Anda di halaman 1dari 38

HUKUM KESEHATAN

KASUS DINKES DKI MELAKUKAN


AUDIT DUGAAN MALPRAKTIK

DI RUMAH SAKIT HUSADA
BUNDA CIRACAS
Nurul Prihatiningrum 1504000005
Nanda Eka Dewi Amarta
1504000007
Melodi Liesma Putri 1504000015
Ayu Romadhona A W 1504000043
Virda Esti Kusuma Wardani
1504000059
Malpraktik
Prof.dr. M. Jusuf Hanafiah, SpOG(K) memberikan pengertian

tentang malpraktek medik yaitu kelalaian seorang dokter untuk
mempergunakan tingkat keterampilan dan ilmu pengetahuan
yang lazim dipergunakan dalam mengobati pasien atau orang
yang terluka menurut ukuran di lingkungan yang sama. Yang
dimaksud dengan kelalaian disini ialah sikap kurang hati-hati
melakukannya dengan wajar, atau sebaliknya melakukan apa
yang seseorang dengan sikap hati-hati tidak akan
melakukannya dalam situasi tersebut.
Faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya
malpraktik


Faktor dari pasien pasien kurang kurang puas, kurang
edukasi
Faktor dari dokter kelalaian dokter, kompetensi dokter
Faktor dari manajemen rumah sakit mutu SOP yang
mengatur pelayanan kesehatan di rumah sakitnya, kualitas
faktor penunjang
Rekam medis banyak
digunakan untuk hukum
sesuai dengan
ketentuan
pada PERMENKES 269
MENKES/PER/III/2008
Tentang Rekam Medis Bab
IV Penyimpanan,
Pemusnahan, dan
Kerahasiaan Pasal 10 Ayat
2
Kasus
Rumah Sakit
Harapan Bunda diduga
melakukan malpraktek terhadap seorang
bayi bernama Edwin Timothy Sihombing
yang masih berusia 2.5 bulan. Bayi pasangan
dari suami istri Gonti Laurel Sihombing, 34
tahun dan Romauli Manurung, 28 tahun,
dibawa ke RS Harapan Bunda pada 20
Februari 2013 lalu karena mengalami sakit
panas, batuk dan pilek.
Lanjutan
Kasus


Tiba di rumah sakit, Edwin langsung dibawa ke
UGD, kemudian dilarikan ke ICU. Setelah
diperiksa, dokter bilang kejang, kemudian
dikasih obat antikejang dari dubur. Kemudian,
Edwin kembali dibawa ke ruang rawat UGD
anak untuk menjalani perawatan. Saat itu,
dokter memasang infus di bagian telapak
tangan kanan Edwin karena tidak menemukan
bagian tangan lain yang cocok.
Lanjutan Kasus
Namun, ternyata infusan tersebut membuat

tangan Edwin membengkak."Awalnya saya pikir
biasa, tapi makin lama semakin membengkak.
Saya minta dokter mencabut infusannya," ujar
Gonti. Setelah dilepas infus, kondisi Edwin mulai
membaik. Namun, bengkak di tangannya tak
kunjung sembuh, malah menjadi kehitaman.
"Bengkaknya sudah mulai menghitam, seperti
adanya infeksi.
Lanjutan Kasus
Tapi saya bawa pulang ke rumah karena dipikir


biasa," ujarnya. Beberapa pekan dirawat di
rumah, kata Gonti, kondisi tangan sang anak
semakin menghitam dan seperti mau
membusuk. Akhirnya, ia kembali membawa
Edwin ke Rumah Sakit Harapan Bunda. "Pihak
rumah sakit kesulitan mau mengambil
tindakan medis karena peralatannya terbatas.
Terus kami dirujuk ke RSUD Pasar Rebo untuk
cek EEG (pemeriksaan saraf). Jika terbukti ada
luka sarafnya, rumah sakit mau bertanggung
Bayi Edwin Timothy Sihombing
dan Orang Tua

Lanjutan Kasus
Ia langsung membawa Edwin ke RSUD Pasar


Rebo pada 25 Februari lalu. Hasil pemeriksaan
EEG menunjukan bahwa bekas infus pada
telapak tangan Edwin kondisinya semakin
memburuk. "Saya tunjukin hasilnya ke RS
Harapan Bunda, dokternya malah panik.

