Anda di halaman 1dari 38

REFERAT

ILMU PENYAKIT GIGI DAN


MULUT
Manifestasi oral obat
antidepresan
Pendahuluan
Reaksi obat biasa terjadi dan mempengaruhi
kualitas hidup pasien. Hampir semua golongan
obat, terutama yang digunakan terus menerus,
seperti antidepresan, antihipertensi,
antipsikotik.
DEFINISI
Antidepresan merupakan Obat psikotropik
yang bekerja pada sistem saraf pusat
menghasilkan perubahan tingkah laku, mood
dan kesadaran, dan juga mengarah pada
dependen.
Antidepresan merupakan obat yang diresepkan untuk
pasien semua usia untuk mengobati berbagai penyakit
psikiatri.
Mayoritas peresepan antidepresan dihubungkan
dengan jumlah reaksi oral yang signifikan
Komplikasi yang terjadi termasuk xerostomia,
sialodenitis, gingivitis, disgeusia, glositis, edema
lidah
Antidepresan dan Xerostomia
Xerostomia merupakan sensasi subjektif dari kekeringan
mulut, tetapi tidak selalu berhubungan dengan hipofungsi
kelenjar saliva.
Xerostomia dapat menimbulkan beberapa masalah dan
kesulitan pada penderitanya.
Xerostomia merupakan salah satu manifestasi oral paling
umum pada individu dengan penyakit Parkinson dan pencetus
karies dan penyakit periodontal.
ETIOLOGI
Faktor yang berhubungan dengan xerostomia
Aplasi kelenjar saliva
Dehidrasi
Sarkoidosis
Psikogenik
Sirosis bilier primer
Fibrosis kistik
Infeksi
Terapi radiasi
Dialisis ginjal
Vaskulitis
Transplantasi sumsum tulang
Ansietas, depresi
DM
Perdarahan
kemoterapi
Antidepresan yang berhubungan dengan xerostomia
Agonis serotonin
Atipikal antidepresan
Trisiklik antidepresan
Venlafaxine
Alprazolam
Buspiron
Sign & Symptom
SIGN :
Saliva menjadi kental dan berbusa
Bibir kering dan pecah-pecah
Rongga mulut terasa terbakar
Lidah berfisura dan berlobul
Mukosa terlihat kering dan pucat
Kelenjar saliva bengkak dan nyeri
SYMPTOM
Kesulitan saat makan
Kesulitan berbicara
Kesulitan menelan
Gangguan pengecapan (disgeusia)
Berkurangnya retensi pada pemakai gigi tiruan
Rasa sakit pada lidah (glosodyna)
Peningkatan kebutuhan untuk minum
DIAGNOSIS
Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan xerostomia terdiri dari dua langkah, yaitu :
- Langkah pertama
- Menegakkan diagnosis

- Langkah kedua
- Terapi preventif
- Perawatan simtomatik
- Stimulasi saliva
LAPORAN KASUS
KASUS 1
Ulceration of the oral mucosa induced by antidepressant medication: a case report
Fernanda Bertini, Nvea Cristina Sena Costa, Adriana Aigotti, Haberbeck Brando, Ana Sueli
Rodrigues Cavalcante and Janete Dias Almeida

