Anda di halaman 1dari 47

KESETIMBANGAN

FASA

JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2012
KESETIMBANGAN FASA

Pengertian Fasa

Hukum Fase Komponen

Derajat
Kebebasan
Pengertian fase

Fase didefinisikan sebagai bagian dari


sistem yang secara fisika dan kimia
seragam (uniform) seluruhnya

Wujud padat, Fase padat, cair,


cair, dan gas = dan gas
KEADAAN SISTEM

Variabel
Variabel Variabel
Temperatu
Tekanan Komposisi
r

KOMPONEN

Komponen didefinisikan sebagai jumlah


variabel bebas minimum yang diperlukan
untuk menggambarkan komposisi setiap
zat atau setiap spesi yang ada dalam
setiap fase dalam sistem
berkesetimbangan
CARA MENENTUKAN JUMLAH
KOMPONEN DALAM SUATU
FASE

dengan menentukan jumlah jenis zat atau spesi


dikurangi dengan jumlah persamaan yang
menghubungkan konsentrasi setiap spesi

Conto
h
sistem terdiri dari PCl5, PCl3, dan Cl2 dalam keadaan setimbang
terdiri dari tiga spesi. Jika terjadi reaksi kimia antara zat-zat
tersebut yaitu,
PCl5 PCl3, + Cl2 maka ada satu persamaan konstanta
kesetimbangan yang menghubungkan konsentrasi setiap spesi
yaitu:
XPCl 3 XCl 2
Kx
XPCl 5
Jumlah variabel bebas yang
Derajat Kebebasan diperlukan untuk menggambarkan
keadaan suatu sistem

tekanan

temperatur

komposisi fraksimol
Aturan fasa
hubungan yang umum antara
derajat kebebasan dengan
jumlah komponen dan jumlah
F=CP+
fasa dalam suatu sistem 2
berkesetimbangan

dikemukakan oleh aturan Fasa Gibbs


Gibbs
Dua variabel bebas
X1 + X2 + X3 =
dan satu variabel
10 terikat
jika nilai salah satu variabel
telah ditetapkan maka kedua
X1 + X3 = masih ada variabel yang lain nilainnya
satu variabel sudah tertentu dan dapat dicari
5 bebas dengan menggunakan kedua
persamaan tersebut secara
bertahap.
Penurunan
Persamaan A
turan
Fasa
Komponen X1+X2+.+XC =
SISTEM dan fasa
1
Temperatur
dan tekanan P(C-1) C-1
P(C-1)+2

persamaan
2 fasa = 1 pers. kesetimbangan
konstanta
3 fasa = 2 pers. kesetimbangan
kesetimbangan
P fasa = (P-1) Pers. Kesetimbangan
antara fasa

Jumlah variable bebas dicari dari C Komponen = C(P-


jumlah variable (P(C-1)+2) dikurangi 1) Persamaan
dengan jumlah persamaan (C(P-1))

F = (P(C-1)+2)- (C(P-1))
F = C-P+2
Air
SISTEM SATU KOMPONEN CO2
Beleran
Sistem Yang Paling
Sederhana g
Keadaan
Kesetimbangan Suatu
System Diagram fase

P
Kurva kesetimbangan
padat cair
Diagram Fasa Sistem
Air
Px Kurva Tekanan uap
cair
padat
Titik Tripel

gas

Tx T0C

Kurva Tekanan uap dari


padatan
Aturan Fasa Dapat
Diterapkan Pada Diagram
Fasa Tersebut

Untuk System
Satu Komponen F=3-P
(C=1)

Jika P = 1 F=2

Jika P = 2 F=1

Jika P = 3 F=0
Saat air secara
keseluruhan berwujud Derajat
cair atau dalam diagram Kebebasan 2
fasa ada pada daerah
fasa cair, satu fasa
artinya
Variable tekanan dan Tekanan dan
temperature keduanya Temperatur
merupakan variable
bebas

