Anda di halaman 1dari 84

PT.

INDONESIA PRATAMA

BASIC SAMPLING
BATUBARA

1
PT. INDONESIA PRATAMA

SAMPLING
Definisi : Proses Pengambilan contoh dari suatu material.

Dalam buku J.W. Merck:


Sampling and weighing of Bulk Solids, sampling didefinisikan
sebagai: Proses pengumpulan suatu set primary increment dari
suatu sampling unit dengan suatu cara sehingga pengukuran
contoh analisis atau pengujian signifikan untuk sampling unit
tersebut.

2
PT. INDONESIA PRATAMA

SAMPLING
SAMPLING MERUPAKAN PROSES YANG PALING
PENTING DALAM PENENTUAN KUALITAS ATAU MUTU
DARI SUATU MATERIAL.

RELIABILITAS DARI SUATU HASIL PENGUJIAN 80 %


TERLETAK PADA RELIABILITAS SAMPLINGNYA.

3
PT. INDONESIA PRATAMA

PENGENALAN SAMPLING
BATUBARA
Sampling batubara merupakan sampling yang paling sulit
karena batubara merupakan material padat yang sangat
heterogen.

Faktor Heterogenitas batubara :

Bahan pembentuk batubara dan kondisi pembentukan


Situasi dan kondisi pada saat penambangan / eksploitasi
Situasi dan Kondisi pada saat penumpukan / storage
Prosessing / handiling batubara
4
PT. INDONESIA PRATAMA

SAMPLING BATUBARA
KONDISI BATUBARA

BATUBARA INSITU BATUBARA CURAH


(COAL IN BED) (COAL IN BULK)

5
PT. INDONESIA PRATAMA SAMPLING BATUBARA

SAMPLING BATUBARA
INSITU
(COAL IN BED)

CHANNEL CORING
SAMPLING SAMPLING

6
PT. INDONESIA PRATAMA

CHANNEL
Channel Sampling
SAMPLING adalah proses
pengambilan sample
dari suatu seam
batubara dengan cara
membuat channel atau
saluran dari bagian top
sampai ke bottom seam
batubara tersebut atau
sebagian dari tebal
seam tersebut

7
PT. INDONESIA PRATAMA

CHANNEL Seam

SAMPLING Batubara

Channel
Sample

8
PT. INDONESIA PRATAMA

Channel Sampling
CHANNEL 1. Outcrop
SAMPLING 2. Seam Face (pada saat
penambangan)
3. Cut box sampling

9
PT. INDONESIA PRATAMA

CORING Coring Sampling


SAMPLING adalah proses
pengambilan
contoh batubara
dengan cara
drilling atau
pengeboran
terhadap seam
batubara.

10
PT. INDONESIA PRATAMA

Seam batubara

CORING
SAMPLING
Coring Overburden

Coring

CC
interburden

CC

Coal Seam

11
PT. INDONESIA PRATAMA

CORING Sub seam 1

SAMPLING Parting/splitting
F
U
Sub seam 2 L
L

Band S
E
A

Sub seam 3 M

12
PT. INDONESIA PRATAMA

TITIK BOR

13
PT. INDONESIA PRATAMA SAMPLING BATUBARA

SAMPLING BATUBARA
CURAH
(COAL IN BULK)

BATUBARA BATUBARA
DIAM BERGERAK
(STATIONARY) (MOVING)

14
PT. INDONESIA PRATAMA

BATUBARA DIAM
STATIONARY
DI STOCKPILE DI DALAM PALKA
KAPAL

DIATAS DI ATAS KERETA


TONGKANG

15
PT. INDONESIA PRATAMA

Sampling terhadap batubara diam


BATUBARA DIAM atau stationary Sampling, lebih
STATIONARY bersifat indicatif, karena sample
yang terambil hanya di bagian
permukaan saja, sedangkan bagian
dalam tumpukan batubara tidak
terambil.