Laporan kasus
Seorang wanita Kaukasian berumur 78 tahun dirujuk
oleh dokter giginya ke klinik rawat jalan, dengan
riwayat ulserasi pada mulut sejak 4 minggu. Dia
mengatakan bahwa dia menderita karsinoma
basoselular pada wajah dan kanker perut. Pemeriksaan
mulut bagian luar menunjukkan wajah simetris dan
palpable, mobile, licin dan nodus limfe submandibular
asimptomatik. Ulkus dangkal dengan batas
eritematosa, berukuran kira-kira 1,5 cm pada diameter
maksimum, dicatat atas pemeriksaan intraoral. Ulkus
berlokasi di mukosa regio lingual dari premolar kiri
bawah dan disertai dengan gejala nyeri.
Dari anamnesis, pasien dilaporkan
menggunakan sertralin hidroklorida untuk
pengobatan depresi dengan dosis inisial 50
mg, yang secara bertahap ditingkatkan sampai
100 mg ketika lesi pertama muncul. Setelah
evaluasi pengobatan oleh dokter penanggung
jawab, sertralin diganti dengan venlafaksin 75
mg dan sitologi eksfoliatif dari ulkus terlihat.
Sitologi eksfoliatif lesi terlihat pada sisi sel epitelial
superfisial dan intermediet menunjukkan peradangan
yang berbeda dan perubahan degeneratif, seperti
vakuolisasi, halo perinuklear, nukleus melebar,
binukleasi dan lisis, leukosit mono dan
polimorfonuklear, bermukus tebal dan berfilamen,
terdapat sisa sel, dengan tambahan campuran flora
termasuk bakteri dan hifa Candida.
Membilas mulut dengan betametason eliksir tiga kali per hari selama 3
menit diberikan inisial selama 5 hari. Pada kunjungan kembali, pasien
terlihat adanya perubahan gejala klinis dan diinstruksikan untuk
melanjutkan membilas mulut selama 7 hari tambahan. Dua minggu
setelahnya, pasien kembali, mengeluh nyeri menetap di area yang terkena.
Pasien kembali setelah 21 hari menunjukkan perubahan gejala klinis yang
signifikan dan reepitelisasi ulkus. Pasien di follow up selama 4 bulan
setiap minggu dan selesai setelah periode ini. Pasien menunjukkan bahwa
tidak ada keluhan oral lagi selama 2 tahun di follow up.
DISKUSI

Pasien dengan ulkus oral dan dirujuk oleh dokter giginya, yang
khawatir akan kemungkinan kanker mulut. Ulkus oral dapat
menjadi manifestasi awal penyakit sistemik dari imunogenetik,
seperti penyakit Behcet dan lainnya. Penyakit seperti
pemfigus, dan pemfigoid mungkin dapat dijadikan diagnosis
banding dengan ulkus sekunder nonspesifik setelah bula
ruptur. Pada beberapa kasus, biopsi dikombinasi dengan
imunofloresens merupakan alat fundamental untuk
mendapatkan diagnosis yang pasti.
Kasus 2
Antidepressant-induced Burning Mouth Syndrome - A Unique Case
Department of Oral Medicine and Radiology, KLE Societys Institute of Dental Sciences, *Vokkaligara
Sangha Dental College and Hospital, Bangalore, India
Shubhasini Attavar Raghavan, Rajiv Nidasale Puttaswamiah*, Praveen N Birur, Bhanushree Ramaswamy,
and Sumsum P Sunny

LAPORAN KASUS
Seorang pasien perempuan berusia 55 tahun mengeluh adanya rasa
terbakar yang terus menerus selama 4 bulan pada bagian mukosa
mulut. Keluhan ini biasanya terasa hanya pada bagian lidah tapi
umumnya meliputi seluruh bagian mulut. Sensai terbakar ini tidak
berhubungan dengan perubahan sensasi rasa atau mulut kering.
Keluhan ini terutama dirasakan pada pgi hari dan meningkat secara
progresif di siang hari. Keluhan ini bertambah parah dengan
makanan pedas dan tidak berkurang ketika memakai analgesik.
Berdasarkan rekam medis pasien bahwa pasien telah
mengalami menopause selama 4 tahun. Pasien pernah
menyaksikan kecelakaan dan menderita depresi
mayor sebelumnya untuk berkunjung ke klinik kami.
Pasien mendapatkan terapi selama 3 tahun :
Monoprolol 40 mg, Benzhexol (Parkin) 2 mg, sodium
valproate (Valprol) 50 mg, haloperidol (Trancodol) 5
mg dan fluoxetin 100 mg.
Dalam mengatur depresinya, dosis dari fluoxetin satu
tahun sebelumnya ditingkatkan pada kunjungannya
dari 100 ke 200 mg per hari selama sebulan. Selama
periode ini, pasien mengalami sensasi terbakar ringan
di mulutnya yang kembali normal ketika dosis
diturunkan. Dosis obat yang sama ditingkatkan lagi
dari 100 ke 200 mg enam bulan sebelumnya saat
kunjungannya, dan pasien mengalami gejala mulut
terbakar selama 4 bulan.
Pada pemeriksaan, pasien tampak sehat, sadar, kooperatif,
orientasi baik, mudah dibangunkan dan status gizi baik. Tanda-
tanda vitalnya dalam batas normal. Pemeriksaan intraoral
menunjukkan mukosa oral tampak normal dan sehat; tidak ada
lesi mukosa yang menjelaskan nyeri tersebut. Sekresi saliva
terlihat adekuat, dan saliva encer dan banyak sekali.Intensitas
dari sensai terbakar didasarkan pada skala analog visual,
dengan skor 8. Analisis darah laboratorium menunjukkan
bahwa semua parameter dalam batas normal.
Pasien dirujuk ke psikiaternya dengan permintaan perubahan
atau penurunan dosis dari obat fluoxetin. Obatnya sudah
dihentikan, dan depresinya sudah diatur dengan obat
Colostrinin (Cognate). Mengikuti perubahan ini, glossodinia
pasien menghilang sempurna dalam satu bulan.
Berdasarkan riwayatnya, gejala klinis dan respnosis akhir dari
BMS yang disebabkan oleh antidepresan SSRI dapat
ditentukan. Pasien berada dalam follow up dan bebas nyeri.
DISKUSI