Air berada dalam


kesetimbangan Derajat
dengan wujud Kebebasan 1
padatnya (es)
artinya
Tekanan atau
Hanya ada satu Temperatur
variable bebas dalam
hal ini bisa tekanan
atau temperature
Tiga fasa dalam
kesetimbangan,
yaitu air (cair), es Derajat
(padat) dan Kebebasan 0
uapnya (gas) ada
dalam
artinya kesetimbangan Tidak ada
variable
Pada keadaan ini bebas
tekanan dan
temperature sudah
memiliki nilai tertentu
dan pasti.
A B
zat murni pada saat perubahan fasa,
temperature tidak berubah dalam
temperatur diagramnya terjadi belokan yang tajam
c
(kurva A).
Tt
Tt untuk zat yang tidak murni, pada saat
d terjadi perubahan fasa, perubahan
e temperature menjadi lebih lambat
waktu dan ditandai oleh perubahan
kemiringan yang tidak terlalu tajam
pada diagramnya (kurva B).
Diagram Fa
se Sistem
Karbondiok
sida

titik triple CO22 di atas 1 atm,


fase cair tidak bisa berada
pada tekanan atmosfer normal
pada temperatur berapaun,
dan fase padat akan berubah
menjadi gas tanpa melewati
fase cair (yang sering disebut
es kering). Untuk medapatkan
CO22 dalam bentuk cair, maka
tekanan diperbesar minimal
dari 5,11 atm.
Diagram Fase
Sistem Beleran
g
P
(atm)

Belerang membentuk dua fase


padat yaitu S rhombis dan S
monoklin. Untuk sistem satu
cair
Rhombi uap komponen, maksimal P = 3
s daerah S
P1 monoklin untuk F = 0 hingga tidak ada
x z N Q
kesetimbangan 4 fase.
uap

T (oC)
T1 T2
PERSAMAAN CLAUSIUS-
CLAPEYRON
Titik didih dan
titik lebur Dipengaruhi oleh tekanan
Pada tekanan di atas
Pada 1 atmosfer air
Titik didih zat tekanan 1
pada tekanan mendidih pada
atmosfer air temperatur di atas
1 atmosfer mendidih
disebut titik 1000C. Demikian juga
pada sebaliknya pada
didih normal temperatur
zat itu. tekanan di bawah 1
1000C. atmosfer air mendidih
di bawah 1000C.
Secara umum
temperatur keadaan
transisi suatu zat dP H

dipengaruhi oleh dT TV
tekanan dan
sebaliknya tekanan
transisi suatu zat
dipengaruhi oleh
Pada proses penguapan dan sublimasi
persamaan tersebut dapat disederhanakan
dengan mengabaikan volume padatan atau
volume cairan jauh lebih kecil dibandingkan
dengan volume uapnya dan menghandaikan
fasa uap mengikuti hukum gas sempurna.

dP PH V Vuap RT
P
dT RT 2

d ln P H
KarenadP dTP = 1
= d dan ln =
- d P T2 T dT RT 2

d ln P =H d 1
R T

Jika ln P diplotkan terhadap H penguapan dapat


1/T akan diperoleh garis ditentukan dengan mudah
H
lurus dengan kemiringan melalui pengukuran titik didih
atau slope R
pada beberapa tekanan.
Persamaan yang sangat bagus akan didapat jika
persamaan diferensial di atas dintegrasikan dari
batas-batas P1 sampai P2 dan T1 sampai T2 dengan
asumsi bahwa pada batas-batas tersebut H tidak
merupakan fungsi T, maka diperoleh hubungan
tekanan dan temperatur .