Apabila stationary Sampling


dilakukan untuk tujuan komersial,
maka sebelum dilakukan sampling
tersebut, harus ada agreement
antara pembeli dan penjual dan
masing-masing mengetahui akan
kelemahan sample tersebut, dan
terjadinya perbedaan antara hasil
analisa dari sampling yang satu
dengan hasil analisa dari sampling
yang lain sangat mungkin terjadi.
16
PT. INDONESIA PRATAMA

ILUSTRASI STATIONARY
SAMPLING DIDALAM
PALKA KAPAL

17
PT. INDONESIA PRATAMA

ILUSTRASI STATIONARY
SAMPLING DI ATAS
TONGKANG

18
PT. INDONESIA PRATAMA

STATIONARY SAMPLING
DENGAN MENGGUNAKAN
MECHANICAL AUGER
LEBIH REPRESENTATIF

19
PT. INDONESIA PRATAMA

BATUBARA BERGERAK
MOVING
Pada Saat dimuat ke DT Di atas Belt Conveyor

Di atas Belt Conveyor Di atas Belt


Pada Saat dimuat ke
Conveyor
kapal

20
PT. INDONESIA PRATAMA

SAMPLING TERHADAP
BATUBARA BERGERAK Sampling yang
MOVING dilakukan pada saat
batubara bergerak
lebih representatif,
karena kemungkinan
terambilnya contoh di
setiap bagian atau
posisi batubara lebih
besar.

21
PT. INDONESIA PRATAMA

SAMPLING BATUBARA
TEKNIK SAMPLING

MANUAL MEKANIS

22
PT. INDONESIA PRATAMA

TEKNIK SAMPLING

STATIONARY MOVING

MANUAL MEKANIS
MANUAL MEKANIS

> Shovel/Scoop
SHOVEL/ > Bucket Cutter
AUGER > Ladle
SCOOP > Diverter Cutter
RANDOM

23
PT. INDONESIA PRATAMA

Manual Cutter

24
PT. INDONESIA PRATAMA

Manual Sampler

25
PT. INDONESIA PRATAMA

Manual Sampler

26
PT. INDONESIA PRATAMA

Manual Sampler

SAMPLING FRAME (STOP BELT)

27
PT. INDONESIA PRATAMA

Mechanical Sampler

DIVERTER CUTTER
28
PT. INDONESIA PRATAMA

Mechanical Sampler

DIVERTER CHUTE
29
PT. INDONESIA PRATAMA

Mechanical Sampler
DIVERTER CUTTER

30
PT. INDONESIA PRATAMA

Mechanical Sampler

31
PT. INDONESIA PRATAMA

Mechanical Sampler

32
PT. INDONESIA PRATAMA

Mechanical Sampler
Cross Belt

33
PT. INDONESIA PRATAMA

Online
Online
Mechanical
Mechanical
Sampler
Sampler
Lengkap
Lengkap

34
PT. INDONESIA PRATAMA

PRIMARY CROSS BELT

35
PT. INDONESIA PRATAMA

PRIMARY DAN SECONDARY


CROSSBELT

36
PT. INDONESIA PRATAMA

DEFINISI-DEFINISI PENTING DALAM


SAMPLING BATUBARA

Increment.
Sejumlah batubara yang terambil dari satu kali operasi suatu alat sampling.
Nominal top particle size.
Ukuran partikel yang ekivalen dengan ukuran ayakan berlubang persegi
empat dimana 95% dari masa yang diayaknya akan lolos.
Time basis sampling.
Dalam time basis sampling, increment diambil dari material yang sedang
diambil contohnya, dengan interval waktu di antara pengambilan increment
yang berurutannya sama.
Mass basis sampling.
Dalam mass basis sampling, increment diambil dari batubara yang melewati
sampling point pada setiap berat masa yang telah ditentukan.

37
PT. INDONESIA PRATAMA

DEFINISI-DEFINISI PENTING DALAM


SAMPLING BATUBARA

Sampling unit.
Sejumlah batubara yang terwakili oleh satu gross sample. Dalam satu lot bisa
terdapat lebih dari satu sampling unit. Apabila suatu kargo terdiri dari beberapa
tongkang yang dipindahkan ke kapal (transshipped), biasanya setiap sampling
unit mewakili batubara dalam setiap tongkang. Sampling unit merupakan istilah
yang dipergunakan dalam literatur standar, tetapi dalam prakteknya di
Indonesia istilah yang dipergunakan ialah lot atau sub-lot.
Lot
Sejumlah batubara tertentu yang mutunya harus diukur pada presisi tertentu.
Dalam jasa inspeksi kargo, analisis lot-nya didapat melalui analisis komposit
kargonya.
Variance.
Kuadrat rata-rata dari nilai rata-rata suatu set observasi.
Standard deviation.
Akar positif dari variance.

