Anda di halaman 1dari 67

PENGATURAN FREKUENSI

Disiapkan untuk
Pendidikan Dan Pelatihan Pembidangan Prajabatan S1/D3
Semarang, MEI - JUNI 2010

Sudibyo

PT PLN (Persero)

1
Pengaturan Frekuensi
TUJUAN : Memahami prinsip dasar pengaturan frekuensi
dan pelaksanaannya di dalam operasi sistem
tenaga listrik

Pada akhir sesi, siswa dapat menjawab pertanyaan


berikut
1. Mengapa frekuensi perlu diatur?
2. Apa dampak jika frekuensi tidak diatur?
3. Bagaimana prinsip pengaturan frekuensi?
4. Bagaimana pengaturan frekuensi dilaksanakan?
5. Apa saja komponen sistem tenaga listrik yang
berperan dalam pengaturan frekuensi?

2
Operasi Sistem Tenaga Listrik
Mengoperasikan sistem pembangkitan
dan penyaluran secara rasional dan
ekonomis dengan memperhatikan mutu
dan keandalan, sehingga penggunaan
tenaga listrik dapat mencapai daya guna
dan hasil guna yang semaksimum
mungkin

3
Sasaran Operasi Sistem
Tenaga Listrik
Optimasi biaya
pengoperasian sistem
agar minimum tanpa
melanggar batasan
mutu dan keamanan
Kemampuan sistem
EKONOMI untuk menjaga agar
semua batasan operasi
terpenuhi

Kemampuan Sistem SEKURITA MUTU


untuk menghadapi
kejadian yang tidak S
direncanakan, tanpa
mengakibatkan
pemadaman Ketiganya tercapai
maksimum sekaligus
adalah hal yang ideal.
Cari komprominya

4
Keadaan Sistem

memperbaiki keekonomian

Normal

pemulihan cepat
menghindari
Pemulihan Siaga keadaan menuju
darurat

Darurat menyelamatkan
bagian sistem

5
Kemungkinan
Kemungkinan Gangguan
Gangguan Sistem
Sistem

Gangguan Kehilangan unit Kekurangan


unit pem- pembangkit pembangkitan
bangkit

Transmisi ber-
beban lebih
Jaringan Pengurangan Sistem
atau tegangan
terpisah beban collapse
rel jelek

Redundansi
jaringan Operasi
berkurang Islanding

Gangguan
transmisi

6
Tahapan
Tahapan Operasi
Operasi Sistem
Sistem

Dispatch

Pre Post
Dispatch Dispatch

7
Pre-dispatch
menentukan kombinasi sumber produksi
tenaga listrik dan unit pembangkitnya yang
akan memasok kebutuhan beban sistem
beberapa waktu ke depan
membuat prakiraan beban (load forecast) jangka
pendek,
menjadwalkan operasi unit pembangkit,
merencanakan kebutuhan daya reaktif,
mengkoordinasikan jadwal outage peralatan
(penyaluran, pembangkit)
membuat rencana switching peralatan,
membuat perbaikan rencana operasi dan tatacara
pemulihan setelah gangguan.

8
Dispatch
Melaksanakan operasi
sistem real time
memantau sistem tenaga,
peralatan sistem tenaga dan keadaan normal
keadaa n
da rura t
status-nya,
mengendalikan tenaga listrik
(power dispatch) : frekuensi,
tegangan dan aliran daya,
melakukan evaluasi Pengendalian Pengendalian
keekonomian dan sekuritas produksi
Mutu
sekuriti

sistem,
melaksanakan switching
peralatan sistem tenaga
melaksanakan pemulihan
sistem setelah gangguan.

9
Post-dispatch
Melaksanakan kegiatan pascaoperasi
Pengarsipan data kejadian (events) di sistem
dan hasil kegiatan pelaksanaan pengaturan,
Penyusunan laporan operasi sistem,
Pengumpulan data statistik (data gangguan
sistem dan sebagainya),
Perhitungan energi,
Analisis gangguan yang terjadi di dalam sistem
tenaga.