P2 H T2 T1
ln P R T T
1 1 2

Titik didih suatu zat pada tekanan tertentu


Titik didih suatu zat pada tekanan tertentu
diketahui maka titik didihnya pada tekanan yang
diketahui maka titik didihnya pada tekanan yang
sama dapat di hitung. Jika titik didih suatu zat
sama dapat di hitung. Jika titik didih suatu zat
pada berbagai tekanan diketahui maka entalpi
pada berbagai tekanan diketahui maka entalpi
penguapannya (H) dapat dihitung
penguapannya (H) dapat dihitung
SISTEM DUA
KOMPONEN

F= CC PP +
F= +
F=4-P P=1
22

Tekanan 3 VARIABEL
Tiga BEBAS
dimensi Temperatur

Fraksi mol

Salah Satu
Satu Diagram P-Konsentrasi
Diagram P-Konsentrasi
Salah
Variabel pada TT Tetap
pada Tetap
Variabel
Dibuat Tetap
Tetap Diagram T-Konsentrasi
Diagram T-Konsentrasi
Dibuat pada PP Tetap
Tetap
pada
Diagram P-T
Diagram P-T pada
pada
Konsentrasi Tetap
Konsentrasi Tetap
SISTEM DUA Mempelajari berbagai
KOMPONEN kesetimbangan yang
mungkin terdapat dalam
sistem secara terpisah
Mengatur Tekanan dan
Misalnya Temperatur Sistem

Kesetimbangan cair-
uap (tidak ada padat)
Kesetimbangan cair-
cair (tidak ada padat
dan uap)
Kesetimbangan padat-
cair (tidak ada uap)
Kesetimbangan padat
uap (tidak ada cair)
SISTEM DUA Misibel
Misibel
KOMPONEN CAIR-CAIR Sebagian
Sebagian

JikaAAlarut
Jika larutdalam
dalamBBdalam
dalam
jumlahyang
jumlah yangterbatas,
terbatas,dan
dan
sebaliknya.
sebaliknya.

Diagram fasa T-X cair-cair


untuk dua cairan yang misibel sebagian
Perubahan
SISTEM DUA temperatur
KOMPONEN CAIR-CAIR menyebabkan
perubahan
komposisi campuran
Temperatur Temperatur
Di atas Tue,
tidak bisa tertentu seluruh terus
dipisahkan campuran, satu dinaikkan
lagi fasa
Campuran satu fasa
terjadi pada
temperatur rendah

Temperatur
konsulut bawah Tie

Di bawah Tie tidak


dapat dipisahkan,
Diagram komposisi temperatur dapat dipisahkan
untuk campuran air dan etilamina ketika suhu dinaikkan
SISTEM DUA
KOMPONEN CAIR-CAIR

Memiliki temperatur
konsulut atas dan
bawah

Campuran ini berada pada dua


fasa temperatur di atas Tie dan
di bawah Tue

Diagram komposisi
temperatur
untuk campuran air dan
nikotin
Sistem Dua komponen Padat- Lanjutan.
Cair ...
Kedua komponen missibel dalam fasa cair dan
immisibel dalam fasa padat

Dua zat yang dapat saling larut dalam keadaan cairannya, sementara
di fasa padatannya terdapat komponen-komponen murninya.

padatan Suhunya disebut


larutan cair A dan B titik beku larutan.
diturunkan suhunya

2 derajat kebebasan f=c-p+2=2-2+2=2 terdapat dua


fasa, cair dan padat
Titik C dan d adl titik beku beku A murni
dan B murni.
Diagram fasa untuk
Pd suhu T3 = suhu eutectic.
cairan misibel dan
Jika prosesnya dimulai dari titik S,
padatan immisibel
cairan pertama yg terbentuk akan
punya komposisi Xe.
Campuran padatan tsb akan meleleh pd
rentang suhu T3 dan T1.
Campuran padat dg komposisi eutiktik
akan meleh seluruhnya
pada satu suhu (T3).
larutan A dan B dg komposisi eutektik
membeku seluruhnya pada suhu T3
menghasilkan campuran kristal A
dan kristal B.
Titik R menyatakan zat padat A murni
pada suhu T4
Titik U terletak di daerah 2 fasa,
fasa padat A murni dan larutan (cair)
dg komposisi V.
CONTOH SOAL
Perhatikan diagram fasa cadmium-bismuth
berikut :
Contoh soal
Campuran 68,27 gram Cd dan 31,73
Bi dilelehkan dalam krus dan
didinginkan perlahan-lahan. Uraikan
fasa padat yang ada dalam krus
pada proses pendinginan hingga
suhu kamar, dengan komposisinya !
(Ar Cd = 112,5 dan Ar Bi = 209,0)
Penyelesaian

68,27 gram
nCd 0,61mol
112,5

31,73 gram
n Bi 0,15mol
209,0

0,61mol 0,61
X Cd 0,80
(0,61 0,15)mol 0,76
nCd RE 35

nE RT4 20

Jumlah mol total zat n = nCd + nBi = nCd + nE = 0,76 mol.