38
PT. INDONESIA PRATAMA

DEFINISI-DEFINISI PENTING DALAM


SAMPLING BATUBARA

Common sample.
Suatu contoh yang diambil untuk penetapan total moisture dan untuk preparasi
contoh general analysis.
Precision.
Kecermatan pengukuran.
Bias.
Suatu kesalahan sistematik, dimana hasilnya selalu mengarah lebih besar atau
lebih kecil dari nilai sesungguhnya.
Partial Sample
Suatu contoh yang mewakili sebagian dari sampling unit, yang diambil untuk
contoh laboratorium atau contoh pengujian

39
PT. INDONESIA PRATAMA

PRINSIP SAMPLING
Sampling batubara baik secara manual maupun secara mekanis,
memiliki kaidah-kaidah atau prinsip yang sama yang harus diikuti
agar sample yang diperoleh representatif atau mewakili seluruh
batubara yang diambil samplenya .

Prinsip-Prinsip sampling tersebut adalah :


1. Jumlah increment (primary) setiap lot sample
2. Alat yang digunakan untuk mengambil increment sample
3. Berat minimum sample setiap incrementnya
4. Interval increment

40
PT. INDONESIA PRATAMA

1. Jumlah Increment
Prosedure General Purpose of Sampling adalah
bertujuan untuk memberikan dalam 19 dari 20
kasus, ash dalam basis dry dalam interval +/- 1/10
dari hasil rata-rata ash (dry basis) yang dapat
diperoleh dari sampling yang berbeda terhadap
cargo atau sampling unit yang sama.
Prosedur Special Purpose of Sampling dilakukan
pada sampling batubara apabila batasan presisi
yang lain diperlukan atau pada saat konstituen lain
digunakan untuk menentukan presisi.

41
PT. INDONESIA PRATAMA

Jumlah Increment

42
PT. INDONESIA PRATAMA

Jumlah Increment
Dalam prosedure General Purpose Of Sampling, untuk kuantitas
sampai 1000 MT, direkomendasikan bahwa satu gross sample
mewakili lot. Gross sample diambil berdasarkan jumlah increment
seperti pada tabel 2 di atas
Untuk kuantitas yang > 1000 MT, gunakan alternatif sebagai berikut
a. Ambil satu gross sample untuk lot tersebut, dan analisa untuk
mewakili kualitas lot tersebut. Ambil jumlah increment (N) sesuai
dengan pesamaan berikut :
N=k L .(1)
1,000

N = Jumlah Increment
K = 15, untuk mechanical cleanned coal
35 untuk Raw Coal

43
PT. INDONESIA PRATAMA

Jumlah Increment
b. Bagi lot tersebut menjadi beberapa sub-lot, dan ambil gross sample secara
terpisah dari masing-masing sub-lot. Gunakan persamaan 1 untuk
menentukan jumlah increment dari setiap sub-lot. Dimana L adalah
kuantitas dari sublot tersebut. Rata-ratakan (berat) hasil analisa dari
masing-masing sub-lot tersebut untuk mewakili kualitas dari original lot.
Makimum lot-size harus ditentukan dengan persetujuan antara seller dan
buyer. Masing-masing pihak harus memperhatiakan resiko yang mungkin
timbul dengan pilihan tersebut.
a. Jumlah gross sample yang terlalu besar memerlukan tahapan
preparasi yang cukup panjang, sehingga potensi menyebabkan
kehilangan moisture selama praparasi.
b. Tidak ada informasi data kualitas diperoleh dalam variabilitas lot.
c. Dengan membagi Lot menjadi beberapa sublot, akan menyebabkan
penurunan impresisi atau presisinya naik. Penurunan Impresisi yang
terjadi adalah 1/ m dengan m adalah jumlah sub-lot.

44
PT. INDONESIA PRATAMA

2. Alat yang digunakan untuk mengambil


increment

Alat yang digunakan untuk mengekstraksi


increment harus mengikuti rekomendasi dari
standard baik pada manual sampling maupun pada
sampling secara mekanis.

