Anda di halaman 1dari 11

Perwujudan Masyarakat

Madani
Dian Agus Kurniawan
Muhammad Andi Wahyu Fikrianto
Prisma Verninda
Pengertian Masyarakat Madani

Masyarakat madani adalah masyarakat beradab, menjunjung tinggi


nilai-nilai kemanusiaan, maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi.

Kondisi dari Kota Madinah merupakan dasar penyifatan dari kata


madani, dimana sistem kehidupan serta kondisi masyarakat yang dapat
hidup rukun, saling membantu, taat hukum, dan memercayai
pemimpinnya meskipun penduduknya terdiri dari berbagai macam
keyakinan.
Ciri Utama Masyarakat Madani

Menurut Hikam, yang mengambil pemikiran Alexis de Tocqueville,


merumuskan empat ciri utama masyarakat madani :

Kesukarelaan

Keswasembadaan

Kemandirian tinggi terhadap negara

Keterkaitan pada nilai-nilai hukum yang disepakati bersama


Prinsip Dasar Masyarakat Madani

Pada Piagam Madinah yang mengatur tatanan masyarakat demokratis di


Madinah pada masa Nabi Muhammad SAW, terdapat sepuluh prinsip dasar
yang diutarakan oleh Sukidi :
Kebebasan beragama
Persaudaraan seagama
Persatuan politik dalam meraih cita-cita bersama
Prinsip saling membantu
Persamaan hak dan kewajiban warga negara terhadap negara
Prinsip Dasar Masyarakat Madani
(lanjutan)
Persamaan didepan hukum bagi setiap warga negara
Penegakan hukum demi tegaknya keadilan dan kebenaran
Pemberlakuan hukum adat yang tetap berpedoman pada keadilan dan
kebenaran
Perdamaian dan kedamaian
Pengakuan hak atas setiap orang atau individu
Unsur-Unsur Masyarakat Madani

Menurut Komaruddin Hidayat dan Azyumari Azra, terdapat beberapa unsur


sosial utama yang menjadi persyaratan terbentuknya masyarakat madani :
Adanya wilayah publik yang luas
Demokrasi
Toleransi
Pluralisme atau Kemajemukan
Keadilan sosial
Landasan Syariah Bagi Nasionalisme

Nasionalisme tidak jarang disebut sebagai faham yang terdapat unsur


fanatisme kebangsaan (ashabiyyah). Rasulullah SAW bersabda :

Bukan termasuk Ummatku orang yang mengajak pada Ashabiyyah,dan


bukan termasuk ummatku orang yang berperang atas dasar
Ashabiyyah,dan bukan termasuk ummatku orang yang mati atas dasar
Ashabiyyah. (HR.AbuDawud)

Dari sabda Rasulullah SAW tersebut, nasionalisme yang ada di


Indonesia bukan merupakan fanatisme kebangsaan (ashabiyyah)
melainkan lebih bermakna wihdah wathaniyah (persatuan bangsa dalam
satu tanah air). Hal ini memberi ruang bagi pluralitas, dan sejalan dengan
hubbub al wathan min iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman).
Landasan Syariah Bagi Nasionalisme
(lanjutan)
Dari sudut pandang Islam, nasionalisme di Indonesia merupakan semangat untuk
mewujudkan bangsa yang memliki keberagaman dengan kesadaran yang sama dalam
satu tanah air yaitu Indonesia. Nasionalisme di Indonesia juga merupakan semangat
untuk menjadi suatu bangsa yang bermartabat yang hadir dalam pergaulan
internasional.

Semangat dari nasionalisme di Indonesia terangkum dalam Al-Quran Surah Al-


Hujurat ayat 13 :

Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian
di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa. Sesunggguhnya Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Mengenal
Mewujudkan Masyarakat Madani

Dalam QS. Ali Imran ayat 110 Allah menyatakan bahwa umat islam
adalah umat yang terbaik dari semua kelompok umat manusia yang
Allah ciptakan. Diantara aspek kebaikan umat islam itu adalah
keunggulan kualitas SDMnya dibanding umat non Islam.
Saat ini kendali kemajuan dipegang masyarakat barat. Umat islam
belum mampu bangkit mengejar ketinggalannya. Semangat untuk maju
berdasar nilai nilai isam telah mulai dibangkitkan melaluli pemikiran
islamisasi ilmu pengetahuan, islamisasi kelembagaan ekonomi dan
perbankan syariah, dan lain lain.
Kesadaran dan semangat untuk maju tersebut bila disertai dengan sikap
konsisten terhadap moral atu ahlak islami, pasti akan memberikan hasil
yang lebih baik dibandingkan dengan hasil yang dicapai masyarakat
barat yang sekedar mengandalkan pemikiran manusiawi semata
Problem dan Dinamika Masyarakat Islam
1. Kebodohan
Jika Al - Quran menyatakan bahwa, Allah akan mengangkat derajaat orang
orang yang berilmu melebihi lainnya, berarti kebodohanlah yang menjadi
penyebab kemrosotan dan keterbelakangan manusia. Oleh karena itu islam
memandang peanggulangan kebodohan itu sebagai ibadah
2. Kemiskinan
Wawasan ekonomi islam lebih banyak memandang potensi alam yang
dianugrahkan oleh Allah dari segi kecukupannya daripada segi kekurangan atau
kelangkaannya. Hal ini bermula dari premis, bahwa sumber daya alam itu
berkecukupan untuk memberikan kesejahteraan. Oleh karena itu jika kelangkaan
terjadi merupakan akaibat kesalahan orang untuk memanfaatkannya,
melestarikannya atau kebodohan dan kemalasannya. Kemiskinan dipandang oleh
islam sebagai patologi sosial yang harus ditanggulangi.
Problem dan Dinamika Masyarakat
Islam (Lanjutan)
3. Kemaksiatan
Kekacauan jiwa, kegoncangan hati, ketidak tentraman bathin. Sentimen,
dendam dan macam macam penyakit bathin lainnya adalah dampak
langsung dari kemaksiatan.