Anda di halaman 1dari 21

PITFALL PADA DEMAM TIFOID

Rinang Mariko
Subbagian Infeksi Pediatri Tropis Anak
FK-UNAND/ RSUP Dr M Djamil Padang
Kasus Demam Tifoid

AD pr,usia 6 thn 4 bulan, dirawat di Rumah


Sakit selama 3 hari karena demam,selama
rawatan diperiksa Hb,leukosit,Ht,trombosit
serial,hari ke 4 demam dilakukan
pemeriksaan widal STH 1/80,STO 1/160
Karena demam tidak turun dirujuk ke RS
Dr.M.Djamil dengan keterangan observasi
febris ec DHF
Di RS Dr.M.Djamil Padang didiagnosa
dengan susp.demam tifoid
Pada hari ke 8,Tubex tes : +10
Pitfall Diagnosis
1.Gejala klinis sesuai demam tifoid,hasil
laboratorium tidak mendukung
Masalah negatif palsu
Waktu pengambilan dan jenis sampel yang tidak
tepat.
Orang tua pasien salah menentukan lamanya hari
sakit
Sensitifitas dan spesifisitas pemeriksaan
penunjang
Uji Diagnostik Sensitivitas (%) Spesifisitas (%) Keterangan
Pemeriksaan mikrobiologi
Biakan darah 40 80 NA Baku emes, namun sensitivitas rendah di daerah
endemis karena penggunaan antibiotik yang tinggi,

Perbandingan
Biakan sumsum tulang
beberapa 55 67 30
sehingga spesifisitas sulit diestimasi
Sensitivitas tinggi, namun invasive dan terbatas

pemeriksaan
Biakan urin
penunjang 58 NA
penggunaannya
Sensitivitas bervariasi

untuk
Biakan tinja
demam tifoid 30 NA Sensitivitas rendah di Negara berkembang dan
tidak digunakan secara rutin untuk pemantauan

Diagnostik molekular
PCR 100 100 Menjanjikan, namun laporan awal menunjukkan
sensitivitas mirip biakan darah dan spesifisitas
rendah

Nested PCR 100 100 Menjanjikan dan menggantikan biakan darah


sebagai baku emas baru

Diagnostik serologi
Widal 47 77 50 92 Klasik dan murah. Hasil bervariasi didaerah
endemis, perlu standarisasi dan kualitas kontrol dari
reagen

Typhidot 66 88 75 91 Sensitivitas lebih rendah dari Typhidot-M

Typhidot-M 73 95 68 95 Sensitivitas dan spesifisitas lebih tinggi

Tubex 65 88 63 89 Hasil menjanjikan dan harus diuji ditingkat


komunitas
Lainnya
Deteksi antigen urin 65 95 NA Data awal
NA = not available
2. Penderita menunjukkan sindroma klinis
enteric fever.
Namun bukti infeksi didapatkan infeksi
Salmonella paratyphi, sering
didiagnosisgejala demam tifoid
3. Penderita hasil laboratorium serologi positif
infeksi salmonella typhi.
Namun tidak menunjukan sindroma klinis
enteric fever sering didiagnosis sebagai
demam tifoid.
Pemeriksaan widal serum satu kali pada fase
akut, tidak mempunyai arti penting.
Sebaiknya dihindari karena:

1.Variabilitas alat pemeriksaan


2.Kesulitan memperoleh titer dasar dengan kondisi
stabil.
3.Paparan berulang S.typhi di daerah endemis
4.Reaksi silang terhadap non-Salmonella lain.
Pitfall Tatalaksana Demam Tifoid

Suportif :
-Cairan,diet
-Elektrolit
-Asam basa
Tatalaksana Demam
Tifoid Pada Anak Pengobatan Kausal:
-Medikamentosa
(antibiotika,kortikosteroid)
-Bedah
(pengobatan komplikasi)
Gejala demam tifoid anak lebih ringan
dibanding orang dewasa.
Diagnosis secara klinis seringkali sama
dengan penyakit yang lain terutama pada
minggu pertama
90% pasien demam tifoid anak tanpa
komplikasi, tidak perlu dirawat, pengobatan
oral dan istirahat baring
Dirawat di Rumah Sakit
Penderita dengan komplikasi
Keadaan umum yang buruk
Penderita usia < 3 bulan
Gejala klinis yang menetap (muntah, diare berat
atau perut kembung)
Pengobatan antibiotika iv
Imunodefisiensi
Diagnosis cepat dan pemilihan antibiotik
Istirahat, tatalaksana cairan dan koreksi elektrolit

