Anda di halaman 1dari 25

TANGGAPAN TERHADAP KONDISI

BATUBARA INDONESIA DAN


MASYARAKAT EKONOMI ASEAN
SEMINAR NASIONAL PERTAMBANGAN INDONESIA PERMATA INDONESIA
KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PENINGKATAN NILAI TAMBAH MINERAL
Wisma PU, Bandung
10 Nopember 2014

Abdul Latief Baky


Deputy Chairman APBI-ICMA
GOOD MINING PRACTISE SESUAI DENGAN AMANAH PASAL
95 DAN 96 , UU NO.4
KERANGKA PRESENTASI
1. PENDAHULUAN
2. UPDATE PERTAMBANGAN BATUBARA DI INDONESIA
3. KESIMPULAN

2
GOOD MINING PRACTISE SESUAI DENGAN AMANAH PASAL
95 DAN 96 , UU NO.4 TAHUN 2009

PENDAHULUAN

3
GAMBARAN UMUM KONDISI INDUSTRI BATUBARA DI
DUNIA
Tren penurunan harga batubara terjadi sejak awal tahun 2011;
Tidak ada yang tahu apakah harga batubara saat ini sudah mencapai harga terendahnya atau tren
penurunan harga batubara ini akan terus berlanjut hingga tahun 2015;
Sejak 1 Januari 2015, pemerintah Cina akan melarang penjualan dan impor batubara dengan kandungan
abu lebih dari 15 persen dan kandungan belerang lebih dari 1 persen ke daerah-daerah dengan penduduk
yang padat di pesisir China , yaitu seperti Shanghai, Guangzhou, Beijing dan Tianjin, dimana saat ini
menjadi tujuan ekspor batubara termal dari Australia;
Secara khusus, China akan melarang lignit (batubara peringkat rendah) untuk dibakar di pembangkit listrik
jika kadar abu (ash content ) lebih dari 30 persen dan kandungan sulfur lebih dari 1,5 persen ;
Kebijakan energi China untuk mengurangi CO2, SOX, dan emisi NOx ke atmosfer akan mengurangi
pemanfaatan batubara dalam negeri China dan meningkatkan permintaan gas alam domestik yang akan
dipenuhi dari pasokan perusahaan Rusia. Dengan demikian permintaan batubara dari pasar China akan
terus menurun untuk beberapa waktu di masa depan;
China memberlakukan pajak impor yang tinggi yaitu 3% untuk batubara kokas dan 6% untuk batubara
termal sejak tanggal 15 Oktober 2014, namun peraturan ini tidak akan berpengaruh terhadap batubara
dari Indonesia karena adanya perjanjian perdagangan bebas Asean-China (Asean-China Free Trade
Agreement). Dampak dari peraturan ini akan dirasakan oleh negara Australia yang tidak termasuk
dalam Perjanjian ini.
4
Lanjutan

GAMBARAN UMUM KONDISI INDUSTRI BATUBARA DI


DUNIA
Penemuan besar shale gas di Amerika Serikat dan di banyak bagian negara-negara maju akan
terus menekan pasar batubara dunia ditambah dengan batubara dari Amerika Serikat yang
memasuki pasar Asia yang sudah lemah saat ini;
Perang Presiden Obama pada batubara (saat ia memerintahkan Bank Ekspor Impor US untuk
tidak membiayai industri batubara terkait domestik maupun internasional - saat ia berbicara di
George Washington University pada tahun 2013) akan menimbulkan dampak negatif yang
signifikan pada pertumbuhan pembangunan industri pembangkit listrik berbahan bakar batu bara di
berbagai belahan dunia;
Tren penurunan harga kemungkinan besar tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat produksi
di Indonesia, kecuali pemerintah Indonesia memberlakukan kebijakan pengendalian produksi;
Walaupun kondisi over supply sedang terjadi saat ini namun permintaan dunia pada batubara
masih tumbuh lebih dari 5% per tahun dan hal ini akan terus meningkat karena pengembangan
pembangkit listrik berbahan bakar batubara di negara-negara berkembang terutama di
negara-negara Asia di luar China.

5
KONDISI OVERSUPPLY YANG MENGKHAWATIRKAN
OVERSUPPLY IN THE GLOBALINDUSTRI COAL
MARKET
BATUBARA DI DUNIA Indonesia
contributes
roughly
35% of the
world coal
supply

Global coal
supply is
expected
to exceed
the
demand, of
which it
triggers
down the
prices.

