Anda di halaman 1dari 15

Muhammadiyah

sebagai Gerakan Sosial



1. Faradila Isnaini (201410330311130)
2. Sarah Safrilia (201410330311113
3. Ronggo S (201410330311108)
4. Putri Mega Firmadhani (201410330311109)
A. Pendahuluan
Muhammadiyah sebagai gerakan sosial (social
movement) maksudnya adalah segala upaya yang
dilakukan oleh Muhammadiyah bertujuan untuk
mewujudkan kehidupan masyarakat (Islam) dalam
rangka menegakkan ajaran-ajaran Islam.
Dalam mewujudkan gerakan sosial tersebut,
Muhammadiyah mendorong etos kerja dan amanah
bagi semua pengemban amal usaha muhammadiyah.
Dengan etos semacam ini, Syafiq Mughni pernah
menyatakan bahwa, ada orang bilang Muhammadiyah
itu seperti jam dinding. Tidak kedengaran bunyinya tapi
bergerak terus.
B. Konteks Sejarah Bangsa
Indonesia
Pada awal abad XX kita menyaksikan
suatu perkembangan penting dalam
perjalanan sejarah masyarakat Indonesia
ketika daerah perkotaan menggeser
peranan komunitas pedesaan sebagai
tempat berlangsungnya perubahan. Jika
tuntutan akan lahan dan tenaga kerja
kaum penjajah telah mengubah tatanan
masyarakat di abad XIX, maka
pertumbuhan usaha perdagangan dan
industri di abad XX telah merangsang
Penggerak Mobilitas Sosial :
1. Peranan Perdagangan
2. Peranan Industri
3. Peranan Pendidikan

Tiga golongan muslim :


. golongan muslim yang berorientasi ke budayaan Islam
yang disebut kaum santri
. golongan muslim tradisi atau adat
. golongan muslim yang berorientasi pada pemikiran
Barat.

Golongan menengah santri memiliki sejarah yang


panjang. Orang percaya bahwa penganjur dan penyebar
Islam pertama adalah kaum pedagang di kota-kota
sepanjang pantai. Pusat-pusat kaum santri di bagian-
bagian kota yang disebut kauman di kota-kota di Jawa,
juga merupakan pusat perdagangan dan industri.
C. Kaum Santri Penggerak
Pembaruan

Abad XIX, kebangkitan agama dalam bentuk
pembenahan lembaga pendidikan pesantren a
gerakan tarekat Islam, dipimpin para kiai.

Awal abad XX, kaum santri menghimpun


kembali kekuatan dalam masyarakat untuk
melancarkan gerakan baru, yakni Syarikat
Islam (SI).
1. KH. Ahma Dahlan Seorang Santri
Golongan Menengah

Ahmad Dahlan, pendiri gerakan
Muhammadiyah adalah seorang santri yang
merangkap sebagai pedagang dan khatib di
Majid Agung Kraton Yogyakarta.
Setelah kemunduran SI, para santri pengusaha
bergabung ke Muhammadiyah, sedangkan
para santri petaninya masuk NU.
Muhammadiyah dan NU memiliki ciri yang
sama yakni didirikan dan disebarkan melalui
hubungan pribadi dan keluarga.
2. Latar Belakang KH. Ahmad Dahlan
dan KH. Hasyim Asyari

Situasi kepemimpinan kedua organisasi
dasranya sama, meskipun para pemimpin NU
bertipe kharismatik-otoriter, sedangkan para
pemuka Muhammadiyah bertipe rasional-
demokratik.
Pendiri NU maupun Muhammadiyah sama-
sama mendapat pendidikan pesantren. Ahmad
Dahlan dan Hasyim Asyari adalah kawan di
pesantren Semarang.
D. Muhammadiyah sebagai Gerakan
Sosial Keagamaan Terbuka

