Anda di halaman 1dari 25

ANALISIS MINYAK

TERPENTIN
(SNI 7633 : 2011)
ANALISA KIMIA TERPADU
Kelompok V 4KA1 :
Andi Setiyawan
Riyan Astuti
Sisylia Hermawan
Yakub Christian
Yudita Ayu S.
TUJUAN
Siswa dapat mengetahui kualitas
minyak terpentin sesuai dengan
SNI 7633 : 2011.
DASAR TEORI
Getah yang keluar dari pohon
pinus yang kemudian diproses
dengan cara penyulingan. Hasil dari
penyulingan itu menghasilkan
minyak terpentin dan sisanya yaitu
gondorukem.
Minyak terpentin adalah minyak
atsiri yang diperoleh dari getah pinus
dengan cara penyulingan pada suhu
dibawah 180C. Minyak terpentin
berwarna bening sampai kecoklatan.
DASAR TEORI
Minyak terpentin biasanya dapat
ditemukan diperdagangan cat.
Penentuan mutu terpentin ditentukan :
Warna Jernih
Tidak mengandung Kotoran dan Air
Kandungan Alpha Pinene
Bau yang Khas
Standar yang digunakan adalah SNI
7633:2011.
PROSEDUR KERJA
1. Analisa Bobot Jenis Relatif
Peralatan :
Piknometer
Penangas Air
Termometer
Timbangan Analitik
Gelas ukur
Cara Kerja :
Timbang piknometer kosong, kemudian
piknometer diisi dengan contoh uji sampai
penuh dan dimasukkan ke dalam thermostat
pada suhu 27,5oC dan dibiarkan selama 15
menit
Piknometer diangkat kemudian dikeringkan
dengan kertas atau kain lap yang tidak
mengandung minyak dan ditimbang.
Dihitung dengan rumus :
b = a/nilai piknometer
BJ 27,5oC/ 25oC = b + (27,5-25) x 0,00064
PROSEDUR KERJA
2. Analisa Indek Bias
Peralatan :
Refraktometer
Thermostat
Cara Kerja :
Alirkan melalui refraktometer agar alat ini
berada pada suhu 20oC , dimana
pembacaan alat akan dilakukan dan harus
dipertahankan dengan toleransi 0,2 C;
suhu dimana pengukuran akan dilakukan;
Sebelum contoh uji ditaruh di dalam alat,
harus berada pada suhu yang sama dengan
suhu dimana pengukuran akan dilakukan.
Pembacaan hanya boleh dilakukan bila
suhu sudah stabil.
Hasil dapat dihitung dengan rumus :
nD = nD + 0,0004 (t-t)
t t

nD adalah indeks bias pada suhu 20C.


t

nD adalah pembacaan pada suhu kerja t


t

t adalah suhu pada saat penetapan.