10
Frekuensi Sistem Tenaga
Mutu tenaga listrik
Reliabilitas sistem tenaga
Indikator kesetimbangan sesaat antara daya nyata
keluaran pembangkit dan yang dikonsumsi pemanfaat
listrik
Berubah bila kesetimbangan daya tersebut terganggu
perubahan beban atau
keluaran pembangkit
Pengaturan
kondisi normal, mengatur daya keluaran unit pembangkit
kondisi gangguan, respon pembangkit dan atau
mengurangi beban
tergantung cadangan putar yang tersedia

11
Pengaturan Frekuensi Sistem
menyetimbangkan daya nyata (watt) keluaran
pembangkit dengan daya nyata yang
dikonsumsi pemanfaat tenaga listrik (beban)
menambah atau mengurangi daya nyata keluaran
pembangkit sesuai perubahan konsumsi beban
mengoperasikan unit pembangkit dengan mode
primary control.
mengoperasikan unit pembangkit dengan mode
secondary control (program LFC = Load
Frequency Control atau AGC = Automatic
Generation Control).

12
Kesetimbangan
Kesetimbangan beban
beban dan
dan pembangkitan
pembangkitan

50 51
Frekuensi sistem (hertz)
49
48
52 menunjukkan
hertz
keseimbangan sesaat
antara daya nyata (MW)
yang dibangkitkan
dengan daya nyata
MW MW
(MW) yang dikonsumsi
dikonsumsi beban dibangkitkan beban.
Pada saat daya nyata
yang dibangkitkan =
daya nyata yang
dikonsumsi beban,
frekuensi = 50 hertz.
13
Pengaturan
Pengaturan Frekuensi
Frekuensi Sistem
Sistem

49 50 51
52
48 hertz
Pada saat daya nyata
yang dibangkitkan >
daya nyata yang
MW dikonsumsi beban,
dikonsumsi beban
frekuensi > 50 hertz.
MW Mengurangi daya (MW)
dibangkitkan
yang dibangkitkan, agar
frekuensi kembali ke 50
hertz.

14
Pengaturan
Pengaturan Frekuensi
Frekuensi Sistem
Sistem

49 50 51
52
48 hertz Pada saat daya nyata
yang dibangkitkan <
daya nyata yang
dikonsumsi beban,
MW frekuensi < 50 hertz.
dibangkitkan Menambah daya (MW)
MW
dikonsumsi beban yang dibangkitkan,
agar frekuensi kembali
ke 50 hertz.

15
Kondisi sistem normal
Tindakan dispatcher
menaikkan atau menurunkan MW keluaran pembangkit
perintah lisan dari pusat pengatur beban (control centre)
mengikuti rencana pembebanan pembangkit
bila frekuensi di luar rentang (50,0 0,2) Hz
Otomatis
Pengaturan primer
Pengaturan sekunder (LFC atau AGC)
Kondisi gangguan
Tindakan dispatcher
melakukan pengurangan beban: brown out, load curtailment
melakukan manual load shedding
Otomatis
automatic load shedding oleh under frequency relay (UFR) atau
oleh aplikasi melalui SCADA
pemulihan beban oleh over frequency relay

Pelaksanaan Pengaturan
Frekuensi
16
Perubahan MW keluaran pembangkit
sebagai respon terhadap perubahan
frekuensi sistem
Bersifat individu
Membawa frekuensi ke nilai referensinya
(misal 50 Hz)

Pengaturan primer
17
Pengaturan
Pengaturan Primer
Primer
R L
Speed Changer kecepatan
R bertambah,
masukan ke
turbin berkurang
Motor
L atau kecepatan
f berkurang,
masukan
Moveable collar ke
turbin
bertambah
Fluida Turbin Generator
(uap, air)

Generator akan :
menambah keluaran MW, ketika merasakan frekuensi
sistem rendah;
mengurangi keluaran MW, ketika merasakan frekuensi
sistem tinggi.
Pengaturan primer tanpa perintah dari pusat pengatur. 18
Respon
Respon Generator
Generator karena
karena Perubahan
Perubahan Frekuensi
Frekuensi
Respon frekuensi yang diberikan generator ditentukan oleh
speed regulation (droop)
deadband
ramp rate

Speed regulation atau droop adalah rasio perubahan frekuensi (f)


terhadap perubahan katub (valve/gate) yang dikendalikan governor, atau
nilai persentase perubahan frekuensi terhadap persentase perubahan
keluaran daya nyata (MW) generator

% perubahan frekuensi
R (dalam %) 100
% perubahan keluaran daya

Deadband adalah nilai setelan perubahan frekuensi yang


bila terlampaui maka governor merespon untuk merubah
(menambah atau mengurangi) keluaran MW generator
Ramp rate adalah laju perubahan keluaran MW generator
terhadap waktu. 19
Speed
Speed Droop
Droop

