Anda di halaman 1dari 13

KRISIS TIROID

Kelompok 6
Novitasari
Pia Indah Sari
Nina Lisnawati
Yanuar Saputra S
Tika Nisrina
Surya Nopriatama
Definisi
Krisis tiroid adalah kondisi hipermetabolik yang mengancam

jiwa dan ditandai demam tinggi dan disfungsi system

kardiovaskuler, system syaraf dan system saluran cerna.

Krisis tiroid adalah keadaan krisis terburuk dari status

tirotoksik. Penurunan kondisi yang sangat cepat dan

kematian dapat terjadi jika tidak segera tertangani

Krisis tiroid merupakan eksaserbasi keadaan hipertiroidisme

yang mengancam jiwa yang diakibatkan oleh dekompensasi

dari satu atau lebih sistem organ


Etiologi
Operasi dan urut/pijat pada kelenjar tiroid atau gondok dan operasi pada bagian

tubuh lainnya pada penderita hipertiroid yang belum terkontrol hormon tiroidnya

Trauma. Pada kasus trauma, dilaporkan bahwa pencekikan pada leher dapat

memicu terjadinya krisis tiroid, meskipun tidak ada riwayat hipertiroidisme

sebelumnya.

Pemakaian yodium yang berlebihan

Kanker pituitari

Infeksi

Stroke

Tiroiditis

Penyakit Grave
Patofisiologi
Pada orang sehat, hipotalamus menghasilkan thyrotropin-
releasing hormone (TRH) yang merangsang kelenjar pituitari
anterior untuk menyekresikan thyroid-stimulating hormone
(TSH) dan hormon inilah yang memicu kelenjar tiroid
melepaskan hormon tiroid. Tepatnya, kelenjar ini menghasilkan
prohormone thyroxine (T4) yang mengalami deiodinasi
terutama oleh hati dan ginjal menjadi bentuk aktifnya, yaitu
triiodothyronine (T3). T4 dan T3 terdapat dalam 2 bentuk: 1)
bentuk yang bebas tidak terikat dan aktif secara biologik; dan
2) bentuk yang terikat pada thyroid-binding globulin (TBG).
Kadar T4 dan T3 yang bebas tidak terikat sangat berkorelasi
dengan gambaran klinis pasien. Bentuk bebas ini mengatur
kadar hormon tiroid ketika keduanya beredar di sirkulasi darah
yang menyuplai kelenjar pituitari anterior.
Krisis tiroid timbul saat terjadi dekompensasi sel-sel tubuh
dalam merespon hormon tiroid yang menyebabkan
hipermetabolisme berat yang melibatkan banyak sistem
organ dan merupakan bentuk paling berat dari tirotoksikosis.
Gambaran klinis berkaitan dengan pengaruh hormon tiroid
yang semakin menguat seiring meningkatnya pelepasan
hormon tiroid (dengan/tanpa peningkatan sintesisnya) atau
meningkatnya intake hormon tiroid oleh sel-sel tubuh. Pada
derajat tertentu, respon sel terhadap hormon ini sudah
terlalu tinggi untuk bertahannya nyawa pasien dan
menyebabkan kematian. Diduga bahwa hormon tiroid dapat
meningkatkan kepadatan reseptor beta, cyclic adenosine
monophosphate, dan penurunan kepadatan reseptor alfa.
Kadar plasma dan kecepatan ekskresi urin epinefrin maupun
norepinefrin normal pada pasien tirotoksikosis.
Manifestasi klinik
Peningkatan frekuensi denyut jantung
Peningkatan tonus otot, tremor, iritabilitas, peningkatan kepekaan
terhadap katekolamin
Peningkatan laju metabolisme basal, peningkatan pembentukan
panas, intoleran terhadap panas, keringat berlebihan
Penurunan berat, peningkatan rasa lapar (nafsu makan baik)
Peningkatan frekuensi buang air besar
Gondok (biasanya), yaitu peningkatan ukuran kelenjar tiroid
Gangguan reproduksi
Tidak tahan panas
Cepat letih
Haid sedikit dan tidak tetap
Pembesaran kelenjar tiroid
Mata melotot (exoptalmus)
Pemeriksaan penunjang
Test T4 serum
Test T3 serum
Test T3 Ambilan Resin
Test TSH ( Thyroid Stimulating Hormone )
Test Thyrotropin_Releasing Hormone
Tiroglobulin
komplikasi
krisis tiroid yang tidak diobati dapat
menyebabkan angina pektoris dan infark
miokardium, gagal jantung kongestif, kolaps
kardiovaskuler, koma, dan kematian
(Hudak&Gallo, 1996).
Penatalaksanaan medis
Koreksi hipertiroidisme
Menormalkan dekompensasi homeostasis
Terapi suportif
Obat antiadrenergik
Pengobatan faktor pencetus
Asuhan keperawatan
Pengkajian
aktivitas
sirkulasi
eliminasi
Integritas
Makanan/cairan
Neurosensori
Nyeri/kenyamanan
pernapasan
Diagnosa keperawatan
Hipertermiberhubungan dengan peningkatan
metabolisme tubuh.
Deficit volume cairan tubuh
berhubungandenganpeningkatan motilitas usus
Perubahan perfusi jaringan cerebral
berhubungandenganpenurunan suplai O2ke otak
Penurunan curah jantung berhubungandenganhipertiroid
tidak terkontrol, keadaan hipermetabolisme, peningkatan
beban kerja jantung
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungandenganpeningkatan metabolisme
( peningkatan nafsu makan/pemasukan
Hipertermiberhubungan dengan peningkatan
metabolisme tubuh.
Tujuan :Mencapai Pemeliharaan Suhu TubuhNormal
dengan kriteria : Suhu dalam batas normal 36,5
Intervensi :
a.Pantau Tanda Vital (Suhu ) Tiap 2 jam(Menilai
peningkatan dan penurunan suhu tubuh)
b.Berikan Tambahan lapisan pakaian atau tambahan
selimut(Meminimalkan Kehilangan Panas)
c.Hindari dan cegah penggunaan sumber panas dari
luar(Mengurangi vasodilatasi perifer dan kolaps
vaskuler)
d.Lindungi Terhadap Pajanan hawa dingin dan
hembusan angin(Meningkatkan tingkat kenyamanan
pasien dan menurunkan lebih lanjut kehilangan panas)
Deficit volume cairan tubuh
berhubungandenganpeningkatan motilitas
usus
Tujuan : keseimbangan cairan tubuh
a.Tanda-tanda vital tetap stabil
b.Warna kulit dan suhu normal
c.Volume cairan tetap adekuat
d.Pasien memproduksi volume urine yang adekuat
e.Pasien mempunyai turgor kulit normal dan membrane mukosa lembab
f.Volume cairan dan darah kembali normal
Intervensi :
1)Pantau tanda-tanda vital setiap 2 jam atau sesering mungkin sesuai keperluan
sampai stabil.(Takikardia, dispnea, atau hipotensi dapat mengindikasikan kekurangan
volume cairan dan ketidakseimbangan elektrolit)
2)Kaji turgor kulit dan membrane mukosa mulut setiap 8 jam(Untuk memeriksa
dehidrasi dan menghindari dehidrasi membrane mukosa)
3)Ukur asupan dan haluaran setiap 1 sampai 4 jam. Catat dan laporkan perubahan
yang signifikan termasuk urine.(Haluaran urin yang rendah mengindikasikan hipovolemi)
4)Berikan cairan IV sesuai instruksi.(Untuk mengganti cairan yang hilang)
5)Timbang pasien pada waktu yang sama setiap hari(Berat badan merupakan
indicator yang baik untuk status cairan)