Anda di halaman 1dari 60

Pengoperasian Pelabuhan

Pelabuhan

Operasional Pelayanan
Engineering (desain):
(manajemen pelabuhan):
1. Fasilitas pokok:
1. Pandu, tunda
alur pelayaran, breakwater (BW)
2. Bongkar/muat barang
kolam pelabuhan, dermaga
3. gudang/penumpukan barang
sistem penambat kapal
4. link dengan moda transport lain
2. Fasilitas penunjang: gudang,
4. pelayanan penumpang
lapangan penumpukan, jalan dll
5. dan lain-lain
Pelabuhan
Pelabuhan (PP No. 70 tahun 1996)
Tempat yang terdiri dari daratan dan perairan
di sekitarnya dengan batas-batas tertentu
sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan
kegiatan ekonomi yang dipergunakan sebagai
tempat kapal bersandar, berlabuh, naik-turun
penumpang dan atau bongkar muat barang
yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan
pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan
serta sebagai tempat perpindahan intra dan
antar moda transportasi
Jasa Kepelabuhanan meliputi yaitu:
1. Penyediaan kolam pelabuhan dan perairan untuk
lalu lintas kapal dan tempat berlabuh
2. Pelayanan jasa yang berhubungan dengan
pemanduan kapal dan pemberian jasa kapal
tunda
3. Penyediaan dan pelayanan jasa dermaga untuk
tambat/sandar, bongkar muat barang serta
penyediaan fasilitas naik turun penumpang
4. Penyediaan dan pelayanan jasa gudang dan
tempat penimbunan barang, angkutan di
perairan pelabuhan, alat bongkar muat serta
peralatan pelabuhan
5. Penyediaan bangunan dan lapangan untuk
kepentingan kelancaran angkutan laut
Jasa Kepelabuhanan meliputi
yaitu:
6. Penyediaan jaringan jalan, parkir, drainase
dan sanitasi, listrik, air minum, depo bahan
bakar dan armada pemadam kebakaran
7. Penyediaan jasa terminal bongkar muat peti
kemas, muatan curah cair, muatan curah
kering dan kapal Ro-Ro
8. Penyediaan jasa lain yang menunjang
pelayanan jasa kepelabuhanan
Maksud Pengoperasian
Pelabuhan:
Memperlancar perpindahan intra dan
atau antar moda transportasi
Sebagai pusat kegiatan pelayanan
transportasi laut
Sebagai pusat distribusi dan konsolidasi
barang
Fungsi pelabuhan meliputi:
Link
Interface
Gateway
Link
Pelabuhan sebagai satu mata rantai dalam proses
transportasi, maka pelabuhan harus mampu
menciptakan sistem sedemikian rupa sehingga
memudahkan pelaksanaan kegiatan, baik dari
aspek pelayanan barang maupun aspek pelayanan
kapal dan alat transportasi lain.
Interface

Pelabuhan menyediakan berbagai fasilitas dan


pelayanan jasa yang dibutuhkan untuk
perpindahan moda angkutan darat ke kapal atau
sebaliknya dalam kegiatan transhipment (pemindahan
muatan)
Transportasi Kapal
darat

Pelabuhan
Gateway
Pelabuhan berfungsi sebagai pintu gerbang
perdagangan (keluar masuk barang) bagi
suatu daerah atau negara
Indonesia menetapkan konsep 4 gateway port:
Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Perak dan
Makassar

(Namun hal tersebut belum


diimplementasikan, saat ini terdapat 112
pelabuhan Indonesia terbuka untuk
perdagangan luar negeri)
Tipe pengelolaan pelabuhan