Generator dengan speed droop 5% berarti jika


frekuensi sistem berubah 5%, generator akan
merubah keluarannya sebesar 100%.
Contoh :
Pada sistem yang memakai frekuensi standar 50
Hz, jika frekuensi turun sebesar 0,25 Hz,
generator 175 MW dengan droop 3% akan
menambah keluarannya sebesar
0,25
Pg 175 29,2 MW
0,03 50

20
Speed
Speed regulation
regulation (droop)
(droop)

21
Speed
Speed regulation
regulation (droop)
(droop)

22
Speed
Speed regulation
regulation (droop)
(droop)

23
Deadband dari speed governor didefinisikan sebagai
besar total perubahan laju (frekuensi) yang tidak
menghasilkan perubahan katub (valve/gate) yang
dikendalikan governor
Dinyatakan dalam % dari laju (frekuensi) rated
Standar IEEE untuk :
governor turbin uap besar, maksimum 0,06 %
(IEEE Standard No. 122-1991);
governor turbin air, maksimum 0,02 % (IEEE
Standard No. 125-1988);
Efek deadband terhadap respon governor tergantung
pada nilai perubahan frekuensi (f ). Jika nilai
perubahan frekuensi lebih kecil dari deadband,
governor tidak merespon.

Deadband
24
Ramp rate unit pembangkit sangat
dipengaruhi oleh jenis penggerak mula
dan energi primer
PLTU batubara 8 MW/menit
PLTGU gas-bumi 20 MW/menit
PLTA > 20 MW/menit

Mengapa berbeda?

Ramp Rate
25
Karekteristik respon frekuensi
Sistem
Karakteristik respon frekuensi dari sistem tenaga
sering disebut dengan system stiffness (MW/Hz)
PL 1
D
f ss Req
PL = perubahan beban sistem
fss = perubahan frekuensi steady state
D = load damping constant, nilai tipikalnya 1
Reqhingga
21persen
1 1 1
R1 R2 Rn

Ketika pembangkit yang memiliki daya mampu 120 MW


trip pada saat berbeban 100 MW, frekuensi sistem turun
dari 50 Hz menjadi 49,75 Hz. Berapa system stiffness 26
saat itu?
Load Frequency Control (LFC)
Pengaturan sekunder frekuensi
Otomatis dan terpusat.
Membawa frekuensi ke nilai referensinya (misal
50 Hz) .
Melaksanakan pengaturan selama perubahan
beban dan frekuensi dalam keadaan normal
(kecil dan perlahan).
Operasi sistem tenaga berada pada keadaan
normal.

Pengaturan Sekunder
27
Peran LFC dalam Operasi Real
Time
Beban

Keluaran unit
load follower

Deviasi load
follower Keluaran
terhadap unit ber-LFC
beban

28
Mode operasi LFC
tie-linebias : pengendalian frekuensi dan aliran
daya pada saluran interkoneksi
transfer tetap (constant net interchange) :
pengendalian aliran daya pada saluran
interkoneksi
frekuensi tetap (flat or pure frequency) :
pengendalian frekuensi

P
f
Sistem tenaga

29
Metode isyarat level LFC
Pr1 Pr2 Prj

t
P + Pi

ACE
rj 0
P
ACE dt
rj
P
ACE N
+
P0 + j j

if
f +
i
f0

f + f Pg1
P01 + NPr1 k1f
f0 sistem
tenaga
listrik
f + f Pg2
P02 + NPr2 k2f
f0

30
Nilai
Nilai isyarat
isyarat level
level

Isyarat level dihitung di control centre :


t

N
Prj 0
(ACE) dt
Prj
(ACE)
j j

ACE i f Pi = area control error


= integral control gain
= proportional control gain
= koefisien frequency bias (MW/Hz)

31
Keluaran
Keluaran pembangkit
pembangkit ber-LFC
ber-LFC

Keluaran daya pembangkit j

Pg j P0 j N Pr j k j f
Pg j = daya keluaran unit
pembangkit j
P0 j = base point LFC
Pr j = paruh rentang regulasi daya unit pembangkit
j
k j f = penyederhanaan kerja pengaturan primer

