Anda di halaman 1dari 44

Prepared by:

Herry Suhermanto

Herry Suhermanto
Sumber: Covey, Stephen R. The 8th Habit. 2008. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
FUNGSI DAN STRUKTUR, RUANG DAN
WAKTU

Herry Suhermanto
Realitas Dasar Pelaku Pembangunan [1]

Tiga keharusan: ruang, waktu dan tindakan


Waktu: Kita hidup dalam waktu. Waktu
eksistensial adalah sekarang; waktu lampau
dan yang akan datang adalah konsep waktu
pengamat (observers)
Ruang: Kita hidup dalam ruang. Ruang
eksistensial adalah di sini, tempat kita sekarang
berada. Tidak ada ruang paralel untuk eksistensi
Tindakan (action): bersifat intensional.
Realitas Dasar Pelaku Pembangunan [2]

Tindakan berlangsung dalam konotasi proses


kekinian dan kedisinian
Tindakan/ aktivitas (action) adalah suatu
keniscayaan;
Keniscayaan tindakan bersifat tanpa syarat
(unconditional); ia adalah cara manusia bertahan
Tindakan intensional: sebelum bertindak seseorang
berhadapan dengan sejumlah pilihan, termasuk
pilihan untuk tidak bertindak
PERAN PERENCANA

Ruang/ spasial
Sosial
PERSPEKTIF KEKINIAN Ekonomi
Capital

PERSPEKTIF MASA DEPAN

NEW MORAL
NEW SOCIAL POWER
NEW SOCIAL ORDER

Herry Suhermanto
Unsur
peubah

Waktu (t+1)

HERRY SUHERMANTO
TALENTA PERENCANA
Siapa saya?
Membangun tatanan sosial,
ekonomi, fisik yang baru

Penemuan jati diri dengan


standar integritas tinggi

Apa Yang
saya rasa NURANI
Pembelajaran dan
penguasaan perubahan

Keseimbangan spiritual Apa yang


moral, dan intelektual
saya pikir GAIRAH

Adversity Interlegence (AI):


Kemampuan menghadapi
tantangan/ hambatan, dan
kesulitan hidup

PIKIRAN

PQ
Setiap orang merupakan pemilik sekaligus pengelola tubuh, akal-pikiran-qalbu, emosi dan jiwanya
HERRY SUHERMANTO
Bentuk Perencanaan

Mikro Perencanaan individu


Perencanaan rumah tangga/
keluarga
Perencanaan kelompok individu
Perencanaan lingkungan/ desa
Perencanaan kota
Perencanaan wilayah (regional)
Makro Perencanaan nasional

Herry Suhermanto
PERENCANAAN?
KEBIJAKAN/
KELUARAN
KEPUTUSAN

Direktif
NETRAL?

PARA PEMBUAT KEPUTUSAN

BIAS?
PROSES SOSIAL

Alternatif HASIL
DAMPAK
PERENCANA

Isu strategis

MASYARAKAT & PEMERINTAH

Herry Suhermanto
Teori Perencanaan (Planning Theory) terdiri dari: Theory of Planning,
Theory in Planning dan Theory for Planning.
Theory of Planning menjelaskan prinsip, prosedur dan langkah
normatif yang seharusnya dilakukan dalam proses perencanaan,
untuk menghasilkan outputs dan outcomes yang efektif.
Theory in Planning merupakan teori substantif dari berbagai disiplin
ilmu yang relevan dengan bidang perencanaan.
Theory for planning, menjelaskan prinsip-prinsip etika, nilai dan moral
yang menjadi pertimbangan bagi para perencana di dalam
menjalankan perannya
1. Analisis Wilayah dan Daerah (AWD): merupakan perpaduan disiplin
ilmu ekonomi, ekonomi regional dan sosial ekonomi.
2. Manajemen dan Administrasi Publik (MAP): merupakan perpaduan
disiplin ilmu administrasi, sosial dan kebijakan publik.
3. Perencanaan Spasial (PS): merupakan perpaduan disiplin ilmu
geografi, geologi, sipil dan arsitektur.
4. Konsep dan Teknik Perencanaan (KTP) : menekankan pada problem
solving dan preskripsi, serta merupakan perpaduan disiplin ilmu
teknik rekayasa, arsitektur, lingkungan, statistik, dan beberapa ilmu
sosial yang temasuk dalam theory for planning.
SALING HUBUNGAN POLICY SYSTEM DAN POLICY
PROCESS
POLICY CYCLE
PK