Pengelolaan pelabuhan dibagi


tiga tipe, yaitu:
A.Land Lord Port
B.Tool Port
C.Operating Port
Tipe pengelolaan pelabuhan
A. Land Lord Port
penyelenggara pelabuhan hanya menyediakan
prasarana pokok pelabuhan (breakwater, alur
pelayaran, dermaga, lapangan penumpukan dan
gudang), sedangkan peralatan (super struktur) dan
kegiatan operasional dilakukan pihak lain
B. Tool Port
penyelenggara pelabuhan menyediakan prasarana
pokok pelabuhan dan peralatan bongkar muat,
sedangkan kegiatan operasional dilakukan pihak lain
C. Operating Port
penyelenggara pelabuhan menyediakan prasarana
pokok, peralatan bongkar muat serta peralatan
lainnya dan juga melakukan kegiatan operasional
Stevedoring:
Bongkar-muat kapal
Sistem Pengelolaan Pelabuhan (3/4)
(ADB, 2000, Developing Best Practices for Promoting Private Sector
Investment in Infrastructures : PORT)
Sistem Pengelolaan Kelebihan Kekurangan
Pelabuhan
1. Landlord Port
Penyelenggara pelabuhan Dana investasi yang Tidak dapat
membatasi fungsinya pada harus disediakan diaplikasikan pada
penyediaan lahan, perairan & oleh penyelenggara daerah yang belum
fasilitas pokok,sedangkan pihak pelabuhan tidak berkembang, para
swasta dapat menyewa fasilitas besar. investor tidak
pokok tersebut dan membangun Tidak terjadi tertarik untuk
terminal serta mengoperasikan. monopoli dalam menanamkan
penyediaan modalnya
pelayanan jasa
kepelabuhan.

2. Tool Port
Penyelenggara pelabuhan Memberikan Karena banyak
menyediakan semua fasilitas kesempatan yang pihak yang terlibat
dan peralatan pelabuhan seluas-luasnya akan sulit
sedangkan pengoperasiannya di kepada banyak mengendalikan
lakukan oleh swasta atas dasar pihak untuk terlibat tingkat kinerja
sewa dengan tarif yang telah dalam penyediaan pelabuhan
ditentukan. jasa kepalabuhanan
Sistem Pengelolaan Pelabuhan (4/4)
(ADB, 2000)

Sistem Kelebihan Kekurangan


Pengelolaan
Pelabuhan
3. Operating Port
Penyediaan semua Pengendalian kinerja Bersifat monopoli
fasilitas dan operasi pelabuhan lebih dalam penyediaan
oleh penyelenggara mudah karena tidak jasa kepelabuhan,
pelabuhan. banyak pihak yang sehingga kinerja
terlihat dalam pelabuhan sulit
penyelenggaraan jasa dipacu (tidak ada
pelabuhan. kompetisi).
Peluang
investor/swasta
terbatas untuk
terlibat dalam
penyediaan jasa.
Sesuai Manajemen Operasional,
Pelabuhan dapat disimpulkan sebagai:
Pelabuhan :
Suatu sistem yang terdiri dari beberapa
subsistem yang saling berkaitan dan
secara keseluruhan merupakan satu
kesatuan sistem

contoh:
Kemampuan suatu pelabuhan secara keseluruhan
dipengaruhi oleh jumlah kapal tunda dan kapal pandu
yang tersedia. Apabila jumlah kapal tunda kurang, ini
menyebabkan terjadi pengeluaran yang tidak perlu
Operasional pelabuhan
Operasional pelabuhan dibagi menjadi 2
tahap:
I. Pemanduan dan Penundaan
I.1 Pemanduan
I.2 Penundaan

II.Labuh dan Tambat


II.1 Labuh
II.2 Tambat
II.3 Bongkar Muat
II.4 Penumpukan
II.5 Pelayanan Penumpang
I. Pemanduan dan Penundaan
I.1 Pemanduan
Untuk keselamatan kapal dan muatannya, saat kapal
memasuki alur pelayaran menuju ke kolam pelabuhan
untuk berlabuh atau merapat di dermaga, nakhoda
perlu advisor, yaitu seorang pandu

Pandu seorang berpengalaman layar dan lulus sekolah


pemanduan yang diadakan Dirjen Perhubungan Laut.
Pandu adalah pegawai PT. Pelabuhan Indonesia

Pandu membantu Syahbandar dalam keselamatan


pelayaran, mengawasi dan mengamati alur pelayaran,
dari pendangkalan atau pencemaran
I. Pemanduan dan Penundaan

Dalam pelayanan di pelabuhan pandu dibagi dua,


yaitu:
Pandu Bandar

memandu kapal di kolam pelabuhan

Pandu Laut
memandu kapal dari kolam pelabuhan ke batas
perairan wajib pandu atau sebaliknya

Tarip pemanduan, didasarkan pada:


Kapal yang dipandu (Gross Register Ton)
Jarak pemanduan atau lama waktu pemanduan
Tingkat kesulitan alur pelayaran
I. Pemanduan dan Penundaan

Sarana penunjang tugas pemanduaan adalah:


Motor pandu, kapal untuk menjemput atau mengantar
pandu di tengah laut
Kapal tunda, untuk membantu menyandarkan kapal,
maupun mengawal pada alur pelayaran yang sempit
Regu kepil (kepil darat atau kepil laut), membantu
mengikat/melepas tali kapal

