Anda di halaman 1dari 10

ASUHAN KEPERAWATAN

IBU POST PARTUM BLUES

IKKA MEILITA SARI


(1514401058)
LISTIANA RAHAYU
(1514401060)
Pengertian post partum blues

post-partum blues (PPB) atau sering juga


disebut maternity blues atau baby blues
dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan
afek ringan yang sering tampak dalam
minggu pertama setelah persalinan atau pada
saat fase taking in, cenderung akan
memburuk pada hari ketiga sampai kelima
dan berlangsung dalam rentang waktu 14 hari
atau dua minggu pasca persalinan.
Klasifikasinya terbagi menjadi 2,yaitu post
partum blues ringan dan post partum blues
berat
Etiologi
Etiologi atau penyebab pasti terjadinya postpartum
blues sampai saat ini belum diketahui. Namun, banyak
faktor yang diduga berperan terhadap terjadinya
postpartum blues, antara lain:
1. Faktor hormonal yang berhubungan dengan
perubahan kadar estrogen, progesteron, prolaktin
dan estradiol.
2. Faktor demografi misalnya umur.
3. Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan.
4. Latar belakang psikososial ibu, seperti; tingkat
pendidikan, status perkawinan, kehamilan yang tidak
diinginkan, riwayat gangguan kejiwaan sebelumnya,
dll.
5. Takut kehilangan bayinya atau kecewa dengan
bayinya.
Manifestasi Klinis

Gejala-gejala postpartum blues ini bisa terlihat dari


perubahan sikap seorang ibu. Gejala tersebut
biasanya muncul pada hari ke-3 atau 6 hari setelah
melahirkan. Beberapa perubahan sikap tersebut
diantaranya sering tiba-tiba menangis karena merasa
tidak bahagia, penakut, tidak mau makan, tidak mau
bicara, sakit kepala sering berganti mood, mudah
tersinggung (iritabilitas), merasa terlalu sensitif dan
cemas berlebihan, tidak bergairah,dll.
Gejala-gejala itu mulai muncul setelah persalinan dan
pada umumnya akan menghilang dalam waktu antara
beberapa jam sampai beberapa hari. Namun jika
masih berlangsung beberapa minggu atau beberapa
bulan itu dapat disebut postpartum depression.
Penatalaksanaan
Para ibu post partum membutuhkan dukungan
psikologis seperti juga kebutuhan fisik lainnya yang
harus juga dipenuhi. Mereka membutuhkan
kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan
perasaan mereka dari situasi yang menakutkan.
Mungkin juga mereka membutuhkan pengobatan
atau istirahat, dan seringkali akan merasa gembira
mendapat pertolongan yang praktis. Dengan
bantuan dari teman dan keluarga, mereka mungkin
perlu untuk mengatur atau menata kembali
kegiatan rutin sehari-hari, atau mungkin
menghilangkan beberapa kegiatan, disesuaikan
dengan konsep mereka tentang keibuan dan
perawatan bayi.
Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian pada pasien post partum blues menurut Bobak (
2004 ) dapat dilakukan pada pasien dalam beradaptasi
menjadi orang tua baru. Pengkajiannya meliputi ;
1).Identitas klien meliputi :
Nama :
Umur :
Pekerjaan :
Pendidikan :
Alamat :
2). Dampak pengalaman melahirkan
3). Citra diri ibu
4). Interaksi Orang tua Bayi
5). Struktur dan fungsi keluarga
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan pada pasien postpartum
blues diantaranya Adalah :
Nyeri akut/ketidaknyamanan berhubungan
dengan trauma mekanis, edema/pembesaran
jaringan atau distensi, efek-efek hormonal.
Risiko tinggi terhadap perubahan peran menjadi
orang tua berhubungan dengan pengaruh
komplikasi fisik dan emosional.
Resiko tinggi ketidakefektifan koping individu
berkaitan perubahan emosional yang tidak stabil
pada ibu.
Rencana Keperawatan
Risiko tinggi terhadap perubahan peran menjadi orang tua berhubungan
dengan pengaruh komplikasi fisik dan emosional.
Tujuan : Mengungkapkan masalah dan pertanyaan tentang menjadi orang
tua, mendiskusikan peran menjadi orang tua secara realistis, secara aktif
mulai melakukan tugas perawatan bayi baru lahir dengan tepat,
mengidentifikasi sumber-sumber.
Intervensi Keperawatan :
1. Kaji kekuatan, kelemahan, usia, status perkawinan, ketersediaan sumber
pendukung dan latar belakang budaya.
2. Perhatikan respons klien/pasangan terhadap kelahiran dan peran menjadi
orang tua.
3. Tinjau ulang catatan intrapartum terhadap lamanya persalinan, adanya
komplikasi, dan peran pasangan pada persalinan.
4. Evaluasi status fisik masa lalu dan saat ini dan kejadian komplikasi pranatal,
intranatal, atau pascapartal.
5. Evaluasi kondisi bayi ; komunikasikan dengan staf perawatan sesuai indikasi.
6. Pantau dan dokumentasikan interaksi klien/pasangan dengan bayi.
7. Kolaborasi dalam merujuk untuk konseling bila keluarga beresiko tinggi
terhadap masalah menjadi orang tua atau bila ikatan positif diantara
klien/pasangan dan bayi tidak terjadi.
Evaluasi
Evaluasi didasarkan pada kemajuan pasien
dalam mencapai hasil akhir yang ditetapkan
yaitu meliputi ;
1. kesejahteraan fisik ibu dan bayi akan
dipertahankan.
2. Ibu dan keluarga akan mengembangkan
koping yang efektif.
3. Setiap anggota keluarga akan melanjutkan
pertumbuhan dan perkembangan yang sehat.
4. Perawat dapat yakin bahwa perawatan
berlangsung efektif jika kesejahteraan fisik ibu
dan bayi dapat dipertahankan, ibu dan
keluarganya dapat mengatasi masalahnya
Kesimpulan

Post-partum blues sendiri sudah dikenal sejak lama.


Dewasa ini, post-partum blues (PPB) atau sering
juga disebut maternity blues atau baby blues
dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan afek
ringan yang sering tampak dalam minggu pertama
setelah persalinan atau pada saat fase taking in,
cenderung akan memburuk pada hari ketiga sampai
kelima dan berlangsung dalam rentang waktu 14
hari atau dua minggu pasca persalinan.
Penyebab postpartum blues belum diketahui secara
pasti. Penderita postpartum dapat dideteksi melalui
skrinning yaitu dengan kuisioner yang berupa
pertanyaan tentang rasa cemas. Asuhan
keperawatan pada pasien postpartum blues pada
dasarnya harus holistik yaitu menyeluruh dari bio-