Anda di halaman 1dari 39

TRAUMA AKUSTIK

OLEH
Nur Hasni Oktarina
1102090107

PEMBIMBING
Dr. dr. Riskiana Djamin, Sp.THT-KL(K)

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROKAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR, 2015
Anatomi Telinga
cont
Fisiologi Pendengaran
cont

Mekanisme Pendengaran - III.mp4


Definisi
Trauma akustik : cedera pada mekanisme pendengaran
pada telinga dalam karena kebisingan yang berlebihan
Tuli sensorineural

Etiologi
Disebabkan oleh bising yang keras dan secara tiba-tiba
atau perlahan-lahan : mesin-mesin modern, pesawat
terbang, petasan, konser musik, ear phone
BATAS PAJANAN BISING YG DIPERKENANKAN
(KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA NO.51 TAHUN 1999)
Lama pajan/hari Intensitas (dB)
Jam 24 80
16 82
8 85
4 88
2 91
1 94
Menit 30 97
15 100
7,50 103
3,75 106
1,88 109
0,94 112
Detik 28,12 115
14,06 118
7,03 121
3,52 124
1,76 127
0,88 130
0,44 133
0,22 136
0,11 139
TIDAK BOLEH terpajan lebih dari 140 dB walaupun sesaat
Epidemiologi

16% gangguan pendengaran pada orang dewasa


berhubungan dengan paparan kebisingan
Patofisiologi
Faktor Resiko

Mereka yang bekerja di mana peralatan industri yang


bersuara keras dan beroperasi untuk jangka waktu yang
lama
Mereka yang sering menghadiri konser musik dan acara-
acara lain dengan suara musik yang memiliki desibel
tinggi
Sering mendengarkan pistol (suara tembakan)
Gejala Klinis

Penurunan pendengaran (pada banyak kasus sulit


mendengar suara berfrekuensi tinggi)
Tinnitus (pada tinnitus ringan sedang akan paling
sering menyadari gejala ini ketika mereka berada d
ruangan yang tenang)
Sensasi penuh di telinga
Nyeri telinga
Kesulitan melokalisir suara
Kesulitan mendengar di lingkungan bising
Diagnosis
cont diagnosis

Gambar audiogram pada trauma akustik


Penatalaksanaan

Tuli sensorineural menetap (irreversible)


Kesulitan berkomunikasi dengan volume percakapan
biasa pemasangan alat bantu dengar (hearing aid)
Dengan memakai ABD pun tidak dapat berkomunikasi
dengan adekuat psikoterapi agar dapat menerima
keadaannya
Latihan pendengaran agar dapat menggunakan sisa
pendengaran dengan ABD secara efisien dibantu dengan
lip reading, mimik dan bahasa isyarat
Tuli total bilateral implant koklea
Prognosis

Irreversible malam
Pencegahan
Menghindari suara bising
Bising di lingkungan kerja harus diusahakan <85 dB meredam
sumber bunyi, misalnya yang berasal dari generator dipisah
dengan menempatkannya di suatu ruangan yang dapat meredam
bunyi
Jika bising ditimbulkan oleh alat-alat seperti mesin tenun, mesin
pengerolan baja, kilang minyak atau bising yang ditimbulkan
sendiri oleh pekerja seperti di tempat penempatan logam, maka
pekerja tsb dilindungi dengan alat pelindung bising
cont pencegahan
Pengaruh Kebisingan Pada
Pendengaran
Klinis, pajanan bising di organ pendengaran menimbulkan :
PENDAHULUAN
Kerusakan pend akibat bising perlahan
Terpajan bising 3 5 thn, intensitas 85 90 dB, terus menerus,
frekw tinggi (4000 Hz), + 8 jam/hari mulai terjadi
kerusakan organ pendengaran
Pend belum merasakan gangguan pendengaran
5 10 thn kerusakan meluas ke frek 500 1000 2000
(percakapan sehari-hari ) dirasakan (irreversible)
NIHL (Noise Induced Hearing Loss) sering pada pekerja industri
OSHA (Occupational Safety & Health Administration), batas
aman :
- pajanan rerata sehari dg intensitas bising < 85 dB selama 8
jam sehari / 40 jam / minggu
Negara berkembang, kebisingan penyebab > dari 1/3 ks gangg
pendengaran
Dapat dihindari
FISIOLOGI PENDENGARAN
Gelombang suara

