kepala : Normocephal, rambut warna hitam,
KU : Tampak sakit sedang distribusi merata, tidak mudah dicabut, UUB
sudah menutup.
Kesadaran : Composmentis
Kulit dan wajah: Tidak sembab
TD : 110/70 mmHg Mata : Conjungtiva pucat (-/-), sclera ikterik (-/-),
pupil isokor, refleks cahaya kanan/kiri (+/+)
Nadi : 90 x/menit
Hidung : Bentuk normal, septum deviasi (-),
nafas cuping hidung (-/-), sekret (-/-
Pernafasan : 28 x/menit
Telinga : Membran timpani intak, serumen (+/+),
Suhu tubuh : 38,3 C o sekret (-/-)

Mulut: Mukosa mulut basah, sianosis (-), gusi


Edema : tidak ada berdarah (-)

Ikterus : tidak ada Tenggorokan: Uvula ditengah, tonsil hiperemis


(-), T1-T1, faring hiperemis (-)
Berat Badan : 8.5 kg Lidah : Tidak kotor (-)

Tinggi Badan : 74 cm Leher : Trakea medial, tidak ada pembesaran


KGB, tidak ada peningkatan JVP (JVP 5-2 cm H2O)
BB/TB : -1 SD
Next..
Thoraks :

Paru : Batas jantung kanan bawah di spatium


intercostal IV dekstra linea parasternalis
Inspeksi : Bentuk dinding dada dan gerakan dekstra
dada simetris kanan dan kiri, retraksi (-) Pinggang jantung di spatium intercostal
III sinistra
Palpasi : Vocal fremitus simetris kanan dan
kiri Batas jantung kiri bawah di spatium
intercostal V sinistra 1 jari medial linea
Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru midclavicularis sinistra

Auskultasi: vesiculer (+/+), rhonki (-/-), Auskultasi :Bunyi jantung I dan II reguler,
wheezing (-) murmur (-), gallop (-)

Jantung : Abdomen :

Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat Inspeksi : Perut datar

Palpasi :Ictus cordis teraba spatium Auskultasi : Peristaltik (+) normal


intercostal V linea midclavicularis sinistra
Palpasi : Supel, nyeri tekan epigastrium (-),
Perkusi : hepar dan lien tidak teraba

Batas jantung kanan atas di spatium Perkusi : Timpani seluruh lapangan abdomen
intercostal II dekstra linea parasternalis
Next..
Ekstremitas :

Atas : Akral hangat, perfusi baik, CRT < 2 detik

Bawah : Akral hangat, perfusi baik, CRT < 2 detik

Refleks meningeal :

Kaku kuduk : (-) susah dilakukan (menangis)

Brudzinsky I : (-) susah dilakukan (menangis)

Brudzinsky II : (-) susah dilakukan (menangis)

Kernig : (-) susah dilakukan (menangis)

Laseque : (-) susah dilakukan (menangis)


PEMERIKSAAN PENUNJANG:

Pemeriksaan Darah Lengkap (tanggal 25 Juli 2016)

Hemoglobin : 9.7 gr %

Leukosit : 24.700 /mm3

Hematokrit : 29.8 %

Trombosit : 272.000/mm3

Eritrosit : 5.27 juta/mm3


RESUME :

Pasien datang dengan keluhan demam sejak


1 hari sebelum masuk rumah sakit. Demam
muncul mendadak dan terus menerus.
Pasien kejang sebanyak 2 kali dalam 24 jam,
kejang < 15 menit, kejang seluruh tubuh,
tangan dan kaki kaku, mata mendelik ke
atas. Batuk berdahak 1 minggu, pilek 2
hari. Pemeriksaan penunjang ditemukan :
Hemoglobin : 9.7 gr %
Leukosit : 24.700 /mm3
Hematokrit : 29.8 %
Trombosit : 272.000 /mm3
Eritrosit : 5.27 juta/mm3
DIAGNOSIS KERJA
Kejang Demam Kompleks

DIAGNOSIS BANDING
ETOF
Meningitis
Ensefalitis
PENATALAKSANAAN
Non Farmakologi :
Tirah baring
Makan makanan lunak 800 KKal
Farmakologi
O2 2-3 L/i
IVFD KaEn 3B 35 cc/KgBB/hari 4 tpm (makro)
Luminal Dosis awal 1 x 75 mg (IM) dilanjutkan luminal 2
x 40 pulv
Inj ceftriaxone inj 2x 400 mg/iv
Paracetamol Syrup 4 x 1 cth
Anjuran
Pantau vital sign
Kompres bila panas
PROGNOSIS