Kinerja operasional pandu diukur dari:


Waiting time (waktu tunggu pelayanan pandu)

sejak permintaan pandu sampai pandu naik ke kapal


Approach Time (jumlah waktu pelayanan pemanduan)

sejak kapal bergerak dari lego jangkar sampai ikat tali


di tambatan atau sebaliknya
I. Pemanduan dan Penundaan

I.2 Penundaan
Definisi:
Pekerjaan mendorong, menarik atau menggandeng
kapal yang bergerak untuk bertambat atau melepas
dari tambatan dengan menggunakan kapal tunda

Jasa yang dihitung:


Jasa penundaan
jasa pandu, tunda, kepil dan telekomunikasi adalah
rangkaian pelayanan terhadap kapal yang keluar
masuk pelabuhan dengan pertimbangan keamanan
Jasa persewaan alat, kapal tunda
Kapal tunda untuk pengawalan atau penjagaan kapal
harga sewa sesuai besar kapal yang ditunda (GRT),
dan waktu penggunaan kapal tunda.
I. Pemanduan dan Penundaan

Nakhoda kapal tunda merupakan penanggung jawab


terhadap pengoperasian kapal tunda tersebut sesuai
perintah oleh pandu.
Sesuai Kep Men Perhubungan:
1.Panjang kapal 71 m - 100 m, minimal ditunda 1 unit
kapal tunda, daya 600 1200 PK
2.Panjang kapal 101 m - 150 m, minimal ditunda 2 unit
kapal tunda , daya 700 3.400 PK
3.Panjang kapal 151 m - 200 m, minimal ditunda 2 unit
kapal tunda , daya 3.400 5.000 PK
4.Panjang kapal 201 m - 300 m, minimal ditunda 3 unit
kapal tunda , daya 5.000 10.000 PK
5.Panjang kapal > 301 m, minimal ditunda 4 unit kapal
tunda minimal , daya 10.000 PK
II. Labuh dan Tambat
II.1 Labuh
Perairan pelabuhan, khususnya kolam
pelabuhan harus dapat digunakan untuk
berlabuh kapal dengan aman sambil
menunggu kesempatan bertambat di dermaga
(bongkar muat barang)

Perairan pelabuhan harus dapat digunakan


untuk kegiatan lain, yaitu bongkar muat
barang dengan bantuan tongkang/kapal, rede
transport dan docking kapal dan lain-lain
II. 1. Labuh

Pihak Pelabuhan harus bisa menjamin


penggunaan kolam pelabuhan untuk
berlabuh dengan aman. Oleh sebab itu:
a. Kolam pelabuhan harus cukup luas
b. Kapal yang berlabuh harus diatur agar tidak
menganggu alur pelayaran
c. Kolam pelabuhan relatif tidak
bergelombang, arusnya relatif tenang
d. Kedalaman kolam pelabuhan cukup untuk
kapal-kapal yang singgah
II.1. Labuh

Biaya perawatan kolam pelabuhan


(pengerukan, pembersihan dan lain-lain)
harus dibebankan kepada kapal-kapal
yang berlabuh disebut uang labuh.

Uang labuh ditentukan berdasarkan


ukuran kapal (GRT), dihitung sejak kapal
masuk perairan pelabuhan sampai kapal
meninggalkan perairan pelabuhan
II.1 Labuh

Indikator kinerja penggunaan peralatan di


pelabuhan:
Turn Round Time (TRT) waktu pelayanan kapal di pelabuhan
sejak kapal masuk perairan pelabuhan sampai kapal
meninggalkan pelabuhan
Waiting Time (WT)

sejak kapal meminta tambatan sampai kapal tambat


Postpone Time (PT)

waktu tertunda selama kapal berada di perairan


pelabuhan, misalnya kapal tunggu dokumen, tunggu
muatan dan lain-lain
Ton Per Ship Hour in Port (TSHP)

kecepatan bongkar muat kapal selama di pelabuhan per


periode atau tonase bongkar dan muat kapal dibagi waktu
kapal di pelabuhan
II. Labuh dan Tambat

II.2 Tambat
Bangunan fasilitas pelabuhan untuk
merapatnya kapal, breasting dolphin, pilar,
pelampung dll
Pihak pelabuhan harus memberikan tempat
tambat yang aman untuk kapal yang
melakukan bongkar muat barang
Persentase penggunaan tambatan < 65%,
pelabuhan di Indonesia sudah > 65%,
sehingga terjadi antrian.
bagaimana supaya tidak terjadi antrian?
II.2 Tambat