Kemudian, RS Harapan Bunda melakukan


penanganan terhadap Edwin dengan melakukan
operasi pada telapak tangannya. Namun, pihak
RS Harapan Bunda malah melakukan amputasi
terhadap sebagian jari telunjuk Edwin.
Lanjutan
Kasus
"Saya kaget dan enggak percaya tangan anak saya


diamputasi dan kenapa harus diamputasi. Saya
hanya menerima surat rujukan operasi telapak
tangan," ujarnya. Gonti mengaku kecewa karena
tindakan amputasi tersebut dilakukan tanpa adanya
komunikasi dengan pihak keluarga terlebih dahulu.
Selain itu tindakan tersebut dilakukan dengan
memakai gunting serta tidak dilakukan suntik
penahan sakit (bius). Pada 2 April 2013, Gonti dan
Romauli melayangkan surat somasi kepada
manajemen rumah sakit atas dugaan malpraktik.
Edwin Timothy Sihombing

Analisa Kasus

Analisis dari Segi Rumah Sakit
sebagai Penyedia Pelayanan
Kesehatan

Pada Permenkes RI Nomor 69 Tahun 2014 pasal
14 (B) tentang Kewajiban Rumah Sakit dan Kewajiban
Pasien, Kewajiban Rumah Sakit memberikan informasi
yang benar tentang pelayanan Rumah Sakit kepada
masyarakat yaitu informasi yang berkaitan dengan
pelayanan medis kepada pasien.

Kasus Malpraktik Edwin bisa terjadi dikarenakan rumah

sakit kurang menjalankan kewajibannya dalam


memberikan penjelasan informasi selengkap-
lengkapnya yang berkaitan dengan pelayanan medis
kepada keluarga Edwin.
Analisis dari Segi Rumah Sakit
sebagai Penyedia Pelayanan
Kesehatan

Pada Permenkes RI Nomor 69 Tahun 2014 pasal
20 tentang Kewajiban Rumah Sakit dan Kewajiban
Pasien, Kewajiban Rumah Sakit dalam
menyelenggarakan rekam medis sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 huruf p dilaksanakan melalui
penyelenggaraan manajemen informasi kesehatan di
Rumah Sakit.
Pada kasus Edwin salah satu kesalahan rumah sakit
berdasarkan pasal 20 tersebut adalah tidak
menyelenggarakan rekam medis inform consent saat
akan memberikan tindakan kepada Edwin.
Analisis Kasus dari Segi
Pasien (korban)

Permenkes RI Nomor 69 Tahun 2014 Pasal 24 Ayat 2

(B) dan (C) beisikan pasien berhak (b) memperoleh


layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar
profesi dan standar prosedur operasional, (c) memperoleh
pelayanan yang efektif dan efisien sehingga pasien
terhindar dari kerugian fisik dan materi.

Berdasarkan pasal 24 tersebut, Edwin berhak mendapatkan

pelayanan yang sesuai dengan standar yang ditentukan

dan tidak menimbulkan kerugian fisik. Tetapi pada

kenyataanya Edwin harus mengalami kekurangan fisik.


Analisis Kasus dari Segi
Pasien (korban)

Pada Permenkes RI Nomor 69 Tahun 2014
Pasal 28 (G) tentang Kewajiban Rumah Sakit dan
Kewajiban Pasien, yaitu menerima segala
konsekuensi atas keputusan pribadinya untuk
menolak rencana terapi yang direkomendasikan
oleh Tenaga Kesehatan dan/atau tidak mematuhi
petunjuk yang diberikan oleh Tenaga Kesehatan
dalam rangka penyembuhan penyakit atau masalah
kesehatannya.
Analisis Kasus dari Segi
Pasien (korban) lanjutan
Pada kasus Edwin
ini, keluarga Edwin tetap
membawa Edwin pulang karena mereka
menganggap tangan Edwin membiru setelah diinfus
adalah keadaan yang biasa. Pada saat tangannya
bertambah memburuk, keluarga mulai kebingungan.
Sesuai dengan peraturan kewajiban pasien diatas,
keluarga Edwin harus menerima konsekuensi
apapun atas keputusan pribadi yang telah
dibuatnya.
Analisis Kasus dari Segi
Pasien (korban)

Permenkes RI Nomor 69 Tahun 2014 Pasal 24
Ayat 2 (G) berisikan pasien berhak mendapatkan
informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara
tindakan medis, tujuan tindakan medis, alternatif
tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin
terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang
dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan.
Analisis Kasus dari Segi
Pasien (korban) lanjutan

Pada kasus Edwin jika dihubungkan dengan pasal
24 ayat 2, seharusnya dokter memberikan
penjelasan yang lengkap sebelum melakukan
tindakan sesuai dengan ketentuan diatas sehingga
kedepannya dapat menghindari kesalahpahaman.
Pada kasus Edwin dokter JA menggunting jari tanpa
pemberitahuan dan persetujuan dari orang tua
Edwin. Hal ini bisa terjadi karena kurangnya
penjelasan dari dokter ke pasien.
Analisis Kasus dari Segi
Peraturan Perundang-Undangan
atau Peraturan Menteri