Burning mouth syndrome didefinisikan oleh Asosiasi


Internasional dalam Penelitian nyeri sebagai nyeri terbakar di
daerah lidah atau membran mukosa oral yang berhubungan
dengan tanda-tanda dan penemuan laboratorium normal,
setidaknya 4 hingga 6 bulan terakhir. Satu titik yang umumnya
terkena adalah ujung dan dua per tiga anterior lidah, yang
merupakan area terbesar pergerakan kavitas mulut . Defisiensi
besi, asam folat, B12 kompleks dan vitamin B6, dan elemen
seperti zink dapat berhubungan dengan timbulnya ulkus.
Kasus 3
Ecstasy related periodontitis and mucosal ulceration a case report

W. J. Brazier, D. K. Dhariwal,D. W. Patton, and K. Bishop,

LAPORAN KASUS
Seorang anak laki-laki berusia 15 tahun dirujuk ke unit bedah mulut
dan maksilofasial oleh dokter umumnya dengan lemas seluruhnya
dan demam dan rasa nyeri di bagian anterior atas bibir bengkak
sejak satu hari. Tidak ada riwayat trauma sebelumnya. Pasien
sudah 14 bulan memperbaiki pengobatan ortodontis selama 4
bulan sebelumnya, dan memiliki riwayat perawatan gigi dengan
kebersihan mulut yang baik. Tidak ada are periodontal patologis,
misalnya tercatat kedalaman area 2-3 mm.
Pemeriksaan klinis didapatkan bengkak pada vestibula
labial maksila yang memiliki hubungan dengan gigi seri
atas tengah. Kedua gigi seri tengah maksila
menunjukkan mobilitas grade II dan rapuh pada perkusi,
tapi terdapat suara lain. Insisi dan drainase dari dugaan
abses dentoalveolar sudah dilakukan dan menyebabkan
cairan serosa yang dikirim untuk kultur. Tes darah rutin
sudah dilakukan. Antibiotik oral, Penisilin V dan
metronidazole sudah dimulai.
Uji laboratorium menyatakan hitung sel darah putih (WCC)
8,2 x 109/l [kisaran normal 5-10 x 109/l], didominasi oleh
eosinofil. Nilai Sedimen Eritrosit (ESR) meningkat pada 23
mm/jam [kisaran normal 2-109 mm/jam] dan enzim hepar
aspartat transaminase (AST) dan gamma glutamil transferase
(GGT) meningkat masing-masing pada 59 U/l dan 43 U/l
[kisaran normal AST = 040 U/l; GGT = 085 U/l]. Kultur
mikrobiologi menghasilkan streptococcus viridans,
staphylococcus epidermidis dan spesies coryne-bacterium,
sesuai dengan flora komensal oral.
Pada ulasan 2 hari setelahnya bengkak berkurang dan
gejala sistemik mereda. Penestrasi mukosa mengenai
gingiva dengan panjanan tulang alveolar dan akar
dari UL1 (21) dan UL2 (22) yang tercatat dengan
mobilitas grade II dari UR2 (12), UR1 (11), UL1 (21)
dan UL2 (22) (Gbr. 1). Semua bagian gigi vital pada
uji ermal dan elektrik. Pemeriksaan radiografi tidak
ada hilangnya penyangga tulang yang signifikan.
Pasien menyanggah menggunakan agen topikal apapun di
daerah lesi. Pasien dirujuk pada kebersihan gigi untuk
instruksi kebersihan oral, pembersihan kerak dan penggosokan
gigi. Pada kunjungan ini pasien melaporkan bahwa pasien
menggunakan ekstasi sebagai obat rekreasi satu hari
sebelum gejalanya timbul dan menyimpan obat tersebut di
bagian atas anterior vestibula labial berdekatan dengan titik
destruksi periodontal. Pasien menyangkal menggunakan obat-
obatan lainnya sebelum menggunakan ekstasi.
Diagnosis dari gingivitis nekrosis disebabkan oleh obat pun
ditegakkan.Penghentian penggunaan MDMA sudah
disarankan, dan edukasi kebersihan oral sudah diberikan.
Debridemen subgingival dan pengerokan supraginginval dari
gigi yang terlibat sudah dilakukan. Fluoride [Duraphat 2.26%
Sodi-um fluoride 5% varnish; Colgate] juga dipakai untuk
akar yang terkena untuk meringankan sensitivitas dentinal.
Alat penahan ortodontik dikonstruksikan untuk menyangga
gigi anterior atas yang mobile. Ulkus mukosal disembuhkan
pada minggu pertama dan 4 bulan setelah presentasi gigi
kembali keras dan vital. Pada kali ini pasien tidak memiliki
keluhan, meskipun terdapat defek lokal asimptomatik 2-3 mm
dari alveolar gingiva dan penyangg sisa tulang dan pasien
kembali pada dokter giginya untuk perawatan periodontal
reguler.
DISKUSI