Source : Deutsche Bank Report , May 2013


6
UPDATE PERTAMBANGAN
BATUBARA DI INDONESIA

7
PRODUKSI, EKSPOR DAN KONSUMSI DOMESTIK
BATUBARA INDONESIA
500.00 ( 2013 2022e)
MILLION TONES
450.00
400.00
350.00
300.00
250.00
200.00
150.00
100.00
50.00
0.00 2013 2014e 2015e 2016e 2017 e 2018e 2019e 2020e 2021e 2022e
Note :
Coal production started from 2015 to 2022 assumed increased 1 % per year from 2014 as Implementation
of
Coal Production Control Policy Based on First Scenario
PLN, IPP and Rental based on General Plan of Electricity Supply or RUPTL of PT.PLN 8
Other Industry assumed increased 8.5 % Per Year.
e = estimation
EKSPOR BATUBARA INDONESIA
YANG TIDAK TERVERIFIKASI
( Versi Kementerian ESDM VERSUS Versi Badan Pusat Statistik )
Juta
Ton
450
400 384
353 340 349
350
299 287
300 Badan Pusat
250 Statistik (BPS)
210
200
150 KESDM
89
100
44 Selisih
50
0
66 424 75
2010 2011 2012 2013

Sumber :
KESDM dan Statistical Yearbook of Indonesia 2014 9
GAMBARAN UMUM BEBERAPA NEGARA TUJUAN EKSPOR
BATUBARA INDONESIA KE SELURUH
DUNIA ( TAHUN 2013 )

Italia : 3,02 Juta


USA: 1,18 Juta Ton Ton Jepang : 37,71 Juta
China : 130,39 Juta Ton
Ton
India : 118,29 Juta
Ton

Data lengkap pada slide 11

Sumber : Statistical Yearbook of 10


Indonesia 2014
PERKEMBANGAN EKSPOR BATUBARA INDONESIA KE SELURUH
DUNIA
( 2008 2013 )
( DALAM RIBUAN TON )
NEGARA
TUJUAN 2008 2009 2010 2011 2012 2013
JEPANG 36.259,80 32.217,70 35.266,70 35.364,00 35.518,30 37.711,50
HONGKONG 10.497,10 10.714,20 9.706,20 11.868,20 11.984,80 12.964,30
KOREA
SELATAN 26.286,80 33.418,40 43.275,60 39.598,20 37.899,10 36.273,30
TAIWAN 24.669,40 24.723,40 25.002,20 27.131,80 29.105,20 29.323,30
CHINA 15.673,70 39.330,80 74.805,00 104.143,40 115.702,10 130.393,40
THAILAND 12.822,80 11.229,70 13.081,80 13.293,90 14.676,00 14.365,00
PHILIPHINA 6.338,00 7.518,10 11.110,90 10.989,70 11.636,20 14.508,80
MALAYSIA 11.104,30 12.483,30 15.535,70 17.337,50 16.138,00 17.128,90
INDIA 26.327,50 39.108,90 51.254,30 74.723,20 96.076,00 118.288,50
AMERIKA
SERIKAT 3.993,80 2.081,60 1.936,50 805,40 215,60 1.177,40
BELANDA 3.740,70 3.384,80 2.719,10 2.848,40 154,30 172,20
ITALIA 5.592,80 5.797,00 6.306,30 5.080,80 4.082,80 3.016,60
SPANYOL 4.387,40 4.808,40 1.564,30 3.559,30 5.704,80 4.078,00
LAIN - LAIN 13.327,60 7.976,80 7.279,80 6.654,30 5.414,00 5.924,00
Source : Statistical Yearbook of Indonesia 2014
TOTAL 201.021,70 234.793,10 298.844,40 353.398,10 384.307,20 424.325,20 11
TREND PENURUNAN HARGA BATUBARA SAAT INI ( HBA DAN HPB )
Graph of HBA & HPB (January 2011- October
USD/Mt
2014)
140127 .05
120 Decline in global
coal benchmark
100 90.09 prices due to the
weakening of the
80 European
67 .26
economy and
60 slow economic
6322 Kcal/kg GAR
growth in China
40 5700 Kcal/kg GAR
5000 Kcal/kg GAR
20 4200 Kcal/kg GAR

12
KEBIJAKAN PENINGKATAN NILAI TAMBAH
GOOD MINING PRACTISE SESUAI DENGAN AMANAH PASAL
BATUBARA
DASAR HUKUM HILIRISASI BATUBARA MENURUT UU No. 4 Tahun 2009
95
Pasal 95 Butir C :DAN 96 , UU NO.4 TAHUN 2009
Pemegang IUP dan IUPK wajib meningkatkan nilai tambah sumberdaya mineral dan /atau batubara