Cara mengurangi antrian kapal:


Kapal harus menyerahkan manifest bongkar
dan rencana muat, sertifikat crane dll
Kapal tambat diberi batas waktu, melebihi
batas waktu dikenakan tarif denda, misal
200% dari tarif dasar
Biaya tambat tergantung:
ukuran kapal,
kapal pelayaran luar negeri atau dalam
negeri
tempat tambat, kayu, beton, pinggiran dll
waktu tambat
II.2 Tambat

Indek kinerja operasional tambatan:


Berth Through Put (BTP)
Jumlah tonnase/volume barang dalam satu peride
yang melewati tiap meter panjang tambatan
Tons Per Ship Hour at Berth (TSHB)

jumlah rata-rata bongkar muat kapal tiap jam


selama kapal di tambatan
Berth Time (waktu tambat)

jumlah waktu (jam) selama kapal berada di


tambatan
Berth Working Time (BWT)

berapa jam kerja selama kapal berada di tambatan


(istirahat tidak dihitung)
II.2 Tambat

Indek kinerja operasional tambatan:


Not Operation Time (NOT)
berapa waktu tidak bekerja yang direncanakan selama
kapal berada di tambatan
Effective Time / Operation Time (ET/OT)

berapa jumlah jam yang digunakan untuk melakukan


bongkar muat selama kapal berada di tambatan/dermaga
Idle Time (IT)

berapa jumlah waktu terbuang selama kapal berada di


tambatan untuk bongkar muat
Berth Occupancy Ratio (BOR), tingkat pemakaian
tambatan
perbandingan antara jumlah waktu tiap tambatan
dibanding dengan jumlah dermaga dan waktu yang
tersedia selama periode
II. Labuh dan Tambat

II.3 Bongkar dan Muat


Barang Umum (General cargo)
Barang Curah (Cair/Kering)
Kontainer
II. Labuh dan Tambat

Barang Umum (General Cargo).


Bongkar muat barang umum dibagi
menjadi 3 tahap:
Pekerjaan Stevedoring
Pekerjaan Cargodoring
Pekerjaan Receiving/Delivery
5. Sketsa bagian daratan suatu
pelabuhan
Kapal

Dermaga

Pengiriman Gudang Lapangan


langsung transit timbun

Gudang barang
setelah diperiksa
BC

Penerima barang

pengirim
II. Labuh dan Tambat
1. Pekerjaan Stevedoring
Bongkar barang dari dek /palka kapal ke
dermaga/tongkang/truck atau memuat
barang ke dek/palka kapal dengan
menggunakan derek kapal atau derek darat

2. Pekerjaan Cargodoring
Mengangkut barang dari dermaga ke dalam
Gudang atau Lapangan Penumpukan dan
menyusun nya atau mengangkut barang
dari Gudang atau Lapangan Penumpukan
ke dermaga
II. Labuh dan Tambat
3. Pekerjaan Receiving/Delivery
Delivery
Mengangkut barang dari Gudang atau
Lapangan Penumpukan kemudian
disusun di atas truck/gerbang KA (moda
transportasi darat) di pintu darat
Receiving
Menerima barang dari atas
truck/gerbong KA di pintu darat untuk
ditimbun di Gudang atau Lapangan
Penumpukan Lini I
II. Labuh dan Tambat
II.3 Bongkar dan Muat
Pelaksanaan bongkar muat dapat
dibagi menjadi dua:
Langsung ke truck (truck lossing)
Melalui Penimbunan

Note:
Sistem pelaksanaan bongkar muat ini berlaku untuk
semua barang, termasuk barang umum, curah
cair maupun curah kering
II.3 Bongkar Muat

1. Bongkar-muat langsung ke truck (truck lossing)


Barang langsung dibongkar dari kapal dan dimuat
langsung ke truck atau sebaliknya. Biasanya untuk
barang yang berbahaya apabila ditimbun di
gudang/lapangan, misal gula, beras, semen dll
Keuntungan:
biaya Cargodoring dan Delivey berkurang , hanya 50%,
maka ongkos pelabuhan pemuatan (OPP) atau ongkos
pelabuhan tujuan (OPT) lebih murah.
Tidak membayar ongkos Gudang/Lapangan Penumpukan
Kekurangan:
kurang efektif, misal jumlah truck kurang, mengakibatkan
waktu tambat kapal (Berth Time) lebih lama, biaya jasa
tambat lebih besar
II.3 Bongkar dan Muat