Kesehatan Republik Indonesia

1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun


2014 Pasal 68 Ayat (2) persetujuan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diberikan setelah mendapat penjelasan
secara cukup dan patut.
Analisis Kasus dari Segi
Peraturan Perundang-Undangan
atau Peraturan Menteri


Kesehatan Republik Indonesia
1. Dilihat dari pasal 4 ayat 3 dan pasal 68 ayat 2
tersebut, keluarga Edwin kekurangan edukasi dari
dokter, sehingga mereka cenderung tidak mengerti
penyakit Edwin dan tindakan yang akan dilakukan oleh
dokter. Hal ini dibuktikan, pada saat tangan Edwin
membiru setelah diinfus, Edwin tetap dibawa pulang
oleh keluarga, karena mereka menganggap bahwa
keadaan tersebut adalah hal yang biasa. Pada saat
tangannya bertambah memburuk, keluarga mulai
kebingungan. Seharusnya hal ini menjadi tanggung
jawab dokter penanggung jawab perawatan pasien
memberikan edukasi sampai wali pasien maupun pasien
paham tentang hal yang akan terjadi pada pasien.
Analisis Kasus dari Segi
Peraturan Perundang-Undangan
atau Peraturan Menteri

Kesehatan Republik Indonesia

2. Undang-Undang Nomor 29 Tahun


2004 Tentang Praktik Kedokteran Pasal
45 Ayat 1 berisikan Setiap tindakan
kedokteran atau kedokteran gigi yang
akan dilakukan oleh dokter atau dokter
gigi terhadap pasien harus mendapat
persetujuan.
Analisis Kasus dari Segi
Peraturan Perundang-Undangan
atau Peraturan Menteri

Kesehatan Republik Indonesia
2. Dilihat dari peraturan diatas dengan
kasus Edwin ini, orang tua Edwin (wali
pasien) tidak mengetahui tindakan
yang akan dilakukan dokter kepada
pasien, wali hanya mengetahui bahwa
pasien akan dioperasi, sehingga hal ini
menyalahi aturan diatas karena tidak
menunggu persetujuan dari wali
pasien.
Analisis Kasus dari Segi
Peraturan Perundang-Undangan
atau Peraturan Menteri

Kesehatan Republik Indonesia

3. Undang-Undang Nomor 44 Tahun


2009 Tentang Rumah Sakit Pasal 46
berisikan Rumah Sakit bertanggung
jawab secara hukum terhadap semua
kerugian yang ditimbulkan atas
kelalaian yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan di Rumah Sakit.
Analisis Kasus dari Segi
Peraturan Perundang-Undangan
atau Peraturan Menteri

Kesehatan Republik Indonesia
3. Pada kasus Edwin, rumah sakit
bertanggung jawab atas tindakan
kedokteran tanpa persetujuan dengan
memberikan bantuan perawatan hingga bayi
Edwin sembuh. Selain itu juga akan
dilakukan operasi plastik di RSCM yang
dibiayai oleh Rumah Sakit Harapan Bunda.
Tidak adanya persetujuan tindakan diatur di
Peraturan Mentri Kesehatan atau Undang-
Undang yang lain.
Analisis Kasus dari Segi
Peraturan Perundang-Undangan
atau Peraturan Menteri


Kesehatan Republik Indonesia
4. Pada kasus ini, langkah tindak lanjut yang
dilakukan, Dinas Kesehatan DKIJakartatelah
membentuk tim investigasi khusus terkait
kasus tersebut. Tim yang terdiri Dinas
Kesehatan DKI, Suku Dinas, Dokter Anak,
Dokter Ortopedi dan Ikatan Rumah Sakit
Jakarta mulai bekerja. Diharapkan dalam 3
hari, sudah bisa diambil kesimpulan apakah
amputasi bagian malpraktik atau bukan.
Adanya pihak ketiga akan sangat membantu
dalam penyelesaian masalah antara pasien
Analisis Kasus dari Segi
Peraturan Perundang-Undangan
atau Peraturan Menteri

Kesehatan Republik Indonesia
4. Permenkes RI Nomor
290/Menkes/Per/III/2008 tentang Persetujuan
Tindakan Kedokteran Bab VII Pasal 19 Ayat
(1) Dalam rangka pembinaan dan
pengawasan, Menteri, Kepala Dinas
Kesehatan Propinsi, Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota dapat mengambil tindakan
administrative sesuai kewenangannya
masing-masing.
Analisis Kasus dari Segi
Peraturan Perundang-Undangan
atau Peraturan Menteri

5.