32
Perubahan
Perubahan Keluaran
Keluaran pembangkit
pembangkit ber-LFC
ber-LFC

M
W
+Pr

P0

-Pr
waktu

33
Mengendalikan frekuensi dan aliran daya
pada saluran interkoneksi
Melibatkan fungsi economic dispatch dengan
menggunakan faktor partisipasi ekonomis di
samping faktor partisipasi regulasi
Pada sistem yang besar menggunakan sinyal
berupa pulse dan nilai yang dikirim berbeda-
beda untuk tiap pembangkit
Tidak menggunakan sinyal analog seperti
pada metode isyarat level

Automatic Generation Control


(AGC)
34
Block diagram AGC
fs
Pdes,1
Smoothed
f ACE Economic Pdes,2
fa ACE
Filter Dispatch
+ + Pdes,n
frequency +
bias
Ptie

Ptie,1

Ptie,2 Ptie,a +

Ptie,n
Ptie,s

35
Strategi
Strategi Pengendalian
Pengendalian Frekuensi
Frekuensi

Contoh
Hz
51,50

50,20
50,00 Operasi normal, frekuensi+50
0,2 Hz
49,80
Ekskursi, - 0,5 Hz, brown-out
49,50 df/dt, - 1,2 Hz/s, load shedding tahap 4, 6, 7 (1950 MW)
49,30 df/dt, - 0,8 Hz/s, load shedding tahap 6, 7 (1500 MW)
load shedding Skema A & B, frek 49,50 Hz ( 250 MW - 500 MW
49,10 df/dt, - 0,7 Hz/s, Load shedding tahap 7 (850 MW)
49,00

load shedding tahap 1 s.d. 6, frek 49,00 s.d. 48,50 (2550 MW

48,40 load shedding tahap 7 (850 MW)


48,30
Islanding Operation, mulai 48,30 - 48,00 Hz
48,00

47,50 host load unit-unit pembangkit

36
Strategi
Strategi Pengendalian
Pengendalian Frekuensi
Frekuensi
ILUSTRASI Review

- tanpa load shedding


- dengan load shedding ( tahap 1,2 dan 3)

PT. PLN (Persero) P3B

Frekuensi sistem saat pembangkit (3x600 MW) trip, 37

beban sistem 13.000 MW


Strategi
Strategi Pengendalian
Pengendalian Frekuensi
Frekuensi
ILUSTRASI Review
;

dengan load shedding tahap 1,2 dan 3

tanpa load shedding

PT. PLN (Persero) P3B

Frekuensi sistem saat pembangkit (3x600 MW) trip, 38

beban sistem 10.000 MW


Ada2 masalah pada pembangkit termis yang
berhubungan dengan operasi sistem pada
frekuensi yang rendah
Berhubungan dengan stress vibrasi sepanjang
sudu-sudu turbin tekanan rendah yang
berakumulasi dengan waktu. Restorasi ke operasi
frekuensi normal diperlukan segera.
Berhubungan dengan kinerja peralatan bantu yang
digerakkan motor-motor induksi.
Di bawah frekuensi tertentu, kemampuan pembangkit
berkurang jauh karena keluaran boiler feed pump atau
fan pemasok udara pembakaran berkurang.
Pada PLTN, reaktor mengalami overheat karena aliran
coolant berkurang karena frekuensi turun.

Bahaya operasi sistem pada


frekuensi kurang
39
PENGATURAN TEGANGAN
PENGATURAN TEGANGAN (1)
DAYA REAKTIF
Daya reaktif dibangkitkan oleh
generator,
kapasitor,
saluran transmisi (berbeban rendah),
beban.
Daya reaktif dikonsumsi oleh
Beban,
saluran transmisi (berbeban tinggi),
Transformator tenaga.
Daya reaktif tidak mengalir jauh
harus dipasok setempat (lokal).
Daya reaktif harus juga memenuhi hukum Kirchhoff
daya reaktif total ke satu rel (simpul) harus sama
dengan nol.
PENGATURAN TEGANGAN (2)
KORELASI TEGANGAN DAN DAYA REAKTIF
PENGATURAN TEGANGAN (3)
ILUSTRASI : ALIRAN DAYA REAKTIF
PENGATURAN TEGANGAN (4)
KORELASI TEGANGAN DAN DAYA REAKTIF