Getaran membrana timpani

Getaran osikula auditiva Getaran jendela bundar

Getaran jendela oval Penghamburan energi

Gerakan cairan di dalam koklea


FISIOLOGI PENDENGARAN

Defleksi stereosilia sel rambut

Pelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel

Pelepasan neurotransmiter ke sinapsis yg menimbulkan


aksi pada n. auditorius

Nukleus auditorius

Korteks pendengaran di Lobus Temporalis (area 39-40)


FISIOLOGI PENDENGARAN

PERAMBATAN SUARA KE TELINGA ADA 3 :


1. Melalui rantai tulang pendengaran (paling sering)
2. Langsung menuju telinga tengah (adanya perforasi
membran)
3. Melalui hantaran tulang
- energi suara diambil dan diteruskan ke telinga dalam
melalui tulang tengkorak
SUARA MASUK TELINGA MENGALAMI AMPLIFIKASI
- akibat perbedaan ukuran membrana timpani dan foramen
ovale
- akibat daya ungkit tulang pendengaran
- amplifikasi sebesar 25 30 dB
- besar amplifikasi sebanding dg berkurangnya energi gelom
bang suara akibat perubahan media
Frekuensi suara yang dapat didengar manusia berkisar antara
20 20.000 Hz, dg kepekaan tertinggi 1000 4000 Hz
BISING
Bunyi yang tidak disukai atau diinginkan
Batasan diarahkan bising sehari-hari (lalu-lintas, pasar, keramaian
stasiun)
Audiologik : Campuran bunyi nada murni dengan berbagai
frekuensi
Tidak selalu berarti ketidaknyamanan
Awal : semua kerusakan organ pendengaran yang berupa
kenaikan NAD yang disebabkan oleh suara keras (termasuk bising)
disebut TRAUMA AKUSTIK
Perkembangan lanjut, batasan trauma suara keras thd
pendengaran ada 2 :
1. TRAUMA BISING, yaitu ketulian sensori atau sensorineural yang
mendadak disebabkan suara yang sangat keras dalam waktu
singkat baik terjadi sekali atau beberapa kali.
2. NIHL (Noise Induced Hearing Loss), yaitu ketulian menetap
yang disebabkan oleh dampak akumulasi pajanan/paparan bising
dalam jangka waktu lama dengan tipe ketulian sensori atau
sensorineural.
BISING

JENIS BISING (OSHA)


1. Trauma bising mikro/ringan (75 dB s/d 85 dB)
2. Trauma bising makro/berbahaya (85 dB s/d 115-120 dB)
disebut BISING INDUSTRI
3. Trauma bising makro yang dapat merusak telinga dalam dan
tengah dengan sekali letusan (125 dB ke atas)

LOKAKARYA HIPERKES BOGOR (1974)


NAB (Nilai Ambang Batas) kebisingan di tempat kerja :
Intensitas suara tertinggi yang merupakan nilai rata-rata
dan masih dapat diterima tenaga kerja tanpa
mengakibatkan hilangnya daya dengar yang menetap untuk
waktu kerja terus-menerus tidak lebih 8 jam/hari atau 40
jam/minggu.
NAB kebisingan tempat kerja di Indonesia 85 dB (Australia &
Inggris)
DERAJAT KETULIAN MENURUT ISO

NORMAL : 0 25 dB
TULI RINGAN : 26 40 dB
TULI SEDANG : 41 60 dB
TULI BERAT : 61 90 dB
TULI SANGAT BERAT : > 90 dB
BISING.
BATAS PAJANAN BISING YG DIPERKENANKAN (KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA 1999)