45
PT. INDONESIA PRATAMA

3. Berat Minimum Setiap increment

Berat minimum sample dari setiap incrementnya


adalah mengikuti persamaan sebagai berikut :
M = 0.06D
M = berat minimum per increment (kg)
D = Diameter atau ukuran nominal topsize batubara
yang disampling dalam (mm)

46
PT. INDONESIA PRATAMA

Berat sample yang diperoleh dari suatu mechanical


sample biasanya lebih besar dari berat minimum
yang diperlukan.
Berat sample kalkulasi dari mechanical sampler
adalah :

C. a
M=
3.6 V

M = Berat sample setiap increment


C = Flowrate batubara (tph)
a = bucket aperture (M)
V = belt speed (Cross Belt) atau Cutter speed (Bucket cutter)

47
PT. INDONESIA PRATAMA

4. Interval Increment
Interval increment yang diambil dari seluruh lot atau
sub-lot harus merata dari awal pemindahan sampai
akhir pemindahan (awal loading-akhir loading) baik
berdasarkan waktu (Time basis sampling) ataupun
berdasarkan berat (Mass Basis Sampling)

48
PT. INDONESIA PRATAMA

4 kriteria yang harus dipenuhi dalam sampling


batubara curah untuk mendapatkan sample yang
representatif adalah :

1. Jumlah increment (primary) setiap lot sample


2. Alat yang digunakan untuk mengambil
increment sample
3. Berat minimum sample setiap incrementnya
4. Interval increment
49
50
RELIABILITAS SAMPLING

INTERVAL INCREMENT
ALAT YANG DIGUNAKAN
BERAT INCREMENT
PT. INDONESIA PRATAMA

JUMLAH INCREMENT
PT. INDONESIA PRATAMA

Prosedure Sampling

1.Channel Sampling
2.Stationary Sampling
3.Moving Sampling

51
PT. INDONESIA PRATAMA

CHANNEL Alat dan bahan yang dipelukan :


SAMPLING Untuk Sampling batubara
Channel
1. Meteran (steel measuring tape)
2. Miners Pick
3. Sikat atau Sapu
4. Kapur (Chalk)
5. Sample Container
6. Ground Cloth (Terpal)
7. Tags dan Pen
8. Shovel
9. Notebook dan Pencil

52
PT. INDONESIA PRATAMA

CHANNEL PROSEDUR
SAMPLING Catat dan buat deskripsi mengenai
kondisi lingkungan dimana seam
batubara berada,. Bila perlu ambil
gambarnya dengan kamera.
Bersihkan bagian permukaan seam
dari kotoran dan batubara yang telah
mengalami pelapukan dengan
menggunakan miners pick atau palu
geology
Catat dan buat deskripsi mengenai
karakteristik lapisan seam batubara
yang akan diambil samplenya, ambil
gambarnya bila perlu.
Tandai di masing-masing sisi channel
yang akan diambil dengan
menggunakan kapur tulis.
53
PT. INDONESIA PRATAMA

CHANNEL PROSEDUR
SAMPLING Bersikan bagian floor seam dan
ratakan.
Pasang ground cloth atau terpal diatas
floor tersebut dengan salah satu
bagian sisinya menempel di
permukaan seam bagian bawah.
Ambil sample channel tersebut dengan
menggunakan miners pick atau alat
lain dengan bentuk rectangular dengan
kedalaman minimum 8 cm, dan lebar
10 cm. (minimum berat yang diperoleh
3 kg untuk setiap feet tickness).
Ambil sample denga merata dari
bagian top ke bagian bottom dari seam
dengan membentuk channel.

54
PT. INDONESIA PRATAMA

CHANNEL PROSEDUR
SAMPLING Segera pindahkan sample dari atas
terpal ke kantong plastik dan ikat
dengan erat sekali sehingga moisture
loss dapat dikurangi.
Buat label sample pada kantong
tersebut sesuai dengan identifikasi
sample.

55
PT. INDONESIA PRATAMA

STATIONARY STOCKPILE SAMPLING


Seperti dijelaskan di setiap standard
SAMPLING bahwa stationary sampling kalau bisa
dihindari karena presisinya tidak dapat
ditentukan sehingga tidak
representatif.
Sampling batubara di stockpile lebih
baik diambil samplenya pada saat
penumpukan atau pada saat
pembongkaran.
Apabila metode yang lebih reliable
tidak dapat dilakukan, maka stationary
sampling dapat dilakukan dengan
catatan semua pihak yang terlibat
memaklumi kekurangan dari stationry
sampling tersebut, sekaligus membuat
agreement mengenai metode
pengambilan samplenya.
56
PT. INDONESIA PRATAMA

