Anda di halaman 1dari 21

GIZI DAN EKOLOGI MAKANAN

Pola Pangan Harapan

Ariani Tri Rahmi


1511222004
Program Studi Ilmu Gizi
Fakultas Kesehatan Masyarakat
OUTLINE
Konsep Pola Pangan Harapan

Kegunaan Pola Pangan Harapan

Determinasi Pola Pangan Harapan

Metode Pengukuran Pola Pangan Harapan

Interpretasi Hasil Pengukuran Pola Pangan Harapan


1.Konsep Pola Pangan Harapan

Susunan beragam pangan atau kelompok


pangan yang didasarkan atas sumbangan
energinya, baik secara absolut maupun relativ
terhadap total energi baik dalam hal
ketersediaan maupun konsumsi pangan, yang
mampu mencukupi kebutuhan dengan
mempertimbangkan aspek-aspek sosial,
ekonomi, budaya, agama dan cita rasa
(Depkes RI, 2005)
Tujuan utama penyusunan PPH

Untuk membuat suatu rasionalisasi


pola konsumsi pangan yang dianjurkan,
terdiri dari kombinasi aneka ragam
pangan untuk memenuhi kebutuhan
gizi dan sesuai citarasa
PPH mencerminkan susunan konsumsi pangan
anjuran untuk hidup sehat, aktif dan produktif. Dengan
pendekatan PPH dapat dinilai mutu pangan

Dalam aplikasinya PPH dikenal dengan pola


konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan
aman atau dikenal dengan istilah menu B2SA
Secara Nasional bahan pangan dikelompokkan sebagai
berikut:

1. Padi-padian, meliputi beras, jagung, sorghum dan


terigu
2. Umbi-umbian, meliputi ubi kayu, ubi jalar, kentang
talas dan sagu.
3. Pangan hewani, meliputi ikan, daging, susu dan telur.
4. Minyak dan lemak, meliputi minyak kelapa, minyak
sawit
5. Buah/biji berminyak, meliputi kelapa daging
6. Kacang-kacangan, meliputi kedelai, kacang tanah,
kacang hijau
7. Gula, meliputi gula pasir, gula merah.
8. Sayur dan buah, meliputi semua jenis sayuran dan
buah-buahan yang biasa dikonsumsi.
9. Lain-lain, meliputi teh, kopi, coklat, sirup, bumbu-
bumbuan, makanan dan minuman

Secara umum,komposisi dan persentase 9 (sembilan)


jenis makanan tersebut merujuk pada Pola Pangan
Harapan Ideal Tingkat Nasional
2. Kegunaan Pola Pangan Harapan

1. Sebagai instrument menilai kesediaan dan konsumsi


pangan berupa jumlah dan komposisi pangan
menurut jenis pangan

2. Sebagai basis untuk perhitungan skor PPH yang


digunakan sebagai indikator gizi pangan dan
keragaman konsumsi pangan baik pada tingkat
ketersediaan maupun tingkat- konsumsi dan

3. Untuk perencanaan konsumsi dan ketersediaan


pangan
3.Determinasi Pola Pangan Harapan

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Pangan


dan PPH :
Budaya Pangan
Pola Makanan
Pembagian Makan dalam Rumah Tangga
Jumlah Anggota Keluarga
Pengetahuan Gizi
Pendapatan Keluarga
Pendidikan dan Pekerjaan
Konsumsi pangan dipengaruhi oleh ketersediaan
pangan, yang pada tingkat makro ditunjukkan oleh
tingkat produksi nasional dan cadangan pangan yang
mencukupi serta pada tingkat regional dan lokal
ditunjukkan oleh tingkat produksi dan distribusi pangan.
Ketersediaan pangan sepanjang waktu, dalam jumlah
yang cukup dan harga terjangkau sangat menentukan
tingkat konsumsi pangan di tingkat rumah tangga.
Selanjutnya pola konsumsi pangan rumah tangga akan
berpengaruh pada komposisi konsumsi pangan (Depkes
RI, 2005)
4. Metode Pengukuran Pola Pangan Harapan

Perhitungan Skor PPH

Digunakan untuk mengetahui kualitas pangan dilihat


dari keragamannya pola pangan, biasanya untuk
menilai kualitas dari sisi ketersediaan pangan.
Cara Perhitungan Skor Pola Pangan Harapan (PPH) :

Menghitung jumlah energi masing-masing kelompok


bahan makanan dengan menggunakan Daftar
Komposisi Bahan Makanan.
Menghitung prosentase energi masing-masing
kelompok bahan makanan tersebut terhadap total
energi (kalori) per hari
Menghitung skor PPH tiap kelompok bahan makanan
dengan rumus:
Skor PPH = % AKG x Bobot
Menjumlahkan skor PPH semua kelompok bahan
makanan sehingga diperoleh skor PPH.
Kriteria Skor PPH sebagai berikut:

1.Skor PPH < 78 : Segitiga Perunggu, dengan ciri-ciri:


Energi dari padi-padian dan umbi-umbian masih
tinggi diatas normal PPH.
Energi dari pangan hewani, sayur, dan buah serta
kacang-kacangan masih rendah dibawah norma PPH.
Energi dari minyak dan gula relatif sudah memenuhi
norma PPH.
2.Skor PPH 78- 88 : Segitiga Perak, dengan ciri-ciri:
Energi dari padi-padian dan umbi-umbian makin
menurun, namun masih diatas norma PPH.
Energi dari pangan hewani, sayur, dan buah masih
rendah dibawah norma PPH masing-masing antara 8-
12% dan 4-5%.
Energi dari minyak, kacang-kacangan, dan gula relatif
sudah memenuhi norma PPH.
3.Skor PPH > 88 : Segitiga Emas, dengan ciri-ciri:
Energi dari padi-padian dan umbi-umbian sedikit
diatas norma PPH atau relatif sama.
Energi dari pangan hewani diatas 12% atau relatif
sama dengan norma PPH.
Energi dari kelompok pangan lain sudah memenuhi
norma PPH

Semakin tinggi skor PPH, konsumsi pangan semakin


beragam dan bergizi seimbang. Jika skor konsumsi
pangan mencapai 100, maka wilayah tersebut dikatakan
tahan pangan.
5. Interpretasi Hasil Pengukuran Pola Pangan Harapan
Pola Pangan Harapan (PPH) menjadi salah satu
indikator dalam pencapaian ketahanan pangan.

Dengan PPH sebagai acuan diharapkan tercapai dua


tujuan utama yaitu untuk meningkatkan mutu gizi
konsumsi pangan dan untuk mengurangi
ketergantungan konsumsi pangan pada salah satu jenis
atau kelompok pangan.
Dengan pendekatan Pola Pangan Harapan, keadaan
perencanaan penyediaan dan konsumsi pangan
penduduk diharapkan dapat memenuhi tidak hanya
kecukupan gizi (nutritional adequency), akan tetapi
sekaligus juga mempertimbangkan keseimbangan gizi
(nutritional balance) yang didukung oleh citarasa
(palatability), daya guna (digestability), daya terima
masyarakat (acceptability), kuantitas, dan kemampuan
daya beli (affortablity).
TERIMAKASIH
REFERENSI
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25514/5/Chapter%20I.pdf

http://erepo.unud.ac.id/18861/3/1220025066-3-Bagian%203.pdf

http://repository.unand.ac.id/5439/1/IMG.pdf