Jadi padatan Cd murni, nE = (0,76 mol nCd).

nCd 35

0,76mol nCd 20

20 nCd = 35 (0,76 mol nCd)


(20 + 35) nCd = 35 (0,76) mol

nCd = 26,6
0,48mol
55
nE = (0,76 0,48) mol = 0,28 mol,
dengan komposisi euntektik terdiri
atas 45% mol Cd.
Keismpulan :
Jadi pada suhu kamar, padatan di
dalam cawan krus hasil pendinginan
dari lelehan campuran Bi Cd, terdiri
atas 0,48 mol Cd murni dan 0,28 mol
campuran eutektik yang
mengandung 45% mol Cd.
KEDUA KOMPONEN MEMBENTUK SENYAWA DENGAN TITIK
LELEH KONGRUEN

Komponen A dan Senyawa padat


B AB

Fasa cairnya fasa padatnya


misibel immisibel

Diagram
kesetimbangan
padat-cairnya
Disebelah kiri garis DD merupakan
gambaran dari kesetimbangan
fasa dua komponen A dan AB dan di
sebelah kanan garis DD
merupakan gambaran
kesetimbangan fasa AB dan B
Larutan cair di bagian atas diagram
merupakan campuran cair A,B dan
AB. Jika larutan ini didinginkan akan
terpisah padatan A, B dan AB,
tergantung pada komposisi
larutannya.
Di titik D, fasa cair dan padatnya
mempunyai komposisi yang sama,
sehingga D dianggap sebagai titik
leleh senyawa AB.

Jadi senyawa AB dikatakan


Titik AB = D mempunyai titik leleh yang
kongruen, tidak ada perubahan
komposisi padat dan cairnya.
Senyawa
Komponen A dan Lebih dari satu A2B dan
B senyawa
AB2

Diagram fasa padat-cairnya


terdiri atas (n + 1) diagram
fasa eutektik sederhana yang n senyawa
diletakkan secara
berdampingan
KEDUA KOMPONEN MEMBENTUK SENYAWA DENGAN TITIK
LELEH INKONGRUEN

Senyawa yang terbentuk


memiliki titik leleh yang lebih
tinggi dari kedua
komponennya

Senyawa yang
terbentuk
memiliki titik 2
leleh yang kemungkina
lebih rendah n
dari kedua
komponennya
Kemungkinan Kemungkinan
pertama kedua
Gambar sistem yang titik leleh senyawanya
Kedua Komponen Membentuk
Larutan Padat

Larutan nikel dan tembaga.


Contohnya Kedua zat ini dapat saling
melarut dalam semua
komposisi di fasa padatnya.

Gambar a. Diagram
fasa tembaga-nikel
Kedua komponen misibel dalam fasa cair
dan misibel sebagian dalam fasa padat

Seringkali ditemukan dua zat yang


dapat saling larut dalam berbagai
komposisi pada fasa cair, Misibel
sementara itu pada fasa padatnya sebagia
kedua zat tersebut saling n A dapat larut
Padatan
melarutkan hanya dalam batas- dalam sejumlah padatan
batas tertentu saja. Misalnya pada B membentuk suatu
konsentrasi tertentu dapat larutan padat; demikian
diperoleh dua larutan pada pula halnya dengan
konyugat. padatan B yang hanya
dapat larut dalam
sejumlah tertentu
padatan A