STATIONARY PROSEDUR
Tentukan lotsize atau perkiraan tonase
SAMPLING stockpile yang akan diambil
samplenya.
Tentukan jumlah increment yang akan
diambil dengan menggunakan rumus :
N = 35 x T / 1000
N = Jumlah increment
T = Lotsize(tonase)
Buat sketsa gambar dua dimensi dari
bentuk stockpile tersebut
Buat plan titik-titik pengambilan
increment, sehingga semua increment
menyebar secara merata ke seluruh
permukaan stockpile dengan spacing
yang sama
57
PT. INDONESIA PRATAMA

PROSEDUR
STATIONARY Tandai titik titk rencana pengambilan
SAMPLING increment tersebut dengan tongkat
atau dengan kantong sample itu
sendiri.

Lakukan observasi terhadap tumpukan


batubara tersebut terutama mengenai
size segregasi yang mungkin terjadi.
Tentukan alat yang akan digunakan
untuk mengambil increment tersebut
sesuai dengan kesepakatan semua
pihak yang berkepentingan 58
PT. INDONESIA PRATAMA

Lakukan pengambilan

STATIONARY increment dari tiap-tiap titik


yang sudah ditandai

SAMPLING sebelumnya dengan cara :


Gali setiap titik
increment kira-kira 0.5
meter
Kemudian ambil
increment sample
tersebut dari dasar
lubang yang telah digali
tersebut.
Usahakan tidak terjadi
selective pengambilan
particle size batubara.
Segera masukan sample
tersebut kedalam
kantong plastik.
59
PT. INDONESIA PRATAMA

MOVING Moving sampling


SAMPLING
MANUAL / MEKANIS

PRODUKSI
BARGING
SHIPMENT
TRANSHIPMENT

60
PT. INDONESIA PRATAMA

MOVING PRODUKSI
SAMPLING Tergantung pada kapasitas
produksi, penentuan lotsize
untuk batubara produksi bisa
ditentukan berdasarkan tonase,
produksi setiap shift, atau
produksi setiap hari.
Terlepas dari cara sampling
manual atau mekanis, pada
prinsipnya penentuan jumlah
primary increment adalah sama
dan tergantung pada standar
yang digunakan dan tergantung
pada lot sizenya.

N = k Tonase / 1000

61
PT. INDONESIA PRATAMA

CONTOH :

MOVING Suatu tambang memiliki kapasitas


produksi 5000 ton per hari, atau 2500
SAMPLING per shift.
Tentukan bagaimana cara menentukan
sampling batubara produksi tersebut
apabila
a. Batubara tersebut distock dengan
menggunakan Dump truck dengan
kapasitas 12 ton.
b. Batubara tersebut distock dengan
menggunakan conveyo dengan
kapasitas 300 ton/jam, dan sampling
menggunakan mechanical sampler.

62
PT. INDONESIA PRATAMA

CONTOH :

MOVING Jawab :
a. Jumlah increment yang harus
SAMPLING diambil adalah :
= 35x 2500/1000
= 56 increment/shift
Interval Tonase per increment
= 2500/56
= 45 ton
Jumlah ritasi DT /shift yang
diperlukan untuk memindahkan
batubara produksi tersebut adalah :
= 2500:12
= 209 DT.

63
PT. INDONESIA PRATAMA

Jawab (lanjutan)
Inerval pengambilan increment adalah :
MOVING = 209 : 56
SAMPLING = 3.7 ~ 3 DT
= 45 : 12
= 3.7 ~ 3 DT.
b. Waktu yang diperlukan conveyor untuk
menumpuk batubara tersebut per shift
adalah :
= 2500 / 300
= 8.3 jam ~ 500 menit
Inteval increment berdasarkan time basis jadi

Total jam / increment


= 500:56
= 8.9 menit 64
PT. INDONESIA PRATAMA

MOVING BARGING
SAMPLING
CONTOH :
Loading dilakukan terhadap barge yang
memiliki kapasitas 7500 ton.
Loading dilakukan dengan menggunakan
conveyor dengan kapasitas 500 ton per
jam.
Tentukan cara sampling barging tersebut
apabila sampling menggunakan
mechanical sample :
a. time basis sampling
b. Mass basis sampling