Pendiri muhammadiyah mendapat sambutan baik dari
golongan menengah perkotaan
di sumatera tempat pembaharuan agama di barengi oleh
munculnya kaum muda
sedangkan di jawa golongan menengah dan golongan
terdidik dan juga kaum bangsawan menyambut gerakan
pembaruan tersebut
Muhammadiyah menentang praktik tarekat
Muhammadiyah membedakan organisasi ini dari kalangan
agama tradisional
Muhammadiyah juga membedakan dirinya dalam banyak
hal dan kalangan abangan dengan kebudayaan sinkretik
Muhammadiyah sebagai gerakan
pemurnian islam :

Gerakan pemurnian muhammadiyah di tunjukan kepada
kalangan tradisionalis, maupun kalangan islam dari segala
kurafat
Jika seorang abangan lebih mengingat hari kelahirannya,
seorang muhammadiyah lebih suka mengingat tahun
kelahiran
Muhammadiyah lebih suka menampilkan diri sebagai gerakan
puritan .
Berupaya untuk melakukan pembaharuan kualitatif yang
bersifat keagamaan
Berupaya keras untuk memurnikan agama dan
menghilangkan pengaruh kultural dan simbol-simbol yang
tidak relevan
Gerakan kualitatif-kuantitatif :

Gerakan kualitatif menimbulkan dampak
kuantitatif (dampak sosial )
menyebabkan longgarnya ikatan paternalisme
santri
memudarnya otoritas pesantren lembaga-
lembaga pendidikan baru
Muhammadiyah kemudian menciptakan lembaga-
lembaga dan tradisi-tradisi baru dengan
dukungan organisasi modern
Reaksi kaum tradisional :


NU lahirkarena reaksi terhadap dua hal
1. ia merupakan reaksi terhapap politisi agama yang di
lakukan
2. merupakan reaksi terhadap gerakan pembaharuan
muhammadiyah
NU adalah pada upaya upaya yang lebih utitarian
dalam pengertian peribadatan mereka semata
Karakteristik NU adalah paternalisme kiai dan
berorientasi kuat pada mazhab
NU menolak gerakan muhammadiyah yang
antipaternalisme dan non mazhab
Basis sosial muhammadiyah dan NU
:

NU mewakili tradisi masyarakat komunal
agraris yang di jalin dalam ikatan solidaritas
mekanis-paternalistik
Muhammadiyah sebagai wadah yang mewakili
tradisi baru,masyarakat urban, pedagang,
dengan ikatan solidaritas organispartisipatif
dalam korteks ini NU jelas berbada sekali
dengan muhammadiyah , NU mengalami
semacam ambivalensi organisatoris
E. Dampak Gerakan Sosial
Muhammadiyah

Muhammadiyah yang muncul sebagai gerakan
sosial yg dapat ditafsirkan sbg salah stu
bentuk protes terhadap kondisi soaial yang
telah mapan dg seperangkat tatanan nilai,
baik nilai agama maupun budaya.
Sbg gerakan islam tata nilai yg ditawarkan
muhammadiyah utk merubah pola ehidupn
sosial scr fiiologis berdasarkan
pemahamannya terhadap ajaran islam.
Untuk merealisasikan dasar pemikiran ini,
muhammadiyah menetapkan nilai-nilai dasar,
yaiu diumuskan dalam :
1. Muqqadimaah Anggran Dasar
2. keyakinan dan cita-cita hidup muhammadiyah
serta kepribadian muhammadiyah
Prinsip-prinsip yang tersimpul dalam muqqadimah
anggaran dasarnya :
1. Hidup berdasarkan tauhid, ibadah dan taat kpd
Allah.
2. Hidup bermasyarakat.
3. Mematuhi dan meyakini ajaran islam sbg satu-
satunya landasan kepribadian dan ketertiban
bersama utk kebahagiaan dunia dan akhirat.
4. Berjuang untuk menegakkan dn menjujung tinggi
ajaran islam.
5. Ittiba kepada langkah dan perjuangan nabi s.a.w.
Muhammadiyah menjdikan rasulullah s.a.w sbg
tauladan (uswah).
6. Keharusan berorganisasi.