Lama pajan/hari Intensitas (dB)

Jam 24 80
16 82
8 85
4 88
2 91
1 94
Menit 30 97
15 100
7,50 103
3,75 106
1,88 109
0,94 112
Detik 28,12 115
14,06 118
7,03 121
3,52 124
1,76 127
0,88 130
0,44 133
0,22 136
0,11 139
PENGARUH KEBISINGAN PADA PENDENGARAN
Pajanan dg intensitas 65 dB/lebih dapat berakibat kerusakan pada
organon corti di telinga dalam.
Sifat ketuliannya sensorineural, umumnya kedua telinga
Sering pada frekuensi 3000 s/d 6000 Hz, terberat kerusakan org corti
untuk reseptor bunyi frek 4000 Hz
Klinis, pajanan bising di organ pendengaran menimbulkan :
1. REAKSI ADAPTASI
Respon kelelahan akibat rangsang bunyi 70 dB/kurang
Merupakan fenomena fisiologis
2. PENINGKATAN AMBANG DENGAR SEMENTARA (TEMPORARY
TRESHOLD SHIFT)
Akibat pajanan bising dg intensitas cukup tinggi
Pemulihan dpt beberapa menit/jam
3. PENINGKATAN AMBANG DENGAR MENETAP (PERMANENT
TRESHOLD SHIFT)
Akibat pajanan bising dengan intensitas sangat tinggi, singkat atau
lama, kerusakan berbagai struktur koklea (organ corti, sel rambut,
striae vaskularis, dll)
DIAGNOSIS PENURUNAN TAJAM PENDENGARAN

ANAMNESIS
- Riwayat terpapar bising (kerja/tempat tinggal)
- Riwayat penyakit telinga pernah diderita

PEMERIKSAAN
- Otoskopi (serumen, perforasi,retraksi)
- Audiometri
stadium awal, takik pada frekuensi 4000 Hz sekitar 50 dB
stadium lanjut, PAD pada frek sekitarnya
disadari bila sudah pd frek bicara (500 2000 Hz)
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TAJAM
PENDENGARAN
A. FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP TERJADINYA TRAUMA
BISING
1. Faktor resiko Eksternal
- intensitas bising
- jenis bising
- lama pajanan bising
- lama istirahat
- jenis alat proteksi telinga
- cara memakai alat proteksi telinga

2. Faktor Resiko Internal (kerentanan individual thd bising)


- kardiovaskuler
- penurunan tekanan darah
- faktor resiko hemodinamik
- kelainan telinga tengah
- faktor ketuaan
FAKTOR YANG BERPENGARUH
NIHL bertambah berat dg tambahnya intensitas
bising dan waktu paparan
Ada hub antara intensitas dan waktu paparan
tiap kenaikan 3 dB mengurangi waktu paparan nya
(kerusakan paparan bising 80 dB/8jam = kerusakan
paparan bising 83 dB/4jam)
OSHA HUKUM 5 dB
intensitas bising meningkat 5 dB, waktu pajanan
yang diperkenankan harus dikurangi separuhnya
D = t / T4
D = dosis pajanan bising yang diterima individu yg
bekerja di lingkungan bising/menggambarkan
rerata dosis pajanan bising sehari kerja
FAKTOR YANG BERPENGARUUH

t = waktu individu bekerja disuatu lingkungan bising


T = waktu maksimal yang diijinkan bagi individu yang
bekerja di lingkungan bising yang sama

Makin tinggi intensitas bising maka batas aman yang


disarankan waktunya sangat sempit
Keadaan fisik yg berpengaruh thd kerentanan individu thd
bising
- kelemahan fisik, anemia, gangguan metabolisme, defisiensi
vitamin, karakteristik telinga dalam, gangguan sistem
kardiovaskuler
Faktor resiko kardiovaskuler
- vasokonstriksi arteri di telinga dalam
penyempitan lumen, penyebab hipoksia dalam koklea
membranasea
- hipertensi, hiperkolesterolemia, hipertrigliseridaemia, DM
FAKTOR YANG BERPENGARUH