Daya reaktif dan nilai tegangan saling terkait


erat
Peningkatan konsumsi daya reaktif yang
besar menurunkan tegangan rel
Peningkatan pembangkitan daya reaktif
menaikkan tegangan rel.
PENGATURAN TEGANGAN (5)
KEPERLUAN PENGATURAN TEGANGAN
Mutu tegangan dinyatakan baik jika tegangan tersebut
berada pada batasan mutu tertentu (mis: -10% - +5%).
Nilai tegangan operasi di luar batas yang diizinkan pada
rentang waktu yang lama dapat mempengaruhi unjuk
kerja peralatan atau bahkan dapat merusak peralatan.
Pengaturan tegangan berhubungan dengan pengaturan
daya reaktif.
Pengaturan tegangan harus
- Menjaga tegangan konsumen dalam batas-batasnya.
- Menjadikan fasilitas tenaga listrik (motor, proteksi dll)
berfungsi normal.
- Menjaga kesetimbangan daya reaktif sistem agar
mengurang rugi-rugi.
PENGATURAN TEGANGAN (6)
PEMBANGKITAN DAN PENYERAPAN DAYA REAKTIF
Komponen sistem tenaga yang berperan
1.Generator serempak : keluaran daya reaktif
otomatis berubah untuk menjaga tegangan
terminal generator agar berada dalam
rentang nominalnya.
2. Saluran udara
3. Saluran kabel
4. Transformator
5. Beban
6. Kompensator
7. Sinchronous Condenser
PENGATURAN TEGANGAN (7)
PEMBANGKITAN DAN PENYERAPAN DAYA REAKTIF
Generator serempak
Generator serempak dapat memasok atau
menyerap daya reaktif tergantung kondisi
eksitasi dari generator yang diatur oleh AVR.
Pada kondisi over excited, generator memasok
daya reaktif dan pada kondisi under excited,
generator menyerap daya reaktif.
Kemampuan generator untuk memasok atau
menyerap daya reaktif dibatasi oleh arus medan,
arus jangkar dan daerah pemanasan generator
(kurva kapabilitas).
PENGATURAN TEGANGAN (8)
PEMBANGKITAN DAN PENYERAPAN DAYA REAKTIF
Saluran Udara :
Pada beban di bawah beban natural (impedansi surja)
saluran udara menghasilkan daya reaktif dan pada
beban di atas beban natural akan menyerap daya
reaktif.
Saluran Kabel :
Karena memiliki kapasitansi yang tinggi maka
mempunyai beban natural yang tinggi sehingga selalu
dibebani di bawah beban naturalnya, dengan
demikian akan selalu menghasilkan daya reaktif pada
berbagai kondisi operasi.
PENGATURAN TEGANGAN (9)
LANGKAH PENGATURAN TEGANGAN :
Pengaturan daya reaktif generator
Pengaturan kompensator : reaktor,
kapasitor
Pengaturan tap transformator
Pengaturan jaringan
Tap staggering
Mengatur aliran daya
PENGATURAN TEGANGAN (10)
GENERATOR
Tiga hal yang membatasi kemampuan
daya reaktif generator serempak :
1. batas arus jangkar,
2. batas arus medan,
3. batas daerah pemanasan generator.
PENGATURAN TEGANGAN (11)
BATAS KAPABILITAS REAKTIF GENERATOR
PENGATURAN TEGANGAN (12)
BATAS KAPABILITAS REAKTIF GENERATOR
PENGATURAN TEGANGAN (13)
BATAS KAPABILITAS REAKTIF GENERATOR
PENGATURAN TEGANGAN (14)
BATAS KAPABILITAS REAKTIF GENERATOR

Reactive Capability Curve


PENGATURAN TEGANGAN (15)
EKSITASI GENERATOR
Fungsi
Pada dasarnya adalah menyediakan arus searah
untuk belitan medan dari mesin serempak, di
samping melaksanakan fungsi kontrol dan
proteksi.
Fungsi kontrol mengatur tegangan, mengatur
daya reaktif dan meningkatkan stabilitas sistem.
Fungsi proteksi menjamin batas kapabilitas dari
mesin sinkron, sistem eksitasi dan peralatan
lainnya tidak terlampaui.