Pasal 102 :
Pemegang IUP dan IUPK wajib meningkatkan nilai tambah sumberdaya mineral dan/atau batubara dalam
pelaksanaan
penambangan, pengolahan dan pemurnian serta pemanfaatan mineral dan batubara

Pasal 103 :
Pemegang IUP dan IUPK OP wajib melakukan pengolahan dan pemurnian hasil penambangan didalam
negeri

Pasal 170 :
Pemegang Kontrak Karya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 yang sudah berproduksi wajib melakukan
pemurnian
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (1) selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak UU ini di
undangkan

13
TIDAK ADA BATAS WAKTU UNTUK KEWAJIBAN HILIRISASI BATUBARA, YANG ADA
HANYA
UNTUK MINERAL
Lanjutan

BERBAGAI BENTUK PENINGKATAN NILAI TAMBAH


BATUBARA
Crushing, Screening, Washing
Coal Blending
Coal Upgrading
Mine Mouth Power Plant
Coal Briqueting
Coal Conversion :
- Gasification ( CTG )
- Liquifaction ( CTL )
- Chemicals ( CTC )
Coal Water Mixtures ( CWM )

14
Lanjutan

BERBAGAI ISSUE PENINGKATAN NILAI


TAMBAH BATUBARA
Pembayaran Royalti ( di Hulu Versus di Hilir ) ;
Rezim perizinan ( Kementerian ESDM vs Kementerian
Perindustrian );
Masalah Kepemilikan ( Divestasi );
Masalah incentives Fiscal ( Industry Dasar - Frontier );
Alokasi Batubara ( Single Source vs Multi Source );
Tata Niaga/ Tata Kelola Produk ( Liberalisasi Produk vs
Regulated
Product );
Perpanjangan IUP / IUPK dengan syarat;
Saat ini sektor pertambangan menjadi kurang menarik lagi bagi
institusi 15
keuangan ( akibatnya perusahaan tambang sulit mendapatkan
KEBIJAKAN PENGENDALIAN PRODUKSI
BATUBARA
FIRST SCENARIO :
The government allows a national coal
production increased by 1 % per year with a
target of increasing the use of coal in the
COAL country , or the domestic market obligation
(DMO) at the same time decreasing the
PRODUCTIO volume of exports
N CONTROL
POLICY SECOND SCENARIO :
Coal production is not allowed to rise
compared with the previous year , while the
DMO continues to increase every year

16
Catatan : Kebijakan ini rencananya akan diberlakukan pada tahun 2015
POTENSI MASALAH DALAM IMPLEMENTASI
KEBIJAKAN PENGENDALIAN PRODUKSI
BATUBARA
APBI-ICMA saat ini mendukung langkah positif pemerintah
dalam pengendalian produksi batubara demi konservasi
batubara, peningkatan harga batubara dan penggunaan
batubara untuk jangka panjang, walaupun penerapan kebijakan
ini tidak mudah ;
Pemerintah harus mengatur kegiatan penambangan liar dan
mengatur perizinan di daerah yang tumpang tindih;
Peningkatan pengawasan merupakan faktor penting keberhasilan
dalam upaya mengontrol produksi batubara saat ini.

17
LATAR BELAKANG KELUARNYA KEBIJAKAN
EKSPORTIR TERDAFTAR (ET)
Perbedaan data ekspor antara Kementerian
ESDM dengan Biro Pusat
Statistik/Kemendag/BeaCukai/Bank Indonesia;
Pada tahun 2012 dan 2013 data ekspor yang
dirilis KESDM secara berturut-turut 44 juta dan
75 juta ton lebih rendah dibandingkan dengan
data ekspor yang di rilis Badan Pusat Statistik
( data pada grafik slide - 9);
Disinyalir perbedaan data ekspor tersebut
berasal dari para penambang yang tidak 18
terverifikasi (Pertambangan Tanpa Izin/PETI).
Lanjutan

LATAR BELAKANG KELUARNYA KEBIJAKAN


EKSPORTIR TERDAFTAR (ET)

Modus operandi batubara illegal memasuki pasar adalah


sebagai berikut :
PETI (illegal) menjual batubara kepada perusahaan
trader yang legal (legal traders ). Legal trader
mengekspor batubara ke luar negeri;
Perusahaan tambang yang legal (legal mining company)
menampung produksi dari PETI;
Terjadi coal laundering .
Dampak adanya PETI batubara adalah :
PETI tidak membayar royalti;
PETI tidak membayar pajak;
PETI tidak bertanggungjawab terhadap kerusakan
lingkungan; 19
Terjadi persaingan usaha yang semakin tidak sehat.
Lanjutan