2. Bongkar muat melalui penimbunan


Barang sebelum dimuat disimpan dahulu di
gudang atau lapangan penumpukan.
Barang disusun sesuai rencana urutan
pemuatan. Urutan pemuatan untuk
memudahkan pembongkaran di pelabuhan
tujuan dan kepentingan stabilitas kapal.
II. Labuh dan Tambat
Barang Curah (dry /liquid bulk)
1. Curah Kering
misal: beras, jagung, kedelai dll, hampir sama
dengan barang umum (general cargo), yang
beda penggunaan tenaga kerja bongkar muat
per-gang/per-palka
2. Curah Cair
menggunakan pipa langsung ke tanki timbun
atau ke truck lossing.
Tanki timbun sebagai tempat
penimbunan barang curah cair

Pipa sebagai sarana untuk


bongkar muat barang curah
cair
II.3 Bongkar Muat
Kontainer (Peti Kemas)
Fasilitas yang harus disediakan untuk pelabuhan peti
kemas:
1. Dermaga Peti Kemas
tambatan yang digunakan sandar kapal peti kemas
2. Marshalling Yard (Container Storage)
suatu area pada terminal peti kemas yang digunakan
untuk menampung kegiatan handling peti kemas
(import stacking yard dan export stacking yard)
3. Container Yard
area yang dipakai untuk menyerahkan (receiving)
dan menerima (delivery) kontainer, untuk
menumpuk kontainer export/import, kontainer
kosong
Container Yard
(lapangan penumpukan)
II.3 Bongkar Muat

4. Gudang Konsolidasi atau CFS (Container Freight


Station)
tempat untuk menyimpan atau menimbun
barang, import atau export hasil pengeluaran
kontainer LCL dan barang-barang yang akan
dimasukkan ke kontainer LCL export
5. Ship to Shore (STS) Crane
Crane kontainer yang berada di dermaga untuk
bongkar muat peti kemas
6. Trailer
Truck yang disediakan untuk mengangkut peti
kemas
7. Alat-alat lain, forklift, top loader dll
Untuk memindahkan
container dari kapal ke
darat atau sebaliknya
Ship to Shore Cranes
(STS Cranes)
Memuat container di atas
truck trailer digunakan
Straddle carrier cranes
Straddle carrier cranes
tipe Rubber Tyre Gantry
cranes

Straddle carrier cranes


tipe Rail Mounted
Gantry cranes
Untuk menumpuk container
digunakan alat
Stacked container/forklift
Forklift
Pengangkut Container
digunakan Trailer
II.3 Bongkar Muat

Tedapat 2 sistem pengiriman barang melalui Peti


kemas :
A.Full Container Loaded (FCL)
Sistim pengiriman barang dengan peti kemas, dimana di
dalam peti kemas tersebut dimasukkan/dipadatkan 1
(satu) party barang atau lebih, hanya untuk satu alamat
penerima di pelabuhan tujuan
B.Less Container Loaded (LCL)
sistim pengiriman barang dengan peti kemas, dimana di
dalam peti kemas dimasukkan/dipadatkan barang dari
beberapa pengiriman dan juga ditujukan kepada
beberapa orang di pelabuhan tujuan
(Pemilik barang2 mengumpulkan di CFS, di pelabuhan
tujuan, dibongkar di CFS
II. Labuh & Tambat

II.4 Penumpukan
Tujuan penyediaan fasilitas penumpukan
barang-barang bongkar muat di pelabuhan:

Memperlancar kerja bongkar muat dari/ke


kapal, khususnya untuk muatan yang
memerlukan penyusunan dahulu sesuai
pelabuhan tujuan (storage plan)
Pemeriksaan oleh Bea dan Cukai (khusus
barang export-import)
Menyeleksi barang-barang yang rusak, tidak
cocok dengan dokumen, ukuran dll
Kepentingan klaim
II.4 Penumpukan

Gudang

Tempat penumpukan tertutup, terdapat 2 jenis


gudang:
Gudang Lini I
Gudang yang ditepi laut, mempunyai dua pintu,
menghadap ke laut/dermaga dan menghadap ke
darat. Gudang lini I dibawah pengawasan Bea &
Cukai (masih dalam urusan Bea & Cukai)
Gudang Lini II
Gudang yang dibangun di luar pelabuhan atau di
dalam pelabuhan tetapi tidak ditepi laut. Gudang
Lini II digunakan untuk menumpuk barang-
barang yang telah selesai dokumen Bea & Cukai
II.4 Penumpukan