Jenis
1. Sistem eksitasi arus searah,
2. Sistem eksitasi arus bolak-balik.
3. Sistem eksitasi statik.
PENGATURAN TEGANGAN (16)
ELEMEN EKSITASI GENERATOR

Diagram Blok Fungsi Sistem Pengaturan Eksitasi Generator Serempak


PENGATURAN TEGANGAN (17)
FUNGSI ELEMEN EKSITASI GENERATOR
1) Exciter : memasok arus searah ke belitan medan generator sinkron.
2) Regulator : mengolah dan menguatkan sinyal kontrol input agar
sesuai dengan level dan bentuk yang sesuai untuk pengaturan
exciter; termasuk regulasi dan stabilisasi system eksitasi,
3) Terminal voltage transducer and load compensator :
mengukur tegangan terminal generator dan mengubahnya ke
besaran arus searah dan membandingkan besaran tersebut dengan
suatu referensi yang mewakili tegangan generator yang diinginkan.
4) Power system stabilizer : memberikan tambahan sinyal input ke
regulator untuk meredam osilasi sistem tenaga. Sinyal input diambil
dari deviasi kecepatan rotor, daya akselerasi dan deviasi frekuensi.
5) Limiter and protective circuit : mencakup sejumlah fungsi kontrol
dan proteksi yang menjamin bahwa batas kemampuan dari exciter
dan generator serempak tidak telampaui. Beberapa yang umum
digunakan al : field current limiter, max exciter limiter, terminal
voltage limiter, volt-per-hertz regulator and protection, dan
underexcitation limiter.
PENGATURAN TEGANGAN (18)
SISTEM EKSITASI ARUS SEARAH
PENGATURAN TEGANGAN (19)
SISTEM EKSITASI ARUS BOLAK-BALIK
PENGATURAN TEGANGAN (20)
KOMPENSATOR
Reaktor Shunt
Mengkompensir pengaruh kapasitansi penghantar,khususnya
untuk membatasi kenaikan tegangan pada ujung transmisi
atau pada beban rendah dan pada saat switching
Umumnya digunakan pada SUTET yang panjangnya lebih dari
200 km atau pada SUTET yang pendek dengan sumber yang lemah
Dipasang pada ujung transmisi, pada rel atau pada sisi tersier
transformator.

Pemasangan reaktor shunt


PENGATURAN TEGANGAN (21)
KOMPENSATOR
Kapasitor Shunt
Untuk memasok daya reaktif dan memperbaiki tegangan lokal.
Dipasang pada sisi distribusi maupun sisi transmisi.
Di sisi distribusi untuk koreksi power factor dan perbaikan
tegangan penyulang, umumnya dioperasikan secara automatic
(time clock,voltage or current sensing).
Di sisi transmisi untuk kompensasi rugi-rugi XI2 transmisi dan
untuk perbaikan tegangan, dapat dipasang secara manual atau
automatic.
PENGATURAN TEGANGAN (22)
KOMPENSATOR

STATIC VAr COMPENSATOR


Terdiri dari kapasitor atau reaktor yang di-switch
secara elektronik.
Teknologi SVC
Thyristor Controlled Reactor (TCR) dengan fixed
capacitor (FC)
TCR dengan thyristor switched capacitor (TSC).
PENGATURAN TEGANGAN (23)
KOMPENSATOR
Kompensator serempak (synchronous condenser)
Berupa motor serempak yang berputar tanpa beban mekanis.
Dapat menghasilkan atau menyerap daya reaktif tergantung
pada nilai eksitasi; memberikan fleksibilitas operasi.
Dipasang di rel sisi penerima dari saluran tegangan tinggi
yang panjang.
PENGATURAN TEGANGAN (24)
TRANSFORMATOR
Pengaturan tap transformator
Dewasa ini kebanyakan transformator dilengkapi
dengan on-load tapchanger
Perubahan tegangan diperoleh merubah rasio
belitan transformator
PENGATURAN TEGANGAN (25)
TRANSFORMATOR
Tap Staggering pada transformator
Transformator yang paralel dioperasikan pada rasio
(posisi tap) yang berbeda untuk menyerap daya
reaktif; dilakukan pada saat beban di sistem rendah
(daya reaktif berlebih)
Untuk menurunkan tegangan yang tinggi di sistem
Misal perbedaan tegangan karena tap staggering V
jika impedansi transformator Z = R + jX maka
sirkulasi daya reaktifnya SC = (V)2 / 2Z
PENGATURAN TEGANGAN (26)
ILUSTRASI : PENGATURAN TEGANGAN
Terima Kasih