65
PT. INDONESIA PRATAMA

MOVING BARGING
SAMPLING Jawab :
a. Time basis
> Jumlah Increment yang diperlukan :

N = 35 7500/1000
= 35 x 7.5
= 95.85 ~ 96 increment
> Waktu loading
= 7500 : 500
= 15 jam ~ 900 menit
Interval increment
= 900 : 96
= 9.38 menit

66
PT. INDONESIA PRATAMA

MOVING BARGING
SAMPLING Jawab :
b. Mass basis
> Jumlah Increment yang diperlukan :

N = 35 7500/1000
= 35 x 7.5
= 95.85 ~ 96 increment
>Interval increment (Mass)
= 7500 : 96
= 78.125 MT

67
PT. INDONESIA PRATAMA

MOVING TRANSHIPMENT
SAMPLING CONTOH :
Suatu barge dengan muatan 7500 MT,
sedang dimuat ke suatu kapal dengan
menggunakan grab dengan kapasitas 12
ton.
Tentukan bagaimana cara sampling
transhipment tersebut
a. Jawab:
> Jumlah increment
N = 35 7500/1000
= 35 x 7.5
= 95.85 ~ 96 increment
> Total jumlah Grab untuk
memindahkan muatan dari tongkang
tersebut
= 7500:12
= 625 grab
68
PT. INDONESIA PRATAMA

MOVING TRANSHIPMENT
SAMPLING
Interval increment (Grab)
= 625 : 96
= 6.5 ~ 6 Grab
Increment diambil setiap 6 grab dimuat.

69
PT. INDONESIA PRATAMA

ULTIMATE SAMPLING
RELIABILITAS SAMPLING

I
J N
U B T
A
M E E
L
L R R
A
A A V
T
H T A
L
S
I M
A
N I I
M
C N N
P
R I C
L
E M R
I
M U E
N
E M M
G
N E
T N
T
SAMPLING SELESAI
70
PT. INDONESIA PRATAMA

PREPARASI
BATUBARA

71
PT. INDONESIA PRATAMA

PREPARASI
BATUBARA

Tujuan suatu Preparasi Sample


adalah untuk mempersiapkan satu
atau lebih sample test dari primary
increment untuk selanjutnya
dianalisa

72
PT. INDONESIA PRATAMA

CRUSHING PREPARASI
BATUBARA

DRYING

MIXING / DIVIDING 73
MILLING
PT. GEOSERVICES, LTD

CRUSHING
Tujuan dari suatu crushing adalah untuk
memperkecil ukuran partikel batubara
sehingga jumlah berat dari sample
tersebut dapat diperkecil

74
PT. INDONESIA PRATAMA

MIXING / DIVIDING
Tujuan dari suatu mixing atau dividing
adalah untuk menghomogenkan semua
bagian batubara agar sample yang dibagi,
memiliki kualitas yang rekatif sama.
Peralatan yang biasa dipergunakan untuk
mixing dan dividing secara mekanis adalah
diantaranya :

75
PT. INDONESIA PRATAMA MIXING / DIVIDING

76
PT. INDONESIA PRATAMA

MIXING / DIVIDING
Selain secara mekanis, pembagian atau
pencampuran sample dapat dilakukan
secara manual .
Metode manual yang sering digunakan
adalah sebagai berikut :

Increment Division
Riffling
Fractional Shoveling
Strip Mixing and Spliting

77
PT. INDONESIA PRATAMA

INCREMENT DIVISION

78
PT. INDONESIA PRATAMA

RIFFLING

79
PT. INDONESIA PRATAMA

FRACTIONAL
SHOVELING

80
PT. INDONESIA PRATAMA

STRIP MIXING AND


SPLITING

81
PT. INDONESIA PRATAMA

AIR DRYING / OVEN DRYING

82
PT. INDONESIA PRATAMA

MILLING
Milling adalah tahap akhir dari suatu
preparasi sample general analysis, yaitu
mengubah ukura partikel batubara ke
ukuran sample test. (0.212 mm) /
(0.250mm)

ISO STD ASTM STD

Original Size Original Size

10 mm 4.75 mm

2.8 mm 2.36 mm

0.212 mm 0.250mm
83
Common Sample

10 mm

2 kg 10 kg

Weigh
Air dry
Air dry
Re-weigh
2.8 mm

2.8 mm
650 g

650 g 0.212 mm

Moisture Sample 60g - 300 g


84