Lapangan Penumpukan
Lapangan Penumpukan Lini I
Lapangan Lini I menampung barang-barang
yang tidak bisa masuk gudang (berat, besar,
dan tahan cuaca), tetapi masih dibawah
pengawasan Bea & Cukai (masih dalam
urusan Bea & Cukai)
Lapangan Penumpukan Lini II
Untuk menumpuk barang-barang yang telah
selesai dokumen Bea & Cukai, jadi barang
bebas, hanya untuk penimbunan (stock)
II. Labuh dan Tambat

II.5 Pelayanan Penumpang


untuk menjamin pelayanan penumpang
angkutan laut, terminal penumpang dibagi
menjadi beberapa kelas:
Terminal Penumpang Kelas A
Terminal Penumpang Kelas B
Terminal Penumpang Kelas C
II. Labuh dan Tambat

II.6 Pelayanan Lain-lain


Pelayanan Pas Pelabuhan
Setiap orang/kendaraan wajib yang akan masuk
daerah lingkungan kerja pelabuhan harus memiliki
tanda masuk (pas)
Pelayanan Air Bersih
Dengan pipa, untuk kapal yang sedang sandar, atau
dengan tongkang bagi kapal yang sedang rede
Pelayanan Listrik
Persewaan Tanah Pelabuhan
untuk fasilitas pokok (gudang, lapangan penumpukan,
dermaga), untuk fasilitas penunjang (kantor, dock),
fasilitas umum (pertokoan, kantor, pompa bensin)
Pendapatan Pelabuhan
Komponen pendapatan pelabuhan digolongkan
sebagai berikut:
1.Pendapatan Pelayanan Kapal
diperoleh dari penyediaan fasilitas atau jasa sejak
kapal berlabuh, pemanduan, penundaan sampai
penambatan kapal di dermaga dan pengisian air
Pendapatan dirinci menjadi:
Pendapatan Labuh
Pendapatan Pemanduan
Pendapatan Penundaan
Pemanduan Tambatan
Pendapatan Air bersih
Pendapatan Pelabuhan

2.Pendapatan Pelayanan Barang


diperoleh daripenyediaan fasilitas
bongkar muat barang dari lambung
kapal melewati dermaga, masuk
gudang atau lapangan penumpukan
Pendapatan dirinci menjadi:
Pendapatan Dermaga
Pendapatan Gudang Penumpukan
Pendapatan Lapangan Penumpukan
Pendapatan Pelabuhan

3. Pendapatan Pelayanan Terminal


Konvensional
Pelayanan bongkar-muat menghasilkan
pendapatan dari kegiatan sejak barang
diturunkan dari kapal ke dermaga (stevedoring),
memindahkan barang dari dermaga ke
gudang/lapangan penumpukan (cargodoring),
penyerahan ke pemilik barang (delivery) atau
sebaliknya menerima barang dari pemilik
(receiving) ---- (cargodoring) -----(stevedoring)
Pelayanan bongkar muat umumnya dilakukan
oleh anak perusahaan bongkar-muat (PBM).
Pendapatan Pelabuhan

4. Pendapatan Pelayanan Terminal Peti Kemas


Pelayanan Usaha Terminal Peti Kemas (UTPK).
Beberapa pelabuhan hanya melayani export-
import, untuk kegiatan antar pulau
dilaksanakan pada terminal konvensional yang
dilayani PBM PT. Pelindo atau swasta
5. Pendapatan Pengusahaan Tanah, Bangunan
dan Listrik
hasil pemanfaatan tanah, bangunan dalam
suatu kontrak serta persewaan penerangan
listrik untuk kegiatan bongkar muat, baik di
dermaga, gudang atau lapangan penumpukan
Pengeluaran (Biaya) Pelabuhan
Beban perusahaan yang harus dikeluarkan
yang berhubungan dengan proses produksi,
secara langsung maupun tidak langsung
Biaya tersebut dapat dikelompokkan sesuai
fungsi biaya dalam hubungannya dengan
aktifitas perusahaan:
Biaya Operasi Langsung (BOL)
Gaji pegawai, biaya pemeliharaan, penyusutan,
asuransi, sewa
Biaya Operasi Tidak langsung (BTL)
Biaya Penunjang Operasi (BPO)
Biaya Pengelolaan Kantor Pusat (BPKP)
Terima kasih

Anda mungkin juga menyukai