LATAR BELAKANG KELUARNYA KEBIJAKAN


EKSPORTIR TERDAFTAR (ET)

KPK Bidang Pencegahan/Prevention turun


ke lapangan bersama-sama DJMB dan
merekomendasikan dilakukan pembenahan
terhadap :
1. Prosedur pemberian izin dibidang
pertambangan oleh pemerintah daerah;
2. Kepatuhan perusahaan tambang
dalam membayar royalti dan pajak;
3. Ekspor batubara.

20
POSISI APBI-ICMA TERHADAP KEBIJAKAN EKSPORTIR
TERDAFTAR
DAPAT MENERIMA KARENA BERDAMPAK POSITIF ANTARA LAIN :
Menutup kesempatan Pertambangan Tanpa Izin/PETI untuk beroperasi;
Menutup kesempatan untuk pada trader dan perusahaan tambang yang nakal
menjadi penadah batubara haram;
Pemerintah dapat meningkatkan pendapatan tanpa menaikkan tarif royalti;
Persaingan usaha yang tidak sehat dapat dikurangi;
Kerusakan lingkungan dapat diminimalkan.

PENERIMAAN APBI-ICMA DENGAN CATATAN :


Tidak menimbulkan biaya tinggi ;
Regulasi Eksportir Terdaftar ( ET ) di Kemendag dan rekomendasi untuk ET di
Kementerian ESDM/DJMB mempunyai time frame yang jelas ( waktu terukur
untuk mendapatkan kedua dokumen tersebut ).

21
PENGARUH KEBIJAKAN PEMERINTAH INDONESIA
TERHADAP MASYARAKAT ASEAN
Masyarakat ASEAN pada umumnya merupakan konsumen
batubara untuk digunakan pada pembangkit listrik berbahan
bakar batubara, sehingga secara umum tidak akan terpengaruh
terhadap semua kebijakan yang akan di berlakukan oleh
pemerintah dengan beberapa alasan sebagai berikut :
1. Kebijakan nilai tambah saat ini hanya berlaku untuk
mineral sehingga
konsumen batubara di ASEAN tidak akan terkena dampaknya;
2. Kebijakan pengendalian produksi batubara tidak akan
mengurangi volume
ekspor batubara secara signifikan karena permintaan
batubara domestik
yang masih kecil; 22
3. Kebijakan penerapan Eksportir Terdaftar (ET) hanya
KESIMPULAN

23
KESIMPULAN
Kebijakan hilirisasi batubara sampai saat ini belum ada time framenya karena
tidak ada
hukuman, hilirisasi batubara masih bersifat anjuran , saat ini hilirisasi hanya
diwajibkan bagi
mineral. Selanjutnya teknologi hilirisasi batubara saat ini disamping banyak yang
belum economic provenjuga kesulitan bersaing dengan gas alam ;

Beberapa kebijakan pemerintah seperti pemberlakuan Eksportir Terdaftar (ET-


sudah berlaku sejak 1 Oktober 2014) melalui Permendag No.49/M-DAG/PER/8/2014
dan pengendalian produksi yang rencananya akan diberlakukan pada tahun
2015 sebenarnya merupakan langkah yang sangat positif dalam usaha
peningkatan harga batubara, peningkatan pajak , peningkatan pendapatan
pemerintah melalui penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan pemberantasan
penambangan illegal/penambangan tanpa izin (PETI ) yang saat ini kondisinya
sangat memprihatinkan ;

APBI-ICMA saat ini dalam posisi mendukung semua kebijakan yang akan
24
dilaksanakan oleh pemerintah demi terwujudnya peran pertambangan batubara
yang lebih baik bagi negara dan masyarakat Indonesia dan mewujudkan pola
penambangan batubara yang sesuai dengan kaidah-kaidah Good Mining
TERIMA KASIH
Abdul Latief
Baky
Deputy Chairman APBI-ICMA
T : +62 21 3001 5935, 3001 2477
F : +62 21 3001 5936, 3001 2477
Menara Kuningan Bldg, 1st Floor - Suite A
Jl. HR Rasuna Said Block X-7, Kav. 5
Jakarta 12940 INDONESIA
Email : secretariat@apbi-icma.org
Website : www.apbi-icma.org

25