LK KP F I EK
KEBIJAKAN
PUBLIK
KS
POLICY PROCESS
POLICY SYSTEM
POLICY PROCESS BERLANGSUNG DLM SUATU POLICY SYSTEM
STRUKTUR DAN DINAMIKA POLICY SYSTEM MENANDAI/
LK (LINGKUNGAN KEBIJAKAN) MENGHADAPKAN BERPERAN DALAM KESELURUHAN TAHAPAN POLICY CYCLE
BERBAGAI MASALAH/ SUBSTANSI KEBIJAKAN KPD PK
YANG DIUSUNG BERBAGAI STAKEHOLDERS.
DI SAMPING
F = FORMULASI;
PK (PENGELOLAAN KEBIJAKAN), MEREKA YG DIMENSI TEHNIS,
I = IMPLEMENTASI;
TERLIBAT TERDIRI DARI SEJUMLAH STAKEHOLDERS; TERKANDUNG DIMENSI
EK = EVALUASI KINERJA
PERTAMA-TAMA HARUS MERESPON BERBAGAI MASALAH SOSIOPOLITIS,
KEBIJAKAN, DAN MELAHIRKAN KP (KEBIJAKAN
PUBLIK) ITU SENDIRI
[ EK DILAKUKAN DLM RANGKA TAU, WAS,
KS (ORANG KELOMPOK ORANG ATAU ORGANISASI YG DAL, DAN PERTANGGUNGJAWABAN ]
KONDISI ATAU PERILAKUNYA INGIN DIPENGARUHI),
DALAM HUBUNGAN ITU PARA PEJABAT PUBLIK
HARUS MEMPERHATIKAN POSISI DAN KONDISI KS. 12
Source of idea: Prof Dr Nustopadidjaja AR; Policy Process Models
Apakah Etika?
Dasar moral (The Lian Gie, 1998; Keraf, 1998)
Pedoman perilaku yang abstrak, dirumuskan melalui refleksi kritis
dan rasional (French & Allbright, 1998) untuk mengatasi konflik
kepentingan di dalam diri seorang profesional.
Membantu manusia untuk bertindak secara bebas dan
bertanggungjawab. (Matin, 1991; Finegan, 1994; Ryan, 2001)
Nilai dan norma profesi menjadi inti perilaku profesional.