t adalah suhu 20C
PROSEDUR KERJA
3. Analisa Putaran Optik
Peralatan :
Polarimeter
Bahan :
Ethanol 96%
Cara Kerja :
Menyalakan sumber cahaya dan tunggu
sampai diperoleh kilauan maksimum
sebelum alat digunakan
Menentukan titik nol pembacaan skala
dengan tabung berisi air suling pada suhu
27,5 C
Mengisi tabung polarimeter dengan minyak
terpentin yang bersuhu 27,5 C hingga
penuh,tidak boleh terbentuk gelembung
udara dalam tabung
Meletakkan tabung yang telah berisi contoh
ke dalam alat polarimeter. Baca putaran
optic pada cakram skala.
Hasil dapat dihitung dengan rumus :
Putaran optic = A/l x 100
PROSEDUR KERJA
4. Titik didih awal dan kadar sulingan
Peralatan :
Seperangkat alat destilasi
Labu didih
Thermometer
Gelas ukur
Peralatan :
Memasukkan contoh uji sebanyak 100 ml
dengan pipet ke dalam labu didih 250 ml,
kemudian menambah batu didih dalam
labu didih.
Menyambungkan labu didih dengan alat
destilasi yang dilengkapi dengan
thermometer, kemudian menyuling.
Mencatat suhu titik didih saat tetes
pertama keluar dan menampungnya ke
dalam gelas ukur 100 ml.
Menyuling dilanjutkan sampai suhu
maksimum 170 C, kemudian mencatat
jumlah sulingan yang diperoleh.
Perhitungan
Kadar sulingan (%) = v1/v0 x 100
PROSEDUR KERJA
5. Sisa Penguapan
Peralatan :
Penangas air
Cawan porselen
Timbangan analitik
Desikator
Oven
Prosedur kerja :
Memasukkan 10 gram contoh uji ke dalam
cawan porselen yang telah diketahui
beratnya.
Menguapkan diatas penangas air
sampai kering.
Mengeringkan dalam oven pada suhu
100 C 105 C selama 30 menit.
Mendinginkan dalam desikator sampai
suhu kamar.
Menimbang contoh.
Perhitungan :
kadar (%) = {(w2 w0) : (w1 w0)} x
100 %
PROSEDUR KERJA
6. Bilangan Asam
peralatan :
Erlenmeyer 250 ml
Gelas ukur 5 ml
Buret 2 ml
Timbangan analitik
pereaksi :
Alkohol 96 % (netral)
Indikator Phenolpthalein (PP)
Larutan standar 0,1 N KOH
Prosedur kerja :
Memasukkan 5 gram contoh uji ke dalam
Erlenmeyer 250 ml.
Menambahkan 25 ml alcohol 96 %
(netral).
Menambahkan beberapa tetes indicator
PP.
Mentitrasi dengan larutan standar KOH
0,1 N hingga timbul warna merah muda.
Perhitungan :
Bilangan asam : V x N x 56,11
W
DATA PENGAMATAN
PEMBAHASAN
Analisis minyak terpentin didasarkan pada SNI
7633:2011. Minyak terpentin adalah minyak
atsiri yang diperoleh dari getah pinus (Pinus
sp.) dengan cara penyulingan pada suhu
dibawah 180 C (sesuai SNI 7633:2011).
Minyak terpentin berwarna bening sampai
kecoklatan, dan biasanya dapat dijumpai dalam
perdagangan cat (toko besi). Minyak terpentin
biasanya digunakan untuk campuran cat
dengan harga yang rendah. Namun minyak
terpentin juga mempuyai harga yang relative
mahal jika diolah lebih lanjut hingga
menghasilkan alpha pinene.
Prinsip uji bobot jenis relative yaitu perbandingan
antara bobot minyak terpentin dengan bobot
aquades pada volume yang sama. Menurut SNI ada
dua macam uji yaitu menggunakan hydrometer dan
piknometer. Pada praktikum yang dilakukan hanya uji
menggunakan piknometer. Hasil perhitungan yang
didapat adalah 18,7346 dan tidak sesuai dengan
standar. Bobot jenis relative sesuai SNI antara 0,848
0,865. Ketidaksesuaian ini dikarenakan saat
praktikum tidak menggunakan thermostat, juga
dapat dipengaruhi dari ukuran bahan dan lamanya
proses penyulingan. Thermostat merupakan alat
untuk menjaga suhu. Jadi praktikum hanya dilakukan
dengan penimbangan tanpa proses dimasukkan
dalam thermostat.
Alat yang digunakan untuk uji indek
bias adalah hand refraktometer. Prinsip uji
indek bias adalah besarnya sudut sinar
dating yang dibiaskan oleh minyak
terpentin pada suhu 20 C. Hasil pengujian
indek bias adalah 1,4358. Seharusnya
indek bias minyak terpentin antara 1,464
1,478 (SNI 7633:2011). Jika dibandingkan,
maka hasil pengujian indek bias minyak
terpentin tidak sesuai dengan standar. Hal
tersebut dapat dikarenakan telah terjadi
penambahan air dalam minyak terpentin.
Apabila air yang terkandung dalam minyak
terpentin semakin banyak maka semakin
Prinsip putaran optik adalah besarnya sudut
sinar terpolarisasi yang diputar oleh minyak
terpentin sepanjang 100 mm pada suhu 27,5
C. Praktikum dilakukan dengan
menggunakan tabung polarimeter yang
pendek dengan panjang 100 mm.
Penggunaan tabung yang pendek karena
sampel yang digunakan terlalu pekat (tidak
diencerkan) dan berwarna. Hasil yang
diperoleh adalah 89,60. Hasil tersebut
menunjukkan sampel minyak terpentin
termasuk mutu A karena hasil yang diperoleh
melebihi batas standar yaitu +32.
Hasil yang diperoleh dari pengujian titik didih awal
dan kadar sulingan adalah titik didih awal pada suhu
27 C dan kadar sulingan yang didapat 61% pada
suhu 38 C. Prinsip analisisnya yaitu pengukuran
suhu pada saat terjadi tetesan pertama dalam proses
penyulingan, sedangkan kadar sulingan diperoleh
dari perbandingan bobot sulingan di bawah suhu 170
C dengan bobot contoh uji. Menurut SNI 7633:2011
titik didih awal berada pada suhu 150 C - 160 C,
sedangkan hasil yang diperoleh adalah 27 C yang
menunjukkan hasil yang diperoleh tidak sesuai
dengan standar. Hasilnya hanya 61% dan
menunjukkan sampel termasuk mutu B. Faktor yang
menyebabkan adalah waktu yang digunakan saat uji
titik didih awal dan kadar sulingan tidak cukup, dan
thermometer yang digunakan hanya mencapai suhu
100 C.
Uji bilangan asam menunjukkan ada tidaknya
kandungan asam organik dalam minyak
terpentin. Prinsipnya adalah banyaknya KOH
(mg) yang digunakan untuk menetralkan asam
bebas dalam 1 gram minyak terpentin. Berat
sampel yang digunakan sebanyak 5,0052 gram
dan banyaknya KOH yang digunakan adalah
0,6 ml. Hasil yang diperoleh adalah 0,6726.
Hasil tersebut menujukkan banyaknya asam
lemak bebas yang terkandung dalam minyak
terpentin. Standar bilangan asam minyak
terpentin mutu A 2,0 dan mutu B > 2,0. Jika
dibandingkan antara hasil dan teori maka
minyak terpentin termasuk dalam mutu A.
KESIMPULAN
Bobot jenis relative minyak terpentin yaitu 18,7346 dan
tidak sesuai dengan SNI 7633:2011.
Indeks bias minyak terpentin yaitu 1,4358 dan tidak
sesuai dengan SNI 7633:2011.
Putaran optik minyak terpentin yaitu 89,60 dan sesuai
dengan SNI 7633:2011 serta minyak terpentik termasuk
ke dalam mutu A.
Titik didih awal minyak terpentin yaitu 27 C dan tidak
sesuai dengan SNI 7633:2011.
Kadar sulingan minyak terpentin yaitu 61% dan tidak
sesuai dengan SNI 7633:2011.
Sisa penguapan minyak terpentin yaitu 0,1229%, sesuai
dengan SNI 7633:2011, dan termasuk mutu A.
Bilangan asam yaitu 0,672, sesuai dengan SNI
7633:2011, dan sampel termasuk mutu A