Anda di halaman 1dari 22

Program Studi S1 Teknik Geologi

Universitas Tadulako
Palu, 2015

M a t a K uli a h
ENDAPAN MINERAL
(3 sks)

Asrafil, S.Si., M.Eng.


POKOK-POKOK BAHASAN ENDAPAN MINERAL

PENDAHULUAN
SEJARAH GEOLOGI EKONOMI
METALOGENESIS, TEKTONIK LEMPENG & ENDAPAN BIJIH
KLASIFIKASI ENDAPAN MINERAL BIJIH
ENDAPAN MAGMATIK
ENDAPAN HIDROTERMAL
ENDAPAN VULKANIK
ENDAPAN SEDIMENTER (PLACER)
ENDAPAN RESIDUAL (KIMIAWI)
ENDAPAN NON-LOGAM (MINERAL INDUSTRI)
ENDAPAN HIDROTERMAL

Endapan mineral hidrotermal dibentuk oleh


sirkulasi fluida panas (sekitar 50 sampai
>500C) yang meluluh, tertransportasi dan
kemudian mengendapkan mineralnya sebagai
respon perubahan kondisi fisika-kimia. Endapan
mineral biasanya terbentuk pada zona pelepasan,
apakah ini berupa saluran tunggal, atau
serangkaian channelways, atau jaringan rekahan
kecil yang halus. Jadi, lokasi pengendapan mineral
hidrotermal dapat berupa patahan, jaringan
rekahan dan zona geser (Pirajno, 2009).
ENDAPAN HIDROTERMAL

Sirkulasi fluida hidrotermal menyebabkan


himpunan mineral pada batuan dinding menjadi
tidak stabil, dan cenderung menyesuaikan
kesetimbangan baru dengan membentuk himpunan
mineral yang sesuai dengan kondisi yang baru,
yang dikenal sebagai alterasi (ubahan)
hidrotermal. Semua mineral bijih yang terbentuk
sebagai mineral ubahan pada fase ini disebut
sebagai endapan hidrotermal.
ENDAPAN HIDROTERMAL

Faktor Pengontrol pembentukan Ore endapan hidrotermal


(Bateman, 1981).

Larutan Hidrotermal ore-bearing fluids

Zona lemah saluran untuk larutan hidrotermal.

Ruang pengendapan

Reaksi Kimia host rock vs hidrothermal fluids

Konsentrasi Mineral
ENDAPAN HIDROTERMAL

Berdasarkan Tipe & Model Endapan;


Endapan Epitermal
Endapan Porfiri
Endapan Skarn
VMS
SEDEX
Sistem Hidrotermal-Magmatik
ENDAPAN HIDROTERMAL

Pembentukan endapan mineral jenis hidrotermal,


mineral-mineralnya terbentuk secara berurutan
(paragenesa). Mineral gangue diendapkan terlebih
dahulu, kemudian diikuti oleh mineral oksida dan
yang paling akhir mengkristal mineral sulfida.
(Sukandarrumidi, 2007).
Endapan Epitermal

Karakteristik;
Suhu relatif rendah (50-250C) dengan salinitas
bervariasi antara 0-5 wt.% NaCl eq.

Terbentuk pada kedalaman dangkal (~1 km)

Jenis air: air meteorik dengan sedikit air magmatik

Klasifikasi;

High sulfidation(acid sulfate type)

Low sulfidation (adularia-sericite type)


Endapan Epitermal
Jenis-jenis pengisian (open-space filling)

Jenis dan geometri endapan


epitermal yang
menggambar-kan secara
skematis struktur, hidro-
termal, dan litologi
mengontrol permeabilitas.
Zona alterasi
Lateral:residual silica qtz-alu
qtz-kao kao-ill ill/sme
Vertikal:
Residual silica py en
Qtz alu pyroph kao py

Qtz kao ser, py, ccp

Depth
Qtz ser py, ccp

Bio, or, cpy, bn, mag


Alterasi hidrotermal
EPITHERMAL QUARTZ TEXTURES
CLASSIFICATION

PRIMARY TEXTURES
Those that grow in the
initial stages of crystallisation

RECRYSTALLISATION TEXTURES
Related to the transformation
of amorphous silica to quartz

REPLACEMENT TEXTURES
Partial or complete pseudomorphs
of other minerals by silica/quartz

K L O N D IK E
Zoning model fluid types

Gas
(H2O,CO2,S)
acid

Boiling
(gas + liquid,
fluctuates)

Liquid
(+ salts)
alkaline
Endapan Porfiri

Sistem porfiri secara universal ditandai dengan tiga


ciri utama (Pirajno, 2009).. yakni;
(a) volume besar batuan dipengaruhi oleh
mineralisasi alterasi hidrotermal,
(b) mineralisasi spasial dan genetik berhubungan
dengan tubuh intrusi, yang setidaknya memiliki
tekstur porfiritik yang berbeda, dan
(c) kehadiran urat dan membentuk veinlets
stockwork, dimana tersebar sulfida Fe, Cu, Mo,
Pb dan Zn, serta native gold, dan mineral dari
W, Bi dan Sn
Endapan Porfiri

Sistem ini terkait erat dengan campuran dasar


plutonik, terbentuk pada kedalaman lampau dari 5
sampai 15 km, yang merupakan ruang pasokan
untuk magma dan cairan yang membentuk kawanan
stocks atau dyke vertikal memanjang (>3 km) dan
terkait mineralisasi (Sillitoe, 2010)
Endapan Porfiri

Host yang paling umum adalah batuan plutonik


asam dari jenis granit mulai dari granodiorit ke
tonalit, kuarsa monzodiorite dan diorit (Evans,
1993)

Sistem ini terkait erat dengan campuran dasar


plutonik, terbentuk pada kedalaman lampau dari 5
sampai 15 km, yang merupakan ruang pasokan
untuk magma dan cairan yang membentuk
kawanan stocks atau dyke vertikal memanjang (>3
km) dan terkait mineralisasi (Sillitoe, 2010)
Porphyry vein-veinlet system

a) Collahuasi/Chile
b) Grasberg/Irian Jaya
Porphyry vein-veinlet system

2 cm
PUSTAKA RUJUKAN

Maulana. Adi, 2014, Buku Ajar Endapan Mineral, Jurusan


Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanudin,
Makassar.

Evans, A.M., 1993. Ore geology and industrial minerals, an


introduction, Blackwell Science, 389 p..

Robb, L. (2005), Introduction to Ore-Forming Processes,


Blackwell Publishing, Carlton, Australia, 373 p.

Pirajno, F., 2009, Hydrothermal Processes and Mineral


System, Springer, Australia.

Corbett, G. and Leach T., 1997, Southwest Pacific Rim Gold-


Copper System: Structure, Alteration, and
Mineralization, Short Course Manual. Australia.

Anda mungkin juga menyukai