MDMA secara luas diterima dalam populasi umum sebagai obat


yang realtif aman dan menjadi lebih sering digunakan, meskipun
memiliki potensi efek samping yang serius. Hal ini tidak
berhubungan dengan dosis atau frekuensi penggunaan. Malaise
dan rasa lelah dilaporkan pada kasus ini dalam beberapa jam atau
hari penggunaan MDMA. Profil biokimia darah dengan
peningkatan enzim ringan dipastikan konsisten dengan gambaran
hepatitis penggunaan MDMA. Waktu interval antara penggunaan
obat dengan onset gejala konsisten dengan penggunaan MDMA.
Tidak ada laporan sebelumnya dari lesi mukosal oral
atau periodontal yang berhubungan dengan penggunaan
MDMA, meskipun lesi yang mirip terlihat pada kasus
ini dilaporkan dengan penggunaan lokal kokain. Hal ini
termasuk pada ulserasi ginginval dan ulserasi mukosa
dan periodontitis yang terjadi diikuti dengan terjadinya
gingival kronik. Hal ini terjadi karena diakibatkan oleh
aksi vasokonstriksi iskemik obat.
Pasien ini dilaporkan menyimpan mDMA di
vestibula atas. Hal ini tidak biasa dilakukan,
biasanya obat dikonsumsi tidak secara oral,
tidak seperti kokain yang dicerna ke dalam
mukosa oral.
Mukosa labial yang berdekatan dengan area
yang terkena obat tidak terpengaruh.
KESIMPULAN
Antidepresan diklasifikasikan menjadi dua
kelompok utama, yaitu heterosiklik dan
monoamine inhibitor oksidase (MAOI).
Xerostomia merupakan sensasi subjektif dari
kekeringan mulut, tetapi tidak selalu
berhubungan dengan hipofungsi kelenjar saliva.
Tanda yang dapat ditemui pada penderita
xerostomia, yaitu saliva menjadi kental dan
berbusa, bibir kering dan pecah-pecah, rongga
mulut terasa terbakar, lidah berfisura dan
berlobul, mukosa yang terlihat kering dan
pucat, serta kelenjar saliva bengkak dan nyeri.
Gejala yang biasanya dirasakan adalah
mengalami keluhan dan kesulitan ketika
makan, berbicara dan menelan, gangguan
pengecapan (dysgeusia), berkurangnya retensi
pada pemakaian gigi tiruan, rasa sakit pada
lidah (glossodyna), dan peningkatan
kebutuhan untuk minum air.
Antidepresan memiliki sifat sebagai
antikolinergik. Efek antikolinergik ini
berfungsi memblokir sistem parasimpatis
dengan menghambat efek asetilkolin pada
kelenjar ludah. Pemblokiran saraf parasimpatis
dapat mengakibatkan produksi saliva menurun
sehingga terjadi xerostomia.