Ilmu pengetahuan yang menjelaskan arti baik dan buruk,


menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia,
menyatakan tujuan yang harus dicapai oleh manusia dalam
perbuatan mereka, dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa
yang seharusnya diperbuat manusia (Ahmad Amin, dalam
Setyono, 2011)
Teori dasar etika
Perspektif moral klasik Teleologi, bagaimana bertindak
dikembangkan Plato dan dalam situasi konkret tertentu:
Aristoteles (Singer, 1990) melihat tujuan atau akibat dari
Perspektif Modern : suatu tindakan
Teleologi (Konsekuensialis, Deontologi, bagaimana
Egoisme, Hedoisme, bertindak dalam situasi konkret
Utilitarianisme (Jeremy tertentu: lakukan apa yang
Bentham 1748 1832; Stuart menjadi kewajiban sebagaimana
Mill, 1806 1873). terungkap dalam norma dan nilai-
Deontologi (Kant 1724 nilai moral yang ada
1804) Virtue Ethics, bagaimana
Virtue Ethics bertindak dalam situasi konkret
tertentu: meneladani sikap dan
Perspektif Post-Modern (Brady, perilaku moral tokoh
1985; Forsyth, 1992): (masyarakat, idola, sejarah)
ETIKA?
Secara harfiah etika moral (adat/ kebiasaan)
Cabang ilmu filsafat yang membahas nilai dan norma,
sebagai refleksi kritis dan rasional mengenai bagaimana
berkehidupan secara individu dan sosial.
Secara tidak langsung memberi perintah konkrit atau
menjadi pedoman untuk bertingkah laku pada nilai dan
norma moral yang umum diterima.
Membantu manusia bertindak bebas dan bertanggung
jawab unsur pokok otonomi moralitas (i.e. trust)
Membangun harmoni antara individu dan komunitasnya
Perspektif modern tidak hanya menerima kebenaran
tunggal/ totalitas, namun juga menerima pandangan
yang holistik/ pluralistik
Herry Suhermanto
Dimana posisi etika?
Pada dasarnya di dalam sebuah piramida yang dibangun atas dasar bakat
dan karakter yang melekat yang menguatkan keterampilan dan
pengetahuan yang diperoleh melalui proses pembelajaran, usaha dan
pengalaman. Di bagian atas piramida adalah satu set perilaku spesifik
yang merupakan manifestasi dari semua kemampuan bawaan dan
pengetahuan yang diperoleh (Anntoinette D. Lucia dan Richard Lepsinget;
1997; p:6)
POSISI ETIKA PERENCANAAN

Cognitive Theory Of Isu-Isu Globalisasi,


Skills Theory In Pasar Bebas, Otonomi,
Affective Theory For Good Governance,
Sustainable Development

BIDANG Analisis Manajemen Konsep dan


Perencanaan
Wilayah dan dan Adminis- Teknik
Spasial
Daerah trasi Publik Perencanaan
DOMAIN

COGNITIVE

SKILLS:

AFFECTIVE
Mengapa Etika?
Yakinkah saudara Etika Profesi jalan?
Konflik Profesionalitas di dalam Birokrasi (Gouldner,
1957) tipe profesional (lokal dan kosmopolitan).
Implikasi Penggunaan Etika di dalam Birokrasi

Menurut Wachs (1985) penggunaan etika dalam


birokrasi, terdapat empat kategori, yaitu sebagai:
1.implikasi moral praktek birokrasi dan perilaku yang
didasarkan kepada aturan organisasi tentang klien dan
penyelia;
2.pertimbangan etis dan kewenangan memutuskan hal
yang berpengaruh terhadap perilaku personal, dan
tindakan atas nama publik;
3.implikasi moral penggunaan teknik dan model,
berdasarkan metode dan kriteria etis, dan
4.pertimbangan utama pemilihan alternatif.
Pengertian Moral dan Etika

Moral Etika
Merujuk pada penilaian Berkaitan dengan
suatu perbuatan: pantas, falsafah moral, baik buruk
patut, layak dalam pandangan
Menentukan batas-batas masyarakat/ kelompok
sifat, ukuran, corak, pada kurun waktu
perbuatan/ tindakan yang tertentu
dapat diterima oleh suatu berkekuatan hukum yang
komunitas dapat mengekang
Akhlak/ budi pekerti yang seseorang bertindak
bersumber pd kesadaran dengan segala cara
akan nilai-nilai kehidupan Kebiasaan/ tingkah laku
Herry Suhermanto
Perspektif Moral Etika
KONSEKUENSIALIS
PLURALISTIK
FORMALISME
MODERN v.s.
EGOISME
UTILITARIAN kesenangan atau
kenikmatan merupakan
HEDONISME tujuan hidup dan
tindakan manusia.