Terapi antipiretik

Pemberian nutrisi
Hal diperhatikan dalam tatalaksana demam tifoid :
Kurangi kontak langsung selama fase akut atau
infeksi
Pantau dan monitor tanda komplikasi
Pitfall Tatalaksana Selama
Perawatan di RS

1. Pemilihan antibiotika
Antibiotika lini pertama : Kloramfenikol
Antibiotika lain yang dapat digunakan
Cotrimoxazole,Amoxicillin dan Ampicillin
Alternatif lain:
Cefixime bila kloramfenikol tak dapat diberikan
(jumlah leukosit<2000/ul,hipersensitif atau resisten)
2.Cara Pemberian Antibiotika

Kloramfenikol per oral bisa diberikan pada


penderita demam tipoid yang dirawat di RS,
dengan hasil yang baik
Kecenderungan memilih obat iv terutama
sefalosporin generasi ke 3
Pemberian iv: toleransi per oral tidak baik atau
bila harus memberikan antibiotika lini kedua.
3.Menentukan Respon Terapi dan
Perubahan Terapi

Lama demam turun (time of fever


defervescence) parameter
keberhasilan terapi
Demam tetap tinggi komplikasi,
fokus infeksi lain,resistensi atau salah
diagnosa
Penurunan Demam Setelah
Pemberian Antibiotik
Pada Demam Tifoid
Demam turun setelah
Jenis antibiotik pemberian antibiotik (hari)

Ampicillin/Amoxicillin 5,2 3,2


Trimetoprim-
Sulfametoksazol 6,5 1,3

Kloramfenikol 4,2 1,1

Ceftriaxone 5,4 1,5

Cefixime 5,7 2,1


Demam tipoid dengan MDRST secara klinis
ditandai :
Respon yang lambat terhadap terapi (>48-72 jam)
Sering mengalami komplikasi
Kemungkinan besar menjadi lebih fatal
Penggantian antibiotika bila:
Ada bukti atau dugaan kuat Antibiotika lini
pertama tidak optimal atau gagal diganti
pemberian lini ke 2, ceftriaxone atau cefotaxime
sampai hasil uji resistensi didapat.
4.Deteksi dan Tatalaksana Komplikasi
Komplikasi terjadi 10-15%,terutama demam
lebih dari 2 minggu
Tifoid dengan perubahan status mental
(delirium,letargi,penurunan kesadaran) harus
dievaluasi kemungkinan meningitis
(pemeriksaan cairan cerebrospinal)
Pemilihan antibiotika pada demam tifoid
dengan komplikasi berdasarkan kemampuan
penetrasi antibiotik ke lokasi infeksi.
Lakukan konsultasi bedah bila ada
kemungkinan perforasi usus,tindakan bedah
<6 jam.
Syok pada demam tifoid disebabkan oleh
perdarahan,sepsis dan kardiogenik.
5.Memulangkan Pasien dan Menghentikan
Pengobatan

Demam tifoid ringan-sedang dipulang setelah


2-3 hari bebas demam
Tifoid berat dirawat sampai komplikasi dapat
diatasi atau 5 hari bebas demam
5-20% relaps, dengan gejala klinis lebih
ringan
Tifoidkarier kronik 1-5%, 1 tahun setelah
sembuh,tinja atau kultur swab rectal S.Typhi
(+)
Diterapi dengan:
Ampicillin atau Amoxicillin ditambah Probenesid
(dosis awal 25 mg/KgBB ditingkatkan 40
mg/KgBB/hari po setiap 6 jam)
TMP-SMZ selama 4-6 minggu
TERIMA KASIH