Diagram
fasa
padat, yang dalam hal ini
disebut sebagai fasa alfa,
yakni larutan padat B dalam
A.
Di titik T, larutan cair
mempunyai komposisi z dan
larutan padat mempunyai
komposisi Y.
Di titik Y dapat dilihat bahwa
jumlah B dalam larutan padat
tersebut lebih banyak
dibandingkan dengan larutan
padat di titik X,
Di titik U, kedua fasa padat
membeku, yakni fasa alfa
(padatan A yang jenuh
Diagram fasa padat-cair: misibel
dalam fasa
dengan B) dan fasa beta
cair dan misibel sebagian pada fasa (padatan B yang jenuh
padat dengan A).
Di titik V diperoleh dua
larutan padat yaitu padatan
alfa dengan komposisi M dan
padatan beta dengan
Diagram fasa padat-cair dengan
Pada kurva ini, padatan alfa
titik peritektik
dengan komposisi F
dipanaskan maka padatan
tersebut akan mulai
meleleh di titik G dan
membentuk campuran dua
fasa yakni fasa padatan
dan larutan cair dengan
komposisi awal N.
Di titik H, sisa dari fasa alfa
mencair membentuk
larutan cair dengan
komposisi M dan padatan
fasa dengan komposisi R.
Destilasi fraksionasi

Proses pemisahan dua atau lebih


Destilasi
komponen zat cair berdasarkan
perbedaan pada titik didih masing-
masing komponen dalam sampel
menghasilkan pemisahan parsial dari
Destilasi komponen dimana fase uap
tunggal diperkaya dengan zat yang lebih
volatil
Destilasi Proses pemisahan komponen yang
fraksionasi memiliki titik didih yang berdekatan
Uap (pada a2) dari campuran didih
(pada a2) lebih kaya akan B

1. Jika uap diambil (dan dikondensasikan di tempat lain), sisa cairannya


akan mempunyai komposisi a3 dan komposisi uapnya a3.
2. Jika uap itu diambil komposisi cairan didih bergeser ke a 4 dan uapnya
ke a4. Oleh karena itu, dengan berlanjutnya penguapan, komposisi sisa
cairan bergeser menuju A, karena B diambil.
3. Titik didih cairan naik, dan uapnya menjadi lebih kaya akan A.
4. Jika sudah banyak B yang menguap, sehingga cairan menjadi
komposisi b, uap mempunyai komposisi yang sama dengan cairan.
5. Kemudian penguapan terjadi tanpa perubahan komposisi. Cairan ini
disebut membentuk azeotrop.
1. Misalnya kita mulai dengan campuran yang komposisinya a1 dan mengikuti
perubahan dalam uap yang naik melalui kolom fraksionasi.
2. Campuran ini mendidih pada temperatur a2 menghasilkan uap dengan komposisi a2.
3. Uap ini berkondensasi dalam kolom menjadi cairan dengan komposisi yang sama
(sekarang dinamakan a3).
4. Cairan ini mencapi kesetimbangan dengan uapnya pada a3, yang berkondensasi di
bagian lebih atas dari kolom, menghasilkan cairan yang sama komposisinya, yang
sekarang kita sebut sebagai a4.
5. Oleh karena itu fraksionasi menggeser uap menuju ke komposisi azeotrop, tetapi
tidak lebih dari itu.
6. Uap azeotrop keluar dari bagian atas kolom. Contohnya adalah etanol/air yang
mendidih tanpa perubahan jika kandungan air 4% dan temperaturnya 78oC.
Sistem tiga
komponen

Derajat kebebasan
F=C +2P=5
P

Gambar diagram fase segitiga


Cairan dapat campur
Sebagian
Contoh

aseton-air-dietil
eter (eter) pada
1 atm dan 30oC

Pada keadaan ini, air


dan aseton misibel,
demikian pula eter
dan aseton misibel,
akan tetapi air dan
Gambar diagram fase
eter misibel sebagian
Peranan Garam yang
ditambahkan

Efek garam-
keluar (salting- berkurangnya kelarutan suatu
out) gas

Efek garam- sistem terner lebih pekat


kedalam daripada sistem biner
(salting-in)
Diagram Fase, pada temperatur dan
tekanan tetap untuk sistem terner NH4Cl/
(NH4)2SO4/H2O
Terima
Kasih