Kesehatan Republik Indonesia
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014
Pasal 58 (A) Tentang Tenaga Kesehatan
berisikan Tenaga Kesehatan dalam
menjalankan praktik wajib: (a) memberikan
pelayanan kesehatan sesuai dengan Standar
Profesi, Standar Pelayanan Profesi, Standar
Operasional Prosedur, dan etika profesi serta
kebutuhan kesehatan Penerima Pelayanan
Kesehatan.
Analisis Kasus dari Segi
Peraturan Perundang-Undangan
atau Peraturan Menteri


Kesehatan Republik Indonesia
5. Berdasarkan Pasal 24 Ayat 1, pasal 58 (A),
dan pasal 51 tersebut, tenaga kesehatan
harus melakukan pekerjaannya sesuai
dengan standar pelayanan dan SOP yang
ada. Sedangkan pada kasus Edwin, dokter
yang melayaninya tidak sesuai dengan
ketentuan karena melewati prosedur
permintaan persetujuan dari pasien saat
akan melakukan tindakan medis.
Analisis Kasus dari Segi
Peraturan Perundang-Undangan
atau Peraturan Menteri

Kesehatan Republik Indonesia
Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009
Tentang Kesehatan Pasal 58 Ayat 1 Setiap
orang berhak menuntut ganti rugi terhadap
seseorang, tenaga kesehatan, dan/atau
penyelenggara kesehatan yang
menimbulkan kerugian akibat kesalahan
atau kelalaian dalam pelayanan kesehatan
yang diterimanya.
Analisis Kasus dari Segi
Peraturan Perundang-Undangan
atau Peraturan Menteri

Kesehatan Republik Indonesia

Berdasarkan Pasal 58 Ayat 1 tersebut,


keluarga Edwin telah menerima ganti rugi
yang diberikan oleh Rumah Sakit Harapan
Bunda yaitu diberikan bantuan perawatan
hingga bayi Edwin sembuh. Selain itu juga
akan dilakukan operasi plastik di RSCM yang
dibiayai oleh Rumah Sakit Harapan Bunda.
Analisa Kasus dari Sudut
Pandang Perekam Medis

Menurut Permenkes No. 290 Pasal 7 dan 8 Tahun 2008
tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran, penjelasan
tentang tindakan kedokteran sekurang-kurangnya mencakup
:
A. Diagnosis dan tata cara tindakan kedokteran
>Temuan klinis dari hasil pemeriksaan hingga saat tersebut.
>Diagnosis penyakit, atau dalam hal belum dapat
ditegakkan, maka sekurang-kurangnya diagnosis kerja dan
diagnosis banding
>Indikasi atau keadaan klinis pasien yang membutuhkan
dilakukannya tindakan kedokteran
>Prognosis apabila dilakukan tindakan dan apabila tidak
dilakukannya tindakan
Analisa Kasus dari Sudut
Pandang Perekam Medis

B. Tujuan tindakan kedokteran yang dilakukan
Tujuan tindakan kedokteran yang dapat berupa tujuan
preventif, diagnostik, terapeutik ataupun rehabilitatif.
Tata cara pelaksanaan tindakan apa yang akan dialami
pasien selama dan sesudah tindakan, serta efek samping atau
ketidaknyamanan yang mungkin terjadi.
Alternatif tindakan lain berikut kelebihan dan
kekurangannya dibandingkan dengan tindakan yang
direncanakan.
Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi pada masing-
masing altenatif tindakan.
Perluasan tindakan yang mungkin dilakukan untuk
mengatasi keadaan darurat akibat risiko dan komplikasi
tersebut atau keadaan tak terduga lainnya.
Analisa Kasus dari Sudut
Pandang Perekam Medis

C. Alternatif tindakan lain dan risikonya
D. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi
Risiko dan komplikasi yang sudah menjadi
pengetahuan umum
Risiko dan komplikasi yang sangat jarang terjadi
atau yang dampaknya sangat ringan
Risiko dan komplikasi yang tidak dapat
dibayangkan sebelumnya.
E. Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.
Analisa Kegunaan Informed Consent


Pada kasus dugaan malpratek di Rumah Sakit
Husada Bunda, Informed consent merupakan hal
mutlak diperlukan bagi pihak dokter sebelum ia
melakukan tindakan medis bagi pasiennya yang
diatur di dalam UU No. 36 Tahun 2009 Tentang
Kesehatan Pasal 8, UU No. 29 Tahun 2004
Tentang Praktik Kedokteran Pasal 45 dan
Permenkes No. 290/Menkes/Per/III/2008 Tentang
Persetujuan Tindakan Kedokteran Pasal 2 ayat 1.
Analisa Kegunaan Informed Consent

Informed consent
dipergunakan

pada kasus
sebagaimana
ini tidak
mestinya
sehingga pasien atau keluarga pasien tidak
memahami atau mengetahui perjalanan
suatu tindakan dan akibat yang ditimbulkan
dan akhirnya melakukan gugatan terhadap
rumah sakit. Hal tersebut seharusnya dapat
dihindari apabila rumah sakit dan dokter
memahami pentingnya kegunaan informed
consent.