KEADILAN, HAK,
NORMATIF KEWAJIBAN,
TANGGUNGJAWAB

FUNDAMENTAL
KEWAJARAN SISTEM
DAN PROSEDUR,
KESETARAAN PROPORSIONAL,
MANUSIAWI
Herry Suhermanto
Teori moral Kohlberg menjelaskan terdapat perbedaan level dan
tingkat perkembangan moral (Randall, 1989; Weber & Gillespie,
1998; Jones, 1991). Setiap level keputusan etis terdiri atas 2
tingkatan.
Level Satu: Pre-Conventional, menganggap peraturan dan harapan
sosial adalah pengaruh luar yang terpisah dari dirinya. Level ini
terdiri atas: tingkat (1) orientasi ketaatan dan hukuman, dan tingkat
(2) tujuan instrumental yang saling menguntungkan;
Level Dua: Conventional, mulai terjadi internalisasi peraturan dan
harapan sosial, terutama bersumber dari orang yang memiliki
otoritas. Level ini terdiri atas tingkat (3) perilaku yang benar adalah
stereotip perilaku baik, atau mencontoh perilaku orang-orang
berpengaruh, dan tingkat (4) kebenaran adalah mentaati peraturan
dan hukum berlaku;
Level Tiga: Post-Conventional/ Principled, yaitu orang yang mampu
mendefinisikan nilai-nilai moral sendiri tanpa pengaruh pihak lain
atas dasar prinsip keadilan. Level ini terdiri atas tingkat (5)
medefinisikan kebenaran berlandaskan berbagai nilai dari
beberapa orang dan kontrak sosial, dan tingkat (6) berorientasi
pada prinsip etika universal.
TIPE PROFESIONAL

Segi-Enam Tipe Identitas PNS Profesional


Sumber: Data empiris, Avigne, et.al (2000), Hobbit (1967), dan Pruden (1973)
KOMPONEN PERILAKU PROFESIONAL
(1) Terpercaya : kejujuran, integritas, reliabilitas, loyalitas,
moral, disiplin dan nilai profesional;
(2) Kehormatan : penghargaan, berlapang dada, toleran,
kebanggaan dan independen;
(3) Pertanggungjawaban : penguasaan ilmu, kualitas terbaik,
visioner, kreatif, berfikir kritis, bersemangat, antusias
bekerja dan metode ilmiah;
(4) Perhatian : humanis, altruistik, koperatif, simpel, kerjasama,
komunikatif, dan sabar;
(5) Kewarganegaraan dan Kolegialitas : bangga sebagai
bagian komunitas, mengetahui dan mentaati hukum,
orientasi kepentingan publik, harmonisasi komunitas,
mendorong klien untuk bersikap legal dan benar,
mengembangkan profesi;
(6) Persamaan dan Keadilan : keseimbangan pribadi, proses,
proporsional, kesejajaran, keterbukaan, dan konsisten.
PROFESIONALISME
Profesi serikat kerja

Atribut Profesional:
Atribut serikat kerja:
1. Ahli
2. Otonomi Memecahkan persoalan
3. Memiliki komitmen ketenagakerjaan (gaji, jam
kerja, kondisi lingkungan
4. Teridentifikasi kerja, dan konflik majikan-
5. Beretika pekerja)
6. Memiliki standar

Longer-run perspective Short-run perspective


?
PNS
Herry Suhermanto
Profesionalisme dalam
Birokrasi
ORGANISASI PUBLIK KETENTUAN PUBLIK