Ad Vitam : Dubia ad Bonam

Ad Functionam : Dubia ad Bonam

Ad Sanationam : Dubia ad Bonam


Follow up
Tanggal Objektif Terapi
Selasa, S/ - IVFD KaEn 3B4 tpm
26/07/ Demam (-), kejang (-) batuk berdahak (+), (makro)
2016 pilek (+), mual (-), muntah (-),
makan/minum (+/+), BAB dan BAK (-/+) - Inj ceftriaxone 2x400
dbn mg/iv
- Luminal 2 x 40 mg
O/
- Paracetamol Syr 4x1
KU : tampak sakit sedang, Kesadaran:
Composmentis cth
Vital sign : TD=110/70 mmHg, HR = 84 - Bromhexin 3x2,5 mg
x/menit, RR = 26 x/menit, T = 36,5 oC

PF : Mata : CA -/-, SI -/-. Thorak :


vesikuler +/+, Wh -/-, Rh -/-. Abdomen : supel,
Bu (+) normal. Ekstremitas : akral hangat,
perfusi baik, CRT < 2

A/
Hemodinamik stabil
Rabu S/ - IVFD plug
27/07/ Demam (-), kejang (-) batuk berdahak - Inj ceftriaxone 2 x
2016 (+), pilek (+), mual (-), muntah (-),
400 mg/iv
makan/minum (-/+), BAB dan BAK (+/
+) dbn - Luminal pyr 2 x 20
mg
O/
- Paracetamol Syrup 4 x
KU : tampak sakit sedang, Kesadaran:
Composmentis 1 cth
Vital sign : TD=110/70 mmHg, HR = 90 - Bromhexin 3 x 2.5 mg
x/menit, RR = 28 x/menit, T = 36.7 oC

PF : Mata : CA -/-, SI -/-. Thorak :


vesikuler +/+, Wh -/-, Rh -/-. Abdomen :
supel, Bu (+) normal. Ekstremitas : akral
hangat, perfusi baik, CRT < 2

A/
Hemodinamik stabil
Kamis S/ - IVFD plug
28/07/ Demam (-), kejang (-) batuk berdahak - Inj. Ceftriaxone
2016 (+), pilek (+), mual (-), muntah (-),
2x400 mg/iv
makan/minum (+/+), BAB dan BAK
(+/+) dbn - Luminal pyr 2x20
mg
O/
- Paracetamol syr 4x1
KU : tampak sakit sedang, Kesadaran:
Composmentis cth
Vital sign : TD=100/60 mmHg, HR = - Bromhexin pyr
92 x/menit, RR = 26 x/menit, T = 36.5 3x2.5 mg
o
C
- Vostrin syr 3 x cth
PF : Mata : CA -/-, SI -/-. Thorak :
vesikuler +/+, Wh -/-, Rh -/-. Abdomen :
supel, Bu (+) normal. Ekstremitas : akral
hangat, perfusi baik, CRT < 2

A/
Hemodinamik stabil
Jumat S/ - Luminal pyr 2x20 mg
29/07/ Demam (-), kejang (-) batuk berdahak - Paracetamol syr 4x1
2016 (+), pilek (+), mual (-), muntah (-),
cth
makan/minum (+/+), BAB dan BAK (+/
+) dbn - Vostrin syr 3 x cth
- Kontrol ke poli
O/
02/08/2016
KU : tampak sakit sedang, Kesadaran:
Composmentis
Vital sign : TD=110/70 mmHg, HR =
100 x/menit, RR = 28 x/menit, T = 36.7
o
C

PF : Mata : CA -/-, SI -/-. Thorak :


vesikuler +/+, Wh -/-, Rh -/-. Abdomen :
supel, Bu (+) normal. Ekstremitas : akral
hangat, perfusi baik, CRT < 2

A/
Hemodinamik stabil
DAFTAR PUSTAKA
Arif Mansjoer., d.k.k,. 2000. Kejang Demam di Kapita Selekta Kedokteran. Media
Aesculapius FKUI. Jakarta.

Behrem RE, Kliegman RM,. 1992. Nelson Texbook of Pediatrics. WB Sauders.Philadelpia.

Hardiono D. Pusponegoro, Dwi Putro Widodo dan Sofwan Ismail. 2006. Konsensus
Penatalaksanaan Kejang Demam. Badan Penerbit IDAI. Jakarta

Hardiono D. Pusponegoro, dkk,.2005. Kejang Demam di Standar Pelayanan Medis


Kesehatan Anak.Badan penerbit IDAI. Jakarta

Hasan, R., Alatas, H. (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI). 1985. Buku Kuliah 2 Ilmu
Kesehatan Anak. Jakarta: FKUI

Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2010. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak
Indonesia Jilid 1. Jakarta: IDAI

Rudolph AM. Febrile Seizures. Rudoplh Pediatrics. Edisi ke-20. Appleton dan Lange, 2002.

Febrile Seizures Fact Sheets: National Institutes of Neurology and Stroke Diunduh pada
tanggal 28 Juli 2016. Didapatkan dari:
www.ninds.nih.gov/disorders/febrile_seizures/detail_febrile_seizures.htm

Febrile Seizures: Causes, Symptoms, Diagnosis and Treatment. Diunduh pada tanggal 28
Juli 2016. Didapatkan dari: www.medicinenet.com/febrile_seizures/article.htm
Terima Kasih

TERIMA KASIH