FAKTOR PENURUNAN TEKANAN DARAH


- adanya penurunan tek drh (sis/dias) yg tidak diikuti penam
bahan aliran darah (di telinga dalam) tinitus
sesaat/beberapa saat
FAKTOR RESIKO HEMODINAMIKA
- oksigen metabolisme Cellula Sensoria Pillosa
untuk menghasilkan tenaga guna membina potensial listrik
dalam ORGANON SPIRALE
- kenaikan kadar lemak timbul proses arterioskle
rosis penyempitan lumen
- gula darah tinggi penebalan membrana tunca intima
vaskuler
LAMA ISTIRAHAT ANTARA DUA PAPARAN BISING
- istirahat cukup TTS dapat pulih kembali
- istirahat kurang mempercepat terjadinya PTS/NIHL
FAKTOR YANG BERPENGARUH
KELAINAN TELINGA TENGAH
- mengurangi transmisi suara koklea, menurunkan NIHL
- kerusakan/kelumpuhan m stapedius, meningkatkan NIHL
- serumen prop, mengurangi kemungkinan NIHL

FAKTOR KETUAAN
- lebih mudah terjadi NIHL, krn terjadi degenerasi pada telinga
dalam shg lebih rentan thd paparan bising

B. PROTEKTOR TELINGA
1. EARPLUG
- punya kemampuan memproteksi bising pada CAE, terutama
bising dengan frek tinggi
- mengurangi tingkat bising antara 25 s/d 33 dB
- letak terganggu dg berbicara, menguap, mengunyah
- iritasi kulit CAE
FAKTOR YANG BERPENGARUH

2. EARMUFF
- menutup seluruh telinga luar
- mengurangi kebisingan antara 23 s/d 29 dB

3. HELMET
- kemampuan memproteksi bising lebih rendah
- bising masih dapat masuk melalui celah antara
helmet dengan telinga luar
- kemampuan meredam bising sampai 24,8 dB
JENIS PENURUNAN TAJAM PENDENGARAN
1. Penurunan tajam pendengaran KONDUKTIF
- disebabkan oleh kerusakan mekanisme telinga
tengah untuk mentransmisikan suara ke dalam
koklea
- sering disebut TULI HANTARAN

2. Penurunan tajam pendengaran PERSEPTIF


- disebabkan kelainan telinga dalam (koklea dan
retrokoklea) pada saraf pendengaran
- disebut juga TULI SARAF

3. Penurunan tajam pendengara CAMPURAN


- merupakan kombinasi 1 dan 2
- bisa karena kelainan psikologis
JENIS PENURUNAN.

Penyebab tuli hantaran, antara lain :


1. Tersumbatnya kanalis auditorius eksternus oleh serumen
atau benda asing.
2. Kerusakan tulang-tulang pendengaran
3. Penebalan gendang telinga akibat insfeksi telinga tengah
berulang.
4. Kekakuan abnormal perlekatan stapes ke jendela oval.

Penyebab tuli saraf, antara alain :


1. Kerusakan sel rambut oleh paparan bising terus-menerus
2. Tumor saraf vestibulokoklearis
3. Kerusakan vaskular di medulla oblongata
USAHA PENCEGAHAN TERJADINYA PENURUNAN
PENDENGARAN
1. Terhadap Pekerja
- memberi protektor telinga (menahan sp 60 dB)
- memberikan pendidikan mengenai penyakit akibat
kerja
- diberikan instruksi memakai protektor telinga
selama kerja
- memeriksa rutin 6 bulan sekali
- pemutaran tugas kerja
2 Terhadap Sumber Kebisingan
- dilakukan analisis kebisingan dg pengukuran di
tempat kerja
- meredam dengan penyekat yang kedap suara