RASIONAL SISTEM,
ETOS KERJA
ADAPTIF ETIKA,
NILAI, KREATIFITAS
PROFESIONAL NORMA,
PRODUKTIFITAS
A-KONFLIK MORALITAS

PRAKTEK BIROKRASI,
KEWENANGAN MEMUTUSKAN,
PENGGUNAAN METODA,
PEMILIHAN ALTERNATIF

KINERJA: PELAYANAN TERBAIK


Herry Suhermanto
HUBUNGAN ORGANISASI, KODE ETIK, MORAL, DAN PROFESI

MORALITAS
ETIKA

PROFESI KODE ETIK


KARAKTER STANDAR KINERJA

ORGANISASI
KONTINUM PERENCANA

STREET LEVEL SYSTEM LEVEL

ADAPTIVE DEVELOPMENTAL

TRADISIONAL ADVANCE

LOKAL NASIONAL
Herry Suhermanto
PROSES MEMBANGUN ETIKA
Wajar dan alamiah
Menyiratkan dan menyuratkan Mendorong Reward and
kemungkinan perilaku yang punishment
dinilai etis (moral screening) Melembagakan di lingkungan
Menafsirkan mana yang baik terdekat: rekan, organisasi/
dan benar, serta mana yang lembaga, masyarakat umum
buruk (tidak sesuai) secara Memberi manfaat bagi individu
moral (moral reasoning) dan masyarakat sebagai
Memberikan prioritas pada bimbingan praktis
perilaku yang baik, benar, dan memasyarakatkan keahlian
etis (moral accepting) ybs.
Mendemonstrasikan apa-apa Memahami hak dan kewajiban
yang telah diprioritaskan di serta menyesuaikan perilaku
atas (moral demonstrating) dengan semestinya

KODE ETIK

Herry Suhermanto
Landasan Hukum
Kode Etik Perencana Pemerintah Indonesia

UU Nomor : 28 Tahun 1999 (Penyelenggaraan Negara


yang Bersih dan Bebas dari KKN)
UU Nomor : 25 tahun 2004 (SPPN)
PP Nomor : 30 Tahun 1980 (Peraturan Disiplin PNS)
PP Nomor : 42 Tahun 2004 (Pembinaan Jiwa Korps dan
Kode Etik PNS)
SK Meneg PAN Nomor : 16/Kep/M.PAN/3/2001 (Jabatan
Fungsional Perencana dan Angka Kreditnya)
Keputusan MUNAS AP2I Nomor : 002/Munas-I/AP2I/
08/2006 (Kode Etik Perencana Pemerintah)
KODE ETIK PROFESI
Bab V, pasal 13, ayat 1, Sanksi Moral
butir b: Tertulis dari kepegawaian
Organisasi Profesi di Tertutup/ terbuka
lingkungan PNS Tindakan administratif
menetapkan kode atas rekomendasi Majelis
etiknya masing-
masing. Kode Etik

Bab V, pasal 13, ayat 2: Komite Kode Etik


Ketua (anggota)
Kode etik
sebagaimana Sekretaris (anggota)
dimaksud dalam ayat 3 orang Anggota
(1), ditetapkan Ditetapkan kepegawaian
berdasarkan
karakteristik
organisasi profesi.
Herry Suhermanto
KODE ETIK, KODE ETIK PROFESI DAN
KODE ETIK JABATAN

KODE ETIK:

Pernyataan cita-cita dan pengaturan pelaksanaan


pekerjaan/perbuatan dan merupakan panduan yang harus
dilaksanakan oleh anggota kelompok (masyarakat);

Kode etik berisi norma, nilai aturan tertulis yang secara


tegas menyarankan apa yang baik dan buruk, benar dan
salah;
KODE ETIK, KODE ETIK PROFESI DAN
KODE ETIK JABATAN
KODE ETIK PROFESI KODE ETIK JABATAN
Norma atau kaidah yang Etika atau sikap, perilaku dan
ditetapkan berdasarkan disiplin tindakan yang sebaiknya
ilmu pengetahuan dimana dilakukan oleh pegawai yang
profesional melaksanakan memiliki jabatan, sebagai
tugas dan fungsinya; tanggung jawab moral atas
jabatannya tersebut;
Terkait dengan profesi, etika
berbeda dengan hukum, dan Jabatan mempunyai arti (BKN
hanya berlaku dalam 2001):
lingkungan profesi tersebut dan a. Tugas dalam organisasi;
sanksinyapun berupa sanksi b. Fungsi;
sosial, misalnya tidak
diperkenankan menjalankan c. Dinas;
fungsi dan perannya selaku d. Segala sesuatu terkait
profesional; Kedudukan.
Herry Suhermanto
KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL
(Penjelasan Psl. 28 UU No. 43/99)

1. BERTAQWA kepada TUHAN YME


2. TAAT KEPADA NEGARA dan PEMERINTAH RI
3. MENGUTAMAKAN KEPENTINGAN NEGARA dan MASYARAKAT
daripada KEPENTINGAN PRIBADI / GOLONGAN
4. MENJUNJUNG TINGGI KEHORMATAN BANGSA dan NEGARA,
BERSIKAP JUJUR, BERSEMANGAT, BERTANGGUNG JAWAB
serta MENGHINDARKAN DIRI dari PERBUATAN TERCELA
5. MENGUTAMAKAN PELAYANAN kepada MASYARAKAT,
BERDISIPLIN, serta MEMEGANG TEGUH RAHASIA NEGARA dan
RAHASIA JABATAN
6. MENGUTAMAKAN PERSATUAN BANGSA, KESEJAHTERAAN
MASYARAKAT serta KESETIAKAWANAN KORPRI
7. BEKERJA KERAS serta BERUSAHA MENINGKATKAN
PENGETAHUAN dan KEMAMPUAN untuk KELANCARAN
PELAKSANAAN TUGAS
KETENTUAN PUBLIK

Peraturan Iklim Kerja Etis


Persepsi kolektif sebagian besar
Pemerintah Nomor pegawai mengenai bagaimana
42/ 2004 tentang organisasi berjalan

Pembinaan Jiwa etika kerja = elemen kultur kerja


yang mempengaruhi etika
Korps dan Kode Etik seseorang dalam berkiprah di
PNS organisasinya

SK Menpan Nomor
Kultur Etis Kerja
16/KEP/M.PAN/3/200
Keyakinan kolektif pimpinan
1 tentang JFP dan tentang bagaimana organisasi
Angka Kreditnya sebaiknya dijalankan

Herry Suhermanto
Peraturan Pemerintah RI No. 42 Tahun 2004
Tentang Pembinaan Jiwa Korps dan
Kode Etik Pegawai Negeri Sipil
Etika bernegara (pasal
8; 8 ayat) Nilai-nilai dasar PNS
Etika berorganisasi
(pasal 9; 9 ayat)
Etika bermasyarakat KODE ETIK PROFESI :
(pasal 10; 5 ayat) Kode Etik

Etika diri sendiri (pasal Asosiasi Perencana

11; 8 ayat) Pemerintah Indonesia


Etika Sesama PNS
(pasal 12; 7 ayat)
KODE ETIK INSTANSI :
Kode Etik Pegawai Kehormatan
Ganda
Bappenas
ETIKA PNS
Etika bernegara: Etika berorganisasi:
Pancasila & UUD 45 Tugas & wewenang
Harkat & martabat sesuai tupoksi
Perekat & pemersatu Menjaga kerahasiaan
Taat peraturan/ Melaksanakan kebijakan
perundangan pengambil keputusan
Akuntabel dalam tupoksi Membangun etos kerja
Tanggap, jujur, akurat Bersikap kooperatif
Efisien dan efektif Kompeten
Tidak memberikan Patuh & taat pada SOP
kesaksian palsu/ + tata kerja
keterangan tdk benar Kreatif dan inovatif
Meningkatkan kualitas
kerja selalu

Herry Suhermanto
ETIKA PNS . . .
Etika bermasyarakat: Etika diri sendiri:
Mewujudkan pola hidup Jujur, terbuka, dan tidak
sederhana memberikan informasi yang
tidak benar
Memberikan pelayanan
dengan empati, hormat dan Bertindak dengan penuh
santun kesungguhan dan ketulusan
Memberikan pelayanan Menghindari konflik pribadi,
secara cepat, tepat, terbuka, kelompok, dan golongan
dan adil Berinisiatif dalam
Tanggap terhadap keadaan meningkatkan kualitas iptek,
lingkungan masyarakat kemampuan, ketrampilan dan
sikap
Berorientasi pada
peningkatan kesejahteraan Berdaya juang tinggi
masyarakat Sehat jasmani dan rohani
Menghargai perbedaan Menjaga keutuhan &
pendapat (sesama PNS keharmonisan keluarga
saja?) Berpenampilan sederhana,
rapih dan sopan

Herry Suhermanto
DIALEKTIKA ETIKA PERENCANA
PERENCANA ISU KEPENTINGAN PUBLIK

IDENTIFIKASI PERMASALAHAN, MENYUSUN SECARA


PERUMUSAN ALTERNATIF, SISTEMATIS RENCANA UTK
PENGAJIAN ALTERNATIF, KEPENTINGAN PUBLIK
PENENTUAN ALTERNATIF,
PENGENDALIAN PELAKSANAAN,
PENILAIAN HASIL PELAKSANAAN NETRALITAS TEKNIK
DAN METODOLOGI

DIMENSI ETIS PENGAMBIL


KEPUTUSAN (IQ, EQ, SQ) ARGUMENTASI DAN
PILIHAN KEPUTUSAN

KEPUTUSAN
Herry Suhermanto
POLA PERUMUSAN KODE ETIK VERSI AP2I
16/KEP/M.PAN/3/
2001
Hak dan Kewajiban
ANGGARAN DASAR Perencana:
KODE ETIK Kepada organisasi
MUSYAWARAH Kepada profesi
NASIONAL RENCANA KERJA Kepada diri sendiri
KETUA UMUM Dengan users
Dengan masyarakat
Dengan atasan
Dengan sesama JFP

PENGURUS NASIONAL
KOMITE KODE ETIK
ASOSIASI PROFESI

KOMISARIAT WILAYAH KOMISARIAT LEMBAGA

PARA PEMANGKU JABATAN FUNGSIONAL PERENCANA

Herry Suhermanto
Keputusan Musyawarah Nasional
Asosiasi Perencana Pemerintah Indonesia
Nomor: 002/Munas-I/APPI/08/2006
tentang Kode Etik Perencana Pemerintah Indonesia

Nilai-nilai Dasar (Komponen Perilaku Profesional)

Beriman Independen
Jujur Berintegritas

Sederhana Tangguh

Kompeten
Berani
Profesional
Terbuka
TANTANGAN PERENCANAAN KE
DEPAN

Herry Suhermanto
Literatur pendukung:
Berger, Morroe. 1957.Bureaucracy East and West. Administrative
Science Quarterly, Vol. 1, No. 4. (March 1957), pp 518-529.
Guspika. 2006. Kode Etik dan Organisasi Profesi: Persiapan
Penyusunan Kode Etik Perencana. An unpublished resume.
Hughes, Everett C. 1960. The Professions in Society. The
Canadian Journal of Economics and Political Science, Vol. 16, No.
1. (Feb., 1960), pp. 54-61
Raelin, Joseph A. 1989. Unionization and Deprofessionalization:
Which Comes First? Journal of Organizational Behavior, Vol. 10,
No. 2. (April 1989), pp. 101-105.
Peraturan Pemerintah Nomor 42/ 2004 tentang Pembinaan Jiwa
Korps dan Kode Etik PNS
SK Menpan Nomor 16/KEP/M.PAN/3/2001 tentang JFP dan Angka
Kreditnya
Setyono, Prabang Dr., M.Si. 2011. Etika, Moral, dan Bunuh Diri
Lingkungan dalam Perspektif Ekologi. UPT dan LPP UNS,
Surakarta

Herry Suhermanto
T IK?
DEE
KO

Herry Suhermanto